
Selamat membaca 🌸
Maaf banyak typo🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌸🌸
"Ara buka pintunya nak,,, Apa yang terjadi di dalam??" bu Mila yang tadinya lemah langsung kuat dan berlari duluan menuju ke kamar Tiara.
"Tiara sudah hancur buuuu,,,,Hancuuurrr,," teriak Tiara dari dalam.
"Hancur bagaimana maksudnya nak? Ayolah buka pintunya,,, Kita bicara baik baik ya." bujuk bu Mila.
"Tidak bu,,, Bicara tidak membuat Tiara kembali seperti dulu." tolak Tiara dengan masih berteriak.
"Ara,,,,Buka pintunya! Ada apa sebenarnya??" pak Herman angkat bicara.
"Tanyakan saja pada pilihan ayah itu!!! Yang ayah bilang baik itu,,,Dia yang menghancurkan masa depanku!!! Bobi memperkosaku buuu,, Bobi bilang bahwa ayah sudah menjualku. Ayah puas kan sekarang????!!!!! Puas Tiara hancur begini,,,,!!!!huhuhuhu,,,," teriak Tiara kesal diiringi tangisannya.
"Astaghfirullah,,," bu Mila hanya bisa mengeluarkan kata itu karena dirinya kembali pingsan detik kemudian.
Tangan pak Herman dengan sigap menangkap tubuh lemas bu Mila dan kembali dibantu oleh Darren membawanya ke kursi panjang di ruangan lain.
"Rupanya dia memberikan uang itu dan mengira aku menjual anakku,,, Bisa bisanya dia memakai hubungan baikku dengan pak Agung untuk menodai anakku." gerutu pak Herman sambil mengepalkan tangannya dengan geram.
"Sabar Herman,,, Sebaiknya bujuk dulu Tiara agar mau keluar kamar sehingga kamu bisa menanyainya lebih jelas." kata Darren.
"Dia marah padaku Dare,,, Kamu dengar sendiri kan tadi dia menyalahkanku atas semua kejadian ini. Dengan ini mana mungkin aku bisa membujuknya,,, Dia pasti merasa sudah tak ada gunanya bicara denganku lagi." keluh pak Herman.
"Kalau kamu ijinkan,,,Aku bisa minta Levi yang membujuknya. Mereka kan sahabatan baik dan ku rasa keduanya saling menyimpan rasa. Siapa tau Tiara nyaman bercerita jika Levi yang membujuknya." Darren menawarkan.
__ADS_1
"Lalu apa Levi sendiri mau melakukannya?? Setelah tau Tiara sudah kotor begini,,,Aku tak yakin Levi masih menginginkannya." lirih pak Herman.
"Aku tidak tau dan tak bisa menjanjikan jawaban apa pun atas pertanyaanmu itu Herman. Tapi aku percaya anakku bisa membawa diri dalam menyikapi hal ini. Kalau pun mungkin dia sudah tak menginginkan Tiara untuk menjadi kekasihnya,,, Setidaknya dia bisa masih memikirkan persahabatannya. Tapi yang bisa ku janjikan saat ini hanya,,, Levi pasti datang asal kamu mengijinkannya." ucap Darren.
Pak Herman tertunduk lesu. Dilihatnya wajah bu Mila yang masih belum sadarkan diri. Kemudian dilihatnya pintu kamar Tiara. Meski tak matanya tak bisa menembus pintu dan dinding kamar itu namun beliau yakin keadaan Tiara di dalam juga sama menyedihkannya.
Matanya kemudian menerawang jauh mengingat rencama perjodohan Tiara dan Bobi. Meski pak Agung telah setuju menerima Tiara sebagai calon menantunya,,, Meski yakin Bobi akan menikahi Tiara,, Tapi rasanya kesal menerima kenyataan bahwa Bobi terlalu menggampangkan keadaan bahkan cenderung meremehkan.
Baru juga sehari kenal Tiara dirinya sudah memperkosa Tiara.
"Apa tidak bisa tunggu dulu,,,Sabar dulu,,, Aku tau pergaulan anak sekarang tapi setidaknya kan bisa tunggu sampai kalian berdua sama sama punya rasa. Setidaknya kalian melakukannya dengan kemauan berdua,,,bukan sepihak begini,,,Kelihatan sekali kamu itu memang bajingan kalau begini ini Bobi,,," gerutu pak Herman dalam hati.
"Bagaimana Herman??" tanya Darren menyadarkan pak Herman.
Pak Herman menghela napas berat. Suara tangis Tiara kembali terdengar bersamaan dengan bunyi barang barang yang jatuh lagi.
Tiara tentu sangat terpukul.
"Maafkan aku Dare,,, Kamu harus menyaksikan betapa bobroknya keluargaku ini." kalimat itu keluar dari bibir pak Herman.
Sulit baginya langsung menurunkan egonya dan berbalik memohon pada Levi yang pernah ditolaknya. Namun keadaan Tiara lebih membuatnya cemas dan egonya pun kalah.
"Aku akan mengatakannya." Darren menjawab dan langsung menjauh dengan ponsel di tangannya yang sudah terhubung pada ponsel Levi.
"Datanglah ke rumah Tiara nak,, Dia butuh kamu,,, Dia butuh sahabatnya. Kamu sahabat dekatnya bukan??" kata Darren setelah beberapa lama menjelaskan pada Levi apa yang menimpa Tiara.
Levi yang sedari tadi terdiam mendengarkan cerita Darren tentang Tiara pun akhirnya bersuara.
"Levi akan datang ayah. Dengan atau tanpa permintaan tolong dari om Herman,,,Levi akan tetap datang." jawab Levi.
"Iya nak,,, Ayah tunggu kamu di sini ya. Mintalah bantuan Bimo untuk mengantarmu." kata Darren yang tau bahwa saat itu Bimo tengah bersama Levi.
__ADS_1
Untuk sementara waktu,, Darren memang belum memperbolehkan Levi menyetir sendiri. Untuk itulah beberapa hari terakhir ini Bimo menginap di rumahnya dan menyetir mobil untuk Levi kemana pun mereka mau pergi.
Bimo yang kebetulan anak kos dan keluarganya tidak berada di kota ini tentu saja tidak keberatan. Walau begitu Darren tetap mengingatkannya agar tetap memberi kabar pada orang tuanya bahwa dirinya akan tinggal sementara di rumah Darren dan akan menjadi tanggung jawab Darren juga.
Untungnya orang tua Bimo juga tidak keberatan dan mengijinkan putranya tinggal bersama Darren. Mereka yang perekonomiannya pas pasan lebih tenang jika Bimo tinggal bersama Darren. Setidaknya Bimo tidak akan sampai kelaparan atau kehabisan bekal.
"Baik ayah,, Levi sama Bimo siap siap dulu ya." kata Levi.
"Iya nak,,," sahut Darren menutup telponnya setelah mengucapkan salam.
Baru menutup telpon,,, ponselnya kembali berdering dan itu adalah panggilan masuk dari kantor polisi. Darren menjawab telpon itu dan mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan pihak kepolisian padanya tentang fakta kecelakaan Levi tempo hari.
"Terima kasih atas kerja kerasnya mengungkap kasus ini. Saya selaku pihak keluarga korban dengan ini menyerahkan semuanya pada pihak kepolisian. Saya tetap ingin kasus ini diproses sesuai hukum yang berlaku agar para pelaku yang terlibat mendapat ganjarannya."jawab Darren kemudian.
"Baik pak,,Akan kami lanjutkan proses hukumnya." kata polisi itu.
Percakapan pun diakhiri dan Darren mengucap syukuf dalam hati karena kasus ini sudah mendekati titik terang.Para pelaku penabrakan mobil sudah ditangkap dan sudah mulai diinterogasi oleh pihal terkait.
Mereka sudah mengakui bahwa mereka disuruh oleh bosnya yang bernama Bobi untuk melakukan hal itu. Motifnya karena persaingan dalam memperebutkan wanita.
"Apa polisi sudah tau siapa pelakunya Dare,,,??" tanya pak Herman yang tak sengaja mendengar obrolan Darren dan polisi tadi.
"Alhamdulillah sudah." jawab Darren sambil tersenyum.
"Siapa?? Benar Bobikah yang menyuruhnya??" tanya pak Herman.
Darren mengangguk pelan.
"Astaga,,, Dasar mafia,,, bajingan,,, mesum,,,Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menelpon orang tuanya sekarang."pak Herman kesal dan langsung masuk ke kamarnya mengambil ponselnya.
Tak dihiraukannya bu Mila yang memanggil manggil dirinya. Bu Mila sudah siuman saat Darren masih menelpon Levi tadi. Ketika beliau dengar bahwa Levi akan datang beliau merasa lebih baik dan tenang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹