
Aku memutuskan untuk tinggal di kota ini agar bisa tetap menjaga Chaira dan anak anakku di rumah sakit. Urusan pekerjaan aku serahkan pada orang kepercayaanku.
Mereka turut berduka atas musibah yang ku alami.
Levi dan Rayya telah sadar sudah bisa dipindahkan ke ruang inap. Aku cukup lega saat dokter menyampaikan berita itu. Bahkan Levi yang memang paling ringan lukanya sudah mulai sehat dan normal.
Yang aku perlu lakukan adalah menyembuhkan traumanya akibat kecelakaan tersebut. Dia masih sering mengigau dan menjerit saat malam di sela tidurnya.
Rayya juga menunjukkan tanda kesembuhan yang cepat. Tulangnya yang patah bisa pulih dengan cepat karena dia masih kecil. Berbeda dengan tulang orang dewasa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Aku sengaja meminta pihak rumah sakit mengijinkan agar mereka bisa dirawat di ruangan yang sama agar aku bisa selalu memantau keadaan mereka sekalian.
"Terima kasih dok,, lalu bagaimana dengan ibunya?" tanyaku.
Dokter menghela napas.
"Maaf pak,,, pasien belum menunjukkan perubahan apa pun hingga kini dan masih dalam kondisi kritis. Kita berdoa saja semoga pasien kuat dan ada keajaiban dari tuhan untuknya" dokter menepuk bahuku.
Aku mengangguk dan kembali mengucapkan terima kasih padanya. Hatiku perih mendengar keterangan dokter tentang Chaira.
"Ayah,,, Levi mau ketemu bunda sama abi. Nenek sama Putri juga ya ayah,,, " Levi merengek padaku.
Sungguh aku tak tau harus mengatakan apa padanya. Sesaat kemudian aku terdiam memikirkan jawaban.
"Ayah,,, Aya angen abi,,, mana bunda ayah? Aya mau ditemani bunda bobo" Suara Rayya menyadarkanku.
"Levi,,, Rayya,,, bunda masih sakit nak,,, bunda masih bobo belum bisa bangun. kalian berdoa ya buat bunda biar bunda bisa segera bangun dan sembuh terus main lagi sama kita ya nak" ujarku sembari menahan airmataku.
Aku tak ingin menangis di depan mereka. Aku tak ingin terlihat rapuh di hadapan mereka.
"Telusss,,, abi mana ayah?" Rayya kembali menanyakan abinya.
"Abi sekarang ada di rumah Allah sayang,,, Abi, oma,,, Putri,, mereka semua sudah dirumah Allah bersama kakek nenek Levi juga,,, mereka menunggu kita disana sayang" aku hati hati sekali menyampaikan ini.
"Makanya Levi sama Rayya harus jadi anak yang sholeh dan sholeha ya sayang,,, biar bisa mendoakan abi dan semuanya." lanjutku.
"Iya ayah,,, tapi nanti kalau Aya sudah sekolah kayak kak Levi,,, abi bisa antal Aya gak ayah?" Rayya kecil sangat polos.
Ku belai kepalanya. Ku ciumi pipi dan keningnya.
"Nanti ayah yang akan antar Rayya sama kak Levi sekolah. Ayah yang akan selalu antar dan jemput kalian. Rayya mau gak ditemani ayah?" tanyaku kembali menahan tangisku.
"Mau ayah mauuuu,,, belangkat cekolahnya cama kak Levi juga yaaa" Rayya ceria.
__ADS_1
Aku bernapas lega karena dia tak lagi menanyakan abinya. Bahkan saat dua minggu kemudian mereka berdua sudah dibolehkan pulang oleh dokter sesekali saja Rayya kembali menanyakan dimana abinya.
Rayya memang sangat dekat dengan Ray. Hampir tiap malam dia tidur dengan Ray. Aku tidak heran karena Ray memang ayah kandungnya. Jadi ikatan batin antara keduanya kuat terjalin.
Aku yang tak bisa tinggal lama di kota itu karena harus kembali ke Jakarta meminta dokter membuat rujukan untuk memindahkan Chaira ke rumah sakit di Jakarta.
Aku memilih rumah sakit terbaik untuknya. Selama dirinya masih koma aku lah yang mengurus semua keperluan Rayya dan Levi.
Single daddy ini ternyata mampu menggantikan posisi bundanya sementara waktu.
Hampir tiap hari aku menjenguknya ke rumah sakit. Aku mengajaknya bicara dan terus bicara tentang anak anak. Kata orang jika ada orang koma kita ajak bicara mereka bisa mendengarnya.
Tiap hari ku lap wajah, tangan dan tubuhnya. Aku merawatnya sepenuh hatiku yang masih tetap mencintainya. Kadang aku juga membawa Rayya dan Levi saat menjenguknya.
Ku biarkan saja Rayya terus mengoceh di depan bundanya yang masih memejamkan matanya rapat itu. Walau aku masih tetap menangis tiap kali melihat mereka seperti itu.
Hingga akhirnya,,,
Siang itu,,,,
"Pak,, ada yang ingin kami sampaikan mengenai ibu Chaira" kata dokter yang memintaku menemui di ruangannya.
"Ada apa dok?" tanyaku mencoba menerka apa yang akan disampaikan dokter yang berwajah murung itu.
"Saya memanggil bapak datang untuk meminta pendapat dan keputusan bapak apakah bapak masih ingin terus menunggu atau meminta kami melepas semua alat bantu medis. Saya tau bapak bukan tidak mampu membiayai semua biaya perawatan bu Chaira,,, namun saya perlu jelaskan bahwa tanda vitalnya sudah sangat lemah pak,,, alat bantu medis itu hanya mengulur waktunya. Tidak menyembuhkannya" dokter menekankan.
Aku terdiam lemas. Aku tak mampu menjawab.
"Baiklah pak,,, bapak tidak perlu langsung menjawab sekarang. Bapak pikirkan dulu baik buruknya." ucap dokter.
"Terima kasih dok" aku mengucapkannya dan segera meninggalkan ruangan itu.
Aku berjalan gontai menuju ruang perawatan Chaira. Aku mengambil kursi dan duduk di tepi ranjangnya. Ku pandangi wajah bidadariku yang makin terlihat kurus itu.
"Kamu cantik sayang" aku mengelus pipinya
Aku tak peduli pipi tirus yang semakin tirus itu,,, Aku tak peduli bibir yang makin pucat itu,,, Aku tak peduli tangan dan tubuh yang makin mencetak jelas guratan guratan tulangnya,,, Aku tak peduli rambut panjang yang makin banyak berguguran itu,,,
Bagiku kamu tetap cantik bidadariku,,,
Ku genggam tangan kurus itu,,, tampak kukunya memucat.
Bangun sayang,,, Apa kau tak ingin menemui Levi dan Rayya,,, mereka sangat merindukanmu,,
__ADS_1
Bangun sayang,,, katakan padaku apa yang harus ku lakukan,,, Katakan apa inginmu,,, Aku sungguh tak tau harus bagaimana sayang,,,
Begitu besar keinginanku untuk melihatmu hidup dan bangkit,,, tertawa melihat lucunya anak kita,,, menangis karena bandelnya mereka,,, kemudian tertawa lagi saat mereka meminta kita segera menikahkan mereka,,,
Ayo sayang bangunlah,,,
Jangan seperti ini,,,
Aku menangis sembari menciumi tangannya yang makin terasa dingin itu.
Aku mampu dan rela membayar berapa pun asal kau mau bangun,,,
Aku tak kuasa jika harus menyetujui saran dokter melepas semua alat medis yang menempel di tubuhmu,,,
Itu sangat bertentangan dengan hatiku,,
Sekian lama aku terisak disana. Berkali kali ku ciumi tangannya. kemudian kembali menangisinya.
"Relakan dia bro,,, lihatlah dirinya yang makin melemah,,, Jangan menyiksanya lagi,,, ikhlaskan dirinya pergi menyusul imam yang sudah dipilihnya,,, yang sudah lebih dulu menunggunya di SurgaNya,,, Jangan kau hambat lagi jalannya,,,
Tak peduli seberapa besar keinginanmu untuk melihatnya hidup,, kau juga harus tau betapa besar keinginannya mengikuti suaminya,,, Relakan bro,,, lepaskan,, ikhlaskan dia,,, Biarkan dia menyusul cintanya" Dion memegang kedua bahuku.
Aku makin terisak mendengar kalimatnya. Dadaku makin terasa sesak.
Bidadariku,,,
Sebesar itukah keinginanmu untuk memilih mendampingi imam pilihanmu??
Hingga kau tak mau berusaha bangkit dan membuka matamu,,,
Habiskah kesempatan bagiku menebus semua kesalahanku padamu?
Aku sanggup menerimamu walau kelak kau tak bisa lagi melangkah,,,
Aku rela menjadi kakimu,,,
Bidadariku,,,
katakan padaku apa yang harus ku lakukan,,,
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍
__ADS_1