BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 112


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


Suasana suka cita penuh tawa memenuhi ruangan VIP di restoran yang tersedia di hotel itu. Darren sudah memesannya untuk acara syukuran keluarga dalam rangka kelulusan Rayya.


Sepanjang acara diam diam Darren juga memperhatikan dua sejoli yang tampaknya berusaha sekali tak ingin memperlihatkan kemesraannya namun mata mereka tak bisa berbohong.


Darren tersenyum.


"Lo kenapa senyum senyum sendiri gitu??" tanya Dion yang diam diam sedari tadi juga selalu memperhatikan Darrren karena takut sahabatnya itu pingsan karena kelelahan.


"Lo lihat mereka." Darren mengarahkan matanya pada Rayya dan Bimo.


"Kenapa memangnya?" tanya Dion.


"Lo yang lebih banyak pengalaman dari gue kan seharusnya lo yang kasih tau gue."sungut Darren.


Dion kembali mengalihkan pandangan pada dua sejoli yang masih sibuk bicara lewat mata mereka. Diamatinya baik baik bahasa tubuh keduanya. Malu malu tapi mau.


"Hahhh?? Lo yakin??" Dion melongo lalu menanyakan itu pada Darren.


"Menurut lo??" tanya Darren balik.


"Hmmm,, Gue rasa sih begitu. Tapi gue rasa Bimo anak baik kan? Setidaknya dia pantas untuk Rayya." jawab Dion.


Darren mengangguk setuju.


"Perlu kita tes??" tanya Dion kemudian dengan wajah serius.


"Aduh gak usah. Kita ini sudah gak muda lagi. Masih saja jaman ya ngetes ngetes anak orang kayak masa muda kita dulu. Pakai ngirim mata mata segala. Anak gue pasti tau apa dan mana yang baik untuk dirinya." ujar Darren.


"Iya sih." Dion menggaruk kepalanya.


"Sudah yuk gabung sama mereka lagi." ajak Darren.


Dion menghela tangan Darren.


"Ada apa?" tanya Darren.


"Lo tadi beneran sakit perut atau lo bohong sama Rayya?? Sakit lo kambuh kan? Muka lo pucat Dare,,, Lo harus istirahat. Atau lo mau mereka semua tau kalau lo sakit?" ancam Dion.

__ADS_1


"Gue gak apa apa. Gue sehat hari ini apalagi hari ini adalah hari bahagia Rayya. Gue akan berusaha sekuat mungkin untuk tetap sehat dan kuat buat dia." ujar Darren.


"Setidaknya minum obat lo." pinta Dion.


Darren menepuk bahu Dion.


"Thanks bro buat semua perhatian lo. Itu berarti sekali buat gue. Tapi lo tenang saja. Gue sudah minum obat tadi sebelum kita naik mobil menuju ke sini." Darren tersenyum.


Akhirnya Dion lega mendengarnya. Mereka kemudian kembali bergabung dengan anak anak Darren. Menghabiskan semua makanan yang sudah dipesan dan saling bercerita.


Keluarga yang hangat meski tak ada sentuhan seorang ibunda.


"Bidadariku,, Bayangkan seberapa bahagianya aku jika kamu juga ada di sini bersama kami. Sayang,,, Aku rindu kelembutanmu, kesabaranmu." batin Darren.


"Ayah,, Ayah kok diam saja? Ada apa??" suara manja Rayya yang tiba tiba sudah bergelayut saja di bahu Darren menyadarkan Darren dari kenangannya akan Chaira.


"Tidak apa apa nak. Ayah hanya,,," Darren tak meneruskan perkataannya.


"Rindu sama bunda. Rayya tau,,, Ayah pasti membayangkan seandainya ada bunda di sini. Pasti kebahagiaan ayah terasa lebih sempurna." Rayya melanjutkannya.


Darren tersenyum lalu mengelus puncak kepala Rayya yang tertutup hijabnya.


"Anak ayah makin pintar saja membaca pikiran ayah." ucap Darren.


"Iya dong,,, Masak selama ini punyanya cuma ayah,,, Rayya masih saja tidak mampu memahami isi hati ayah??" si manja makin manja pada Darren.


"Hei sudah sana gabung sama Bimo dan kakakmu,,, Jangan manja manjaan terus sama ayah. Sebentar lagi sudah mau menikah lho,,," goda Dion.


Rayya terbelalak mendengarnya.


"Ih om Dion. Siapa bilang Rayya akan segera menikah?? Kerja saja belum. Baru juga lulus." sungut Rayya namun langsung memelankan suaranya begitu menyadari rupanya Bimo mendengarkan ucapannya.


"Maaf bang,,," bahasa mata Rayya mengatakannya dan Bimo hanya balas dengan anggukan dan senyuman.


"Keburu kabur loh cowoknya kalau Rayya kelamaan dan banyak alasan." Dion rupanya tak puas juga menggodanya.


Rayya yang kedapatan masih memandangi Bimo langsung salah tingkah mendengar ucapan Dion itu. Dikedip kedipkannya matanya berulang ulang untuk mengusir kegugupannya.


"Om Diooon,,, Ah ayah jangan diam saja dong. Bantuin Rayya." rengek Rayya manja.


"Kan apa yang dibilang om Dion benar. Tapi kenapa juga Rayya harus salah tingkah begitu kalau Rayya memang belum punya cowok hayooo,," Bukannya membela, Darren malah ikut menggoda Rayya.


"Aaaahhh ayaaahh!!!!" Rayya cemberut.


"Hahaha,,, Ayah tau dibalik cadarmu itu pipi kamu pasti sudah merah merona." goda Darren lagi.

__ADS_1


"Hmm ayah gak asyik ah,," Rayya makin manyun.


"Ngaku saja sama ayah sama om. Gak apa apa kok. Kita kita ini juga pernah muda kok. Kita paham gejolak kawula muda. Terutama om Dion nih,, Urusan begituan sudah hafal di luar kepala." Dion menyombong.


Rayya mencebik.


"Tapi kan akhirnya gagal move on juga kan dari tante Hana walau dulunya om seorang casanova." rupanya Rayya punya jawaban untuk menyerang balik Dion.


"Husst,, Jangan kencang kencang Rayya. Nanti semua dengar loh." Ganti Dion yang salah tingkah.


Rayya hanya tergelak puas karena serangannya langsung merobohkan pertahanan Dion.


"Sudah sana temani Bimo nak. Kasihan tuh Bimo sendirian." titah Darren dengan lembut.


Rayya menoleh dan memperhatikan mata ayahnya baik baik berusaha menerka apa maksud ayahnya menyuruhnya begitu.


"Ayah." lirih Rayya.


"Ayah tau. Ayah tidak akan mengatakan pada kakakmu kalau kamu merasa belum siap. Ayah hanya pesan padamu,, Ingatlah jarak yang masih ada di antara kalian. Bersabarlah sampai tiba waktunya nanti." Darren mengusap puncak kepala Rayya lagi.


"Ayah,,," Airmata Rayya keluar dari sudut sudut matanya.


Rayya menyesal karena dia malah menyembunyikan semua ini dari Darren padahal dia tau betul bahwa ikatan batin antara dirinya dan Darren sangatlah kuat melebihi Darren dengan Levi.


"Rayya minta maaf. Bukan maksud Rayya tidak jujur sama ayah." lirih Rayya.


"Ayah paham nak. Tidak perlu kamu minta maaf." jawab Darren.


Levi datang lalu langsung merangkul Rayya.


"Ada apa nih?? Kok nangis Ayya??" tanyanya begitu menyadari mata Rayya basah.


Bimo hanya memperhatikan dari kejauhan.


"Biasalah adik kamu ini kan kalau dekat ayah bawaannya baper saja. Sedikit bicara bisa menangis. Adikmu hanya sedang bahagia luar biasa sampai dia tidak bisa berkata kata lagi." ujar Darren.


"Oh kambuh cengengnya kalau dekat ayah. Hmmm." sungut Levi.


"Kayak kakak gak aja dulu." Rayya tak mau mengalah.


"Ayya,,, Jangan kencang kencang ngomongnya nanti kak Ara dengar lho." ucap Levi malu malu takut ketauan Tiara kalau dirinya juga suka menangis kalau dekat Darren.


Menangisi kegigihan ayahnya membesarkan mereka berdua tanpa sosok pendamping,,, Menangisi Darren yang mengesampingkan dirinya sendiri demi membahagiakan mereka berdua.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹


__ADS_2