
Selamat membaca ๐น
Maaf banyak typo ๐
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
๐น๐น
"Gue gak bisa lagi Dare,,,"
Dion menunduk menyembunyikan airmata yang mulai menggenangi pelupuk matanya. Sore itu dia menemui Darren di rumahnya.
"Apa lo yakin harus dengan cara seperti ini??" tanya Darren memegang bahu Dion.
"Ya,, Sepertinya ini cara terbaik biar gue bisa sedikit melupakan dan merelakan Hana bersama suami barunya. Look at them Dare,,, Mereka sudah sangat bahagia dengan hadirnya dua putranya. Gue hanya tidak percaya pada diri gue sendiri bahwa gue bakalan bisa terus berdiam diri melihat kebahagiaan mereka." ucap Dion.
Darren masih setia mendengarkan. Dia sama sekali tak menyela sebelum Dion benar benar menyelesaikan curhatannya.
"Gue takut gue kalap dan melakukan sesuatu yang bisa menyakiti Hana secara tidak langsung demi mencapai kebahagiaan gue sendiri. Gue takut Dare,,, Makanya gue pikir lebih baik gue pergi sejauh mungkin dari Hana." lanjut Dion.
Darren manggut manggut seolah membenarkan apa yang ada di pikiran Dion. Darren sebagai kakak Hana juga tentunya sangat tidak menginginkan apa yang jadi kebahagiaan Hana saat ini direnggut paksa oleh Dion meski Dion adalah sahabatnya.
"Baiklah,,, Apa pun alasan lo asalkan ini semua demi kebaikan kalian berdua dan kita semua,,, Gue pasti support lo bro." Darren kembali menepuk nepuk bahu Dion.
"Thanks bro. Gue janji gue gak akan pernah lupa ngabarin lo apa pun yang terjadi sama gue walo kita jauh jauhan. Lo juga,,, Jangan pernah lupa kalau lo selalu butuh gue jadi jangan sok sok an lupa sama gue,,," canda Dion.
"Hahahha,,, Mana mungkin gue lupa sama sahabat gokil gue ini,,," jawab Darren.
"Sayangnya gokil gue udah ilang dan tinggal mellow doang,,," lirih Dion.
"Hey,,, Mana jiwa casanova lo?? Kalau kayak gini gue jadi pingin dukung lo balik kayak dulu lagi hahahha,,," seru Darren.
"Sialan lo,,, Lo aja sendiri sono jadi casanova,,, Bisa gak???" ejek Dion.
"Gak ah,,," sahut Darren pendek sambil mengendikkan bahunya.
"Cemen lo,,, takut ma anak anak???" ejek Dion lagi.
__ADS_1
Belum sempat Darren menjawab Dion langsung main memanggil Levi dan Rayya yang sedari tadi bermain di taman.
"Levi,,, Rayya,, Sini deh." panggilnya membuat Darren heran.
Kedua anak itu pun langsung berlari mendekat.
"Ada apa om Dion??" tanya Levi.
"Om mau tanya,,, Kalian gak kangen sama bunda??" tanyanya.
"Kangen om,,," sahut keduanya serempak.
"Gak pingin punya bunda baru??" tanya Dion yang langsung dipukul lengannya oleh Darren.
"Lo apaan sih tanya begitu sama anak anak??" bisik Darren.
"Tenang bro,,, Gue cuma mau tau apa jawaban mereka. gue hanya ingin lo juga dengar apa keinginan mereka. Lo boleh bertahan dengan kesendirian lo,,, tapi lo juga harus tau kebutuhan mereka." bisik Dion juga.
Darren terdiam. Ucapan Dion itu mungkin memang ada benarnya. Selama ini dirinya tak pernah sekali pun menanyakan apakah anak anaknya bahagia tanpa adanya sosok seorang bunda.
"Jadi gimana sayang sayangnya om Dion,,, Mau punya bunda baru gak??" Dion kembali bertanya pada Levi dan Rayya.
"Levi juga gak mau om,,, kata teman teman ibu tiri itu banyak yang jahat. Levi gak mau punya ibu jahat om. Bundanya Levi cuma bunda yang ada di surga. Levi sama adik Rayya gak perlu bunda bunda yang lain karena ayah sudah seperti bunda. Ayah suka masak buat kita seperti bunda,,, Ayah suka bacain buku dongeng sebelum kita tidur kayak bunda. Ayah bisa melakukan semua yang bunda kerjakan." sahut Levi.
"Iya,,, Ayya juga suka diajak masak. Masakan ayah enak cekali. Ayya sayang deh sama ayah,,," si kecil tiba tiba berlari mendekati Darren dan memeluk penuh kasih sayang.
Sungguh kasih sayang yang begitu tulus murni dirasakan oleh Darren melalui pelukan kecil Rayya. Putri kecil yang sebenarnya sama sekali tak ada hubungan darah dengannya namun pelukannya mampu menggetarkan jiwa Darren.
"Levi juga sayang sama ayah." sang kakak pun ikut memeluk ayahnya.
Lengkap sudah aliran kebahagiaan Darren mendapat pelukan penuh cinta kasih dari dua buah hatinya.
"Ayah juga sayang sama kalian. Kalian anak anak terbaik yang bunda titipkan sama ayah dan ayah janji ayah akan terus berusaha jadi ayah dan bunda terbaik untuk kalian ya nak,,," ucap Darren dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Ayya gak mau punya bunda balu ya ayah,,," celetuk Rayya yang masih bergelayut manja di lengan Darren.
"Levi juga ayah." Levi menyatakan hal yang sama.
__ADS_1
"Iya sayang,,, Ayah janji tidak akan pernah ada bunda baru dari mana pun dan siapa pun. Kalian hanya akan jadi anak bunda Chaira. Anak ayah dan anak abi Ray,,," janji Darren pada kedua buah hatinya.
Janji yang benar benar akan ditepatinya.
Dion terharu melihat kedekatan dan kekompakan mereka bertiga. Ada rasa tidak enak menanyakan hal seperti itu tadi pada dua anak yang mungkin dilihatnya masih kanak kanak namun Dion dibuat takjub dengan pemikiran keduanya.
"Ayo kalian mainan lagi ya,,, Tapi setengah jam lagi harus selesai mainnya ya. Mandi,, sholat,,, terus kita masak dan makan malam bareng ya. Rayya mau kan bantu ayah,,,??" tanya Darren.
"Mauuuuu,,, Ayya yang belcihin sayulnya ya ayah,,," Rayya selalu paling semangat kalau diajak masak.
"Iya sayang,,, Trus kak Levi bantu apa dong??" tanya Darren pada Levi yang tampak berpikir dulu.
"Rapikan dan bersihkan meja makan saja ya ayah,,," sahutnya kemudian.
"Boleh,,, Yang penting harus tetap membiasakan diri untuk saling tolong menolong ya nak. Walau kamu laki laki,, tidak berarti kamu boleh dan bebas tak mengerjakan atau membantu pekerjaan rumah. Kelak kamu sudah dewasa,, kamu akan terbiasa bantu istrimu." kata Darren.
Levi mengangguk mengerti. Kemudian dia mengajak Rayya untuk kembali menghabiskan jatah waktu bermain mereka.
"Mereka masih kecil Dare,, Lo sudah jauh banget ngomongnya. Sampai ke istri segala,,," protes Dion.
"Justru karena mereka masih kecil,, Cangkirnya masih kosong. Akan lebih baik jika cangkir kosong itu sedini mungkin kita isi dengan segala kebaikan agar nantinya tidak akan ada ruang kosong untuk hal buruk." tukas Darren.
"Gue gak mau mereka kayak gue dulu. Terlalu terlambat untuk bisa memahami bagaimana menjalani kehidupan sehari hari. Sampai gue lupa bagaimana memperlakukan istri gue juga sebaik mungkin. Gue tidak mau apa yang gue lakukan dulu menjadi sebuah karma buruk bagi Rayya maupun Levi,,," lanjutnya kemudian.
"Gue paham bro,,," perumpamaan Darren cukup bisa dipahami oleh Dion.
"Ayo lo bantu juga dong gue masak,,, Lo makan di sini bareng kita kan??" tanya Darren kemudian.
"Boleh,,, itung itung makan malam sebelum gue pergi jauh dari kota ini." sahut Dion.
"Oh ya,,, by the way emang lo rencana mau kemana sih bro?? Dari tadi lo bilang jauh jauh terus tapi lo belum bilang kemana." protes Darren.
"Maybe Hawai,,, alam dan pantai eksotisnya gue harap bisa menenangkan pikiran dan hati gue. Gue akan menetap di sana dan mulai bisnis baru gue di sana. Lo tetap dukung gue kan bro??" tanya Dion.
"Selalu,,," Darren tersenyum.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih untuk vote, like dan komennya yaa ๐นโค๏ธ