
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹🌹
"Astaghfirullah,,, Astaghfirullah,,, Ya Rabb cobaan apa ini yang Engkau berikan padaku?? Jangan seberat ini ya Rabb jika ini adalah sebuah ujian atau pun hukuman bagi hamba. Hamba tidak sanggup ya Rabb jika harus melihat hati putri kecil hamba semenderita ini,,," lirih Darren dalam tangisnya.
Darren pun terduduk lemas di kursi itu. Dirinya sama sekali tak sakit hati oleh kata "Jahat" yang dilontarkan oleh Rayya kepadanya.
Namun Darren jauh lebih merasakan pedih dan sakitnya Rayya mengetahui bahwa cintanya tak boleh diteruskan. Darren masih tak beranjak dari duduknya dan berusaha menenangkan diri dan pikirannya terlebih dulu.
"Ini tugasku sebagai ayah." lirihnya kemudian setelah pikirannya lebih jernih.
"Aku harus jelaskan semuanya pada Rayya agar dia paham apa alasanku melarangnya. Mungkin ini salahku yang tidak menjelaskan dulu padanya namun langsung melarangnya. Semestinya aku jelaskan dulu pada Rayya kenapa aku melarangnya,,,Bukan langsung mengatakan padanya bahwa itu haram." gumam Darren kemudian.
Darren paham,,,Mungkin Rayya belum pernah tau atau belum paham dengan istilah saudara sepersusuan.
"Maafkan hamba ya Rabb,, Hamba telah lalai mendidik anak anak hamba. Hamba lupa menjelaskan dan memastikan bahwa kedua anak hamba ini telah paham tentang hubungan darah mereka. Hamba malah hanya berkutat pada rasa bersalah hamba pada bidadari hamba saja,,," Darren merasa bersalah.
Setelah yakin dengan apa yang harus dilakukannya,,,Darren pun menaiki tangga dan menuju ke kamar Rayya. Setibanya di pintunya,,,Darren mengetuk pelan.
Tok,,,Tok,,Tok,,,
"Rayya,,, Buka pintunya sayang. Ayah mau bicara."ucapnya lembut namun terdengar jelas.
Tidak ada sahutan dari dalam. Darren pun kembali mengetuk.
"Rayya,,, Beri ayah kesempatan menjelaskan semuanya nak. Ayah tidak mau kamu salah paham dengan ucapan ayah tadi." ucap Darren.
Tetap tak ada jawaban atau pun suara dari kamar Rayya. Pintunya pun tetap tertutup.
"Rayya,,, Kamu di dalam kan sayang?? Ayo nak,,, Rayya anak ayag yang baik. Tidak baik membiarkan masalah berlarut larut seperti ini nak. Semua harus dan bisa dibicarakan. Ayo nak buka pintunya,,," Darren meminta lagi.
Karena tetap tak ada jawaban atau pun reaksi dari Rayya,,, Darren pun mulai gelisah dan cemas.
"Rayya,,, Buka pintu nak. Rayya kamu baik baik saja kan???" Darren mulai cemas setelah sekian lama tidak mendapat respon.
__ADS_1
Pikirannya mulai bisa menebak bahwa terjadi sesuatu dengan Rayya di dalam.
"Tidak,,, Tidak boleh!!!"
Darren mulai menggerakkan gagang pintu yang terkuncu itu ketika selintas pikiran buruk lewat dalam benaknya. Karena pintu itu terkunci,, Darren pun berusaha membuka paksa dengan mendorong pintu itu dengan tubuh kekarnya.
Namun pintu rumahnya yang semua terbuat dari bahan yang bagus itu pun tak semudah itu bisa didobraknya.Darren menarik napas dan mencoba kbali berpikir jernih.
"Rayya tunggu ayah,,,," teriaknya begitu dia ingat ada kunci serep untuk kamar Rayya di lantai bawah.
Darren pun berlari menuruni anak tangga itu dan dengan cepat membuka lemari yang berisi semua kunci serep setiap pintu di rumahnya. Dan saking banyaknya pintu di rumah sebesar itu tentu saja membuat Darren juga bingung melihat banyaknya kunci.
"Aduh yang mana lagi ini kuncinya. semua sama,,,"Gerutunya.
Darren pun memutuskan membawa semua kunci itu naik ke atas dan mencoba memakainya satu persatu meski baginya itu tidak efisien waktu. Pikirannya sudah sangat buruk menebak nebak apa yang terjadi di dalam kamar Rayya.
"Ray,,,bantu aku menemukan kunci yang benar Ray,,, Nak kita dalam bahaya Ray,,, Ya Rabb,,, hamba mohon janfan biarkan sesuatu yang buruk menimpa Rayya ya Rabb,,, Hamba tak akan pernah bisa memaafkan diri hamba lagi jika itu sampai terjadi,,,"
Darren terus bicara sendiri sambil terus mencoba setiap kunci yang dibawanya. Hingga setelah beberapa kunci akhirnya,,,
Kleekk,,,
Dan saat pintu sudah terbuka Darren tak menemukan Rayya di ruangan itu.
"Rayya,,, Rayyaaa,,, Di mana kamu nak???" Darren heran.
Matanya pun tertumbuk pada pintu kamar mandi yang tertutup juga. Darren coba mengetuknya namun tidak ada jawaban juga. Darren pun menggerakkan gagang pintunya.
"Astaghfirullah Rayyyaaaaa,,,,,!!!! Apa yang kamu lakukan nak????" Darren menangis melihat tangan Rayya sudah dipenuhi darah yang berlumuran dan masih terus mengalir dari nadinya.
Bibir Rayya sudah memucat dan dirinya juga sudah tak sadarkan diri. Darren cepat membopongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Bertahan Rayya,,,Bertahan,,, Ayah tidak siap dan tidak mau kehilangan kamu nak." Darren terus bicara dalam perjalanan.
"Ya Rabb,,,Jangan ambil Rayya dari hamba ya Rabb,,,Hamba mohon. Beri dia kekuatan ya Rabb,,,"doa doa untuk Rayya tak putus putus.
Sesampainya di rumah sakit Rayya langsung masuk ke UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Darren harap harap cemas di luar.
"Levi,,,Aku harus menghubungi Levi." gumamnya saat dirinya sudah agak mulai bisa menguasai diri.
__ADS_1
"Assalamualaikum ayah,,, Ada apa ayah??" suara Levi terdengar di telepon.
"Waalaikumsalam Levi,,, Kamu bisa segera ke rumah sakit X nak?? Sekarang juga,,," ucap Darren.
"Siapa yang sakit ayah??" tanya Levi bingung mengingat tadi semua kelihatan sehat sehat saja saat dirinya pergi.
"Rayya nak,,," jawab Darren.
"Rayya??? Kenapa dengan Rayya ayah,,, Apa yang terjadi???" Levi panik mendengarnya.
"Nanti ayah jelaskan.Yang penting kamu segera kesini ya nak. Kamu tau kan alamat rumah sakit ini??" tanya Darren.
"Tau ayah,,,Levi akan segera ke sana ayah." jawab Levi.
"Iya nak,,,Hati hati. Fokus nyetirnya jangan sampai gara gara ini kamu ngebut di jalan ya. Dan satu hal lagi Levi,,," kata Darren.
"Apa ayah??" tanya Levi dengan suara terengah engah karena dirinya tengah berlarian menuju ke parkiran mobil.
"Datang sendiri saja ya nak. Jangan ajak teman temanmu."ucap Darren.
Levi menghentikan larinya.
"Baik ayah. Levi berangkat kesana sekarang. Assalamualaikum ayah." ucap Levi.
Darren menjawab salam itu tepat saat dokter yang menangani Rayya keluar.
"Bagaimana dok keadaan putri saya??" tanya Darren tidak sabar.
"Syukur bapak tepat waktu dan cepat membawanya kesini. Kalau tidak bisa fatal pak karena putri bapak cukup banyak kehilangan darah. Luka sayatan pada nadinya cukup dalam. Sekarang dia sudah melewati masa kritisnya namun masih sangat lemah. Saya sarankan bapak jangan mengganggunya dulu dan mungkin melihat jenis lukanya,,,bapak perlu untuk menghadirkan ahli psikologi untuk putri bapak. Ya untuk memulihkan kembali traumanya atau kondisi psikologisnya." ucap dokter.
Darren paham dan mengangguk. Dokter itu pasti tau untuk gadis muda yang sampai nekad bunuh diri itu pastinya telah terjadi sesuatu yang begitu menghantam jiwanya hingga gadis itu rapuh.
"Maafkan ayah Rayya,,,Ini salah ayah,,," gumam Darren dari balik pintu kaca ruangan inap Rayya.
Gadis cantik itu tampak terpejam dan mengingatkan Darren pada sosok lemah yang dulu juga serapuh itu sebelum pergi meninggalkannya selamanya.
"Maafkan aku Ray,,,bidadariku,,,aku tidak menjaga titipan kalian dengan baik." ratap Darren pilu.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌹