
Selamat membaca ❤️
Maaf banyak typo 🙏
🌹🌹🌹
"Rayya,,," panggil Karin.
"Ya,,, Ada apa Rin?"
"Bisa kita berhenti dan bicara sebentar??" tanya Karin dengan wajah serius.
"Mmm kopi dan gulanya gak sedang ditungguin nih? Aku sih ok ok aja kalau kamu mau berhenti dulu." ucap Rayya.
Maklum keduanya memang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Adi setelah sempat berbelanja beberapa bahan yang diperlukan.
"Kalau gitu sambil jalan saja ya." Karin tersenyum dibalas Rayya dengan anggukan setuju.
"Mau bicara apa Rin?"
"Tentang kita dan Bimo."
"Aku sudah tau. Aku tidak permasalahkan hal itu. Lagipula itu sudah berlalu kan? Kami juga sebentar lagi menikah dan ku rasa kamu juga tau itu." Rayya menebak arah bicara Karin.
Karin menghela tangan Rayya agar berhenti sejenak. Rayya menoleh dengan pandangan heran.
"Kamu mungkin bisa mengerti tapi papa tidak. Rayya,,,Sejujurnya saja aku ingin bilang sama kamu bahwa apa pun persyaratan yang diajukan oleh papa nanti tolong jangan ada yang kamu sanggupi. Sudah cukup papaku menyakiti atau pun mencelakai keluarga kalian dan aku tidak mau melakukannya juga. Aku tidak mau menyakiti hatimu walau aku,,,,"
Rayya mengerutkan alisnya menunggu kalimat selanjutnya. Jujur Rayya bingung apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Karin itu.
"Menyakiti atau mencelakai keluargaku??" batin Rayya tak paham.
"Walau aku masih mencintai Bimo. Bimo pria pertama yang bisa membuatku jatuh cinta dan aku ingin dia jadi yang terakhir juga. Maafkan aku Rayya kalau kejujuranku menyakitimu." wajah Karin tertunduk di depan Rayya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah begitu mencintai bang Bimo." Rayya memegang kedua bahu Karin membuat Karin terheran heran bagaimana bisa sorot mata Rayya sama sekali tak menunjukkan amarah setelah mendengar kejujurannya.
"Rayya?? Kamu kok malah???"
"Cinta itu anugerah dari Rabb kita bukan? Aku tidak pernah berhak menyalahkan jika dalam hatimu juga ada cinta yang sama seperti milikku untuk pria yang sama. Asalkan kamu bisa menguasai dan mengendalikan cinta itu sendiri seperti yang sudah kamu lakukan saat ini." ucap Rayya.
"Kamu bilang kamu masih cinta bang Bimo tapi kamu tak ijinkan cintamu itu membutakan dirimu. Kamu masih memegang kendali akan cintamu agar kamu tak melukai aku. Untuk itu kuucapkan terima kasih kepadamu. Terima kasih sudah mencintai calon suamiku,,, terima kasih telah mengalah padaku,,,dan terima kasih telah jujur kepadaku."
Karin mengangguk lega karena sepupunya itu benar benar berhati emas. Tidak apa jika dia harus menanggung cintanya seumur hidup pada Bimo meski tak terbalas,,, Yang jelas sepupunya ini tak lagi harus menjadi korban rencana jahat papanya.
"Tapi kalau aku boleh tau,,,Apa maksudmu bilang bahwa om Adi sudah menyakiti keluargaku??" tanya Rayya.
Karin gugup ditanya seperti itu. Dia ragu apakah harus berterus terang pada Rayya atau tidak. Satu sisi dia merasa itu harus dilakukan agar papanya tidak terus menerus tenggelam dalam obsesinya untuk memiliki separuh dari kekayaan peninggalan Ray,,, Tapi di sisi lain,Karin tak tega jika papanya harus meringkuk di penjara.
"Rin?? Ada apa sebenarnya??" Rayya mengguncang bahu Karin yang malah melamun.
"Papa,,,"
"Kenapa??" Rayya penasaran.
"Iya kenapa Rin??" desak Rayya.
Karin tak sanggup melanjutkan dan menjatuhkan barang belanjaannya karena tangannya kini digunakannya untuk menutupi wajahnya yang sudah basah oleh airmata.
Rayya memungut barang belanjaan yang jatuh lalu mengajak Karin duduk dulu di bangku bangku yang tersedia di sepanjang jalan itu.
Diulurkannya beberapa helai tissue pada Karin untuk menghapus airmatanya.
"Terima kasih Rayya. Tapi sikapmu yang baik ini buat aku makin merasa bersalah padamu. Maafkan aku dan mendiang mamaku yang tidak pernah punya kekuatan untuk melawan papa. Maafkan mama yang tidak bisa mengingatkan papa agar tak berbuat sejahat itu pada om Ray." tangis Karin kembali pecah.
Kini dia terisak isak menahan beban di dadanya.
"Memangnya apa yang dilakukan om Adi pada abi?? Tolong katakan Rin,,,Inshaallah apa pun yang akan ku dengar setelah ini tidak akan menghapus persaudaraan kita. Inshaallah aku bisa menerima apa yang sudah lama berlalu." Rayya berusaha menguatkan hati.
__ADS_1
Karena tiba tiba saja hatinya juga sesak menanti kejujuran lain dari Karin tentang abinya. Sudah terlintas beberapa tebakan buruk dalam benak Rayya.
"Ya Rabb,,, Apa pun yang akan hamba dengar setelah ini,, Hamba hanya meminta pertolonganMU ya Rabb. Tolong hindarkan hamba dari bisikan bisikan setan yang akan membuat iman dan kesabaran hambaMU ini goyah. Aamiin,,," Rayya terlebih dulu berdoa dalam hati.
"Kecelakaan yang menimpa kalian dulu,,, itu bisa dibilang adalah ulah papa. Papa yang sudah memberikan botol minum berisi obat tidur pada om Ray hingga om Ray mengantuk dan hilang kendali saat menyetir." lirih Karin.
"Astaghfirullah,,, Ya Rabb jauhkan hamba dari setan setan yang akan membisikkan hawa emosi pada hamba." airmata Rayya menetes mengenang kejadian yang sudah merenggut nyawa abi, bunda, oma dan juga adik Putrinya.
Masih teringat jelas rasa sakit yang harus dirasakannya akibat beberapa bagian tubuhnya ada yang patah tulangnya. Mendadak tubuh Rayya merasa nyeri mengingat itu. Rayya memegangi kedua bahunya sendiri dengan menyilangkan tangannya di dadanya.
Berusaha dengan keras menekan nekan dadanya agar bisa menelan kembali kenangan buruk itu dan tak ingin memberikan kesempatan pada setan merasuki hatinya.
"Astaghfirullah,,, Astaghfirullah,,," Rayya terus beristighfar.
"Aku dengar sendiri papa dan mama bertengkar perkara ini Rayya. Tapi percayalah padaku bahwa mama sudah berusaha mengingatkan papa waktu itu tapi papa tidak menggubrisnya." Karin ikut menangis lagi.
"Apa salah abi sampai om Adi tega berbuat begitu??" tanya Rayya disela isakannya.
"Om Ray tidak salah apa apa Rayya. Papaku lah yang salah. Sepenuhnya salah papa. Papa gelap mata. Papa menginginkan agar harta warisan keluarga tak jatuh pada om Ray. Papa menyalahkan om Ray karena telah menikahi tante Chaira yang punya anak dua dari pernikahannya sebelumnya." jelas Karin.
"Bahkan kedua anak itu juga bukan anak bunda semua. Tapi karena itu bunda jadi harus jadi korban juga?" tanya Rayya lirih.
Bukan karena semata mata karena ulah Adi dia jadi kehilangan bundanya,,Tapi lebih mengingat keseharian Darren yang masih selalu berduka atas kepergiaan Chaira.
Membayangkan ayahnya tau bahwa kepergian bundanya karena ulah manusia serakah,,,Hati Rayya pilu.
"Ayah pasti sangat terluka." batinnya.
"Sekali lagi aku minta maaf atas nama papa Rayya. Meski aku tau maaf saja tidak cukup,,, maaf tidak akan membawa om Ray dan tante Chaira hidup kembali. Tapi aku akan tetap meminta maaf padamu,,, Atas nama keluargaku." Karin beringsut dari duduknya dan langsung bersimpuh di depan Rayya.
"Jangan seperti ini Karin. Ayo berdirilah,,," Rayya membantu Karin berdiri lalu memeluknya.
"Sekali lagi terima kasih sudah mengatakan semua ini." bisiknya.
__ADS_1
\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹🌹