BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 133


__ADS_3

...Selamat membaca 🌸...


...Mohon maaf banyak typo...


...πŸ™πŸ˜€...


...🌸🌸🌸...


Bukan main bahagianya juga Dion yang juga langsung dihubungi Rayya setelah selesai menelpon Darren. Setelah membicarakan segala sesuatunya yang diperlukan untuk pernikahan,,, Rayya memang menghubungi Dion pas tidak sedang bersama Bimo.


Bimo berada di kamarnya sendiri. Meski sama sama di hotel dan jauh dari orang tua,,, cinta mereka tidak jadi alasan untuk mereka melewati batas. Mereka memegang kepercayaan yang sudah diberikan oleh Darren dengan baik.


"Rayya kan udah pasti nih om bakal nikah,,, Om kapan dong nyusul??" goda Rayya.


"Ngaco deh kamu Rayya,,, Om ngapain juga nyusul?? Udah tua ah. Om stay jomblo aja nemenin ayah kamu." jawab Dion menutupi perasaannya. Dion tidak tau kalau Rayya sudah tau mengenai dirinya dan Karin meski belum secara detail.


"Yakin mau dianggurin terus?? Keburu disamber orang loh,,," goda Rayya lagi.


"Siapa juga yang om anggurin?? Siapa juga yang bakal disamber orang lain?? Tunggu deh tunggu,,, Rayya kok dari tadi kayak lagi nyomblangin om sih?? Om jadi curiga,,," Dion memicingkan mata.


Rayya tergelak saja.


"Rayya jujur deh sama om,,," kini Dion yang dibuat penasaran.


"Pokoknya Rayya setuju,,, Ayah juga setuju kan??" Rayya malah tanya balik.


Dion jadi makin curiga. Wajahnya menegang saat selintas nama Karin teringat.


"Jangan bilang Darren yang kasih tau Rayya. Waahh tuh orang ya,,,ember banget. Kalau Rayya tau kan bisa jadi Levi juga tau,,,Itu artinya Tiara pun tau,,,belum lagi Bimo. Waahhh semua tau jadinya kan hmmm,,,,"

__ADS_1


"Tenang om,,,Rayya belum cerita ke siapa siapa kok." Rayya sepertinya paham apa yang sedang dipikirkan Dion.


"Beneran?? Bimo???" tanya Dion.


"Bener om. Bahkan bang Bimo juga belum Rayya kasih tau. Pokoknya masih aman beritanya." Rayya meyakinkan.


"Ah syukurlah kalau begitu,,," Dion mengurut dada lega.


"Hahahha jadi bener nih?? Karin??" tanya Rayya.


"Loh emang sedari tadi kamu cuma mancing mancing om aja nih??" Dion merasa dibodohi anak kecil.


"Iyaaa,,," Rayya jujur dan tertawa puas.


"Wahh om dikadalin berarti nih." sungut Dion.


"Yaa gitu deh. Tapi berarti bener kan om?? Om ada rasa sama Karin?? Jujur dong om sama Rayya. Karin itu kan sekarang jadi kakak Rayya juga. Jadi Rayya ingin dia bahagia juga dengan mendapatkan orang yang tepat." kata Rayya.


"Kalau bukan om,,,Siapa lagi yang bisa Rayya percaya bisa bahagiakan saudara Rayya itu." jawab Rayya membuat hati Dion melambung.


"Tapi by the way Rayya tau dari mana sih?? Dari ayah??" Dion masih penasaran.


"Hmm kasih tau gak ya dari siapa???" Rayya malah menggoda Dion.


"Cerita dooongg,,,Kalau gak om gak mau datang nih pas nikahan kalian." Ancam Dion.


"Hahahha,,, Baiklah,,, Rayya cerita deh. Rayya tau dari Karin sendiri." Rayya pun bercerita awal mula dia bisa menduga dan makin yakin tentang yang tengah terjadi di antara Dion dan Karin.


Rayya juga cerita bahwa diam diam Karin memikirkan Dion juga bahkan Karin hampir memberitahukan pada papa Adinya tapi masih ragu karena sesuatu hal.

__ADS_1


"Jadi Karin diam diam juga gak fokus karena mikirin om ya??" wajah Dion jadi cerah.


"Iya om,,,"


"Tapi menurut Rayya kira kira apa yang buat Karin ragu bilang sama papanya?? Apa karena dia sendiri sempat menolak keterusterangan om kemarin?? Atau mungkin karena usia kami yang jauh kali ya,,," Dion lesu lagi.


"Rayya rasa bukan itu om." sahut Rayya.


"Lalu apa??" Dion penasaran lagi.


"Sepertinya lebih ke takut papa Adi menolak karena kesan pertama kalian bertemu kemarin lumayan buruk. Om ketemu papa Adi dengan membawa polisi yang berujung penangkapan papa Adi. Rayya rasa Karin hanya merasa tak enak pada papa Adi karena menjaga perasaan papa Adi." Rayya coba menebak isi pikiran Karin.


"Oh om ngerti. Masuk akal sih kalau Karin punya pikiran begitu. Bisa jadi juga emang papanya tidak mau orang yang menjebloskannya ke penjara malah merebut hati putrinya. Itu bisa membuat Adi merasa putrinya malah terkesan kerjasama dengan om." Dion lagi lagi lesu.


"Tapi sebenarnya Rayya tidak sepemikiran. Apalagi setelah pertemuan kemarin sama papa Adi. Papa Adi sudah berubah om,,, bahkan sudah lebih sabar dan menerima semua hukumannya. Beliau bahkan menyadari kesalahannya juga. Rayya rasa,,, Menerima om sebagai menantunya juga bisa diterimanya. Inshaallah,,,"


"Aamiin,,, Semoga saja ya Rayya. Tapi kalau pun papanya setuju,,, orang anaknya saja masih belum bilang apa apa sama om tuh. Terakhir kali juga dia masih nolak om. Meski sekarang dia mikirin om tapi kan hubungan ini belum jelas juga mau dibawa kemana. Iya kan???" Dion tak yakin.


"Hmmm kalau om dari awal aja udah gak yakin gini ya mana bisa jelas mau dibawa kemana. Om yakinin dulu dong hati om,, Terus yakin dan percaya juga sama Karin. Dia hanya butuh waktu sebentar lagi untuk makin meyakinkan dirinya sendiri dan papa Adi."


Dion tersenyum mendengar ucapan Rayya yang kadang masih dianggapnya bocil itu. Rupanya bocil itu jauh lenih terbuka dan bisa menyikapi sebuah masalah. Dalam hatinya Dion merasa bangga pada Darren yang telah berhasil mendidik anak Ray ini sampai jadi seperti ini.


"Terima kasih ya sudah buat om lebih tenang. Om tegaskan sama Rayya,,, Om bukan tidak yakin tapi om tidak mau terlalu memaksakan Karin menerima om. Om sadar diri,,, usia kami terpaut jauh. Om mungkin juga lebih cocok jadi papanya Karin ketimbang suaminya."


"Inshaallah kalau tuhan sudah berkehendak,,, jodoh tidak memandang usia om." Rayya kembali meyakinkan.


Sekali lagi Dion dibuat tenang oleh Rayya. Percakapan mereka malam itu pun tidak lama kemudian diakhiri karena Rayya juga butuh istirahat begitu pula Dion. Ucapan terima kasih Rayya atas kecerewetan Dion menjaga Darren juga sudah tersampaikan diiringi dengan kebahagiaan Dion yang bertambah mengetahui sahabatnya itu makin membaik kondisinya.


...🌸🌸🌸...

__ADS_1


...Terima kasih atas vote, like dan komennya πŸ™πŸŒΉ...


__ADS_2