BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Cobaan 2#


__ADS_3

Aku segera menghentikan mobilku tepat di depan lobby. Security segera menghampiri dan menerima kunci yang ku berikan padanya.


"Tolong parkirkan mobil saya pak" titahku


"baik pak" sahutnya


Aku segera masuk dan melihat pemandangan yang membuatku kesal. Febby yang tengah berkacak pinggang memarahi staffku satu persatu. Mereka dibuatnya berdiri berjejer dan menundukkan kepala. Hal yang sama sekali tak pernah ku lakukan walau sebesar apa pun kesalahan staff staffku.


"ehem,,, selamat siang bu Febby. Bisa ikut saya ke ruangan saya?" tanyaku sambil mencoba bersikap formal pada Febby yang masih sibuk mengomel.


Febby yang mendengar suaraku langsung menoleh dan segera menyambar tasnya yang ada di meja. Dia segera berjalan cepat mendahuluiku menuju ke ruanganku.


"apa pun yang dikatakan beliau hari ini pada kalian saya mohon jangan terlalu dipikirkan. Ambil sisi baiknya saja dan yang buruk abaikan saja. bagaimana pun juga jangan biarkan hal buruk mengganggu kinerja kalian semua. Saya persilahkan kalian kembali ke tempat kalian masing masing dan kembali menyelesaiakan tugas kalian. Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian hari ini." ucapku sopan pada anak buahku yang langsung mengangguk sopan dan kembali ke tempatnya masing masing.


Aku segera menyusul Febby. Sinta yang sudah kena omelan panjang tak berani melarangnya masuk. Aku menarik lengan Febby dengan cukup keras dan menyeretnya masuk. Setelah menutup pintu aku mendorong tubuhnya hingga dia terseok hampir roboh namun berhasil menguasai diri.


"sakit Dare,,, kasar sekali sih kamu sama wanita!!! " protesnya


"kamu tidak punya hak untuk memarahi staff staffku. walaupun kamu memiliki saham besar disini tetap saja kamu tidak punya hak melakukan hal seperti itu lagi!!!" aku langsung saja memprotes tindakannya tadi


"makanya kamu jangan telat lagi dong datangnya. Biar aku gak badmood lagi" serunya sembari membuka lemari pendingin di ruanganku dan mengambil sebotol air minum.


Aku meliriknya dengan pandangan jengkel. Wanita itu semakin seenaknya saja di kantorku ini. Jika tidak mengingat kembali usaha keras kami mendapatkan proyek ini aku sudah pasti menyeretnya keluar.


"minum dulu Dare" Febby mengulurkan botol air yang sudah dibukanya untukku. Aku yang masih kesal padanya menampik botol itu hingga isinya tumpah membasahi kemeja putihnya.


"aaawww,,,, " Febby terkejut ketika air itu tumpah dan segera mengusap usap kemejanya yang basah.


Aku sempat melirik bagian kemeja yang basah itu mencetak sebuah gambar jelas di dadanya. Bra hitam Febby tercetak jelas disana. Aku segera mengalihkan pandanganku. Rupanya Febby sempat menangkap saat aku menatap dadanya tadi.


"Dare,,, bisa bantu aku mengeringkannya? aku tidak mungkin menemanimu rapat direksi hari ini dengan baju basah seperti ini" rajuknya manja mengulurkan tisu kering padaku


Aku terima tisu itu setelah berpikir bicaranya ada benarnya. Rapat direksi diubah jadwalnya menjadi hari ini sesuai permintaanku yang terlanjur membatalkan cutiku hari ini. Aku sendiri yang memberitahu Sinta tadi dalam perjalanan menuju kantor. Aku menyuruhnya memberitahu semua dewan direksi agar mempersiapkan materi rapat. Febby tersenyum nakal saat aku menerima tisu itu darinya dan segera membusungkan dadanya.


Pemandangan dada itu semakin terpampang jelas di depan mataku. Sejenak aku terpana. Setelah sempat memacari wanita ini dulunya aku baru menyadari wanita ini memiliki sesuatu yang indah disana. Tanganku mulai tergerak untuk mengelap kemejanya.


Dretttttt,,,,


Ponselku bergetar dan membuatku tersadar.


"lakukan sendiri atau aku bisa meminta sinta membantumu" kataku pada Febby sembari meletakkan tisu itu di meja. Tampak jelas raut wajah kecewa di wajah Febby. aku memilih tak menghiraukannya.


"assalamualaikum sayang,,, bagaimana keadaanmu? apa sudah baikan? baby menyusahkanmu? ada mual? muntah?" aku menjawab panggilan telponku yang ternyata dari Chaira


Aku mengangguk angguk dan senang mendengar jawaban Chaira yang mengatakan bahwa dirinya baik baik saja. Dia hanya mengingatkanku untuk pulang lebih awal karena mama sudah masak banyak untuk makan malam kami. Aku segera mengiyakan dan menutup telpon.


"oh ya apa kabar istri muslimahmu itu Dare?" tanya Febby setelah mencuri dengar percakapan kami


"namanya Chaira" ketusku


"ya ya,, Chaira. bagaimana kabarnya?" Febby pura pura manis. Dia hanya ingin memastikan yang didengarnya tadi benar. Dia mendengar Darren menyebut kata Baby tadi.


"dia baik baik saja dan sedang mengandung" jawabku cuek tanpa memperhatikan dia dan mulai menandatangani beberapa lembar kertas yang sudah disiapkan Santi di mejaku sejak tadi.

__ADS_1


"oohhh selamat kalau begitu. Kau akan segera menjadi seorang ayah" seru Febby yang berusaha bersikap manis walau merasa kesal mendengar pernyataanku


Aku hanya menarik sebelah bibirku ke atas. Tersenyum kecut.


"kenapa Dare? sepertinya kamu menahan sesuatu? " pancingnya lagi


Dia mulai mendekati kursiku dan mendudukkan dirinya di pegangan kursiku.


"ceritakan saja padaku. Bagaimana pun juga aku ini temanmu. yahh siapa tau aku bisa mengurangi beban dihatimu" rayunya


Tangannya mulai diletakkan di kedua bahuku dan mulai memijit lembut disana. Pijatannya itu mampu sedikit merelakskan ototku yang tegang. Beberapa hari ini aku memang kurang istirahat. Kesibukan di kantor dan juga kondisi Chaira saat ini membuat otot ototku lumayan menegang. Aku mulai mengikuti irama pijatannya dengan menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Febby yang mengerti mulai memberanikan diri memijat area tengkukku dengan lebih lembut lagi. Bisa ku rasakan ujung kukunya menyentuh lembut kulit kepala belakangku membuat bulu bulu di tanganku berdiri. Aku sedikit bergidik dibuatnya. Febby yang mulai kelewat batas meniup lembut daun telingaku. Tangannya mulai menuruni dada bidangku.


"ayo Dare,,, ceritakan saja. Aku punya banyak waktu untukmu" bisiknya dekat sekali di telingaku


Aku semakin merinding dibuatnya. Kenapa baru sekarang aku menyadari Febby ternyata begitu seksi. Aku teringat obrolan dua sahabatku dulu tentangnya. Mereka menyuruhku untuk iseng saja dan mengatakan sayang jika hanya dibiarkan begitu saja. Rupanya perkataan mereka ada benarnya juga. Pikiranku semakin jauh melayang melayang dipenuhi dengan imajinasi nakal.


Kriiiingggg,,,,


aku terkejut dan langsung menampik tangan Febby yang sudah mulai masuk kedalam kemejaku. Aku mulai bisa menguasai diri lagi


"apa apaan kamu??? jangan pernah berani melakukan hal seperti ini lagi!!!!" ancamku seraya menunjuk wajahnya


krriiiinggg,,,


aku menyambar telpon yang masih terus berbunyi.


"ya Santi"


"Rapat direksi sudah siap pak,, tinggal menunggu kehadiran bapak dan bu Febby saja"


"betulkan kemejamu dan segera ke ruang rapat" titahku pada Febby yang merengut kecewa tindakannya tadi tidak berhasil. Dia segera merapikan bajunya dan berjalan mengekor di belakangku menuju ruang rapat.


Rapat direksi ku pimpin dan ku usahakan berjalan sebaik mungkin hingga selesai satu setengah jam kemudian. Selesai rapat aku berpesan pada Sinta untuk mengatur jadwalku besok dan memperbolehkannya segera pulang jika sudah selesai semua. Aku pun segera menuju ke mobilku yang sudah menunggu di depan lobby. Aku akan segera pulang menemui istri dan calon anakku.


Saat aku hendak menginjak gasku aku dikejutkan oleh Febby yang tiba tiba masuk dan duduk di sebelahku.


"apa apaan kamu? turun!!!" titahku


"aku ingin ikut bersamamu pulang. Sudah lama aku tak bertemu tante. oya aku juga bisa bertemu Chaira. Ayolah ijinkan aku ikut bersamamu Dare" pintanya


"Tidak!!! keluar sekarang!!! jangan buat aku berbuat kasar padamu dengan menyeretmu di depan security!!!" ancamku ketus


Febby merengut kemudian beringsut turun dan membanting pintu mobil cukup keras. Hal itu membuat beberapa staff yang sedang lewat terkejut dan menoleh ke arah kami dengan pandangan bertanya tanya sebenarnya ada hubungan apa diantara kami berdua. Aku langsung saja menginjak gas dan melaju menuju rumahku.


"waahhh ada acara apa ini ma kok masaknya banyak banget?" aku menyapa mama yang sedang sibuk menata makanan di meja


"tidak ada Dare,, hanya makan malam keluarga saja seperti waktu itu. hanya saja kali ini yang masak mama,,,bukan Chaira. Kamu sudah lama kan gak makan masakan mama???" ucap mama


"oh ya mama juga dibantu Rosa tadi" lanjut mama yang melihat Rosa keluar membawa makanan


"oh halo Rosa,, terima kasih sudah membantu mama. Maaf jika merepotkanmu" aku menyapanya


"gak papa kok mas,,, Sekalian Rosa belajar masak" Rosa menjawab malu

__ADS_1


"Dia pandai juga kok masaknya nak Dare,,, gak kalah sama Chaira" suara bu Wati membuatku menoleh


"iya Dare tadi juga banyakan Rosa yang masak sebenarnya daripada mama" mama menimpali


Bu Wati tersenyum melihat aku dan mama yang tak curiga dengan maksud perkataannya membanggakan Rosa tadi. Itu adalah trik awal agar Darren mulai berpikir bahwa Chaira bukan satu satunya wanita sempurna.


Mama dan Rosa kembali ke dapur mengambil makanan lagi untuk dihidangkan. Aku segera meninggalkan bu Wati yang masih tersenyum manis itu menuju ke kamarku. Chaira pasti sudah menungguku.


"assalamualaikum sayang" ucapku


"waalaikumsalam sayang,,, sudah pulang rupanya" Chaira berusaha bangkit dan berdiri menghampiriku.


"eh gak usah sayang, biar aku yang menghampirimu" aku cepat menahan gerakannya


Chaira tersenyum dan meraih tangan kananku untuk diciumnya.


"Maafkan aku yang terus menyusahkanmu sayang. Bahkan aku tak bisa melayanimu,,, menyiapkan segala sesuatu untukmu,, bahkan memasak untukmu pun aku tidak bisa." Chaira kembali meminta maaf


"sayang, kita sudah pernah membahas ini kan? jangan pernah merasa bersalah untuk ini. kamu sudah melakukan hal yang baik untuk kita semua dengan mengikuti saran dokter. Baik untuk bayi kita, baik untukmu dan untukku juga tentunya" sahutku


"untukmu???" tanya Chaira


"iya sayang, jika kalian berdua tetap sehat bukankah itu sangat baik untukku??" tanyaku balik yang dijawabnya dengan senyum manisnya


"aku mandi dulu terus kita bergabung dengan semuanya di meja makan ya sayang" pamitku pada Chaira yang langsung memberi anggukan


Bu Wati memandang sinis padaku yang menuruni tangga dengan membopong Chaira. Aku memang tak mengizinkan Chaira berjalan kaki meninggalkan kamar. Dia hanya ku izinkan berjalan kaki jika hanya ingin ke toilet saja itu pun di dalam kamar dan harus dibantu mama atau umi.


"enak sekali anak itu!!! "sungut bu Wati dalam hati


Kami menyantap habis semua makanan yang dimasak oleh mama dan Rosa. tampak semua memuji masakan Rosa.


" masakanmu enak Rosa. kamu selain cocok jadi model rupanya juga mahir memasak"aku pun memuji


"kan ibu sudah bilang tadi masakan Rosa gak kalah enak sama masakan Chaira, ya kan nak Darren?" tanya bu Wati memancing.


Aku yang belum paham maksudnya itu pun ikut terpancing apalagi saat Chaira juga dengan mengiyakan perkataan bu Wati.


"iya sayang benar kata ibu,,, Chai harus belajar banyak dari Rosa." kata Chaira


"kalau begitu kalian bisa saling belajar nantinya. Chai belajar masak dan Rosa belajar modeling" sahutku dengan mata berbinar


Semua tampak setuju dengan ucapanku. Aku benar benar merasa keluargaku ini saling melengkapi satu sama lain. kami saling membutuhkan satu sama lain. Dan tentu saja tanpa ku sadari perkataanku tadi melengkapi niat licik bu Wati.


"pokoknya kamu harus bisa terus mendekati Darren,,, kamu harus bisa mengalihkan perhatiannya padamu" bu Wati setengah berbisik pada Rosa di dapur selesai makan malam


"Ttttaa,,, taa,, tapi bu" Rosa terbata bata


"Sudah pokoknya turuti saja kata ibu. kamu mau jadi anak durhaka karena tidak menuruti ibumu ini???" ancam bu Wati


"tttiidak bu,,, baiklah Rosa akan turuti semua perintah ibu" Rosa tak berkutik


Jangan lupa like, vote dan komennya yaaa

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2