
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈπΈ
"Apa?? Ratna??? Ratna teman kita itu???"
Dion hanya mengangguk lemah.
Darren terkejut bukan main saat Dion menyebut nama itu. Bagaimana dia tidak terkejut karena selama ini yang dia tau hanyalah dirinya yang pernah punya perasaan pada Ratna.
Darren sama sekali tak pernah melihat ada kedekatan antara Dion dan Ratna atau bahkan mendengar cerita tentang keduanya yang punya hubungan apalagi sampai menikah dan Ratna sempat hamil.
"Bagaimana bisa??" tanya Darren lagi.
"Apanya yang gak bisa?? Nyatanya sudah kejadian begini dan sekarang gue kena batunya. Gue kira tuhan gak akan pernah menghadirkan Ratna lagi dalam hidup gue. Nah karena sekarang sudah hadir ya mau gak mau gue harus tanggung jawab kan bro,,,??" tanya Dion.
"Maksud lu?? Lu mau dua duanya,,,?? Apa lu ikutin mau Ratna??" tanya Darren lagi.
"Gue sih maunya dua duanya,,, gue cinta Hana,,, Tapi gue juga gak bisa biarin Ratna tersingkir. Sudah cukuplah penderitaannya akibat ulah gue." kata Dion.
"Pertanyaannya,,, Lu masih cinta sama Ratna??" tanya Darren.
"Gue gak yakin dengan perasaan gue,,, Entah ini cinta atau hanya sekedar iba." jawab Dion.
"Bro,,, pernikahan tanpa cinta dan hanya karena iba itu bukan rumah tangga. Kalau lu hanya ingin mendapatkan maaf dari Ratna,,, Lu cukup minta maaf padanya dan mengakui semua kesalahan lu dan berikan dia fasilitas terbaik untuk kehidupannya. Lu minta maaf juga pada tuhan. Perkara dia maafin atau tidak,,, yang penting lu tetap merendah dan mencoba. Tapi lu harus tegas. Tidak menikahi dia apalagi sampai menceraikan Hana. Itu tidak adil buat Hana bro,,," kata Darren.
"Lantas bagaimana kalau ternyata perasaan ini adalah cinta??" tanya Dion.
"Sebelum gue jawab,, lu sebaiknya pastikan dulu perasaan apa yang lu punya ini. Jangan gegabah memutuskan. Tapi gue sarankan memang lu tetap harus beritahu dulu Hana semuanya. Jangan sampai Hana dengar dari Ratna duluan karena itu akan sangat menyakiti hatinya." kata Darren.
"Iya bro,, Gue akan cari waktu yang tepat untuk bicara pada Hana." jawab Dion.
Darren mengangguk. Keduanya lantas kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing masing. Dion berusaha sebisa mungkin mengesampingkan masalah pribadinya agar bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
Hampir seminggu berlalu Hana terus menaruh curiga pada Dion. Hari ini hanya ada dirinya dan Ratna di rumah karena sejak semalam Dion keluar kota mewakili Darren yang tidak bisa meninjau anak cabang perusahaannya.
Hana membuka buka lemari pribadi Dion. Naluri hatinya mengajaknya mencari cari sesuatu di sana. Entah kenapa sejak kehadiran Ratna di rumah mereka sikap Dion mendadak aneh.
"Aku harus bisa menemukan sesuatu yang bisa memberiku jawaban." gumam Hana.
"Hana,,, Apa aku boleh meminjam ponselmu?? Aku ingin menelpon Darren tapi ponselku entah kenapa ini malah mati." kata Ratna yang mengetuk pintu kamar Hana.
"Oh boleh,, ini pakai saja." kata Hana mengulurkan ponselnya.
Ratna menerimanya dan menelpon Darren untuk memastikan Darren ada di rumah bersama anak anal karena hari ini Ratna ingin libur sehari saja.
"Hai Hana,,, Ada apa??" tanya Darren begitu menjawab telpon dari Hana.
"Ini aku Dare,,, Ratna." jawab Ratna.
Darren melihat lagi layar ponselnya yang jelas jelas bertuliskan nama Hana sebagai penelponnya.
"Halo Dare,,," suara Ratna kembali terdengar.
"Eh iya Na,,, Maaf aku cuma memastikan ini nomer Hana tapi kenapa kamu yang menelpon." kata Darren.
"Oh begitu,,," jawab Darren yang awalnya merasa curiga dan khawatir ada apa apa dengan Hana mengingat keduanya di rumah hanya berdua tanpa Dion.
Darren hanya takut Ratna bicara macam macam pada Hana.
"Kamu bisa jaga anak anak dulu hari ini Dare,,,? Aku ingin meminta ijin libur sehari saja. Maaf kalau kesannya mendadak." kata Ratna.
"Iya Na,,Kebetulan hari ini pekerjaannya bisa ditinggal jadi tidak masalah jika kamu ingin libur. Kamu sakit Na??' tanya Darren ya agak heran kenapa Ratna terkesan mendadak meminta ijin untuk libur.
"Tidak Dare,, Aku baik baik saja hanya ada urusan sedikit yang tidak bisa ku tinggalkan." jawab Ratna.
"Baiklah kalau begitu. Hubungi saja aku jika kamu butuh bantuan. Oh ya Na,,, Apa kamu sudah dapat tempat tinggal??" tanya Darren yang merasa Ratna semestinya sudah harus pindah karena dia juga sudah mendapatkan gaji pertamanya.
"Ya,,, hanya tinggal memastikan saja. Makanya hari in' aku ijin dulu karena aku ingin menemui dan bicara langsung dengan pemilik rumahnya." jawab Ratna.
"Ok kalau begitu Na. Kabari saja aku ya begitu kamu ingin pindahan biar aku bantu kamu." kata Darren.
"Terima kasih Dare,," jawab Ratna.
__ADS_1
Ratna menutup telponnya dan hendak mengembalikan ponsel itu pada Hana. Ratna berdiri di ambang pintu kamar Hana yang masih dibiarkan terbuka. Ratna memperhatikan Hana yang terlihat mengobrak abrik lemari.
"Kamu cari apa Han?? Apa kamu butuh bantuanku??" tanya Ratna kemudian.
"Oh,,, Entahlah. Aku sendiri tidak tau apa yang ku cari. Kamu sudah selesai menelpon??" tanya Hana mengalihkan pembicaraan.
"Sudah,,, Ini aku kembalikan ponselmu. Terima kasih" kata Ratna yang masuk ke kamar Hana dan menyerahkan ponselnya.
"Sama sama Na." jawab Hana.
"Kamu yakin tidak perlu bantuanku??" tanya Ratna sekali lagi.
"Tidak Na,,, Kamu bisa melakukan pekerjaanmu sendiri." kata Hana.
"Kamu yakin?? Karena aku tau apa yang kamu cari.. dan aku bisa memberimu jawaban." ucap Ratna.
Hana menghentikan kegiatannya dan membalikkan badan. Ditatapnya wajah Ratna dengan serius. Ratna yang dipandang hanya dengan santainya duduk di sebuah kursi yang tersedia di kamar itu. Kursi kesayangan Hana.
"Jadi bagaimana Han?? Kamu siap mendengar semuanya??" tanya Ratna datar.
"Apa maksudmu sebenarnya Na,,,??" tanya Hana.
"Ya seperti kataku tadi,,, Akulah yang bisa memberimu jawaban atas semua yang kamu cari. Tidak perlu membongkar isi lemari itu. Cukup duduklah di depanku dan dengarkan aku baik baik. Siapkan saja hatimu,, Dan pastikan tidak pingsan karena aku tak akan bisa menggotongmu sendiri." ucap Ratna dengan senyum sinisnya.
Hana tampak ragu apakah harus percaya pada Ratna atau tidak. Namun rasa curiganya dan keingintahuannya membuatnya menurut pada perkataan Ratna.
Bagai kerbau dicocok hidung Hana pun duduk di kursi satunya. Matanya sama sekali tak terlepas dari Ratna yang menatapnya dengan sinis itu.
"Jadi apa yang ingin kamu tanyakan pertama kali??" tanya Ratna begitu Hana sudah duduk.
"Siapa,,, Siapa kamu sebenarnya?? Kenapa Dion bersikap aneh sejak bertemu denganmu. Ada hubungan apa kalian sebenarnya??" Hana memberondong Ratna dengan banyak pertanyaan.
"Woo,, Woo,, Woo sabar Han,, Sabar. Kita masih punya waktu seharian penuh untuk menjawab semua pertanyaanmu. Aku sengaja meliburkan diri hari ini karena aku memang ingin bicara denganmu empat mata." kata Ratna tajam.
"Jawab saja cepat,,,!!!" ketus Hana.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen ya
__ADS_1
Terima kasih πΈ