BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 131


__ADS_3

...Selamat membaca πŸ€—...


...Maaf banyak typo πŸ˜€πŸ™...


🌸🌸🌸


"Rayya,,,Mulai sekarang jangan panggil om ya. Panggil saja papa seperti Karin." ucap Adi.


"Serius om?? Eh papa??" Rayya tak menyangka Adi akan memintanya memanggilnya papa.


"Serius dong. Seperti katamu,,, bagimu,,,om ini sosok pengganti abimu kan?? Lalu kalau kamu bisa menganggapku sebagai ayahmu, kenapa aku tidak bisa menganggapmu sebagai putriku?? Iya kan??" Adi terus tersenyum.


Senyuman yang benar benar jauh dari kata licik,, tapi hanya berisi ketulusan saja. Benar,,, Selama ini diam diam Adi memang memikirkan semuanya. Adi juga sudah menyadari kesalahannya dan ingin bertobat. Adi sudah bisa menerima semua hukumannya ini dan ingin menghabiskan masa tahanannya untuk kepentingan ibadah. Mendekatkan diri kepada penciptaNYA dan berharap dibukakan pintu maaf selebar lebarnya.


"Asyik berarti Karin jadi kakak dong sekarang?? Adik Rayya gak boleh bandel ya sama kak Karin. Hahaha,,," ujar Karin.


"Adik Rayyamu ini akan selalu menurutimu kak Karin,,," Rayya dengan gaya centilnya.


"Dan kita berdua akan selalu sayang sama papa,,, Kita akan sering sering datang kesini,,,bawain makanan kesukaan papa ya,,," Karin sangat bersemangat.


"Iya kak,,, Ajarin aja adikmu ini resep resepnya ya,,," jawab Rayya membuat Bimo yang sedari tadi rasanya diabaikan menjadi semakin gelisah.


"Eh,,, Anu,,, Maaf maaf kata ni ya om,,, Bukan niat mau gangguin momen bahagia kalian nih. Bimo juga seneng kok lihat kalian akur begini tapi jangan bikin Rayya janji bakalan terus ikut datang dan bawain makanan buat om juga dong." protes Bimo.


"Kenapa bang?? Kok abang gitu ngomongnya??" Rayya benar benar tak paham maksud Bimo.


"Yah ini hareem benar benar lupa kayaknya." batin Bimo menahan diri agar tak sampai lompat lompat karena kesal.


"Ayya sayang,,,cintanya abang,,, calon bidadari abang,,, Kalau Ayya terus ikut Karin memasak dan bawain makanan untuk Om Adi,,,Trus kapan kita baliknya ke Indonesia sayangku cintaku??? Hubungan kita bagaimana???" Bimo mengingatkan Rayya dengan tingkah menggemaskannya yang antara geregetan ingin mencubit pipi Rayya namun belum bisa.


"Astaghfirullah Ayya lupa bang,,," cetus Rayya.


"Yaelah abang masih ada di sini udah main dilupain aja sih neng Rayya???" Bimo ngambek dan bersedekap tangan di dada sambil memalingkan mukanya.

__ADS_1


"Iya maafin Ayya ya bang,,, Beneran Ayya gak kepikiran deh sampai kesana tadi. Udah jangan ngambek lagi ya sama Ayya." bujuk Rayya.


Bimo masih menggeleng gelengkan kepalanya ketika Karin langsung menjitak kepalanya.


"Aawww,,,sakit Rin,,,"


"Udah tua bikin malu ih isi ngambek ngambek gitu,,," sungut Karin.


"Biarin!!" sahut Bimo.


"Lagian ya,,, enak aja panggil gue Rin,,,Rin." protes Karin.


"Lah terus apaan?? Emang nama lo itu kan??"


"Panggil gue kak Karin,,,Lo kan calon lakiknya adik gue. Ya lo tunjukin dong hormat lo ke gue." Karin menyombong.


"Ih ogah banget. Direstuin sama bokap lo aja belum kok gimana bisa nikahin Rayya dan jadi adik lo. Uppss,,,"Bimo menutup mulutnya sendiri yang suka bablas ngomel tanpa perhatikan ada siapa aja di sana.


"Bang,,," Rayya gemas padanya. Rayya merasa gak enak sama Adi yang pasti juga mendengarnya.


Bahkan,,,


"Papa akan jadi wali nikahmu dengan Bimo Rayya. Segera tentukan saja kapan harinya. Pihak penjara pasti akan memberikan waktu luang untuk papa jadi wali nikahmu. Kabarkan saja pada ayahmu. Dia tentu senang dengan kabar ini."


Adi mengatakannya dengan wajah mantap dan makin mantap ketika Karin memeluknya. Karin seolah ingin menyatakan persetujuannya dengan keputusan papanya itu. Sama sekali tidak ada wajah wajah protes.


Justru Rayya dan Bimo yang malah dibuat mlongo oleh Adi mendengar penuturannya itu. Keduanya masih coba meyakinkan diri masing masing bahwa apa yang mereka dengar itu tidak salah.


"Papa mau merestui kami?? Tanpa syarat??" Rayya akhirnya bertanya demikian.


"Papa setuju,,, Karin pun setuju. Dan kami melakukannya tanpa syarat. Kami berdua benar benar merestui kalian. Kami bahkan mendoakan kalian semoga nantinya pernikahan kalian langgeng,,, bahagia,,dijauhkan dari segala keburukan." ucap Adi.


"Samawa tepatnya,,," Karin menambahi karena dia tau papanya mungkin masih terlalu awam urusan agama.

__ADS_1


"Alhamdulillaaaaahhhh,,,Jadi kawin dong gueeee,, Om makasih banyak ya om,,,Makasih pokoknyaaaa,,,," Bimo melompat kegirangan dibuatnya. Rayya sampai menahan tubuhnya agar tak kelihatan seperti anak kecil yang dibelikan mainan idamannya.


"Ya ampuuunnn nih bayi tua emang dasar ya kelakuannya emang udah kayak ABG tua aja." sungut Karin sambil tepuk jidat.


"Biarin aja Rin. Namanya juga lagi bahagia kan." ucap Adi senyum senyum melihat tingkah Bimo yang masih tak pedulikan mereka.


Karin hanya mencebik melihat Rayya akhirnya mengajak Bimo keluar dari ruangan itu.


"Lalu bagaimana dengan putri papa ini?? Akankah kamu menemukan tambatan hatimu yang sebenarnya?? Akankah kamu bisa membuka hatimu untuk laki laki lain?? Papa juga ingin cepat melihatmu bahagia Rin,," ucap Adi kemudian.


"Papa,,, Jangan khawatir. Karin melepas Bimo tanpa sedikit pun rasa terpaksa. Itu artinya papa jangan takut Karin akan stuck di cinta monyet ini. Karin pasti akan jatuh cinta lagi dengan orang yang tepat. Bahkan sebenarnya,,,sudah mulai jatuh cinta." suara Karin memelan tapi Adi bisa mendengarnya dengan jelas.


"Siapa dia??" tanya Adi.


"Eh,,, Papa dengar??" Tanya Karin tak menyangka telinga papanya begitu peka.


"Dengar dong. Papa kan ingin jadi tempat terbaik untukmu curhat. Ayo katakan pada papa,,, siapa dia?? Siapa laki laki yang begitu hebat bisa merebut hati putri papa yang mulanya membatu ini??" tanya Adi.


Pipi Karin bersemu merah mendengarnya tapi kemudian wajahnya berubah ketika membayangkan kemungkinan papanya tidak akan begitu saja menyetujuinya jika tau siapa laki laki,,, atau tepatnya pria itu.


"Kenapa Rin?? Kenapa wajahmu begitu??" tanya Adi yang rupanya menyadari perubahan wajah putrinya.


"Karin takut papa tidak bisa menerimanya." Karin tertunduk.


"Memangnya papa punya alasan apa untuk menolaknya??" tanya Adi tak mengerti.


"Dia,,, Dia,,," Karin tak yakin mengatakannya.


"Excuse me,,, Times up." penjaga masuk dan mengingatkan jam besuk telah habis.


"Yaaahhh,,," Karin masih merasa kurang lama bersama papanya dalam suasana seperti ini.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Terima kasih atas vote, like dan komennya πŸ™πŸŒΈ


__ADS_2