BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 56


__ADS_3

Selamat membaca 🌻


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻


Keadaan Rayya pun berangsur membaik sejak hati dan kondisi psikologisnya juga perlahan menunjukkan peningkatan. Dokter psikolog yang mendampinginya juga banyak memberikan perubahan untuk Rayya.


Rayya sudah jauh terlihat riang dan kembali seperti biasanya. Hari hari pertama dan beberapa hari setelahnya memang masih jadi hari yang berat bagi Rayya. Dirinya tidak semudah membalikkan tangannya sendiri mencoba mengubah ambisinya untuk memiliki Levi.


"Kak,,,Kapan kakak mau kenalin aku sama calon kakak iparku itu???" tanya Rayya dengan nada riangnya.


Levi yang tengah sibuk mengupas buah untuk Rayya itu mendongak dan melihat wajah Rayya.


"Calon kakak ipar yang mana memangnya Ayya?? Kamu ini mengada ada saja,,,"Sahut Levi.


"Yeeee,,,Yang kapan hari fotonya sempat jadi masalah buat Ayya itu lah,,,Kok yang mana lagi sih,,," sungut Rayya.


Levi mencoba mengingat ingat kembali dengan siapa dirinya berfoto.


"Oohh,,, Itu,,,Itu bukan pacar kakak kali Ayya,,, Itu cuma teman kampus biasa saja kok." sahut Levi kemudian.


Rayya memandangi kakaknya yang kembali asyik mengupas buah untuknya. Ada segelintir perasaan senang mengetahui bahwa ternyata kakaknya itu tak punya hubungan spesial dengan gadis itu.


"Husssttt,,, Ayyaaaaa,,, Ingat ada ayah,,,bunda,,, abi dan juga Rabb mu yang tidak pernah tidur dan mengawasimu,,, Kamu sudah janji kan Ayyaaaaa,,,,!!!" Rayya mengusir rasa itu dari dalam hatinya.


"Masak sih gak ada yang spesial?? Sedekat itu???" tanya Rayya kembali agar setan tak ada kesempatan membujuk dirinya saat dia diam.


"Gak ada Ayya,,, cuma teman biasa. Lagian kalau mau akrab memang harus ada rasa dulu???" tanya Levi balik.


"Iiihhh kakak mah emang gak peka sudah segitu didekati,,,Masak sih kakak gak bisa baca bahasa tubuhnya?? Siapa namanya??" tanya Rayya.


"Ara,,, Eeehmmm Tiara sih,,," sahut Levi.


"Nama yang bagus dan sesuai untuknya. Coba deh kakak itu kalau lagi sama dia ituuuuu,,, fokus kak. Masak tidak bisa merasakan Sedikit pun perasaan dari kak Ara??Bahasa tubuhnya itu sudah kelihatan sekali bahwa dia ada rasa pada kakak,,," Rayya panjang lebar.


"Ah kamu tuh sok tau,,, Ara sama kakak sudah lama temenan jadi gak aneh kan kalau dia bisa sedekat itu sama kakak. Biasa aja kali hal seperti itu,, Lagian Ara juga gak pernah ngomong apa apa sama kakak." sahut Levi.

__ADS_1


"Ihhh songong nih kakak,, Kak Ara kan cewek. Mana ada cewek duluan menyatakan rasa sayang dan cintanya,, kecuali Ayya sih,,," suara Rayya memelan dan kepalanya menunduk kembali mengingat rasa yang pernah ada untuk Levi.


"Ehh sudah jangan mulai lagi, Ingat Ayya sudah sejauh ini berusaha mengabaikan rasa itu dan Ayya sudah berhasil kan. Ingat selalu ada orang tua kita yang akan dapat dosanya kalau Ayya masih begini terus." Levi mengingatkan.


"Iya kak,,," Rayya tersenyum.


"Makan buahmu dulu nih Ayya,,, Jangan lupa minum obat kamu juga nanti ya. Kakak mau ke kampus dulu. Ayah sudah on the way pulang biar kamu gak lama sendirian. Ok adikku sayang???" ucap Levi.


Rayya menggangguk saja karena dirinya sudah tak sabar makan buah yang disodorkan Levi tadi. Levi hanya senyum saja dan mengacak rambut Rayya.


"Jangan lupa baca dan pahami gerak tubuh kak Ara yaaa,,," teriak Rayya begitu Levi sampai di pintu.


"Ngaco ahh kamu,,,," teriak Levi balik.


Rayya hanya menjulurkan lidahnya pada kakaknya. Levi mengepalkan tinjunya lalu melambai dan hilang di balik pintu. Dirinya hendak masuk ke mobilnya saat mobil Darren masuk ke halaman.


"Assalamualaikum Levi,,, Sudah mau ke kampus?? Adikmu sedang apa?" sapa Darren.


"Waalaikumsalam ayah. Iya nih Levi mau berangkat. Rayya lagi makan buah sih di dalam tadi habis Levi suapin buburnya. Tinggal minum saja yang belum ayah." jawab Levi.


"Terima kasih ya sudah bantu ayah jaga adikmu. Kalau begitu kamu berangkat dulu gih biar gak telat. Jangan lupa baca doa sebelum jalan. Hati hati dan gak usah ngebut di jalan." Seperti biasa Darren selalu berpesan demikian.


Darren dan Levi memang sudah sepakat selama masa penyembuhan Rayya ini mereka bagi tugas. Kalau Darren kerja maka Levi yang bertugas merawat Rayya dan sebaliknya jika Levi tidak di rumah maka Darren akan berusaha pulang secepatnya untuk menemani Rayya.


Keduanya sama sama tidak mau membuat Rayya sempat untuk melamun. Rayya harus selalu didampingi sesuai pesan dari dokter psikolognya sampai kondisi psikologisnya benar benar sudah stabil.


"Assalamualaikum,,,," suara Darren terdengar di telinga Rayya.


"Waalaikumsalam,,, Eh ayah kok sudah pulang??" sapa Rayya.


"Iya kan ayah mau nemenin Rayya." jawab Darren membiarkan Rayya mencium punggung tangannya. Tangan Darren lalu tergerak mengelus kepala Rayya.


"Bagaimana perasaanmu hari ini Rayya??" tanya Darren.


"Rayya feel amazing ayah. Rayya bersyukur punya ayah dan punya kakak yang sangat perhatian sama Rayya." jawab Rayya.


"Alhamdulillah kalau begitu. Obatnya sudah diminum belum?" tanya Darren.


"Belum hehehehe,,," Rayya meringis.

__ADS_1


"Kalau gitu ayah ambilkan air putih dulu ya." ucap Darren.


"Terima kasih ayah." ucap Rayya.


Dalam hatinya Rayya mengucap beribu syukur karena tuhan telah begitu baik menghadirkan sosok ayah sebaik Darren. Meski tuhan telah mengambil abinya,,,namun tuhan memberikan pengganti ayah yang tak kalah baik dengan abinya.


"Sungguh tidak tau diri kalau aku masih larut dalam perasaan cinta terlarang itu bukan?? Ayah sudah sebaik ini padaku dan aku sama sekali tak berhak untuk mematahkan hatinya dengan perilaku burukku." batin Rayya sambil menerima segelas air dan beberapa butir obat yang diulurkan Darren.


"Ayah tinggal mandi sebentar ya,,," pamit Darren.


Rayya mengangguk dan tersenyum.


🌹🌹🌹


Levi memandangi Tiara yang duduk manis di depannya dan sibuk dengan buku bukunya. Seperti biasa,,, Keduanya sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan kampus.


"Ara memang manis. Tapi apa benar yang dibilang Rayya tadi?? Ahh kenapa aku jadi kepikiran begini sih?? Aku rasa Ara hanya menganggapku teman biasa saja selama ini." batin Levi.


"Heyyy,,, kok ngelamun sih??" tegur Tiara.


"Ngelamun?? Nggak kok,,," Levi malu menyadari dirinya tertangkap basah tengah melamun.


"Hhmmm gak ngaku lagi. Mikirin siapa sih,,,,??? Jangan bilang mikirin aku yaaa,,,," canda Tiara.


"Kamu??? Memangnya gak ada perempuan lain yang lebih pantas aku pikirin???" kilah Levi.


"Aku gak keberatan kok kalau kamu pikirin,, Justru kalau kamu melamun karena yang lain baru aku keberatan,,," sahut Tiara dengan nada bercanda seperti biasanya.


"Sejujurnya memang kamu yang aku pikirkan." batin Levi.


"Tuh kan diem,,, gak bisa jawab kan??" ledek Tiara lagi.


"Apaan sih ah kamu tuh. Sudah sana baca lagi bukumu. Jangan ribut di sini." Levi mengalihkan pembicaraan.


"Kapan sih kamu tuh peka sama perasaan aku Levi,,,??? Apa harus aku yang lebih dulu memulai dan menyatakan rasa cintaku padamu??" batin Tiara.


\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas voTe, like dan komennya ya 🌹

__ADS_1


__ADS_2