
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
Bu Mila mondar mandir di depan pintu. Wajahnya terlihat cemas. Sesekali diliriknya jam dinding model kuno di dinding ruang tamunya lalu melihat ke arah pagar.
"Sudah jam sebelas malam kok Tiara belum pulang juga ya. Kemana dia?? Anak itu tak biasanya pulang selarut ini."gumam bu Mila saat matanya melihat kembali jarum jam yang semakin merangkak naik.
Pak Herman keluar kamarnya dan mengambil minum. Melihatnya bu Mila langsung menghampirinya.
"Ayah,,, Tiara belum pulang." ucap bu Mila.
"Hmmm ayah tau."sahut pak Herman datar.
"Segitu saja??" tanya bu Mila.
"Apanya bu??" tanya pak Herman balik.
"Reaksi ayah,,,Hanya seperti itu???" ulang bu Mila.
"Lah memang harus bagaimana lagi??" tanya pak Herman tak mengerti apa yang dipermasalahkan oleh bu Mila.
"Ayah!!! Tiara anak gadis kita belum pulang dan ini hampir tengah malam,,,!!!Ayah sama sekali tidak cemas???!!!" bu Mila meninggikan bicaranya.
"Oohh itu maksud ibu,,,Sudahlah bu,,, Ini sudah malam.Sebaiknya ibu tidur. Tiara sudah besar dan berada di tangan yang benar. Jadi ibu tidak usah cemas begitu. Ayo kita masuk." ajak pak Herman menyentuh bahu bu Mila.
Bu Mila mengelak dan wajahnya cemberut.
"Benar apanya?? Kalau memang dia itu laki laki yang benar sudah sedari tadi dia balikin anak gadis orang. Dia semestinya tau kalau jam segini bukan jam yang cocok untuk anak gadis. Kalau terjadi apa apa bagaimana??" tanya bu Mila.
"Cukup bu,,,Ayah ini lelah dan ngantuk. Ibu malah ajak debat terus.!!!" ketus pak Herman kesal.
"Ibu cuma cemas dan khawatir kalau terjadi apa apa sama Tiara. Anak kita satu satunya. Bukan niat ajak ayah debat." tangkis bu Mila.
"Nah ituuu!!! Justru karena dia anak kita satu satunya makanya ayah percayakan dia pada Bobi. Laki laki yang tepat dan benar untuk Tiara. Dan kalau pun sampai terjadi apa apa,,, Ibu tidak usah kuatir. Bobi akan bertanggung jawab untuk semuanya." kata pak Herman.
"Apa maksud ayah?? Kenapa ayah segampang itu bicara??" tanya bu Mila lagi.
__ADS_1
"Aduuhhh ayah mau tidur!!!" pak Herman tak menjawab dan beranjak masuk kembali ke kamarnya.
"Ayah,,, Ayaaaaahhh jawab duluuuu,,,Ayaaahhh!!!!" tak dihiraukannya panggilan bu Mila.
Bu Mila kesal diabaikan oleh pak Herman. Hal itu membuat beliau tidak mengikuti suaminya ke kamar.
"Lebih baik aku tunggu saja Tiara di sini."bu Mila merebahkan dirinya di sofa ruang tamunya sambil menunggu Tiara pulang.
🌹🌹
"Sudah selesai belum nangisnya??? Aku mau pulang,,, Ikut tidak?? Kalau tidak diam saja di sini besok ku jemput lagi." ketus Bobi seenaknya sendiri.
Tiara cepat menghapus airmatanya dan bangkit mengikuti Bobi yang barusan mengatakan akan pulang. Tiara senang akhirnya Bobi akan mengantarnya pulang setelah hampir jam tiga pagi.
Dengan perasaan tidak sabar mau pulang ke rumahnya,,,Tiara terpaksa membiarkan saja Bobi menyandarkan kepalanya yang sudah terasa sangat berat akibat mabuknya itu di bahu Tiara.
"Percuma juga ditolak. Akan tetap memaksa. Yang asa nanti dia akan mencelakai Levi lagi kalau aku menolak." batin Tiara.
"Kemana ini kita?? Ini bukan jalan ke rumahku!!!" teriak Tiara ketika sopir Bobi membawanya melewati jalur yang bukan menuju ke rumahnya.
Sopir itu tidak menjawab dan terus saja menyetir seusai perintah bosnya tadi.
Percuma,,,.Bobi tak bangun sama sekali dan Tiara tak bisa melarang sopir yang makin jauh membawanya entah kemana.
Tiara kembali menangis dalam kondisi serba kebingungan begini. Hatinya marah dan kesal pada ayahnya yang sudah membiarkannya melalui malam yang panjang ini.
Hingga tak terasa sopir itu berhenti di depan sebuah rumah yang tak diketahuinya milik siapa itu. Tiara cepat menghapus kembali airmatanya dan hendak turun namun tubuh Bobi yang lemas itu masih terus menimpanya dan itu terasa sangat berat.
"Bobi bangun,,,Sudah sampai." ucapnya kembali mengguncang tubuh yang makin lemas itu.
"Percuma nona,,,bos tidak akan bangun."ucap seorang pria kekar yang keluar dari dalam rumah itu.
"Lalu aku harus bagaimana?? Aku harus pulang sekarang juga." ucap Tiara.
"Bawa saja dulu bos ke kamarnya." titah si kekar.
"Aku?? Mana aku bisa?? Lagipula kenapa harus aku dan bukan kalian saja?? Kalian dibayar untuk semua ini kan?" protes Tiara.
Si kekar tak menjawab dan hanya membantu Tiara mengeluarkan Bobi dari dalam mobil. Begitu tubuh Bobi dipapah oleh si kekar Tiara langsung lari ke pagar berencana kabur.
Si kekar memberi kode pada pria kekar lainnya untuk mengejar Tiara dan membawanya masuk kembali.
__ADS_1
"Percuma nona. Anda tidak akan bisa keluar. Sebaiknya anda jangan menghabiskan tenaga anda untuk hal hal tidak berguna begini. Bawa saja bos ke kamarnya dan dengan begitu anda bisa segera istirahat." ucap si kekar.
Merasa putus asa karena pintu pagar sudah terkunci dengan kode rahasia yang tak bisa dibukanya,,,Tiara pun melangkah masuk ke rumah itu dengan kesal.
Si kekar mengikutinya di belakang sementara satunya memapah Bobi menuju ke kamarnya. Sesampainya di sebuah pintu kamar yang besar mereka berhenti.
"Ini nona,,, Bawa bos masuk. Kami di sini semua dilarang masuk ke kamar bos. Hanya teman bos saja yang boleh." kata si kekar yang memapah.
"Aku tidak mau masuk ke kamar ini." ketus Tiara.
"Masuk saja sebentar dan bawa bos saja setelah itu keluarlah lagi." ucap si kekar.
"Benarkah begitu??" batin Tiara tak percaya.
Tapi wajah si kekar berdua itu sungguh tidak bisa di tebak. Keduanya hanya berwajah datar dan membuat Tiara tak bisa mengerti apa yang ada dalam pikiran mereka.
"Tapi lagipula Bobi juga sudah mabuk berat. Dia tidak akan bangun atau melakukan hal aneh aneh padaku."batinnya lagi.
"Baiklah,,,Biar aku yang membawanya dan semua cepat selesai. Aku lelah." ucap Tiara berusaha menggantikan si kekar memapah Bobi.
"Huhh berat sekali."keluhnya begitu Bobi sudah dilepas si kekar.
Dengan langkah beratnya pun Tiara masuk membawa Bobi. Tangan Bobi pun menyentuh pintu dan mengakibatkan pintu itu tertutup.
"Aduuhh pakai nutup segala pintunya." keluh Tiara.
Tubuh lemas itu makin membuat Tiara ngos ngosan dan segera setelah sampai di tepi ranjang,,Tiara pun melepaskan pegangannya dan tubuh Bobi pun terjatuh di ranjang empuknya.
Tiara mengurut lengan dan pundak serta lehernya yang terasa pegal sambil berjalan menuju pintu yang tertutup tadi.
Kleekk,,,Kleeekkk,,kleeekkk,,,
"Heyyy kenapa pintunya di kunci???" teriaknya.
"Maaf nona bukan kami yang menguncinya tapi pintu tertutup dan terkunci otomatis begitu tangan bos menyenggolnya tadi. Kami tidak bisa membukanya. Hanya bos yang tau kodenya." teriak si kekar dari balik pintu.
"Apaaaa???!!!!" Tiara panik.
\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹
__ADS_1