
Selamat membaca ❤️
Maaf banyak typo 🙏
🌹🌹
"Siapkan beberapa orang untuk ikut gue besok." titah Darren pada Dion.
"Untuk apa bro??" tanya Dion yang batal memejamkan matanya karena Darren menelponnya dari sebelah kamar.
"Gue butuh orang yang membaur dan tidak dicurigai. Lo bisa atur kan??" tanya Darren.
"Itu gampang. Tapi buat apa dulu?" Dion penasaran.
"Gue mau ketemu Adi Saswita besok. Tapi orang itu sepertinya berniat tidak baik ke gue. Atau entahlah,,, Yang jelas gue mau tau siapa orang itu sebenarnya." jelas Darren.
"Gue ikut." kata Dion.
"Gak usah bro. Gue sudah janji untuk datang sendiri. Lo boleh pergi juga tapi jaga jarak lo dari gue. Jangan mencolok."
"Siap. Jam berapa besok?"
Darren pun mengatakan jam dan alamat yang sudah ditentukan oleh Adi tadi.
"Bismillah,,,Semoga saja itu cuma sekedar perasaanku saja. Semoga orang ini tidak ada niatan buruk padaku dan Rayya. Lindungi hamba dan putri hamba ya Rabb,,,," doa tulus itu terucap dari bibir Darren.
Esoknya Dion mengisyaratkan pada Darren bahwa semua sudah siap. Sudah ada beberapa orang yang dibayarnya untuk memata matai Adi.
"Ayah mau kemana hari ini?? Rayya ikut ya??"
"Jangan nak.Ayah ada pekerjaan sedikit. Kamu sama kak Levi dulu ya." tolak Darren.
Rayya mengangguk tapi dalam hatinya berkata bahwa ayahnya itu sedang berusaha menutupi apa yang dilakukannya. Diciumnya punggung tangan Darren yang langsung pergi menyusul Dion. Darren memang sengaja mengatur agar dirinya dan Dion tidak berangkat bersamaan.
"Hati hati ayah." pesan Levi setelah bersalaman juga.
"Iya nak. Doakan urusan ayah lancar ya." Levi dan Rayya mengangguk bersamaan dengan mengucapkan kata Aamiin.
"Maaf ayah. Rayya tidak percaya. Rayya mau ikuti ayah." batin Rayya.
Rayya menghampiri Bimo.
"Antar Rayya yuk bang."
"Kemana Ay??"
"Ikuti ayah." Rayya terus mengikuti langkah kaki Darren yang sudah berjalan keluar lobi hotel.
__ADS_1
"Hah??" Bimo yang masih keheranan mengekor saja saat Rayya sudah menarik tangannya.
"Hei mau kemana kalian???" pekik Levi tapi hanya dapat ungkapan tangan Bimo yang menyatakan tidak tau.
"Hmmm dasar Ayya. Nanti kalau ayah tanya Ayya dimana kan aku yang bingung jawabnya." gerutu Levi.
"Sayang,,, Kamu ngerasa gak sih kalau Bimo sama Rayya itu ada sesuatu??" tanya Tiara.
"Sesuatu apa maksudmu sayang??" tanya Levi tak mengerti.
"Gak tau ya. Semacam kedekatan yang lebih." Tiara menjawab dengan tidak yakin juga.
"Ah itu perasaanmu saja mungkin. Rayya kan memang begitu. Bisa akrab dengan siapa saja. Bimo juga kamu tau sendiri kan dia seperti apa. Jadi jangan kamu ambil pusing sikap keduanya ya." pinta Levi.
"Tapi,,," Tiara tak jadi bicara karena Birru yang tadinya berjalan malah kepleset karena lantai yang licin. Taira langsung bergegas menggendongnya dan lupa akan pembahasan tentang Rayya dan Bimo.
🌹🌹
Taksi yang membawa Rayya dan Bimo mengikuti mobil Darren berbelok ke arah yang sama dengan tujuan Darren. Dari dalam taksi bisa Rayya lihat Darren masuk menuju ke sebuah restoran bergaya khas Paris.
"Ayah mau ketemu siapa ya??" gumamnya.
"Kenapa gak ikut turun saja sayang??" Bimo memanngil sayang saat mereka hanya berdua saja. Sopir taksi tidak akan peduli dan tau apa hubungan mereka.
"Jangan dong kan ketauan nanti." tolak Rayya.
"Ya tapi masak kita duduk terus di sini. Kan argonya jalan terus." Bimo menunjuk argo taksi yang terus meningkat.
Bimo mengangguk lalu membayar taksi. Rayya yang takut kehilangan jejak ayahnya berlari dulu menuju pintu restoran yang cukup luas ini agar bisa tau dimana tempat duduk ayahnya.
Dilihatnya Darren duduk sendirian dan tampak menunggu seseorang.
"Siapa ya yang ayah tunggu?? Mungkinkah calon bunda baru??" pikir Rayya. Hatinya berada dalam kebimbangan seandainya benar apa yang dipikirkannya itu. Ikut bahagia untuk ayahnya tapi sedih karena dia sungguh tak ingin punya bunda baru.
"Kok malah berdiri di sini saja sayang?? Masuk yuk cari tempat duduk." ajak Bimo.
Rayya hanya mengangguk tanpa menoleh atau pun memperhatikan sekeliling hingga dirinya merasa menyenggol seseorang.
Bruukk,,, tas gadis itu jatuh.
"Oh sorry,,,I am so sorry." Rayya meminta maaf sambil membantu gadis berhijab yang sibuk memunguti barang yang tercecer dari tasnya.
"Its ok. No worries." sahut gadis itu lalu mendongakkan wajahnya.
"Bimo???"
"Karin???"
__ADS_1
Mata keduanya saling tak berkedip tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hanya Rayya yang bingung menatap keduanya.
"Ada apa?? Ayo cepat masuk. Kita sudah terlambat." ujar Adi yang baru menyusul.
Ditariknya tangan Karin yang masih berdiri tak berkedip itu.
"Hei,,,Lihat apa sih??" tanya Adi dengan wajah curiga melihat putrinya itu tak bereaksi.Diikutinya arah mata putrinya itu dan dipandanginya naik turun pria muda yang membekukan putrinya itu.
"Kamu Bimo kan??" tanya Adi.
"Benar om. Tapi om siapa ya??" tanya Bimo.
"Terima kasih sudah buat putri saya menolak menikah dengan siapa pun selain kamu!!! Ayo Karin masuk. Darren pasti sudah menunggu kita." ketus Adi.
"Tunggu om. Om teman ayah saya??" tanya Rayya.
"Ayah?? Ayah siapa?? Kamu siapa?? Sedang apa kalian di sini?? Sudah bagus anakku ku bawa kesini biar bisa lupa pada pria sok kegantengan ini." suara Adi meninggi.
"Maaf om tadi saya dengar om mau bertemu dengan yang bernama Darren. Kalau tidak salah orang,, itu nama ayah saya yang juga ada di restoran ini." ucap Rayya.
Adi melihat Rayya dengan tatapan menyelidik.
"Kamu Rayya??" tanyanya kemudian.
"Bagaimana om bisa tau nama saya??" Rayya balik tanya.
Adi tersenyum lalu melirik tangan Rayya yang tak lepas dari tangan Bimo itu. Diliriknya juga Karin yang masih tak berkedip memandang Bimo.
"Ayo masuk saja kalau begitu. Biar ayahmu nanti yang menjelaskan siapa aku." ajak Adi.
Dari kejauhan Dion melihat kehadiran Rayya dan mengirim pesan pada Darren.
"Kok anak lo bisa di sini sih? Sama Adi lagi??" tulis Dion.
"Bagus kalau begitu. Gue bisa sekalian melihat sendiri bagaimana reaksi dan perlakuan Adi secara langsung pada Rayya." balas Darren.
"Gue perlu gabung gak??" tulis Dion lagi.
"Jangan dulu. Gue perlu lo dan orang orang lo untuk perhatikan semua gerak gerik Adi dan anak gadisnya itu." tolak Darren.
"Ok bos."
Darren meletakkan ponselnya dan menyambut Adi beserta Rayya yang terlihat masih bingung itu.
"Halo pak Adi. Saya Darren. Terima kasih sudah datang." sapa Darren.
"Semestinya saya yang mengucapkan terima kasih karena anda sudah mau datang menemui saya langsung membawa keponakan saya ini." Adi tersenyum melihat ke arah Rayya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹🌹