
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
🌹🌹🌹
"Kalian sedang apa di sini??" Bimo rupanya menyusul mereka karena cemas kenapa mereka perginya lama.
"Eh abang kok nyusul??" tanya Rayya melepas pelukannya pada Karin.
"Kalian lama sekali perginya. Kamu gak apa apa kan Ay??" tanya Bimo cemas.
Diliriknya Karin yang menyeka airmatanya. Bimo penasaran kenapa Karin menangis dan Rayya memeluknya tadi.
"Apa sebenarnya yang kalian bicarakan di sini?" tanya Bimo lagi.
"Hal penting yang selama ini tidak Rayya ketahui bang."
"Apa abang boleh tau??" tanya Bimo.
"Nanti juga abang akan tau. Ayo kita pulang dulu Rin. Kasihan mereka pasti sudah menunggu kopi buatan kita. Ayo,,," ajak Rayya langsung saja duluan melangkah meninggalkan Bimo dan Karin yang masih berdiri kaku.
"Gue gak bakalan maafin lo kalau sampai lo bicara aneh aneh sama Rayya!!!" ancam Bimo sambil menunjuk wajah Karin.
"Bim,,, gue,,," Karin tak melanjutkannya karena Bimo sudah berlari menyusul Rayya.
Karin menghela napas lalu ikut menyusul.
🌹🌹
"Om mau jadi wali nikah Rayya asal Rayya memenuhi dua persyaratan yang om minta."
Dengan lantang dan tak tau malu,,,Adi mengatakan hal itu di depan semuanya. Darren yang memang sudah curiga dari awal tidak begitu terkejut. Rayya yang juga sudah sempat diberitahu Karin kalau papanya akan mengajukan syarat juga tidak begitu kaget.
Hanya Levi dan Bimo yang masih terkejut dan tak menyangka seorang om akan mengajukan syarat padahal hanya untuk dijadikan wali nikah. Bagi keduanya tindakan Adi itu nggak banget. Keduanya auto hilang respect.
"Apa itu om??" tanya Rayya dengan sabar membuat Levi dan Bimo mendelik heran.
__ADS_1
"Bisa bisanya Ayya sesabar itu menghadapi om Adi??" sungut Levi dalam hati.
"Kamu terlihat tenang sekali Rayya. Apa kamu yakin kamu bisa mengabulkan semuanya??" Adi mencibir.
"Inshaallah." jawab Rayya tenang.
Adi tertawa sinis dibuatnya. Darren yang duduk di samping Rayya meraih jemari putrinya dan menggenggamnya. Berusaha mengalirkan energi positif pada putrinya. Menyatakan bahwa dirinya akan selalu melindungi dan mendampingi putrinya itu.
Sorot mata Rayya yang teduh menunjukkan dirinya tengah tersenyum di balik cadarnya mendapat perlakuan seperti itu dari ayahnya. Keduanya saling menguatkan.
"Ayah yang kuat ya kalau nanti ayah tau fakta kepergian bunda." batin Rayya.
"Baiklah kalau begitu tidak usah lagi bertele tele. Pertama aku mau kamu memberikan setengah dari harta peninggalan Ray padaku. Harta yang dimiliki Ray bukan hanya hasil kerja kerasnya sendiri tapi juga ada harta keluarga di sana. Ada hakku di sana." Adi mengatakan syarat pertamanya.
"Setuju." jawab Rayya singkat, padat dan jelas.
"Apa?? Ayya??" Levi ingin mengingatkan.
"Nak,,," Darren memberi Levi isyarat untuk diam.
"Tapi ayah,,,"
Meski masih tak paham kenapa Rayya segampang itu bilang setuju tapi Levi menurut juga pada perintah ayahnya. Levi protes bukan karena dia ingin menguasai harta Ray seperti yang ditakutkan Adi,,Tapi lebih ke berpikir Rayya terburu buru menjawab sebelum dipikirkan.
Levi kan tidak tau kalau Rayya sudah menyiapkan semua jawaban untuk Adi karena Karin sudah memberitahunya tadi.
"Yakin kamu Rayya??" tanya Adi malah tak yakin karena Rayya mengiyakan begitu saja.
"Yakin om. Rayya tidak mau hanya karena urusan harta sesama saudara saling membenci atau saling menyakiti.Harta masih bisa dicari om,, tapi keluarga??Sekali hilang susah diharap kembali lagi. Lagipula seperti kata om tadi,,, bahwa dalam harta itu ada juga harta peninggalan keluarga. Kalau memang om merasa masih ada hak om di sana,,,kenapa juga Rayya harus mempersulit om??"
"Sudah cukup Rayya kehilangan abi dan bunda. Om Adi jangan sampai hilang juga. Rayya masih ingin selalu punya om. Senang dan bahagianya bisa bertemu keluarga abi tidak bisa Rayya ungkapkan dengan kata." kata Rayya.
Airmata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Bukankah abi juga akan bicara dan berlaku seperti ini seandainya saja dulu om memintanya baik baik??" tanya Rayya lirih.
"A,,Aa,,apa maksud kamu??" Adi gugup.Matanya menatap tajam pada Karin yang duduk di sebelahnya. Karin hanya menunduk.
__ADS_1
"Bukan apa apa om. Silahkan lanjutkan apa syarat berikutnya kalau masih ada." pinta Rayya.
Adi berusaha kembali menguasai dirinya.
"Aku hanya akan menjadi walimu kalau Bimo juga menikahi Karin.Di hari yang sama dengan dia menikahimu. Karin harus jadi istri pertama Bimo." Adi mengatakannya dengan lantang.
"Apa??? Mana ada syarat seperti itu??" Bimo langsung emosi.
"Terserah pada Rayya saja. Aku kan hanya menyampaikan apa syarat dariku. Dipenuhi bagus,,tidak dipenuhi ya sudah. Batal aku jadi wali." Adi hanya terkekeh.
"Rin,,,lo jangan diam aja!! Lo tau kan gue,,,,"
"Karin tidak mau jadi istri Bimo papa. Papa cabut saja semua persyaratan gila papa ini. Sudah cukup pa!!! Tobatlah pa,,, Seharusnya papa mengakui perbuatan papa dan meminta maaf." Karin tak menghiraukan ocehan Bimo dan langsung bicara pada Adi.
"Karin!! Bicara apa kamu ini?? kamu lupa apa yang Papa bilang kemarin hah???!!!" bentak Adi.
"Karin ingat pa tapi Karin gak mau ikuti lagi perintah gila papa itu. Karin tidak mau jadi istri Bimo kalau Bimo sendiri tak pernah menginginkan Karin jadi istrinya. Untuk apa pa?? Toh pernikahan itu tidak akan berkah. Karin juga tidak bisa membiarkan pembunuh gelap mata seperti papa terus gelap mata dan berbuat buruk lagi pada Rayya. Sudah cukup pa!! Cukup papa celakai om Ray dan tante Chaira. Jangan celakai Rayya juga." ucap Karin memberanikan diri.
"KARINA SASWITA!!! jaga bicaramu!! Anak kurang ajar!!!"
Tangan Adi hampir menampar wajah Karin saat Levi menahannya terlebih dulu.
"Lepaskan!! Kamu cuma anak tiri yang menjadi penghalang bagiku. Gara gara ada kamu Rayya menyerahkan semuanya padamu dan bukan padaku!! Gara gara ibumu Ray jadi bodoh dan memberikan hartanya padamu juga." ketus Adi.
"Silahkan om ambil harta bagianku sebanyak yang om mau. Aku tidak akan menahannya. Tapi jangan pernah om mengatai bundaku. Sudah cukup bunda menjadi korban dari tindakan gelap mata om!!!"
"Hahahha bisa apa kamu memangnya hah?? Melaporkanku ke polisi?? Apa buktinya?? Bahkan mayat mereka pun sudah jadi tanah."
Levi dibantu Bimo terlibat adu mulut dengan Adi. Karin hanya bisa menangis melihat papanya terpojok begitu. Sementara itu Rayya memeluk Darren yang sedang terpukul meratapi kenyataan ini.
"Bidadariku,,,Aku tau kamu tak akan pernah menyalahkan takdir dari Rabbmu. Jodoh, maut semua adalah rahasiaNYA. Kamu pasti sudah menyerahkan semuanya pada sang pemilik. Begitu pula aku sayang,,, Walau berat tapi aku berusaha mengikhlaskan. Ray,,, Katakan padaku aku harus bagaimana?? Saat aku menemukan wali untuk putri kita,,, tapi kenyataannya seperti ini." airmata Darren terus berlinangan.
"Ayah yang sabar ya,, yang kuat." pinta Rayya.
"Bukan hanya ayah yang harus kuat nak,, tapi kamu juga. Tuhan sedang menguji kesabaranmu lewat om Adimu." lirih Darren.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya ❤️