
"Bagaimana menurutmu sayang?" Chaira menanyakan pendapatku tentang niatnya menjadikan Rosa adik tirinya sebagai model busana rancangannya.
"Ide bagus sayang,,,Rosa sepertinya cocok untuk jadi model dengan postur tubuh yang dimilikinya selain itu kamu bisa membantu perekonomian mereka" tukasku
Chaira tersenyum senang mendapatkan izin dariku. Segera dia menyiapkan sarapan kami pagi ini. Aku menunggunya di meja sambil mengecek ponselku. Aku membuka email dari Sinta sekretarisku yang mengatakan bahwa hari ini ada klien baru yang memaksa ingin segera bertemu denganku.
"kenapa sayang? Apa ada masalah? " Suara Chaira mengejutkanku
"Tidak sayang aku hanya membaca email dari Sinta" jawabku tak ingin membuatnya khawatir.
Chaira hanya menatapku sejenak kemudian tersenyum.
"Ayo sarapan dulu,, nanti keburu kesiangan ke kantor" ajaknya yang langsung ku sambut dengan anggukan.
"iya sayang" jawabku seraya mulai menggigit rotiku
Aku hentikan kunyahanku melihat Chaira yang mulai duduk gelisah dan langsung berlari ke kamar mandi. Aku segera menyusulnya. Aku sangat khawatir mendengar dia seperti sedang muntah muntah.
"apa kamu baik baik saja sayang?" tanyaku berusaha mengetuk pintu.
Aku semakin panik saat Chaira tak menjawabku.
"Sayang,,,, sayang,,, Chaira,, jawab aku sayang" aku terus mengetuk pintu.
Ceklek,,,
Chaira membuka pintu dan ku lihat wajahnya pucat pasi. Belum sempat aku menanyakan apa apa lagi tubuhnya sudah ambruk dan aku dengan sigap menangkapnya. Aku yang panik segera membopongnya dan membawanya ke mobil. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada bidadari cantikku ini. Di jalan aku berusaha menghubungi umi dan mama. Mereka yang panik mendengar Chaira pingsan langsung ikut panik namun masih bisa meminta agar aku tak panik dijalan. Mereka akan segera menyusul ke rumah sakit yang sudah ku beritahukan dimana.
"Selamat Tuan,,, Nyonya sedang berbadan dua. Usia kehamilannya baru memasuki usia 2 minggu." Dokter menyampaikan berita bahagia itu padaku.
"Tapi kandungan nyonya sangat lemah tuan. Bisa jadi akan terjadi komplikasi saat melahirkan nantinya." lanjut dokter yang seketika membuat senyumku berubah menjadi kekhawatiran
"Tapi apa bisa kehamilannya ini dilanjutkan dokter?" tanyaku memastikan karena walau aku menginginkan segera memiliki anak tapi aku juga tak mau membahayakan kondisi Chaira
"Bisa namun nyonya tidak boleh terlalu capek dan banyak aktifitas. Saya sarankan nyonya untuk bedrest saja." jawab dokter
Aku sedikit lega mendengar jawaban dokter dan segera berterima kasih setelah dokter menyelesaikan tugasnya dan meninggalkanku. Aku segera menghampiri Chaira yang belum sadarkan diri. Ku pandangi wajah wanita yang sudah setiap hatinya melayaniku. Aku menyadari betapa aku sangat mencintainya. Dengan lembut ku kecup keningnya.
"kamu pasti bisa sayang" ucapku lirih
Pintu dibuka dan tampak umi serta mama papa datang bersamaan. Tampaknya mama meminta papa untuk sekalian menjemput umi dan berangkat ke rumah sakit bersama sama.
"bagaimana nak Darren? apa yang terjadi?" umi bertanya sambil menghampiri dan membelai tangan lemah putrinya.
Aku menghela napas sebelum menjawab pertanyaannya.
"kok diam sih Dare,,, jawab dong umimu!!" tegur mama yang tak sabar juga ingin segera mengetahui apa yang menimpa menantunya
" umi,, mama dan papa akan segera menjadi eyang" sahutku dengan suara tertahan
"alhamdulillah,, " seru mereka hampir bersamaan.
Namun saat menyadari aku yang tak terlihat begitu bahagia mereka saling berpandangan.
__ADS_1
"kenapa Dare,,, ada masalah apa?" papa bertanya
Aku kembali menghela napas dan menata napasku untuk menyampaikan hal yang kurang baik mengenai kehamilan Chaira.
"sabar ya Dare,,, kami disini semua pasti membantumu menjaga Chaira. kami juga tidak ingin terjadi apa apa pada cucu dan istrimu" mama berusaha menenangkanku
"iya nak,,, kalau kalian tidak keberatan ijinkan umi tinggal bersama kalian agar bisa menjaga Chaira saat kamu kerja nak" umi menimpali
Papa menepuk bahuku dan menguatkanku.
"sayang,,, " suara Chaira terdengar lemah
Aku segera menghampirinya dan memegang tangannya
"kamu sudah sadar sayang. Apa ada yang sakit?" tanyaku
Chaira hanya menggeleng dan berusaha untuk bangun. Dia merasa heran melihat semua ada disana. Aku menahannya dan menyuruhnya untuk berbaring lagi.
"kamu harus banyak istirahat sayang. Jangan turun ranjang dulu. Biar babynya sehat" tukasku sembari tersenyum
Chaira menatapku heran
"Baby?? maksudmu,, " Chaira menghentikan bicaranya dan menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Matanya memandangku dengan pandangan meyakinkan apa yang ku katakan tadi. Aku mengangguk dan tersenyum padanya.
"iya sayang,,, baby, kita akan segera punya anak sayang" tukasku lagi memastikan
Chaira mengucap syukur berkali kali atas anugerah yang diberikan tuhan pada kami. Dia berulang kali mengelus perut ratanya. Aku merasa tak tega memberitahu bahwa kehamilannya beresiko. Aku memandang mama dan umi bergantian. Mereka seakan tahu maksudku dan memberi isyarat agar aku memberitahu Chaira pelan pelan.
"Sayang,,, ada hal penting yang ingin ku sampaikan padamu" aku berhati hati sekali agar tak merusak kebahagiaan Chaira.
"Chaira yakin ujian yang diberikan tuhan pada Chaira ini tidak mungkin diluar batas kemampuan Chaira. Tuhan hanya ingin Chaira lebih berhati hati lagi menjaga titipanNYA sayang. Chai akan baik baik saja. Apalagi Chai punya suami yang sangat mencintai Chai dan keluarga yang juga selalu sayang dan ada untuk Chai" dia mengatakan hal itu sembari memandang kami semua yang ada disini dan berusaha meyakinkan segala sesuatunya akan baik baik saja.
Aku hanya memandangnya takjub. Sungguh tuhan telah begitu sempurna menciptakan wanita ini untukku. Tak hanya cantik parasnya namun hatinya juga. Dia begitu mencintai Rabb nya dan tak pernah berprasangka buruk padaNYA. Dan sekali lagi aku tak hentinya bersyukur karena mahkluk indah itu nyatanya ditakdirkan untuk mendampingiku. Ku kecup kening dan tangannya.
"aku sangat mencintaimu sayang" ucapku yang dibalasnya dengan senyuman
"terima kasih sayang untuk cintamu" lanjutnya
Mama papa dan umi memandang kami dengan senyuman. Mereka bahagia melihat kami saling mencintai. Mereka memutuskan untuk tinggal dan menemani Chaira karena aku harus segera ke kantor menemui klien baruku yang sudah menunggu di kantorku.
"Selamat siang pak,,, beliau sudah menunggu didalam ruangan bapak. Saya sudah mengatakan untuk menunggu di ruang tunggu saja tapi beliau menolak" Sinta segera berdiri dan berjalan membukakan pintu untukku.
Aku memandang wanita yang berdiri sedang menatap foto pernikahanku yang ada di rak kantorku. wanita itu memakai jas dan rok mini serta sepatu dengan hak cukup tinggi.
"Ehem,,, selamat siang. Saya Darren" sapaku
Wanita itu diam tak segera menoleh.
"halo Darren. apa kabar?" wanita itu membalikkan badannya dan tersenyum.
Aku yang terkejut berusaha tenang dan memberi perintah pada Sinta untuk meninggalkan kami berdua. Sinta segera mengiyakan dan kemudian keluar setelah menutup pintu. Aku menghela napas dan berjalan mendekati mejaku.
"I miss you Dare" wanita itu tiba tiba saja memelukku dari belakang saat aku melewatinya
__ADS_1
"lepaskan aku Febby,,, jangan seperti ini. Tolong bersikaplah sopan. Ini kantor" sergahku berusaha melepaskan tangannya yang ada di pinggangku
"hanya ada kita berdua disini sayang" dia mempererat pelukannya
"atau kamu ku panggilkan security agar mengusirmu dari sini!!! " ancamku
"baiklah,,, aku mengalah saja" ujarnya melepaskan pelukannya dan segera duduk di sofa sambil duduk menyilangkan kakinya sehingga menampakkan paha putihnya.
Aku merapikan kembali jasku kemudian duduk di kursiku.
"katakan apa keperluanmu" ketusku
"Jangan ketus seperti itu sayang. Kamu harus mulai belajar membiasakan diri untuk sering sering bersamaku. kita akan punya banyak waktu bersama sayang. bahkan kita bisa mengulang masa indah kita bersama dan melakukan yang belum sempat kita lakukan sebelumnya" Febby yang sudah berdiri itu memutar kursiku dan mengarahkan wajahku tepat di depan wajahnya.
"kamu terlihat lebih maskulin sekarang sayang" tangannya mulai mendekati wajahku dan segera ku cegah
"apa maksudmu???" tanyaku
Dia kembali berjalan menuju sofa dan duduk.
"Aku adalah staf khusus yang dikirim PT *** untuk mendampingi perusahaanmu mengerjakan proyek terbarumu yang baru kau dapatkan pekan lalu" terangnya sembari tersenyum puas
"jadi sayang,,, biasakan dirimu berlama lama denganku" lanjutnya lagi
Aku berusaha mengingat kontrak kerja perusahaan kami yang kami tanda tangani minggu lalu. Setelah ingat aku merasa kesal menyadari bahwa perusahaan itu memang milik keluarga Febby.
"sial" gerutuku
"ayo kita makan siang bersama sayang. Sebagai klien kerja kamu tentunya tidak akan mengecewakan klien yang sudah memberimu modal besar ini kan?" Febby mulai menarikku berdiri
"Tidak aku ti,,, " aku menghentikan ucapanku karena Febby telah melingkarkan tangannya di lenganku
"Ingat banyak karyawan yang mengandalkanmu bapak Darren. jangan kecewakan mereka yang sudah kerja keras demi bisa mendapatkan proyek ini" Febby mengancamku dengan senyuman liciknya
"Baiklah,, tapi lepaskan tanganmu dariku. Bersikaplah normal. Kau mewakili perusahaan besar ayahmu." tukasku memandang tajam padanya
Febby melepaskan tangannya dan tersenyum nakal
"as you wish sayang" katanya
"dan berhenti memanggilku sayang!!!! "ketusku lagi
" Baiklah bapak Darrenku" Dia semakin menggodaku dengan sengaja menabrakkan dadanya padaku kemudian berjalan keluar lebih dulu.
Aku hanya bisa kesal dengan perlakuannya. Aku tak bisa begitu saja menyingkirkannya karena bagaimana pun anak buahku sudah bersusah payah bisa mendapatkan kerjasama perusahaan Febby. Aku tidak bisa mencampur adukkan masalah pribadiku dengan urusan kantor. Aku menyempatkan diri menelpon mama agar menyampaikan pada Chaira bahwa aku tidak bisa menjenguknya siang ini karena ada klien penting yang harus ku temani.
"maafkan aku sayang" batinku merasa bersalah pada Chaira.
Seharusnya aku berada disisinya saat ini. Febby menyandarkan kepalanya di lenganku saat kami sudah berada didalam mobil. Aku berusaha menghindar namun dia dengan cepat menarik kembali lenganku dan meminta agar aku segera membawa kami ke restoran tempat kami akan makan. Aku dengan kesal hanya bisa menurutinya
"Darren,,, dulu kamu bisa perlalukan aku semaumu. Sekarang kamu tidak akan bisa menolakku lagi. aku sudah bilang kan,,, aku pasti akan memilikimu. Bahkan Chaira istrimu itu tak akan bisa menolak kenyataan bahwa kamu memang milikku" batin Febby puas sembari terus bersandar manja pada lengan Darren
Jangan lupa vote, komen dan likenya yaaaa
__ADS_1
Terima kasih 😍