
"Ray,,, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Chaira saat para tamu undangan yang menghadiri syukuran bayi Levi telah pulang.
"Tentu Chaira,,, aku juga tak sedang terburu buru. Apa ada yang bisa ku lakukan untukmu?" Tanya Ray
"Duduklah,,,, " Chaira menyuruhnya duduk
Ray menurut.
"Ray,,, bisakah kamu membawaku dan Levi pergi ke tempat yang jauh?" tanya Chaira
Ray mengerutkan keningnya.
"Kenapa tiba tiba kamu ingin pergi Chai? Apa aku mengganggumu? Membuatmu tak nyaman disini?" tanya Ray
"Tidak ada hubungannya denganmu Ray,,, Kamu sama sekali tidak mengganggku. Bahkan aku ingin saat aku sudah pindah nanti hanya kamu dan Rosa saja yang mengetahui keberadaanku" jelas Chaira
Ray diam tak mengerti apa sebenarnya maksud Chaira ingin pindah tempat tinggal.
"Aku hanya ingin Levi hidup tenang nantinya Ray,,," kata Chaira
"Apa kamu bermaksud menjauhkannya dari Darren? Bukankah kamu tak ingin Levi tak mengenal ayahnya?" tanya Ray
"Tentu saja aku tetap ingin Levi mengenal ayahnya. Pada saat yang tepat nanti Levi akan tau siapa ayahnya." ucap Chaira
"Saat ini aku hanya ingin Levi tinggal, tumbuh dan mengenal beberapa orang terdekatnya saja" Lanjut Chaira sembari mencium kening Levi
"Termasuk aku??" Tanya Ray
Chaira menoleh kepadanya. Ray menatap mata Chaira yang meneduhkan hatinya dan mampu membuat perasaan cintanya kembali terusik.
"Hanya jika kamu tak keberatan,,, kamu adalah bagian terdekat juga dariku Ray jadi tak berlebihan rasanya jika Levi pun mengenalmu sebagai orang dekatnya" kata Chaira
"Tidak Chai,, tentu aku sangat tidak keberatan. Baiklah,,, akuakan segera menemukan tempat yang sesuai untukmu dan Levi. Apa kau ingin membawa Rosa dan Toni bersamamu juga?" Tanya Ray
"Aku hanya ingin memilihkan hunian yang cocok dengan jumlah kalian" terangnya
"Iya Ray,,, mereka akan ku bawa serta. Aku ingin Levi memiliki teman tumbuh kembang juga. Anak Rosa itu bisa menjadi teman untuk Levi" kata Chaira
Ray segera mengangguk mengerti. Dia segera menelpon asistennya untuk segera mencari tempat yang cocok.
"Hubungi aku sejam lagi" titahnya pada asistennya yang segera melaksanakan perintah bosnya itu.
Sembari menunggu kabar dari asisten Ray mengabari,,, Rosa dan Toni pun juga mulai berkemas. Rosa membantu Chaira mengemasi barangnya.
Levi yang masih tidur pulas berada di gendongan Ray. Chaira tak ingin menunda kepindahannya walau semalam saja. Entah kenapa hatinya tak mengijinkan hal itu. Dia hanya ingin segera membawa Levi jauh dari tempat yang sudah menorehkan banyak luka di hatinya.
"Baiklah siapkan semuanya. Untuk 4 dewasa dan 2 anak." titah Ray begitu asistennya mengabari bahwa dia telah mendapatkan tempat sesuai dengan yang diperintahkan oleh Ray.
"Ray,,, " panggil Chaira
Ray yang baru saja menutup telponnya langsung menoleh.
"Ya Chai" sahutnya
__ADS_1
"Ada satu lagi permintaanku" lirih Chaira
"sebutkan saja" Ray tetap sabar berusaha memenuhi permintaan Chaira
"Aku ingin menutup butikku" Chaira membuat pernyataan yang agak mengejutkan
"Kenapa Chai?" Ray heran
"Aku tak ingin keberadaanku terlacak jika butik masih tetap buka." lirihnya
Ray tampak berpikir sejenak. Dipandanginya wajah polos Levi yang masih tertidur pulas. Lalu kembali memandang Chaira yang sorot matanya berharap dirinya bisa memenuhi keinginannya itu.
"Begini saja,,, Kamu tak perlu menutup butik itu. Biarkan saja tetap buka. Bagaimana pun juga kamu akan membutuhkannya kelak. Levi akan semakin besar dan kebutuhannya juga banyak." ucap Ray
"Ganti saja nama butik itu dengan nama lain. Untuk lebih menyamarkan siapa pemilik butik aku akan atur semua untukmu. Yang jelas orang tak akan tau bahwa butik itu masih milikmu" lanjutnya
"Bagaimana caranya Ray?" tanya Chaira yang tak paham maksud Ray
"Aku akan menambahkan lebih banyak baju dengan merek yang berbeda dari milikmu. Akan ku buat seolah kamu sudah tak eksis lagi jadi kamu menjual butikmu padaku. Namun tentu saja aku tak akan memakai namaku sebagai pemilik butik." Terang Ray
"Baiklah Ray,,, aku menurut saja. Lagipula kamu benar. aku akan membutuhkan banyak uang untuk membesarkan Levi"
Chaira mendekati Ray yang masih menggendong Levi. Diusapnya pipi Levi dengan lembut. Tanpa Chaira sadari Ray telah begitu berdebar dengan posisi berdekatan seperti itu.
"Ingin rasanya ku bawa dirimu ke pelukanku Chai,,, menjadikanmu istriku dan Levi sebagai putraku. Kau tak perlu bekerja keras jika hanya untuk membesarkan Levi karena aku akan menanggung semuanya" Ray terus membatin dan memandang Chaira yang masih berdiri tepat di depannya.
Dreetttt,,,,
"Ok,,, aku segera kesana" kata Ray menutup telponnya.
"Ayo Chai,,, asistenku telah menunggu di bandara. Kita akan segera menuju tempat barumu" ajak Ray
"Secepat ini kau menemukan tempat untukku?" tanya Chaira setengah terpana karena sahabatnya itu dengan mudah menemukan tempat untuknya
Ray tersenyum.
"Apa pun akan ku lakukan untukmu Chai" batinnya.
Ray menyerahkan Levi pada Chaira. Dirinya lantas meminta Rosa dan Toni untuk bersiap karena asistennya sedang dalam perjalanan menjemput mereka semua.
Tak lama kemudian terdengar sebuah mobil masuk ke halaman rumah Chaira. Asisten Ray segera turun dan membantu mereka memasukkan barang barang ke bagasi.
Setelah semua siap maka dia segera melajukan mobil mereka menuju ke bandara. Sebuah jet pribadi sudah menanti mereka.
" Kemana pun Ray membawaku pergi,, aku yakin dia sudah mempertimbangkan semuanya. Aku tak perlu bertanya kepadanya lagi. Aku percaya pada sahabatku ini" batin Chaira sambil menatap Ray yang masih belum masuk ke dalam jet dan sibuk memberi perintah pada asistennya.
"Atur semuanya. Jangan sampai keberadaan kami terendus siapa pun." Titahnya pada asistennya
"Baik pak" jawab asistennya
Ray segera menyusul masuk ke dalam jet. Perlahan jet yang membawa mereka meninggalkan ibukota yang telah menorehkan sejuta lara ini terbang.
"Kemana kamu membawa kami Ray?" Tanya Rosa
__ADS_1
"Ke suatu tempat yang mungkin tidak cocok untuk Chaira. Tapi justru itulah aku memilih tempat ini." Ray menjawab dengan teka teki
Rosa mengernyitkan dahinya. Begitu pula Toni yang tampak tak memiliki ide apa pun tentang tempat yang dimaksud oleh Ray. Hanya Chaira yang tampak tak terlalu bingung dengan maksud Ray.
"Kakak tau?" tanya Rosa pada Chaira yang tampak biasa saja
Chaira mengangguk dengan pasti.
"kemana kak?" tanya Rosa penasaran.
"Ray pasti membawaku ke tempat yang tak ingi ku kunjungi dari dulu. Tempat yang mayoritas penduduknya adalah non muslim. Ray akan membawaku ke tempat dimana akan sulit menemukan wanita mengenakan cadar sepertiku. Tempat dimana kalian hanya akan melihat keindahan dibalik ketidakcocokanku tinggal disana" jawab Chaira berteka teki juga.
"Hahahahaha,,, rupanya kamu masih paham akan kejahilanku padamu Chai" Ray tak tahan menahan tawa saat sahabatnya itu mampu menebak isi pikirannya
"Kau memang tak pernah berubah" ketus Chaira dengan nada jengkel namun manja.
Ray makin keras tertawa. Rosa dan Toni hanya berpandangan karena mereka belum mengerti juga kemana tujuan mereka sebenarnya.
Ray yang melihat ekspresi kebingungan mereka itu memberi isyarat pada Chaira agar dia melihatnya juga. Chaira yang mengerti pun segera melihatnya.
Chaira tertawa lepas,, Seperti tanpa beban.
Ray menghentikan tawanya melihat Chaira yang masih tertawa saat Rosa mencubitinya karena menertawakan kebodohannya yang masih tak bisa menebak itu.
Dipandangnya Chaira yang masih terus tertawa.
"Aku memang tak pernah berubah Chai,,, bahkan hati dan cintaku masih tetap untukmu. Aku pun tak pernah merubah keinginanku membawamu ke tempat tujuan kita kali ini. Aku masih ingat saat kau menolak untuk ikut kesini saat kita harus menyelesaikan skripsi kita. Aku ingat semuanya Chai,,, tidak ada satu pun yang terlewatkan tentangmu" batin Ray
"Bali?????" Rosa setengah memekik senang saat jet mulai membawa mereka mendekati bandara Ngurah Rai.
"Ray,,, kau sungguh membawa kami kesini???? Sudah lama kami ingin kesini untuk berlibur" pekiknya girang
Chaira hanya tertawa saja melihat tingkah Rosa.
"Kamu tak akan hanya liburan namun bebas selamanya tinggal disini" Ray turut senang
Segera mereka turun saat pintu sudah terbuka.
"Terima kasih Ray,,, " ucap Chaira.
"Apa kejahilanku kali ini membuatmu senang?" tanya Ray setengah bercanda
"Aku akan menguras uangmu karena kamu harus sering datang menjengukku" sungut Chaira manja
"Siap tuan putri,, uangku tak akan habis jika hanya untuk menjengukmu ke sini" Ray menyombongkan diri
"Iya sombong" jawab Chaira yang kemudian tertawa
"Tertawalah sayang,,, aku akan terus membuatmu tertawa. Tak akan ku biarkan kamu menangis lagi." batin Ray
Jangan lupa vote, like dan komennya yaaaa
Terima kasih 😍
__ADS_1