
Hampir sebulan aku menghindari Chaira,,, Kami jarang berbicara. Aku hanya menjawab seperlunya saja jika dia bertanya padaku. Aku tau dalam hatinya Chaira pasti merasa sangat bersalah telah membuatku marah. Namun aku belum ingin selesai memberinya pelajaran. Mama pun tak pernah sama sekali menanyakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tau kamu masih tetap istriku yang terbaik,, kamu masih melayani semua kebutuhanku tapi aku belum bisa menghilangkan rasa kecewaku padamu" batinku malam ini saat Chaira menawarkan dirinya melaksanakan kewajibannya sebagai istri di ranjang namun ku tolak. Ku lihat dia hanya mengangguk.
"kalau begitu aku pamit tidur dulu ya sayang" pamitnya sembari tersenyum
Yaaa,,, Chaira masih menyiapkan segala sesuatunya untukku. Dia masih setia menyiapkan bekal untukku yang tetap ku bawa dan ku makan di kantor. Semua masih sama kecuali komunikasi diantara kami dan urusan ranjang. Aku jarang menyentuhnya. Jika dulu aku bisa melakukannya tiap hari dan berkali kali,,, akhir akhir ini aku hanya dua atau tiga kali saja memberikan apa yang menjadi haknya. Hampir Setiap malamnya kami tidur beradu punggung. Dalam hati aku kagum padanya karena dia sama sekali tak mengurangi tugas dan kewajibannya sebagai istri walau sikapku tak kunjung membaik. Dalam lubuk hatiku yang terdalam cinta untuknya masih bermekaran bahkan saat bercinta dengannya aku masih melakukannya dengan penuh cinta.
"Dimana sebenarnya kamu?" lirihku saat kembali tak menemukan Febby di tempat ini.
Aku memandangi kontaknya di layar ponselku. Selama ini aku memang tak pernah langsung menghubunginya. Bagaimana pun juga aku merasa gengsi jika ketahuan dengan sengaja menghubunginya. Aku tak mau membuat wanita itu besar kepala. Aku lebih memilih mengunjungi tempat tempat yang suka dikunjunginya dulu agar terkesan pertemuan kami itu terjadi tanpa ku sengaja. Aku mendapat list tempat itu dari Dion. Namun sama sekali tak pernah ku jumpai Febby disana.
"Ayo pak" ujarku pada sopir yang sudah 3 minggu ini bekerja padaku.
Aku memutuskan membeli mobil dan mempekerjakan seorang sopir pribadi agar aku bebas dan gampang kemana mana. Lebih tepatnya lebih leluasa jika ingin berkeliling mencari Febby. Aku sama sekali tak meminta persetujuan atau pun saran dari Chaira saat membeli mobil ini. Tapi Chaira tak pernah mempermasalahkannya.
Sopir membawaku membelah jalanan hingga akhirnya menghentikan mobil saat kami tiba di lampu merah yang sedang menyala merah. Aku memperhatikan beberapa orang yang berjalan di zebra cross dan menyeberang didepan mobil kami. Pandanganku tertuju pada seorang wanita yang bergandeng tangan dengan seorang anak kecil.
"Febby???" aku segera membuka kacamataku dan jendela mobilku agar lebih jelas melihat
Dan aku pastikan mataku tak salah lihat. Wanita itu memang Febby. Tapi siapa anak kecil yang bersamanya itu?
Aku terkejut saat sopirku mulai menginjak gas.
"pak tunggu,, kita pinggirkan mobil di depan situ ya" titahku pada sopirku sambil tak melepas ekor mataku dari Febby.
Aku tak ingin kehilangan jejaknya. Aku segera turun dan setengah berlari mengejar Febby yang melangkah masuk ke sebuah apartemen yang gedungnya merupakan salah satu milikku. Aku segera masuk dan menemui penjaga yang terkejut melihat kedatanganku.
"pak Darren,, se,, se,, selamat sore" dia gugup melihatku
"wanita yang baru masuk bersama anak kecil barusan,,, sudah berapa lama dia tinggal disini?" aku langsung bertanya tanpa basa basi
"wa,, wanita yang mana ya pak?" dia semakin gugup karena menyadari kesalahannya yang tak memperhatikan siapa saja yang masuk
Aku menatapnya dengan pandangan kesal.
"Cek di datamu,,, wanita bernama Febby Aurora,,, periksa sejak kapan dia tinggal disini dan dengan siapa saja!!!" bentakku
"Ba,,, ba,, baik pak" dia segera membuka daftar penghuni di apartemen itu
__ADS_1
Hampir 5 menit menunggu akhirnya dia memberitahuku bahwa Febby Aurora tinggal baru 5 hari saja disitu. dia tinggal berdua saja bersama putranya yang berusia 6 tahunan.
"Febby punya anak?? Tapi kenapa dia cuma berdua saja? Dimana suaminya?" batinku
"Cek lagi bagaimana mungkin tidak ada data suaminya!!!" titahku lagi pada petugas jaga itu
" Saya yakin tidak ada pak karena sejak awal pemesanan juga atasnama bu Febby sendiri. Tidak pernah ada data suami dan tidak pernah juga ada tamu pria yang mengunjunginya atau pun mengaku sebagai suaminya pak" dia meyakinkanku
Aku diam dan keluar. Di luar aku masih berpikir kemana suami Febby. Kenapa Dion sama sekali tak pernah bicara tentang pernikahan Febby. Aku yang masih sibuk berpikir dikejutkan oleh tepukan di pundakku. Aku menoleh.
"Haii Dare,,,, " Febby langsung memelukku. Dia kembali keluar dan berniat untuk membeli makanan.
Aku yang masih terkejut hanya diam menerima pelukan darinya dan memandang wajah kecil yang menatapku.
" Sedang apa disini? sudah lama kita gak ketemu ya,,, Apa kabarmu? Istrimu??,,,, " Febby terus nyerocos dengan ramahnya
"Siapa dia Feb?" tanyaku balik tanpa menjawab satu pun pertanyaannya
Febby diam sejenak memandangku. Digandengnya tangan kecil itu. Ku lihat Febby menghela napas berat.
"Bisa kamu membawa kami ke suatu tempat untuk bicara?" tanyanya
Aku membawa mereka masuk ke dalam mobil dan memberi perintah sopir untuk membawa kami pergi ke satu restoran yang menyediakan play ground untuk anak anak. Aku ingin saat kami bicara nanti anak itu bisa bermain dan tidak mendengar yang kami bicarakan. Mungkin saja Febby ingin cerita tentang konflik rumah tangganya padaku.
Tiba di resto kami memesan beberapa makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan datang aku mencoba akrab pada anak Febby
"Halo manis,,, siapa namamu? "
Anak itu diam tak menjawab. Febby tertawa dan mengatakan bahwa anaknya tidak bisa berbahasa indonesia. Anaknya lahir dan tumbuh di Kanada jadi dia hanya bisa berbahasa Inggris. Aku merasa konyol.
"aku membawa kalian kesini dengan alasan si kecil tak perlu mendengar obrolan kita malah tak taunya dia tak mengerti bahasa kita" gerutuku dalam hati
"Hallo boy,, what's your name" Aku kembali menyapa
" Michael,,, but you can call me Mike, uncle" Mike tersenyum
Sejurus kemudian aku terlibat percakapan kecil dengan Mike. Febby yang ikut nimbrung sesekali melirik dan menatapku. Aku tak paham arti tatapan matanya namun aku pun tak ingin mencari tau. Mike meminta izin pada mommynya untuk bermain di play ground dan segera berlari setelah mendapat anggukan mommynya.
"Eehhhmmn,,, lalu dimana daddynya?" aku berusaha membuka obrolan kami
__ADS_1
" aku gak punya suami Dare" sahut Febby
"Maksudmu?? Lalu Mike??" tanyaku penasaran
"Yaaahh Mike gak punya daddy."
"Maksudmu kamu hanya mengadopsinya?"
Febby tak menjawab. Otaknya berputar memilih jawaban yang tepat untuk pertanyaanku. Dipandangnya aku lekat lekat yang masih setia menunggu penjelasan darinya.
"Bagaimana bisa dia punya daddy kalau daddynya asyik sendiri dengan istrinya??" Febby menjawab dengan pertanyaan yang membuat aku semakin tidak mengerti
"Daddynya punya istri? lalu kamu? " aku sungguh tak mengerti
"Aku hanya wanita yang tidak pernah diterima olehnya hingga suatu malam dia meniduriku dan menyebabkan aku hamil. Aku tak pernah bisa memberitahukan padanya karena saat aku ingin memberitahukan kehamilanku dan mendatanginya di kantor tempatnya bekerja, pegawainya mengatakan dirinya mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan amnesia. Ku pikir dengan amnesianya itu dia pun tak mengingatku lagi jadi ku putuskan pindah ke luar negeri melahirkan dan merawat Mike. Aku kembali karena aku pikir sudah saatnya Mike tau siapa daddynya itu. Aku lelah Dare mencari alasan yang tepat tiap Mike menanyakan daddynya" Ucap Febby
"So daddy,,, apa amnesiamu sudah hilang?? Apa kamu sudah bisa mengingat apa yang kau lakukan padaku malam itu???" lanjutnya
"Yaa daddy,,, aku hamil karena ulahmu." pungkasnya yang membuat aku terhenyak
Febby menjelaskan banyak hal padaku yang membuatku merasa linglung. Untuk sesaat aku tidak bjsa berkata kata. Semua ini terlalu mengejutkanku.
"Mike,,, This is your daddy" Febby membuat pernyataan di depanku dan Mike yang baru kembali dan duduk bersama kami lagi.
Mike memandangku dan mommynya bergantian. Mommynya mengangguk. Mike mendekatiku dan memeluknya.
"I love you daddy"
Aku membiarkan saja Mike memelukku. Sesaat hatiku terasa tentram mendapat pelukan kecil seperti ini. Bertahun tahun aku dan Chaira menantikan seorang putra. Dan kini seorang anak kecil sedang memelukku dan memanggilku dengan sebutan daddy. Aku tak tau harus bahagia atau bagaimana yang jelas ku peluk putraku dengan erat.
"i love you too Mike" jawabku
\=\=\=\=\=\=
"Show time" batin Febby melihat kami berpelukan.
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍
__ADS_1