BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Bahagia bersamamu


__ADS_3

"Ray,,, maafkan aku,,, aku sungguh terpaksa,,, " Chaira terdiam saat Ray langsung memotongnya.


"Aku tau,,, aku hargai keputusanmu. Bagaimana pun juga kau lebih tau siapa yang lebih baik untukmu. Jangan khawatir Chai,, Aku turut bahagia jika kau bahagia" ucap Ray cepat.


Chaira menatap wajah sahabatnya yang ditekuk itu.


"Kau memang pandai menghiburku" batin Chaira


"Ray,,, aku terpaksa membuat seorang pria single tampan dan perfeksionis ini harus menikahi seorang janda dan langsung menjadi abi dari putra putriku" Chaira cepat menyelesaikan kalimatnya.


Dia menundukkan wajahnya. Seandainya saja tak ada cadar yang menghalangi wajahnya pasti Ray bisa melihat rona merah di wajahnya.


Ray terkejut mendengar kalimat itu.


"Apa Chai,, bisa kau ulangi sekali lagi?" tanyanya ingin memastikan yang di dengarnya tidak salah.


"Rayyyy kamu membuatku malu!!!" sungut Chaira.


"Ayolah katakan sekali lagi" pinta Ray manja


"Rayhan Putra,,, aku ingin kau menjadi abi untuk kedua anakku dan menjadi imamku. Aku ingin berbagi kebahagiaan bersamamu" tegas Chaira


"Apa kau puas????" sungut Chaira yang sudah sangat malu.


Ray sangat bahagia mendengarnya. Ingin rasanya segera dipeluknya wanita di sampingnya itu tapi ditahannya.


"Alhamdulillah,, akhiranyaaaaaaaa,,, tidak sia sia aku merayumu dengan bunga itu hehhehe,,,, " canda Ray


"Enak saja,, aku tidak suka dengan bunga darimu. Aku lebih suka mawar pink,, bukan mawar merah seperti ini" Chaira balas mencandainya


"Aku tidak peduli,,, yang jelas kamu menyukai yang membelikan bungan itu untukmu" Ray dengan percaya diri mengatakan hal itu.


"Ray sudah Ray,, aku malu kamu goda terus." ucap Chaira


"Hehehe baiklah,,, tapi aku ingin kau menjawab pertanyaanku" Ray tiba tiba serius.


"Apa itu?" tanya Chaira


"Kenapa kau memilihku?" tanya Ray kemudian.


Chaira tampak memicingkan matanya berusaha mencerna maksud perkataan Ray itu.


"Memilihmu Ray? Aku tidak sedang memilih. Aku hanya menerimamu,, memberimu kesempatan. Kalau kamu mengira aku sedang memilih,,, memangnya siapa pilihannya?"tanya Chaira balik


" Bagaimana dengan Darren?"lirih Ray


"Ray,,, Darren sudah bukan pilihan. Dia sudah meninggalkanku. Dan aku enggan kembali padanya. Aku enggan membuka lembaran baru dengan orang yang sama. Bagiku itu bagaikan membuka buka novel yang sudah pernah ku baca. Dan aku tau seperti apa akhirnya" tukas Chaira

__ADS_1


"Jika kamu mengira aku tak bisa memaafkannya,, itu juga salah. Aku telah memaafkan semua kesalahannya. Bahkan tanpa menunggunya meminta maaf aku sudah memaafkannya. Kamu tau aku bukan pendendam" lanjutnya.


"Aku tau Chai,,, tanpa kau jelaskan setulus apa kau memaafkannya aku sudah tau. Menerima Putri saja bisa kau lakukan walau bagi beberapa wanita lain itu pasti lebih menyakitkan daripada harus memaafkan seseorang. Saat wanita lain membenci anak madunya,, karena wajah anak itu mengingatkan akan ketidaksetiaan suaminya,, tapi kamu malah membuka lebar kedua tanganmu menerimanya" Ray mengutarakan kekagumannya pada pribadi Chaira.


Chaira diam sesaat. Ray menatap Chaira yang terdiam.


"Apa ada perkataanku yang menyakitimu?" tanya Ray khawatir.


Chaira menggeleng.


"Aku hanya ingin bertanya padamu. Apa yang membuatmu begitu sabar menungguku. Kamu bahkan belum pernah tau rupa dibalik cadar ini" tukasnya


Ray memberikan senyuman manisnya.


"Aku mencintaimu bukan karena rupamu Chai,,, bukan karena hartamu,, bukan karena fisikmu. Aku mencintaimu karena ALLAH. Begitu ku serahkan seluruh cintaku hanya padaNYA kemudian DIA membimbing hatiku untuk memilihmu." ucapnya.


"Aku yakin kecantikan dibalik cadar ini masih jauh dibanding kecantikan hatimu. Dan bagiku itu sudah cukup Chai." lanjutnya.


"Jangan terlalu banyak memujiku,, nanti kepalaku bercabang" canda Chaira.


"Memangnya siapa lagi yang akan memujimu kalau bukan aku??? " ejek Ray menggodanya dan tertawa


Percakapan bahagia itu tak bisa berlangsung lama karena Ray harus kembali bekerja.


"Aku akan atur pertemuanmu dengan mama. Beliau pasti senang." Kata Ray


Ray menyempatkan diri untuk mengantar Chaira ke butiknya karena kebetulan searah dengan tujuannya.


"Hati hati Ray" pesan Chaira


"Iya sayangkuuuuu,,, " goda Ray


"Rayyyy,,, jangan mulai!!!" sungut Chaira


Ray segera pamit dan pergi. Chaira kembali melanjutkan aktifitasnya di butik. Hari itu kebahagiaan tengah mewarnai hati kedua insan tuhan. Hari itu terasa lebih ringan dan indah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku memencet bel vila Chaira dengan sangat tidak sabar. Penjaga yang baru keluar langsung kaget melihatku lagi. Dia tampak bingung harus bicara apa.


"Tolong panggilkan Chaira untukku pak" pintaku sopan.


"Tapi ibu Chaira sudah tidak tinggal disini Tuan. Ibu sudah lama pindah" ucapnya


"Pindah? kemana pak? Apa bapak tau?"tanyaku


" Kalau tidak salah ibu pindah ke Jakarta lagi pak,,, Sekalian dengan Tuan juga."Penjaga itu mengucap kata tuan.

__ADS_1


"Tuan?? Tuan siapa pak?" tanyaku lagi


"Tuan Rere pak,, pemilik vila ini." kata penjaga itu.


Rere adalah panggilan masa kecil Ray. Para asisten dan penjaga itu sudah cukup lama bekerja untuk keluarga Ray,, bahkan sudah sejak Ray masih kecil. Ray dulu besar di vila itu.


Maka dari itu mereka terbiasa memanggil Ray dengan sebutan Rere.


Aku lemas mendengarnya. Namun aku tak ingin lagi menduga duga. Aku memutuskan untuk menanyakan pada penjaga itu seperti apa sebenanrnya hubungan Chaira dan Rere.


"Saya kurang mengerti tuan. Yang saya tau tuan Rere datang membawa ibu Chaira dan nak Levi putranya ke vila ini saat nak Levi masih berumur beberapa hari" ucapnya.


"Kami tidak berani untuk banyak tanya tuan." lanjutnya


Aku mengerti. Mereka hanya bawahan yang tidak berhak tau banyak. Aku segera permisi padanya setelah sempat bertanya apakah dia tau alamat tuannya itu di jakarta namun dia mengaku tidak tau.


Aku merasa kehilangan lagi. Aku menyusulnya ke tempat ini namun dia sudah pergi.


"Ya tuhan,,, ijinkan aku menemukannya agar aku bisa meminta maaf padanya dan menebus semua kesalahanku" aku memanjatkan doa.


Aku segera kembali ke Jakarta dan memulai pencarianku sendirian. Aku tak ingin melibatkan siapa pun disini. Aku ingin aku berusaha sendiri menemukan dan mendapatkan Chaira kembali.


Aku buang jauh jauh gengsiku dan harga diriku. Aku tak ingin semua itu merenggut Chairaku lagi.


"Aku pasti akan memperjuangkanmu sayang. Aku tak akan membiarkan kau jadi milik orang lain. Kau hanya milikku sayang" batinku.


Aku juga akan mencari tau siapa tuan Rere itu. Sepertinya dja bukan orang sembarangan karena mampu membeli vila semegah itu.


Siang itu aku termenung menatap foto foto Chaira bersama pria di rumah sakit dulu.


"Sebenarnya siapa Rere itu,,, apakah dia pria yang sama yang lusuh di foto ini? Kenapa rasanya tak mungkin seorang kaya berpenampilan seperti itu" pikirku


"Rere,,, Rere,,, Re,, re,,, Ray,, Ray??? mungkinkah???"aku mulai memikirkan Ray


Setahuku dari dulu mereka memang akrab dan bersahabat. Hampir ke setiap hari mereka bertemu. Itulah alasan kenapa dulu aku dan sahabatku selalu membuli dan mengancam Ray agar menjauhi Chaira.


"Ray adalah satu satunya pria yang dipercayainya selain aku. Kenapa bisa aku tak pernah berpikir sejauh itu?" aku terus mengira ngira


"Jika benar Rere dan Ray adalah orang yang sama berarti selama ini dia telah menipuku. Dia telah sangat berhasil." batinku.


"Aku harus mulai mengawasi Ray juga." Aku mulai mencari cari data perusahaan Ray.


Aku bisa saja langsung menghubungi dia tapi tidak kulakukan karena aku tak mau jika benar Ray adalah Rere nantinya dia akan kembali memindahkan Chaira agar aku tak bisa menemukannya lagi.


Aku akan mulai mengikuti kegiatannya diam diam. Aku tau Ray bukan orang sembarangan. Pasti dia punya banyak penjaga yang berbaur dengan orang orang umum. Jadi aku tak akan membuat mereka curiga.


"Yaa,,, aku pasti bisa!!!" batinku bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2