BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Tidak Dare!!!


__ADS_3

Pintu pagar rumah Chaira sudah terbuka. Aku senang karena aku rasa dia memang sudah menyambutku.Aku lihat dia sedang duduk di kursi terasnya dan terlihat sibuk dengan laptopnya.


Aku sengaja sedikit berjingkat agar dia tak mendengar langkahku. Aku datang dengan tangan tersembunyi ke belakang. Aku tak ingin Chaira melihat apa yang ku bawakan untuknya.


"Assalamualaikum bidadariku" ucapku sembari menyerahkan rangkaian bunga yang kubawa.


Chaira yang terkejut langsung menutup laptop yang sedang dipangkunya.


"Waalaikumsalam Dare,,, duduklah" jawabnya.


"Kau tak mau menerima bunga dariku?" tanyaku.


"Oh maaf,,, terima kasih" sahutnya dan menerima karangan bungaku.


Aku duduk tepat menghadap dirinya.


"Dimana anak anak Chai,,? tanyaku


" Mereka ada di dalam sama mbak. Apa kamu ingin menemui mereka dulu?"tanya Chai.


"Iya jika kau mengijinkan" ucapku.


"Kenapa bicara seperti itu?? Kamu ayahnya,, kamu boleh bertemu mereka kapan saja Dare,,, Sebentar ya,,, ku panggilkan mereka." Chaira segera bangkit dan masuk ke dalam.


Sejurus kemudian dia kembali bersama Putri di gendongannya dan Levi digandengnya.


"Halo anak ayah,,, nakal gak? Gak boleh nakal ya sama bunda,, kasihan bunda capek nanti. Sini biar ayah yang gendong Putri" aku tanpa ragu menyebutnya bunda di depan anak anak kami.


Ku lihat dirinya tak menunjukkan ekspresi menolak atau keberatan saat ku sebut dia seperti itu.


Chaira membiarkan kami bertiga bermain di taman dan dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia terlihat sibuk sendiri. Padahal bukan seperti ini seharusnya yang terjadi.


Seharusnya kami bersama menemani anak anak bermain.


" Bundaaaa,,, sini,,, main sama kita"akhirnya ku beranikan memanggilnya agar bergabung bersama kami.


Lagi lagi dia tak menolak. Dia bahkan ikut bermain bersama kami. Keluarga kecil kami sungguh terasa lengkap dan bahagia.


"Tuhan jangan pisahkan kami lagi" aku memanjatkan doa.


Dirasa cukup bermainnya Chaira mengingatkanku bahwa anak anak butuh istirahat. Aku menurut saja dan ingin membantunya membawa anak anak masuk.


"Maaf Dare,,, sampai disini saja. Biar aku sendiri yang membawa mereka." tolaknya halus saat aku hendak memasuki rumahnya.


"Kenapa Chai?" tanyaku


"Aku hanya tak mau ada fitnah" sahutnya singkat lalu bergegas masuk.


Aku menurut saja. Aku duduk kembali di kursiku tadi menunggunya. Dia kembali setelah menidurkan Putri yang sudah kenyang dengan asinya.


"Chai,, aku punya sesuatu lagi untukmu" ucapku begitu dia duduk di hadapanku.


Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin yang kubelikan untuknya tadi. Aku membuka kotak itu dan menunjukkan cincinnya.


"Aku tau kamu tidak suka menerima cincin saat kita belum resmi menikah lagi,, tapi aku hanya ingin kau menerimanya dan menyimpannya dulu. Kau boleh memakainya setelah kita bersatu kembali" ujarku


"Terima kasih sebelumnya namun maaf Dare,, aku sudah punya ini" Chaira berkata demikian sambil mengangkat dan menunjuk jemarinya yang masih mengenakan cincin Ray.

__ADS_1


"Apa maksud perkataannya? Dia menolak cincinku dan memilih memakai cincin Ray?" batinku mulai resah


"Dare,, aku mengundangmu datang karena aku ingin memberikan jawaban atas permintaanmu tempo hari." ucapnya


Aku mulai berdebar menunggu perkataannya kembali.


"Aku minta maaf,,, aku tak bisa mengabulkan permintaan rujukmu. Ray sudah meminangku Dare,,, Dan aku dengan sadar tanpa paksaan telah menerima pinangannya. Aku harap kamu mengerti" ucap Chaira.


"Apa kau yakin Chai? Seharusnya kau memikirkan anak anak,, bukan memikirkan masalah siapa yang meminangmu terlebih dulu. Jika aku mau aku bisa saja malam itu datang mendahuluinya.


Chai,,, aku yang memilihkan cincin itu untuknya. Aku bisa membayar sejumlah harga cincin itu jika kau memang suka dan tak ingin mengembalikannya.


Kau juga harusnya tau bahwa anak anak butuh ayah Chai, ayahnya adalah aku. Coba kau pikir ulang lagi"


Aku yang mulai merasa tak terima mulai banyak bicara.


Chaira menghela napasnya.


"Kamu tak juga berubah Dare,,," lirihnya.


"Apa maksudmu? Aku sudah berubah sayang,, aku bahkan sangat ingin berubah lebih baik lagi,,, aku ingin kau menyaksikan semua perubahanku kelak" tukasku


"Kamu masih saja egois Dare,,, Kamu tak pernah memikirkan perasaan orang lain. Kamu selalu memaksakan kehendakmu.


Jika kamu berpikir bahwa aku tak ingin membatalkan pernikahan kami hanya karena aku menyukai cincin berlian ini,, maka aku tak perlu uangmu untuk membayar sejumlah uang pada Ray,,,


Aku masih mampu membayarnya sendiri.


Dan jika kamu mengungkit bahwa kamulah yang telah membantunya memilih cincin ini maka aku ucapkan terima kasih banyak padamu karena kau masih ingat dan tau apa yang menjadi kesukaanku...


Kamu tak perlu khawatir mereka akan kekurangan kasih sayang seorang ayah atau mungkin mereka akan merindukan sosok ayah. Bukankah kamu sebagai ayahnya masih hidup?


Kamu bisa kapan saja datang dan mengajak mereka bermain,, belajar bersama mereka atau melakukan apa pun yang mereka suka. Aku tak akan melarangmu,,, Pintu rumahku ini terbuka untukmu.


Kamu bahkan boleh menyebutku bunda didepan mereka karena aku selalu membiasakan mereka memanggilku seperti itu.,,,


Mereka juga memiliki abi Ray,,,


Jadi jika kamu khawatir mereka kekurangan kasih sayang ayah maka kamu keliru Dare."


Chaira berhenti bicara sesaat.


"Uangmu tak mampu membahagiakanku Dare,,, bahkan uang yang kamu kirimkan tiap bulannya dulu tak sepeser pun ku gunakan. Kamu boleh mengambilnya kembali jika kamu mau" lanjutnya


Aku tertunduk lesu.


"Apa aku tak lebih baik dari Ray?" tanyaku


"Aku tak berhak menghakimi siapa salah satu yang terbaik diantara kalian. Kalian berdua sama sama ciptaanNYA yang sempurna. Aku yang hina dan kecil dihadapanNYA tak layak menilai salah satu ciptaanNYA" jawab Chaira


"Apa kau mencintainya?" tanyaku lagi


"Iya Dare,,, aku sangat mencintainya" jawabnya tegas


"Melebihi cintamu padaku?" aku kembali bertanya


"Melebihi aku mencintaimu namun tak melebihi cintaku pada Rabb ku" jawabnya

__ADS_1


"Jika kau mencintai tuhanmu kenapa kau tak menerimaku kembali? Bukankah kau tau bahwa tuhanmu tak menyukai perceraian? Dan saat aku ingin kita bersatu kembali bukannya harusnya kau menerimanya agar tuhanmu tak murka?" aku mulai memojokkannya.


"Dare,, adalah hina jika seorang istri melawan kepada suaminya yang sholeh, suami yang bekerja keras demi menafkahi dirinya dan mencukupi anak anaknya, yang telah mengajarkan agama pada keluarganya, terlebih lagi akan sangat hina jika seorang istri melawan suami yang sudah mampu mencukupi nafkah lahir dan batinnya.


Namun saat kamu mendiamkanku,,, kasar terhadapku, mengeluarkan kalimat perceraian dengan mudahnya, mengusirku dan bahkan lebih percaya pada wanita lain yang memfitnahku dengan tuduhan menyebabkan meninggalnya mama,,,


apakah berlebihan jika aku merasa takut untuk bersamamu lagi?


Tidak Dare!!!! Tidak lagi,,,,


Aku tidak sanggup lagi. Aku hanya manusia biasa. Kamu sudah melewati batas kesabaranku yang selama ini ku jadikan tameng dalam mempertahankan rumah tangga kita.


Aku tak ingin kamu semena mena denganku lagi hanya karena kamu tau bahwa aku memiliki kesabaran dan keikhlasan yang lebih. Aku tak ingin kamu menganggap kesabaran dan keikhlasanku itu hanya sebagai bentuk kebodohanku semata."


Kalimat Chaira yang panjang lebar itu menampar keras wajahku.


Aku terhenyak tak mampu lagi berkata kata.


Begitu dalam trauma akibat sakit yang kutorehkan dihatinya hingga aku pun tak tau harus dari mana mulai menyembuhkannya.


Begitu banyak luka yang tinggalkan baginya hingga dirinya yang begitu sabar tak mampu lagi menerimanya.


"Ya tuhan sudah sebegitu parah aku menyakitinya,, Masih adakah sisa ampunanMU bagiku??" aku menangis dalam hati.


"Aku mencintaimu Chaira,,, masih sangat mencintaimu. Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu" lirihku


"Jika kamu benar masih mencintaiku,,, maka wujudkanlah cinta itu dengan cara lebih mencintai Rabb mu,,, karena hanya dengan cintamu kepadaNYA,,, DIA akan membimbingmu untuk menjadi insan yang lebih baik lagi"ucapnya


"Kamu tidak perlu meminta maaf lagi padaku karena aku sudah memaafkanmu. Yang harus kamu lakukan hanya memohon ampunan pada Rabb mu karena telah menyakiti salah satu ciptaanNYA ini" lanjutnya pedas.


"Jika benar kamu ingin menebus kesalahanmu padaku,,, maka berjanjilah padaku,, kamu akan menjadi ayah yang baik untuk anak anak kita" tutupnya


Aku tak sanggup lagi menjawabnya. Perkataan pedasnya sangat meruntuhkan jiwaku.


Chaira benar,,,


Sungguh pendosa ini tak layak baginya,,,


"Jika sudah tak ada yang ingin kamu katakan,, lebih baik kamu pulang Dare. Tak baik berlama lama dirumahku jika bukan urusan anak anak. Ku harap kamu bisa mengerti dan menerima keputusanku ini" Chaira bangkit dari duduknya.


Ku langkahkan kakiku gontai menuju ke mobilku. Sampai disana kulihat Chaira telah menutup pintu rumahnya selayaknya dia telah menutup pintu hatinya untukku juga.


Aku tersedu dalam mobilku,,,


Ya tuhan,,


Seperih ini rasanya diusir olehnya,,


Kalimat pengusiran yang halus mampu mengoyak hatiku,,,


Tak terbayang bagaimana hancurnya hatinya saat dulu aku mengusirnya dengan kasar,,,


Tuhan,,, ampuni aku


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa


Terima kasih 😍

__ADS_1


__ADS_2