
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
🌹🌹
"Itu saja yang kalian inginkan dari papa??" tanya gadis itu.
Dia tampak tak percaya begitu saja dengan pernyataan Darren.
"Benar nona. Itu saja. Saya tau ini mungkin merepotkan. Tapi tidak ada lagi keluarga yang bisa menjadi wali nikah Rayya selain papa nona. Seandainya saja bisa saya sendiri,,, saya tidak akan susah payah menelusuri silsilah keluarga Ray." jelas Darren.
"Benar itu. Lagipula kami berdua ini tidak tampak seperti orang kurang kerjaan kan jauh jauh dari Indonesia ke Paris hanya untuk mencari wali nikah??? Kalau mau sebenarnya juga sahabat saya ini bisa saja langsung mengatakan pada pihak KUA bahwa tidak ada lagi walinya biar dia bisa menunjuk wali hakim. Tapi apa yang sahabat saya lakukan?? Dia masih memilih menemui kalian karena dia menghormati keberadaan kalian!!!"
Dion mulai kesal karena sedari tadi gadis berhijab itu masih saja tak yakin bahwa niat keduanya datang tidak lebih dari itu.
"Mungkin memang mereka tidak pernah tau apa yang sudah papa lakukan. Terutama ayah tiri Rayya ini,,, Dia tentu sangat dendam jika tau karena ulah papa lah tante Chaira juga meninggal." batin gadis itu.
Matanya bergerak gerak tidak nyaman.
"Hah percuma ngomong sama ini anak. Gini aja deh non,,, Mana papamu?? Biar kami bicara langsung dan tanyakan langsung padanya!!!" ketus Dion.
Darren menepuk bahunya mengisyaratkan agar sahabatnya itu calm down.
"Baiklah nona. Saya mengerti. Mungkin kedatangan kami berdua ini begitu mendadak jadi nona kebingungan. Saya akan pergi dan meninggalkan nomer kontak saya di sini..Tolong sampaikan maksud kedatangan saya ini pada papa nona. Saya harap saya bisa dengar pernyataan bersedia dari papa nona. Jangan sungkan sungkan untuk menghubungi nomer ini."
Darren dengan sopan bicara dan menyodorkan kartu namanya pada gadis itu. Gadis itu menerima kartu nama itu dengan ragu ragu.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum."pamit Darren.
"Wa,,,waalaikumsalam." gadis itu baru menjawab saat sadar Darren sudah berjalan keluar. Dan meski telat menjawab karena Darren sudah keluar dari rumah itu tapi tetap saja sebagai seorang muslim wajib menjawab salam sesama muslim.
Dipandanginya baik baik kartu nama itu. Dibacanya juga baik baik nama yang tertera di situ.
"Darren Narendra." dibacanya nama itu dengan rasa salah yang mendera hatinya.
__ADS_1
🌹🌹
"Jadi mereka hanya ingin papa jadi wali nikah Rayya??" tanya Adi dengan wajah tidak percaya.
"Jauh jauh dari Indonesia hanya untuk itu?? Tidak ada maksud lain seperti yang papa takutkan??" diulangnya lagi pertanyaan itu.
"Iya papa. Sepertinya memang tidak pernah ada yang curiga dengan kecelakaan itu.Tapi itu bukan berarti papa boleh tetap merasa tidak bersalah pada mereka. Papa tetap harus tetap meminta maaf pada mereka." ujar si anak gadis.
"Jangan bawel. Papa sedang mikir keras." bantah Adi.
Gadis itu hanya menghela napas berat.
"Kalau benar mereka sangat membutuhkanku,, itu artinya aku bisa pasang harga tinggi untuk itu. Aku bisa minta banyak uang sebagai gantinya." pikiran licik itu menguasai diri Adi.
Makin licik lagi saat membaca nama Darren dan nama perusahaannya yang tertera di kartu nama yang tadi ditinggalkan Darren.
Adi tau,,, atau setidaknya pernah membaca di media berita online yang pernah meliput perusahaan besar yang berkembang pesat itu.
"Orang ini berdompet tebal dan hanya aku yang bisa membantunya. Dia akan memberikan apa pun yang ku mau." senyum licik tersungging di bibir Adi.
"Apa yang sedang papa pikirkan??" tanya gadis itu curiga.
"Cara untuk membuat hidup kita berdua makin baik ke depannya." jawab Adi sambil memegang kedua bahu putrinya.
"Maksudnya apa papa?? Aku gak paham." ucap si gadis.
"Sudahlah,,, Papa akan temui Darren dan berbicara padanya. Kamu juga boleh ikut kalau kamu mau." ucap Adi.
"Apa ini artinya papa setuju jadi wali nikah Rayya?? Apa artinya aku boleh bertemu dan lebih dekat dengan sepupuku itu??" mata gadis itu berbinar.
"Tentu saja boleh nak. Bahkan kamu akan sangat dekat dengannya." Adi tersenyum dan mengelus kepala putrinya.
"Alhamdulillah. Tapi papa janji papa akan meminta maaf pada mereka ya." pinta gadis itu.
"Iya nanti biar jadi urusan papa itu. Sekarang lebih baik kamu siapkan makan malam untuk kita. Papa sudah lapar." titah Adi kemudian.
__ADS_1
"Iya papa. Tunggu sebentar ya. Tidak akan lama." gadis itu menuju dapur dengan semangat.
"Hhh,,, Enak saja menyuruhku minta maaf pada mereka. Kalau mereka bertanya atas dasar apa aku meminta maaf,,,Bisa mati kutu aku. Bisa bisa mereka curiga padaku dan malah membuat kasus yang sudah lama tertimbun ini jadi mencuat lagi." gumam Adi.
Diambilnya ponselnya lalu menekan angka demi angka seperti yang tertera di kartu nama yang dipegangnya.
"Halo,,," Suara Darren di seberang.
"Halo selamat malam. Benar ini dengan Darren Narendra??" tanya Adi.
"Iya benar saya sendiri. Maaf ini dari siapa?" tanya Darren sopan.
"Saya Adi Saswita. Orang yang anda datangi rumahnya tadi siang." kata Adi memperkenalkan diri.
"Oh ya pak Adi. Bagaimana? Apa putri anda sudah menyampaikan maksud kedatangan saya? Apa bapak sudah punya jawaban untuk itu??" Darren tak sabar.
Untungnya saat itu Darren tengah berada di kamar hotelnya sendiri hendak berisitirahat setelah seharian beraktifitas.Jadi tidak ada yang mendengarnya bicara dengan Adi malam itu termasuk Rayya.
"Easy tuan Darren. Saya pasti akan membantu dan bersedia menjadi wali nikah keponakan saya itu." ucap Adi pura pura manis.
"Terima kasih pak Adi." Darren sudah lega duluan.
"Dengan syarat,,," belum selesai Adi bicara Darren menyahut.
"Apa pun itu saya bisa penuhi." rupanya Darren sudah bisa mencium aroma aroma tidak tulus dari Adi.
"Bagus. Kalau begitu kita bertemu besok di alamat yang akan saya kirimkan pada anda setelah ini. Datanglah sendirian saja biar kita bisa ngobrol leluasa. Anggap saja sambil kita saling mengenal satu sama lain.Bagaimana pun saya juga ingin mengucapkan sevara pribadi rasa terima kasih saya pada anda karena anda telah bersedia meluangkan banyak waktu anda merawat dan mendidik Rayya." ucap Adi.
Lagi lagi dengan nada penuh kepalsuan yang membuat Darren hanya tersenyum. Situasi seperti ini sebenarnya sudah dipikirkan oleh Darren.
"Baiklah. Saya akan datang. Tapi tidakkah anda ingin menemui Rayya juga??" tanya Darren.
"Itu nanti saja setelah urusan antara kita kelar." jawab Adi langsung menutup telponnya. Tak lupa dikirimkannya juga alamat tempat bertemu mereka besok.
Darren menghela napas berat dan merasa sedih mengetahui saudara Rayya tak tulus menyayangi putri kecilnya itu. Tapi apa boleh buat,,,?? Tetap saja hanya pria itu satu satunya yang bisa jadi wali nikahnya kelak.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹