
...Selamat membaca ya ❤️...
...Maaf banyak typo 😀🙏...
...❤️❤️❤️...
Melihat Dion bersanding dengan Karin duduk di depan meja menghadap penghulu terasa sebagai satu pelengkap kebahagiaan Darren.
Beberapa waktu terakhir ini Darren merasa Tuhan sudah begitu baik padanya. Memberinya semua kebahagiaan yang tak terukur rasanya. Rasa bahagia akan pernikahan Rayya kemarin masih membekas sekarang sudah disusul pernikahan Dion.
Darren banyak banyak bersyukur atas nikmat yang diberikan tuhan. Belum lagi penyakitnya yang terus tidka menunjukkan penurunan. Kondisinya semakin membaik hari demi hari. Itu adalah mukjizat terbesar dari tuhan baginya.
Siapa yang tidak tau kalau kanker itu mematikan,,,tapi nyatanya Darren selamat dengan cara yang dia sendiri tidak paham.
"Lo mikirin apaan?? jangan ngelamun mulu. Nanti kesambet." bisik Dion yang sempat memperhatikan Darren diam saja.
"Udah fokus aja lo,,, Ntar salah sebut nama papanya Karin kan gak lucu. Udah tua masih aja salah sebut." gurau Darren.
"Bisa dimulai akad nikahnya??" tanya penghulu.
"Bisa pak. Segera saja. Saya udah gak sabar menghalalkan bocil upsss,,, Gadis ini maksudnya." Dion menggigit bibir bawahnya karena keceplosan menyebut bocil.
Tangan Karin yang begitu cepat mencubit pahanya membuat gerakan reflek membentur meja akad hingga Dion mengaduh pelan. Penghulu sempat terkejut karena tengah menulis sesuatu dan jadi kecoret.
"Ada apa saudara Dion??" tanya penghulu itu.
"Maaf pak. Cuma kebentur aja kok."Dion meringis malu.
Tingkah mempelai tua itu benar benar buat Darren tepuk jidat.
"Elegan dikit napa sih?? Pecicilan mulu." bisik Darren.
"Iya,, Iya,,, Huuffttt." Dion memperbaiki posisi duduknya agar lebih tegak dan bisa menghirup udara lebih banyak.
Udara yang masuk lebih banyak nyatanya bisa membuat jiwa yang diam diam tengah grogi itu bisa perlahan dikuasai kembali oleh pemiliknya.
"Saudara Dion,,, tolong ikuti ucapan saya setelah saya beri kode nanti ya. Ingat ucapkan dalam satu tarikan nafas dan jangan sampai salah ucap ya." pesan penghulu.
"Baik pak. Hufftt,,," Dion buang napas berkali kali.
__ADS_1
"Semangat om papa,, Demi bocilmu ini." bisik Karin dengan senyum terukir di wajahnya.
Membuat Dion merasa damai dan yakin bahwa keputusannya menikahi gadis yang lebih muda dafinya itu adalah keputusan benar dan berdasarkan cinta. Gadis muda itu juga sangat mendambanya untuk menjadi suaminya. Jadi tidak boleh ada kesalahan hari ini dan seterusnya.
Dion sadar betul,, sekalinya dia menerima akad nikah ini artinya dia bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan dan kelangsungan hidup gadis muda di sampingnya itu. Sesuai janji yang diucapkannya pada papanya kemarin di ruangan besuk penjara.
Melihat wajah yang begitu percaya padanya untuk menyerahkan kebahagiaan putri semata wayangnya yang saat ini juga duduk bersamanya sebagai wali nikah Karin,,,Dion makin mengerti tanggung jawabnya besar.
"Jangan kacaukan semuanya Dion. Jangan ulangi kesalahan yang sama." batin Dion sambil memfokuskan dirinya mendengar apa yang diucapkan penghulu begitu ketika tiba kode untuknya menjawab pun semua terasa begitu ringan dan melegakan.
..."Saya terima nikah dan kawinnya Karina Saswita binti Adi Saswita dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai."...
Satu napas. Satu hentakan. Dion berhasil mengucapkan kalimat itu tanpa ada kesalahan.
"Bagaimana saksi??"
Suara penuh semangat dan mengharukan yang akhirnya didengarnya menyerukan keabsahan pernikahan keduanya ini membuat airmata Dion menetes.
"Sah."
Satu kata yang bermakna begitu besar baginya dan Karin ke depannya. Dipeluknya gadis yang mau mendampingi hidupnya menikmati sisa umurnya dengan erat.
"Terima kasih juga sudah memilih Karin untuk mengarungi bahtera kehidupan dan rumah tangga. Sebesar apa pun kekurangan Karin,,, mohon terimalah." ucap Karin lembut lalu mencium punggung tangan Dion dengan khidmat.
Untuk sejenak suasana menjadi haru dengan tangis bahagia beberapa yang hadir di sana. Terutama orang tua Dion yang baru datang pagi ini ke Paris. Terkejut tentunya mendengar putranya bilang akan menikah tanpa tau dengan siapa.
Tapi tak peduli siapa yang dipilih Dion,, mereka menerimanya sebagai pelita baru dalam hidup mereka.
"Mama doakan kalian bahagia. Bisa sabar menghadapi sifat dan sikap masing masing. Bisa saling bekerjasama membawa kapal kalian menuju ke dermaga tujuan kalian." mamanya Dion pun memeluk Karin dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih mama." jawab Karin.
"Selamat ya nak. Jangan lupa segera berikan kami kado." papanya Dion membuat gerakan seperti menimang bayi.
"Inshaallah papa,,, Semoga tuhan segera mengijinkan dan mempercayakan pada kami,,," jawab Karin.
"Aamiin,,," semua berseru mendengar ucapan Karin itu.
Sesi saling mengucap selamat telah usai dan Adi juga harus kembali ke penjara lagi.
__ADS_1
"Sekarang papa tenang menjalani masa hukuman papa. Kamu sudah ada yang jaga Rin. Baik baik ya Rin. Jadi istri yang berbakti pada suami. Jika suamimu melakukan kesalahan tegurlah dia dengan suara halus dan lembutmu. Jika dia benar,,, sudah jadi tugasmu untuk mengikuti dan mendampinginya kemana pun dia pergi."
"Iya papa. Karin akan selalu ingat pesan papa ini." Karin memeluk papanya sebelum melepaskannya kembali ke tempat yang sebenarnya selalu membuat Karin tidak tega. Tapi di sanalah memang seharusnya papanya berada.
"Sungkem!!!" Adi mengulurkan tangannya pada Dion.
"Jutek banget sih pa??" Dion protes tapi menurut juga untuk sungkem pada papa mertuanya.
"Ingat jangan berani berani buat Karin menderita." pesan Adi.
"Siap papa mertua." Dion membuat sikap hormat.
"Hadeehhh,,, Dasar Menantu begundalan." sungut Adi sambil berlalu menuju ke mobil polisi yang sudah menunggunya.
"Cil,,, berapa sih usia papa??" tanya Dion sambil memperhatikan Adi.
"Beda dikit kok sama om papa. Kecilan papa lagi dua tahun kayaknya." sahut Karin santai.
"Apa?? Dia kecilan dari aku??" mata Dion membulat.
"Iya,, Kenapa emangnya??"
"Mana ada yang tuaan suruh sungkem huh,,,ngerjain gue aja tuh papa." sungut Dion.
"Itu sih resiko karena menantunya doyannya sama daun muda." Karin menjulurkan lidahnya menggoda Dion.
"Waaahh awas yaa,,, Ku hajar kamu abis ini. Joni bakal ngamuk dan bikin kamu memelas sama om papa." kata Dion.
"Joni?? Siapa Joni??" Karin merasa gak kenal dengan nama itu dan bingung kenapa juga yang nama Joni must ngamuk sama dia.
"Hmm Joni ya,, Nanti om papa kenalin. Kamu pasti bakal demen ketemu dia. Bakal terus minta ketemuan malah." ucap Dion sedikit berbisik.
"Katanya ngamuk tapi ngapain juga Karin malah demen sih???"
Karin makin tak paham dan itu justru buat Dion makin tak sabar mengenalkan Joni padanya. Dengan cepat ditariknya tangan Karin menuju mobil dan melesat ke hotel tanpa pamit pada semuanya.
Otw Jon,,,
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Terima kasih atas vote,like dan komennya ❤️🌸🌹...