BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Tulus memaafkanmu


__ADS_3

Malam itu aku hampir tak bisa memejamkan mataku. Aku membayangkan saat Chaira menerima cincin lamaran dari Ray. Cincin yang kupilihkan.


"Semoga saja mataku salah melihat. semoga saja wanita bercadar itu bukan Chaira. Bukan Chaira saja wanita bercadar di dunia ini Dare,,, jadi tenanglah dulu" lirihku pada diriku sendiri.


"Dan bisa saja Ray tak jadi membeli cincin itu dan memilih yang lain" lirihku lagi.


Aku sempat merasa bodoh memilihkan cincin untuknya yang aku yakin pas untuk jari Chaira. Aku tiba tiba merasa bahwa aku sendirilah yang telah menyerahkan Chaira kepadanya.


Aku harus tidur agar aku tak kesiangan besok. Aku harus datang menemui wanita itu untuk meyakinkan diriku siapa wanita itu.


\=\=\=\=\=\=\=


Aku memarkir mobilku tepat di depan rumah yang semalam didatangi Ray. Ku lihat wanita itu tengah menyirami tanamannya. Aku berdiri di pagar rumahnya memperhatikannya.


Hatiku kembali teriris ketika aku semakin mengenali bahasa dan gerak tubuh wanita itu. Dia memang Chaira.


"Assalamualaikum" aku sengaja tak memencet bel karena aku yakin Chaira bisa mendengarnya.


Halaman rumah ini tak terlalu luas jadi saat aku berada di depan pagar suaraku bisa terdengar ke halaman.


"Waalaikumsalam" Jawabnya tanpa menoleh karena masih sibuk memutar kran air dan mematikannya.


"Darren???" Chaira yang sudah melihatku tertegun.


Dia berdiri mematung disana.


"Boleh aku masuk Chai?" pintaku


Chaira yang tampaknya masih terkejut akan kehadiranku masih tak bergeming. Dia baru sadar saat aku memanggil namanya lagi untuk ketiga kalinya.


Dia berjalan mendekatiku dan mulai membukakan pintu oagar untukku. Hatiku kembali sakit saat aku melihat sebuah cincin berlian yang ku kenali sebelumnya melingkar manis di jarinya.


"Ray benar benar membelinya dan memberikannya pada Chaira. Seharusnya aku yang memakaikannya untukmu sayang" batinku.


"Silahkan masuk Dare" ucapnya begitu pintu terbuka.


Dia terlihat menjaga jarak denganku. Aku tak tahan lagi. Segera ku peluk erat dirinya. Ku tumpahkan rasa rinduku padanya. Chaira terkejut mendapat perlakuan seperti itu dariku.


"Maafkan aku sayang,,, maafkan aku" aku terus memeluk erat dirinya.


Namun aku merasa sedih saat aku menyadari bahwa Chaira tak membalas pelukanku namun malah berusaha melepaskan diri dariku.


"Sopanlah sedikit Dare" Chaira terus meronta.


Tak ingin menyakitinya aku melepaskan pelukanku. Aku menatapnya. Tak ada gurat kesedihan di mata yang dulu mampu membuatku tersihir. Hingga kini pun masih mata itu mengikatku.


"Jangan seperti itu lagi. Kita sudah bukan muhrim lagi" Ucapnya.


Mendengar dia mengatakan itu aku tak bisa menahan diri lagi. Aku meraih pinggangnya kemudian bersimpuh di depannya. Aku tak peduli beberapa tetangga yang sedang olahraga pagi melihat ke arah kami.


"Dare lepaskan aku,,,, " Chaira kembali berusaha melepaskan dirinya


Namun aku semakin erat memeluk kakinya.


"Aku tak akan melepasmu lagi sayang,,, aku mohon ampuni aku. Beri aku kesempatan untuk kembali padamu. Beri aku kesempatan memperbaiki kesalahanku. Aku mohon sayang" aju terus memohon dan tetap bersimpuh memeluk kakinya


"Lepaskan Dare!!!" titahnya


Aku menggeleng dan makin erat memeluknya.

__ADS_1


"Lepaskan atau kau tak pernah memiliki kesempatan lagi!!!!" Chaira yang tak lagi meronta tiba tiba mengatakan hal itu.


Aku yang mendengarnya langsung melepaskannya. Chaira mundur selangkah. Aku masih tetap bersimpuh memandang matanya yang jauh memandang keluar.


"Dia sama sekali tak mau menatap mataku. Apa dia takut hatinya akan luluh?" pikirku


"Berdirilah,, dan ikut denganku" Chaira mengucapkannya dengan dingin.


Aku menurut. Aku berdiri dan mengikuti langkahnya menuju kursi yang ada di teras rumahnya.


"Duduklah" suara Chaira sudah mulai menghangat.


Aku kembali menurut.


"Kenapa kamu datang lagi?" lirihnya.


Aku tak menjawab dan memperhatikan dia yang sedari tadi sama sekali tak menatapku. Dia memegang cincin di jari manisnya seakan tengah mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia sudah dilamar orang.


"Tatap mataku Chai,,, aku ingin meminta maaf padamu. Aku akan lega jika bisa melihat sorot mata teduh penuh pengampunan darimu" lirihku


Chaira menatapku.


Deggg,,,


Mata itu,,,


"Kamu tidak perlu datang hanya untuk meminta maaf seperti ini Dare... Aku sudah lama memaafkanmu. Aku tulus memaafkanmu. Aku sama sekali tidak dendam atau sakit hati padamu" ucapnya lembut namun meyakinkan.


Dan aku percaya itu.


"Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan padaku?" tanyanya


Chaira tampak mendengarkan. Dia terlihat tenang. Aku menyodorkan sebuah kertas yang berisi hasil scan daripada surat persetujuan adopsi dari pihak rumah sakit tempat almarhum Febby melahirkan dulu.


Chaira membacanya dan kemudian menghela napasnya.


"Jelaskan padaku semuanya Chai,, aku tau aku sangat terlambat menyadarinya. Tapi aku tetap ingin tau kebenarannya. Aku mohon Chai,,, katakan sejujurnya" pintaku


Chaira kembali menghela napas dan memandangku.


"Apa berita ini saja yang kamu dapatkan?" tanyanya


Aku mengangguk.


"Benar Dare,,, bayi yang kini ada dalam asuhanku adalah bayi Febby. Febby ingin aku merawatnya sebelum aku menemukanmu dan menyampaikan pesan Febby bahwa anak itu adalah anakmu. Darah dagingmu." ucapnya


"Aku ingin mengatakannya padamu saat kamu datang mengunjungiku di vila saat itu tapi kamu tak memberiku kesempatan untuk itu. Aku bahkan tak tau apa yang membuatmu begitu emosi padaku dan bahkan langsung menceraikanku" lanjutnya


Aku merasa sedang dicambuki mendengar semua kalimatnya. Perih ku rasakan. Aku tambah merasa perih saat membayangkan bagaimana hancurnya hatinya saat itu.


Airmataku mulai menetes. Aku tak gengsi untuk menangis di depannya.


"Maafkan aku Chai,, aku sungguh minta maaf atas sikapkunyang keterlaluan padamu" lirihku sembari terisak.


"Sudahlah,, aku tak pernah ingin tau lagi apa alasanmu. Aku sudah ikhlas menerima takdir tuhan Dare,, mungkin memang jodoh kita hanya sampai disana" ucapnya lagi


"Apa kau ikhlas melepasku karena Ray sudah melamarmu?" tanyaku


Chaira sedikit terkejut mendengarnya. Belum dia menjawab aku kembali bertanya padanya.

__ADS_1


"Aku sudah tau mengenai Ray walau dia tak pernah mengatakannya padaku langsung. Apa kau ingin menjelaskan padaku tentang semua itu?" tanyaku


"Ya Dare,, Ray telah melamarku dan aku telah menerimanya. Aku rasa aku tak perlu menjelaskan hubunganku seperti apa dwngan Ray padamu. Kita sudah bukan suami istri lagi jadi aku berhak menyimpan masalah dan ceritaku sendiri." jawabnya.


Aku hendak bertanya lagi namun ku urungkan karena seorang wanita keluar menggendong anak laki laki berusia sekitar 2 tahun.


"Maaf bu,,, Levi menangis minta ibu" kata wanita yang tampak seperti asisten rumah tangga.


"Berikan dia padaku mbak,,, Terima kasih. Mbak boleh kembali ke dalam" titahnya sembari menerima Levi yang langsung diam saat Chaira memangkunya.


Chaira memperhatikan aku yang sedang memandang Levi.


"Ada apa Dare? Apa kamu tak ingin menggendongnya barang sekejap?" tanyanya


Aku ragu. Aku ingin tapi aku punya pikiran lain tentang anak itu. Aku mulai dirasuki pikiran buruk.


"Berapa usianya?" tanyaku


"2 tahun. Dia lahir tanggal,,,,, " Chaira menyebutkan tanggal lagir Levi.


Aku berusaha menghitung mundur. Aku mengingat ingat kalan terakhir kali Chaira ku usir. Kalau aku tak salah itu sekitar 8 bulan sebelum Levi lahir.


Deggg,,,,


Benarkah Chaira selingkuh dulu? Saat masih menjadi istriku? Jika benar perhitunganku maka saat ku usir dia,,, saat itu dia tengah hamil muda.


Apakah itu alasan kenapa dia sama sekali tak menolak saat aku mengusirnya??


Tidak,, tidak,,


Aku masih ingat dia tak dengan begitu saja menerima keputusanku. Dia sempat ingin bertahan namun aku yang memasukkannya ke penjara dengan tuduhan pembunuhan mama.


Lalu aku menemukannya tengah akrab menggendong bayinya bersama pria lusuh di rumah sakit tepat di hari lahir Putri.


Mungkinkah pria lusuh itulah ayah dari anak ini??


Lamunanku buyar saat anak itu merengek minta ikut denganku.


"Gendonglah dia Dare,,, biarkan dia merasakan hangatnya pelukan ayahnya sendiri" lirih Chaira


Pyaaarrrrr,,,,,


Aku bagai tersambar petir mendengarnya,,,,


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Aku percaya padamu Chai,,, aku percaya kau bisa menjaga dirimu,, Aku percaya kau ingat akan lamaranku yang sudah kau terima semalam. Aku akan memberimu waktu menjelaskan semuanya pada Darren. Aku pun memberimu kesempatan berpikir ulang untuk menerimaku setelah kau bertemu langsung dengan Darren. Aku hanya berharap hatimu menemukan siapa belahan jiwamu sebenarnya" lirih Ray


Ray melihat semua yang terjadi dari dalam mobilnya. Dia datang hendak mengambil syal mamanya yang ketinggalan semalam. Dia memutuskan diam di mobil saat melihat Darren yang sudah berdiri di depan pagar rumah Chaira.


Semua yang dilakukan Darren tak ada yang luput dari pandangannya. Saat dia memeluk Chaira bahkan hingga bersimpuh di depannya.


Ray cukup dewasa dan berbesar hati memberikan waktu untuk mereka menyelesaikan apa yang belum terselesaikan selama ini.


Ray menghidupkan mobilnya dan berlalu meninggalkan tempat itu.


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaaa


Terima kasih 😍

__ADS_1


__ADS_2