BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 140


__ADS_3

...Selamat membaca 🌸...


...Maaf banyak typo πŸ™...


...🌸🌸🌸...


Dion gelisah dan berkeringat dipandangi terus oleh Adi di ruangan khusus besuk para tahanan. Hampir lima menit berlalu dan Dion belum bicara apa apa.


"Apa kamu hanya akan mengunjungiku dengan berdiam diri begini??" tanya Adi memecah kesunyian.


"Ah,, Kenapa se grogi ini sih?? Ini bukan pertama kalinya lo ngadepin seseorang Dion. Dasar lo malu maluin,,," sungut Dion dalam hati.


Sudah dicobanya setenang mungkin menemui calon papa mertuanya itu tapi tetap saja tubuh dan hatinya tidak bisa diajak begitu. Entah dari mana datangnya rasa kikuk,,, grogi lengkap dengan keringat dingin itu.


"Duuhh kelihatan banget gak gentle gue." sungutnya lagi.


Adi mendengus kesal dengan sikap Dion itu.


"Baiklah kalau begitu aku masuk saja." Adi beranjak dari duduknya dan itu membuat Dion makin panik.


"Mmm tunggu tuan Adi,,," Dion akhirnya menyebut Adi dengan sebutan tuan.


"Tuan??" tanya Adi.


"Ya,, Tuan Adi. Saya rasa itu panggilan yang pas." jawab Dion yang sudah mulai bisa menguasai dirinya.


Rupanya sedari tadi dia bingung mau mulai dengan sebutan apa. Usia yang sebaya membuat dia sebenadnya bisa langsung memanggil nama saja. Tapi mengingat bahwa Adi yang sebaya dengannya itu juga merupakak ayah dari gadis yang dicintainya,, Rasanya kurang pantas kalau langsung panggil nama.


"Baiklah terserah kamu saja." Adi duduk kembali.


"Maafkan kesan pertama yang saya ciptakan tuan. Saya hanya menjalankan apa yang seharusnya saya lakukan." Dion menyinggung pertemuan pertama mereka yang berujung ditangkapnya Adi oleh polisi.


"Itu saja yang mau dibicarakan??" tanya Adi terdengar tak tertarik.


Dion kesal tapi dia mengatakan pada dirinya sendiri untuk sabar dengan perlakuan Adi padanya.

__ADS_1


"Bisa jadi ini ujian buat calon mantu." pikirnya.


"Itu salah satunya tuan." jawab Dion sopan.


"Lalu apa lagi?? Cepatlah. Waktumu tidak banyak. Aku juga biar gak merasa rugi meluangkan waktu untukmu." Adi masih memancing emosi Dion.


Dion menghela napas dan menghirup oksigen banyak banyak.


"Ini ujian Dion. Jangan keburu melambaikan tangan ke kamera. Lo musti lulus ujian. Sabar Dion,,,Sabar." Dion terus memotivasi dirinya sendiri.


"Saya tau anda mungkin masih punya kesan buruk pada saya tapi saya tetap ingin menyampaikan maksud utama kedatangan saya ini. Saya ingin melamar putri anda tuan. Saya mencintai Karina Saswita,,,putri anda."


Hampir putus rasanya napas Dion mengatakan itu dengan satu napas.


"Yang penting udah ngomong. Tinggal tunggu jawaban aja." batin Dion.


Adi tak bereaksi sama sekali. Hanya memandang tajam pada Dion. Tapi kali ini yang dipandang tak lagi kikuk atau pun grogi. Dion terlihat sudah jauh lebih tenang seperri caranya menghadapi klien kliennya selama ini. Bahkan Dion tersenyum menunggu jawaban Adi.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu bilang?? Ingin menikahi Karin kamu bilang???" tanya Adi ketus.


"Benar tuan." Dion masih sangat tenang.


"Untuk kamu permalukan ke depannya?? Untuk kamu rendahkan karena papanya narapidana??" tanya Adi lagi.


" Cinta kamu bilang tadi?? Apa sebelum mencintainya kamu lupa siapa papanya??" tanya Adi lagi terus memojokkan Dion.


Dion menghela napas berat lalu kembali tersenyum.


"Saya sadar dan sepenuhnya sangat sadar melamar putri anda untuk saya jadikan bidadari pendamping hidup saya di dunia dan akhirat tuan. Terlepas dari siapa papanya atau pun latar belakang keluarganya,,, Saya tetap mencintai Karin tanpa ingin mengingat apa pun hal buruk tentang dirinya. Karena saya ingin menjadi orang yang menutupi semua keburukan itu agar tak ada lagi yang tau. Saya mencintai Karin karena kecantikan hatinya dan saya tak ingin menyangkutpautkan hatinya dengan status papanya."


Dion begitu tenang saat mengatakannya.


"Memangnya kenapa kalau papanya seorang narapidana?? Bukankah putri dari seorang narapidana. tetaplah putri yang berhak untuk bahagia dan dibahagiakan?? Memangnya kenapa kalau papanya pembunuh?? Apa itu juga akan membuatnya jadi menyandang status pembunuh juga???"


Adi terdiam. Lidahnya kelu.

__ADS_1


"Dan memangnya apa masalahnya kalau papanya yang katanya pembunuh itu sekarang sudah dengan penuh ikhlas mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menjadi narapidana?? Bukankah itu bukti dari penyesalan papanya akan segala perbuatannya??"


Adi masih tak punya jawaban.


"Kalau papanya saja sudah merendahkan diri dengan bersedia dipenjara,,, Sudah selalu memohon ampunan pada sang pemilik segala galanya yang maha pengampun,,, Lalu apa saya yang lebih nista itu bisa menganggap diri saya lebih baik daripada papanya yang sudah bertobat itu?? Apa hak saya masih ingin menghukum putrinya kalau papanya saja sudah dihukum???"


Dion benar benar sukses membungkam Adi. Bahkan sukses membuat Adi menangis.


"Tuan,,,Ijinkan saya menjaga dan melindungi Karin. Ijinkan saya menjadi pengganti anda untuk sementara. Ijinkan saya menjadi papa dan suaminya. Meski kita sama sama tau bahwa Karin gadis yang kuat dan mandiri,,,Tapi Jangan biarkan Karin sendirian di luar sana tanpa perlindungan siapa pun." pinta Dion.


Adi masih tampak terisak dan sesekali mengusap airmata yang tak ada habisnya.


"Ijinkan saya menikahinya dan membawanya kemana pun saya pergi tuan. Saya janji akan memperlakukan dia sebaik baiknya. Saya sudah pernah bersalah pada mantan istri saya dulu,,,Dan saya tak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi. Saya tidak sanggup lagi menanggung duka kehilangan istri." ucap Dion terus mendominasi.


"Kenapa kamu banyak sekali bicara?? Dan kenapa terua panggil narapidana ini dengan sebutan tuan???" ketus Adi memotong semua bicara Dion.


Dion tak mengerti maksud ucapan Adi itu.


"Kapan kamu mau belajar panggil aku papa?? Tuan tuan tuan saja terus!!!" sungut Adi.


Dion makin melongo dibuatnya.


"Jadi tidak mau nikahi Karin?? Kenapa malah melongo begitu?? Dasar calon mantu gak guna kamu ini,,,Sini sungkem sama papa dulu." Adi mengulurkan tangannya dengan kasar.


"Hah,,,Ini maksudnya???" Dion makin bingung.


"Iya calon mantu bego,,,Aku restui kamu jadi calon suami Karin. Aku percaya orang yang menegakkan kebenaran sepertimu tak peduli yang salah itu siapa,, tentu bisa menjadi suami yang adil dan bijaksana. Keputusan dan keberanianmu memenjarakan aku adalah nilai plus bagimu dariku. Untuk itu kamu layak untuk Karin dan aku bisa tenang menjalani hukumanku di sini selama aku percayakan Karin padamu."


"Buruan sungkem. Keburu habis jam besuk." titah Adi lagi menyadarkan Dion yang kehabisan kata. Buru buru Dion sungkem.


"Makasih tuan papa,,,Eh Papa aja,,, Makasih banyak papa untuk restunya. Pokoknya saya janji,,,"


"Gak usah banyak janji. Waktu besuk habis." potong Adi.


Dion melongo lagi.

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


...Terima kasih atas vote, like dan komennya ❀️🌸🌹...


__ADS_2