BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 104


__ADS_3

Selamat membaca 🌸


Maaf banyak typo πŸ™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌸🌸


"Ayya berangkat dulu ya bang. Sampai jumpa di lain waktu. Assalamualaikum." tulis Rayya di pesan yang dikirimkannya pada Bimo sesaat sebelum dia matikan ponselnya tanpa menunggu balasannya.


Pesawat yang ditumpanginya sebentar lagi akan lepas landas dan membawanya kembali ke Paris. Kembali menjalani kesehariannya sebagai salah satu siswa sekolah kuliner yang lumayan bergengsi.


Biaya sekolah yang mahal membuat Rayya benar benar tak ingin dirinya gagal apalagi sampai mengecewakan Darren yang sudah menyiapkan semua biaya itu.


Bukan semata hanya karena itu,, Tapi juga karena Rayya tau inilah passionnya. Hobi memasaknya akan lebih baik jika disalurkan dan diimbangi dengan ilmu dan teknik teknik memasak yang lebih lagi agar cita citanya menjadi seorang chef bisa terwujud.


Lulus dengan angka terbaik,,


Menjadi chef,,


Membuka cafe atau restoran sendiri,,


Membuat Darren bangga melihat apa yang sudah dicapainya,,,


Meminta Darren lah yang menggunting pita pembukaam restorannya kelak,,,


Semua bayangan itu membuat Rayya makin semangat. Lalu selintas bayangan wajah Bimo berkelebat dalam ingatannya dan membuatnya ingin menambahkan nama itu dalam daftar cita citanya.


Ya,,,


Inshaallah menjadi istri sholeha bagi Bimo akhirnya menjadi list tambahan dalam misi hidupnya.


Rayya tersenyum sendiri lalu perlahan meletakkan kepalanya di sandaran kursi VIP pesawat. Melonjorkan kakinya lalu memejamkan matanya menikmati semua kenyamanan yang ia dapatkan di pesawat itu.


Jangan tanya siapa yang sudah memesankan tiket karena itu sudah pasti Darren.


"Terima kasih ayah." ucapan itu lagi lagi keluar dari bibirnya.


Mata Rayya terpejam dan mencoba untuk tidur.Memgistirahatkan tubuhnya selama perjalanan panjang agar nanti begitu sampai Paris dia dalam kondisi segar.


🌸🌸🌸

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Hati hati Ayya,,, Jaga diri, jaga mata, jaga hati Ayya hanya untuk abang. Ingat ada abang yang tetap menunggu hari di mana Ayya siap menjadi milik abang."


Bimo membalas pesan Rayya sembari senyum senyum sendiri.


"Woi,,, Senyumin apa sih? Sini lihat,," celetuk gadis yang baru menghampirinya.


"Enak aja. Rahasia tau. Dah ah gue mau cabut." Bimo langsung beranjak.


"Bim,, Lo belum kasih gue jawaban. Lo tau kan gue masih nunggu?? Lo tau kan perasaan gue??!!!" teriak gadis itu.


Huuuuuu,,, Cieeeee,,,


Seketika gaduh dengan teriakan mahasiswa lain di sekitar mereka.


Bimo menghentikan langkahnya lalu membuang napas kasar.


"Nih hareem emang kudu disentil kepalanya biar tau malu dikit." sungut Bimo.


Bimo berbalik mendekati gadis yang menatapnya senang karena kalimatnya berhasil membuat Bimo berjalan ke arahnya.


"Lo bukan belum dapat jawabannya Karin. Gue sudah jawab tegas kalau gue tuh cuma anggap lo teman biasa. Lagipula lo kan baru di sini. Kalau selama ini gue baik sama lo, bukan berarti gue punya perasaan yang lebih ke elo!!!" tunjuk Bimo di depan wajah gadis bernama Karin itu.


"Dan lo juga harus tau kalau itu bukan jawaban yang gue mau Bim. Gue emang anak baru di sini tapi gue gak peduli. Gue selalu dapat apa yang gue mau. Dan itu termasuk elo." jawab Karin dengan sinis.


"Cukup ya Rin. Gue bukan deretan barang yang bisa lo dapetin sesuka hati lo. Gue tegasin sekali lagi sama lo kalau gue ini gak ada hati sama lo. Gue juga sudah punya cewek." Bimo akhirnya menolak Karin dengan jawaban itu.


"Apa?? Siapa? Siapa emangnya yang lebih menarik dari gue di sini? Gue lihat juga lo gak pernah jalan sama siapa siapa selama ini. Hhh,,,Bimo,,, jangan kasih gue alasan klasik gitu deh."sinis Karin.


"Gue gak percaya!!!" tegas Karin tepat di telinga Bimo lalu pergi meninggalkan Bimo yang masih mengumpat kesal.


"Karin,,, Stop ganggu gue!!! Lo tuh cewek. Tau diri dikit dong." teriak Bimo.


"I dont care Bim,,, Lo tunggu aja. Suatu saat lo pasti datang dan mohon mohon sama gue untuk gue jadiin pacar gue." teriak Karin tanpa menoleh.


"Sialan tuh cewek!!! Ganggu kesenangan gue hari ini aja." gerutu Bimo.


🌸🌸🌸


Karina Saswita.


Putri seorang pejabat berwenang yang baru pindah ke kampus di mana Bimo,Levi dan Tiara kuliah. Meski anak baru tapi Karin termasuk gadis yang tidak tau malu bahkan cenderung tidak peduli jika ada yang membicarakannya.

__ADS_1


Gadis manja yang terbiasa mendapatkan semua yang dia mau dengan kekuasaan ayahnya itu pun naksir pada Bimo yang selama ini baik padanya.


Sebenarnya Bimo memang anak baik yang bisa bergaul dengan siapa saja. Wajah dan gaya yang lumayan maskulin juga bukan satu satunya yang bisa dibanggakan dari dirinya. Nilai nilai kuliahnya yang juga selalu bagus tentu menambah nilai tersendiri di mata para gadis di kampus itu.


Hanya saja,,, Bimo bukan berasal dari keluarga kaya dan itu menjadikan beberapa gadis matre memilih mundur dan mengabaikan nilai plus seorang Bimo.


Jika tidak kaya menjadi nilai buruk bagi yang lain,,, Tidak bagi Karin. Itu justru nilai plus yang akan membuatnya gampang mendapatkan Bimo dengan limpahan kekayaan dan kekuasaan ayahnya.


"Heran deh ma lu Rin,,,Gak ada apa cowok lain selain si miskin itu?" tanya Shella yang merupakan anggota geng cewek di kampus yang diketuai Karin.


"Gue kalau sudah mau,,,Pasti ada alasan dan itu bikin kemauan gue itu harus banget gue dapatin." jawab Karin enteng namun penuh percaya diri.


"Emang apa yang lo pingin dari Bimo?" tanya Sisi, anggota geng itu juga.


"Tubuhnya dong,,, Apalagi??? Kalian kayak gak paham sama Karin aja deh. Kalau udah liat yang berotot gitu mah maunya diajak ngamar mulu." sungut Tere yang sedari tadi sibuk menyedot minumannya.


"Itu baru pintar namanya. Ini nih namanya sahabat. Ngerti banget apa mau gue. Abis ni lo gue beliin sepatu mahal ya Tere." tukas Karin.


"Yesss,,, Thank you Karin." Tere senang sekali.


"Tapi gue serius kali ini,,,Rasanya gue pingin lebih deh dari sekedar ngamar ma Bimo." ucap Karin kemudian.


Ucapan itu sontak membuat teman temannya melongo bahkan Tere sampai tersedak lalu dengan cepat memukul mukul dadanya yang sesak akibat batuk batuk.


"Jangan bilang lo jatuh cinta beneran sama Bimo ya Rin,,,,!!!" seru Sisi.


"Kalau iya emang kenapa?" tanya Karin cuek sambil berkaca melihat apakah make up nya masih on point.


"Kariiin,," Sisi mengguncang bahunya.


"Apaan sih??" ketus Karin merasa terganggu.


"Miskin Rin,,,Gak level ma lo." Sheila menambahi.


"Bener tuh si Sheila."Tere ikut bicara.


"Bodoh amat. Nanti juga kalau dipoles jadi berkelas." Karin tetap cuek membuat ketiga gengnya melongo.


"Udah ah gue mau balik. Lo jadi beli sepatu gak Tere??" tanya Karin sambil berlalu.


"Jjj,,, Jadi dong." sahut Tere gagap lalu cepat cepat menyusul langkah Karin.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌸


__ADS_2