
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Terima kasih ya Bimo kamu urus semua di sini dan sudah temani Rayya juga." ucap Darren pada Bimo yang pamit pulang.
"Dengan senang hati om. Rayya bang Bimo pulang dulu yak. Om kabari saja kalau memang butuh bantuan atau apa pun itu dari Bimo. Bimo besok balik sini lagi sama teman teman buat jengukin Levi kalau memang sudah diperbolehkan banyak yang besuk. Kalau gak ya Bimo datang sendiri saja dulu besok." kata Bimo.
"Pasti om kabari." sahut Darren sekali lagi mengucapkan terima kasih.
"Bang Bim,,, take care yah." pesan Rayya.
"Siap Ay,,," sahut Bimo yang punya panggilan khusus buat Rayya.
Rayya melambaikan tangannya pada Bimo lalu menyusul Darren masuk ke ruangan Levi. Darren sudah meminta pihak rumah sakit menempatkan Levi di ruang VIP agar ada ruang untuk istirahat bagi Rayya juga. Kebetulan juga Levi sudah lewat dari masa kritisnya.
Darren tidak mau Rayya jatuh sakit lagi karena ikut menjaga Levi. Bertubi tubi dihadapkan cobaan dengan anak sakit membuat Darren lebih protektif pada anak anaknya.
"Aku tidak bisa menanggung rasa bersalah yang bertambah banyak jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada anak anak bidadariku. Mereka bukan hanya titipanmu,,, tapi juga ladang bagiku untuk memperbaiki diri dan membuktikan padamu bahwa aku berusaha keras untuk memperbaiki semuanya meski sudah tak bisa membawamu kembali padaku. Mereka berdua adalah ladang bagiku menuangkan seluruh cintaku padamu bidadariku." batin Darren melihat Levi yang masih tertidur dan Rayya yang juga terlihat lelah dan berbaring di sofa.
Darren mencium kening Rayya dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"jangan lupa berdoa sebelum tidur ya nak. Doakan abi dan bunda. Jangan lupa juga doakan kak Levi biar cepat sembuh." kata Darren.
"Pasti ayah. Tapi Rayya mau tanya sesuatu pada Ayah." ucap Rayya.
"Apa itu nak??" tanya Darren.
__ADS_1
"Kenapa ayah tidak pernah berpesan pada Rayya atau kak Levi untuk mendoakan ayah juga?? Padahal ayah tidak pernah lupa berpesan agar kami mendoakan abi dan bunda." tanya Rayya.
Darren tersenyum mendengarnya.
"Karena ayah bukan siapa siapa nak. Ayah hanya pendosa yang belum mampu memaafkan diri ayah sendiri hingga kini. Pantaskah ayah meminta kalian mendoakan pendosa ini??" tanyanya.
"Bagi kami,,, ayah bukan pendosa itu lagi. Pendosa itu sudah tiada bersamaan dengan perginya bunda dan abi. Yang ada sekarang hanya seorang ayah yang telah melakukan semua hal baik bahkan terbaik bagi kami. Tanpa ayah perlu meminta pun sebenarnya kami selalu berdoa agar ayah selalu diberikan kekuatan iman dan islam." jawab Rayya.
"Alhamdulillah,,, terima kasih ya nak. Inshaallah doa anak soleh dan solehanya ayah ini diijabah sama yang di atas. Aamiin ya Rabb,,," ucap Darren terharu.
"Aamiin,,," Rayya turut mengucapkannya.
"Ya sudah,,, Rayya bobo dulu ya. Ayah mau jagain kak Levi dulu. Mimpi indah ya nak." kata Darren.
Rayya mengangguk lalu memejamkan matanya. Darren menuju ke ruang sebelah di mana Levi berada. Ditariknya sebuah kursi untuk duduk tepat di samping tempat tidur putranya.
Tidak lupa sebelumnya dia mengecek semua peralatan medis Levi apakah ada yang tidak benar posisinya atau tidak.
"Apa yang terjadi sama Levi?? Apa benar ini ulah si Herman itu??? Bikin gue kesel aja tuh orang. Sudah tua juga gak nyebut." omel Dion.
Darren memintanya mengecilkan suaranya agar tak mengganggu Levi. Darren memang sempat mengiriminya pesan tadi tentang apa yang menimpa Levi. Begitu ada waktu luang Dion langsung menelpon Darren.
"Jangan nuduh nuduh dulu. Kan belum selesai olah TKP nya. Kita belum tau pasti siapa pelakunya." ucap Darren dengan suara pelan.
"Iya gue tau,,, Tapi gue yakin ini pasti ada hubungannya sama si Herman itu Dare. Pas aja gitu,, Pas anak lo ada masalah sama dia ehh terus kecelakaan gini. Pokoknya kita harus buat perhitungan ma tuh Herman kalau sampai ini ulahnya." Kata Dion ikut memelankan suaranya.
"Kalau lo gak mau maju,,, Gue yang maju. Kesel gue ma yang beginian. Beraninya ma anak anak." lanjutnya masih mengomel.
"Lo ngapain malah senyum senyum gitu bro???!!" tanyanya kesal melihat Darren yang tersenyum saja dari tadi.
"Lo tuh masih gak berubah dari dulu. Ingat sudah tua. Sudah waktunya anak anak yang maju bukan kita lagi." sahut Darren.
__ADS_1
"Ahh bodo amat. Pokoknya gue gak terima anak lo yang a.k.a ponakan gue diapa-apain gini!!!" ketus Dion.
"Hhmm gue tau,,, Tapi gue mau lo diam dan gak bertindak aneh aneh. Bila perlu kita serahkan saja pada hukum. Gue gak mau buat Herman makin merasa tidak suka sama gue karena kita lagi lagi berulah. Kalau pun memang ini ulah Herman biar dia mendapatkan hukuman yang bukan dari kita. Hukuman yang memang sepantasnya dia dapatkan bukan yang kita ciptakan." kata Darren.
"Lo kenapa jadi pemaaf gini sih Dare,,,??" tanya Dion.
Darren lagi lagi tersenyum.
"Karena gue tau rasanya gimana jadi orang yang tidak pernah mendapatkan kata maaf atau terlambat menyadari kesalahannya sehingga penyesalan terus menerus menggerogoti jiwa gue bro." ucapnya kemudian.
Dion terdiam. Dalam hatinya timbul kekaguman luar biasa terhadap Darren. Dion merasa bahkan dirinya yang juga pernah berbuat salah pun masih belum bisa menjadi seperti Darren.
"Chaira,,, Lo liat kan dari sana gimana sohib gue ini sekarang?? Hanya lo Chaira,,, wanita satu satunya yang bisa membuat Darren seperti ini. Gue gak tau harus ikut bahagia atau bersedih dengan perubahan Darren. Gue bahagia melihat semua perubahan baiknya tapi gue sedih karena lo gak menemani dia lagi saat ini. Semoga kalian berdua bertemu kembali di surga. Aamiin,,," Dalam diamnya Dion berdoa.
"Ya sudah kabarin gue ya kalau ada perkembangan baru." ucapnya kemudian pada Darren.
"Pasti. Lo gak mau balik kesini??" tanya Darren.
"Belum waktunya bro. Ingin sih gue tapi entar dulu lah. Gue takut gue baper lagi di sono kalau lihat atau datangin tempat yang beri gue kenangan sama Hana dulu." sahut Dion.
"Lah katanya udah dapat pengganti???" tanya Darren.
"Iya ada tapi gue masih belum yakin seratus persen. Gue masih sering kebayang Hana tiap sama dia. Gak tau lah bro." sahut Dion mengendikkan bahunya.
"Mantapkan dulu kalau gitu biar tidak ada lagi yang namanya perpisahan atau pun penyesalan. Lebih baik terlambat daripada menyesal di kemudian hari." kata Darren.
"Iya iya pak guru konseling. Udah ya gue mau istirahat dulu. Lo juga istirahat bro. Gue tau lo lagi jagain Levi tapi lo juga tetap harus jaga kesehatan lo. Kalau lo sakit siapa yang jaga anak anak??" Dion mengingatkan.
Darren mengacungkan jempolnya dan mengakhiri obrolannya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌹