
Ray mencium kening Chaira lembut di kamar besar Ray yang kini juga menjadi kamar Chaira.
Chaira memeluk pinggang Ray. Ray pun mendekap tubuhnya erat. Sejenis perasaan rindu menggelayuti mereka. Mereka telah begitu lama saling menahan rasa dan kini saat semua sudah halal mereka ingin menumpahkan segala rasa yang ada.
"Hai sahabatku,,, apa kamu tak cukup puas hanya menjadi sahabat kampusku?" tanya Ray menggoda Chaira.
Mata Chaira membulat mendengarnya.
"Baik,,, kalau begitu keluarlah dari kamarku. Kamu tidur di luar malam ini" goda Chaira sembari melepaskan diri dari pelukan Ray.
"Oouuhhh,,, jangan seperti itu,,,, Yang ini bagaimana nasibnya?? Sudah lama dia menahan diri" Ray tanpa malu menunjuk ke bagian bawahnya.
"Rayyyyy,,,,," Chaira melemparkan bantal padanya.
Ray terkekeh lalu menangkap tubuh Chaira dan membawanya duduk di ranjang besarnya. Mata mereka saling memandang.
"Aku belum percaya aku bisa menatap dan memandangmu sedekat ini Chai,,, Bahkan bisa menyentuhmu seperti ini,,, aku merasa ini mimpi." ucap Ray sembari menggenggam jemari Chaira yang masih tertutup sarung tangannya.
Dengan lembut Ray melepaskan sarung tangan itu. Terasa lembut dan halus tangan itu. Darah Ray berdesir melihat betapa mulus tangan Chaira. Kelelakiannya tergugah.
Chaira dengan lembut menyentuh pipi Ray. Diusap usapnya seluruh bagian wajah tampan itu. Ray mengecup tangan itu berkali kali tiap jemari Chaira mengusap bibirnya.
"Aku bersyukur pada Rabb ku karena telah mempersatukan kita dalam ikatan suci pernikahan. Aku berterima kasih pada Rabb ku yang mampu membolak balikkan hati manusia dan telah mengembalikan cinta yang dulu pernah tumbuh dihatiku untukmu" Ucap Chaira.
Tangan Ray yang gemetar tergerak untuk mulai membuka tali cadar Chaira namun tangan Chaira mencegahnya. Ray tak mengerti.
"Apa aku tak boleh melakukannya?" tanya Ray.
"Aku ingin kamu mempersiapkan hatimu menerima apa yang akan kamu lihat setelah ini. Dan aku ingin kamu memaafkan aku yang tidak bisa mempersembahkan kegadisanku padamu" lirih Chaira.
Ray tersenyum. Rupanya istrinya itu merasa tidak enak hati karena memikirkan dirinya yang masih perjaka namun harus mendapatkan wanita yang memang sudah bukan gadis lagi seperti dirinya.
"Jangan khawatir Chai,,, Semua itu sama sekali tak mengusikku. Aku mencintaimu bukan karena rupa atau kegadisanmu Chai,,, Aku mencintaimu karena Allah jadi ijinkan aku melakukan dan melaksanakan tugas dan tanggung jawabku padamu" pinta Ray.
Chaira mengangguk dan memejamkan matanya.
Tangan Ray kembali gemetar.
"Bismillah" ucapnya kemudian menarik lepas tali cadar Chaira.
Subhanallah,,,
Ray terpana memandang kecantikan istrinya. Matanya tak berkedip melihat mahakarya terbaik milik tuhan.
Sungguh bodoh pria yang telah menyakitimu sayang,,, Sungguh dirinya bodoh menyia nyiakan berlian sepertimu,,,
Chaira,,,
Bertahun tahun aku menyimpan kekagumanku atas dirimu yang sama sekali tak pernah ku lihat seperti apa wajahmu,,,
Bertahun tahun aku mampu menahan semua gejolak yang ada dalam dadaku,,,
Namun malam ini saat kau terpejam pasrah didepanku aku merasa kekagumanku selama ini belum seberapa jika dibanding kekagumanku melihat betapa sempurnanya dirimu,,,
Tuhan,,
Terima kasih telah menciptakan wanita luar biasa ini untukku,, Kecantikan wajah dan hatinya sungguh sangat menawanku.
Ray membaca sebait doa,,,
Dia memulai apa yang menjadi tanggung jawabnya di malam itu. Chaira menyerahkan segenap jiwa raganya untuk suami tercinta yang dikirim Rabb nya dengan cara yang indah,,,
__ADS_1
"Ya Rabb segera tiupkanlah napas dalam rahim istriku ini" lirih Ray saat dia dengan seluruh cinta di hatinya menyiramkan ribuan benih cintanya.
Ray membawa Chaira kedalam pelukannya usai mereka menyatukan raga mereka.
"Kalau tau seperti ini rasanya seharusnya aku langsung mau saja dulu ya,,, hehehe,,, " goda Ray
"Jangan bilang kamu ketagihan" Chaira mengejeknya
"Ketagihan sama istri sendiri kan malah dapat pahala nona manis,,, " Jawabnya membela diri
"Kalau istri puas dia akan senang,, lalu dia bahagia dan aku dapat pahala karena telah membahagiakannya" lanjutnya lagi.
Chaira mencubit hidung Ray gemas.
"Ayo sahabatku,, kita tidur. Aku sudah sangat lelah karenamu" kata Chaira manja
"Yaahhh kok tidur sih,,, aku kan masih mau lagi" rengek Ray manja.
"Eeiitttsss,,," Ray mencegah saat Chaira hendak buka suara
Chaira yang sebenarnya sangat lelah tersenyum padanya. Dia tidak bisa tidak mengabulkan permintaan suaminya.
Disingkapnya selimut yang menutupi tubuhnya dan kembali mempersembahkan raganya untuk suaminya.
"Yesssss" seru Ray yang langsung masuk kedalam selimut itu dan kembali melakukan tugasnya.
"Aku mencintaimu Chai,,,," Lirih Ray begitu dia mencapai puncaknya.
"Aku juga Ray,,, " Chaira mendekap tubuh Ray yang lemas diatasnya
Ray yang kemudian menurunkan tubuhnya segera berbaring di samping Chaira.
"Teruslah menemani aku sahabatku,, hingga nanti ajal memisahkan kita" ucap Ray.
Malam itu Levi dan Putri tidur bersama mama. Mama yang sangat memahami bahwa pengantin baru itu butuh waktu untuk berdua segera menawarkan diri menjaga cucunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku berpamitan pada Hana dan orang tuanya. Aku berjanji untuk datang kembali. Aku kembali bukan khusus untuk menemui Hana namun niatku dari awal adalah belajar agama.
Sejauh ini aku tak merasakan apa apa. Hana tak mampu menggeser posisi bidadariku. Namun bohong jika aku bilang aku tak terhibur olehnya.
Aku menawarinya posisi di perusahaanku dan dia menerimanya dengan senang hati. Kebetulan dia memang sedang mencari pekerjaan.
"Datanglah besok ke kantorku jam 9" pesanku
"Ok Dare,, aku akan datang" janjinya bersemangat.
Aku memacu mobilku pulang.
Sampai dirumah aku segera membersihkan diri. Cukup lama aku berendam dalam bath up mewahku yang sudah ku tuangi wewangian.
Sambil berendam aku menengadah dan memandang langit langit kamar mandiku.
Beberapa hari ini aku merasa kesepian. Hidup sendiri dirumah besar ini. Tak ada yang melayaniku.
Pikiranku melayang pada ingatan masa indah bersama Chaira. Hampir tiap hari aku membawa kotak nasi bekal makan siangku. Tiap pagi dia menyediakan sarapan untukku.
Aku tersenyum mengingat saat aku pertama kali mencari tau tentang dirinya. Aku yang tak pernah naik kendaraan umum harus ikut berdesakan di bus yang dinaikinya.
Aku ingat semua kejadian kejadian indah bersamanya.
__ADS_1
Namun airmataku kembali menetes saat aku ingat masa masa dimana aku mulai menyakitinya,,,
Penyesalan demi penyesalan datang menghantuiku,,,
Hatiku kembali teriris membayangkan dirinya yang tengah dibawa Ray ke surga cinta mereka.
Aaarrggghhhh,,,
Aku segera menyelesaikan ritual berendamku. Aku lanjutkan dengan mengambil air wudhu. Aku tunaikan sholat dan menghabiskan waktuku dengan membaca alquran.
Hanya itu yang bisa ku lakukan,,
Beribadah membuatku lebih tenang dan sedikit demi sedikit mengurangi beban di hatiku.
"Kamu tak akan pernah tergantikan sayang,,, kamu akan tetap jadi pemilik hatiku. Aku akan tetap mencintaimu seorang. Kamu cinta pertamaku,,, Walau kini kau bukan milikku lagi,,, Aku akan tetap memupuk cintaku agar tetap bersemi" Lirihnya sebelum menutup matanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Hana tersenyum sendiri.
Hatinya sangat bahagia malam ini. Bagaimana tidak? Darren yang diam diam selalu dikaguminya tiba tiba saja berada di rumahnya.
Bahkan mereka sempat menghabiskan waktu bersama.
"Ini bukan mimpi kan tuhan?" Hana menepuk nepuk pipinya sendiri.
"Ternyata dia sangat tampan,, Dulu aku hanya berani mencuri pandang saat dia membimbing karyawan magangnya." Hana terus mengingat kenangannya saat bekerja di perusahaan Darren.
"Anak ibu kenapa senyum senyum sendiri??" suara ibunyabuat Hana terkejut.
Hana yang sedang membayangkan Darren tak menyadari ibunya yang sudah masuk ke kamarnya terus memperhatikan dirinya.
"Ah ibu,,," Hana malu
"Coba ceritakan sama ibu,, apa yang sudah membuatmu sebahagia ini?" ibunya duduk di sampingnya.
Hana yang memang sangat dekat dengan ibunya mulai menceritakan tentang Darren selengkapnya dan perasaannya juga pada pria itu.
"Nak,, kamu harus ingat kita ini tidak ada apa apanya dibanding dia yang punya segalanya. Jadi jangan ketinggian nak mimpimu. Nanti kalau jatuh itu sakit." ibu mengingatkan Hana.
Hana yang sedang berbunga bunga tak terlalu mendengarkan petuah ibunya. Dia tetap senyum senyum sendiri. Ibunya geleng kepala melihat perilaku anaknya itu. Ibunya akhirnya memilih keluar dari kamar anaknya itu.
Hana memang bukan gadis yang gampang diatur. Dia memiliki watak dan karakter kuat dan tak ingin dikekang. Bahkan walau pak kyai sering mengingatkannya untuk segera menutup aurat dengan hijab namun dia masih tak menjalankannya.
"Kalau aku tidak salah istri Darren dulu bercadar. Sebenarnya aku heran kenapa pria sekeren dirinya malah memilih wanita seperti itu? Apakah Darren hanya tertarik pada wanita bercadar?" pikir Hana.
Dia berdiri dan membuka lemari bajunya. Diambilnya sehelai syall yang cukup lebar lalu dipakaikannya ke kepalanya seperti mengenakan jilbab.
Dia tersenyum lagi melihat pantulan dirinya di cermin.
"Kamu pria pertama yang berhasil mengubahku Dare,," lirihnya.
Hana menuju tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya berharap Darren hadir menghiasi mimpinya.
"Aku mencintaimu Dare" lirihnya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ke empat insan yang sedang jatuh cinta itu melewati malam mereka dengan tenggelam dalam mimpi masing masing.
Akankah mimpi mereka jadi kenyataan?
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍