
Hampir sebulan berada di London tak lantas membuatku merasa tenang. Bayangan kekecewaan mendalam akibat ulah Angga dan Febby masih membekas di ingatanku.
Berkali kali bayangan Chaira melintas memecah amarahku. Mengingat namanya saja sudah membuatku merasa damai.
"Bagaimana keadaanmu Chai? Aku merindukanmu" lirihku
"Oh tidak,,, tidak,,, aku tak pantas untukmu" batinku saat tiba tiba terselip rasa sesal dan malu telah memilih untuk menikahi Febby .
"Tapi kenapa harus malu? Sebagai lelaki aku boleh beristri lebih dari satu. Kalaupun ternyata Febby menipuku maka aku tak perlu malu karena aku hanya korban kebohongannya" sisi lain batinku berontak.
Aku terus bergulat dengam pikiranku sendiri hingga tak menyadari Dion sudah berdiri di belakangku.
"Lu mikirin apa bro?" tanyanya
Aku terkejut dan menoleh ke belakang.
"Lucu ya,,, seorang Darren Narendra tertipu oleh sahabat sendiri dan wanita murahan seperti Febby" aku menertawakan diriku sendiri
"Darren Narendra juga cuma manusia bro,,," tukas Dion
"Apa Angga membawa kasus pemukulan kemarin ke polisi?" tanyaku
Dion hanya mengangkat bahunya menunjukkan ketidaktahuannya.
Drettt,, dretttt,,
Ponsel Dion bergetar. Dion segera melihat nomer yang menghubunginya itu.
"Sebentar!!!" tukasnya padaku lalu keluar kamar
"Dasar casanova,,, gak di sana gak di sini dapeeeeeetttt aja gebetan" gerutuku
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kalian yakin???" Tanya Dion pada orang yang menelponnya.
"Yakin bos,,," Sahut pria itu
"Lalu wanita itu?" Dion bertanya lagi
Pria di seberang telpon menjawab dengan jawaban yang cukup panjang. Dion tampak murung mendengar tiap penjelasan orang itu.
"Baiklah,, good job. Aku akan segera mentransfer bayaran yang ku janjikan" Tutup Dion
Sebenarnya Dion merasa kurang puas dengan beberapa penjelasan anak buahnya yang dirasanya tidak mungkin.
Namun Dion tak ingin salah informasi. Jadi dia kembali menyuruh anak buah lainnya untuk memantau wanita itu.
"Kabari aku secepatnya!!!" titahnya pada anak buahnya yang lain
"Baik bos!!!"
Dion kembali menatap semua bukti bukti penyelidikan yang dikirimkan anak buahnya melalui email pribadinya.
Ada beberapa yang berupa data,video dan foto. Dion memutuskan untuk membuka data dari sebuah rumah sakit. Dibacanya dengan teliti data itu.
Seakan tak yakin dengan apa yang dibacanya sekali lagi dia membaca ulang data itu.
Data yang merupakan hasil asli tes DNA Mike itu menunjukkan bahwa tidak ada tingkat kemiripan antara Mike dan Darren. Dion sebenarnya sudah tidak heran dengan itu karena Angga sendiri sudah mengakui bahwa dirinya lah ayah kandung Mike.
Namun yang ingin Dion selidiki adalah siapa dalang dari pemalsuan hasil tes itu. Angga atau Febby?
Dion kembali membuka lampiran selanjutnya.
Brakkk,,
__ADS_1
"Wanita sialan,, rupanya dia sudah merencanakan semuanya dari awal. Dia sengaja menjebak Darren malam itu agar Darren mabuk. Dia sengaja melucuti pakaian Darren agar dia bisa bilang bahwa Darren telah menidurinya." Dion kesal dan menggebrak mejanya melihat video
Dia juga membuka foto foto yang dilampirkan satu persatu. Matanya membulat dan merah melihat semua bukti kelakuan Febby.
"Darren harus tau semua ini!!!!" cetusnya
Dion segera masuk kembali.
"Lu ikut gue" Dion menyeretku
"kemana woy????" tanyaku tapi tak dijawabnya
Dion mendudukkanku di depan laptopnya.
"Nih,,, lu buka dan baca baik baik" titahnya
"Apaan nih?" aku masih saja bertanya
"Udah buka aja dulu,,, jangan lupa ucapkan terima kasih ke gue sesudahnya" Dion tak sabar ingin aku segera tau kebusukan Febby.
Dion duduk menunggu reaksiku setelah membuka semua itu. Aku mulai serius dan konsentrasi. keningku berkali kali mengkerut tanda aku sedang berpikir keras. Kadang alisku naik sebelah.
"Kita balik ke indonesia!!! Gue harus buat perhitungan sama Febby. Gue gak terima dia jadiin gue seperti mainannya. Dia sudah buat hidup gue hancur!!!!" Aku langsung berdiri dan emosi mengetahui semua itu
"Terima kasih ke gue dulu!!!" ujar Dion
"Ya tuhan,,,, " Aku tiba tiba lemas dan terduduk
"Lu kenapa bro???" Dion panik langsung menghampiriku
Aku tak langsung menjawabnya. Airmataku mengalir deras di pipiku. Dion yang melihatnya makin bingung.
"Dare,,, kenapa??? Lu sakit???? Jawab Dare,,, " Dion mengguncang guncang bahuku
"Chaira,,, Chaira,,, " aku tak sanggup melanjutkan bicaraku
"Gue bodoh,,, bodoohhhh,,," Aku terus menangis
Aku yang begitu bodoh telah menjadi mainan Febby baru menyadari bahwa aku telah menyakiti dan menyia nyiakan seorang bidadari hanya demi wanita murahan seperti Febby.
"Maafkan aku bidadariku,,, entah sudah berapa ribu kali aku menyakitimu,, dan entah apa kamu bisa memaafkanku,,, Aku menyesal sayang." batinku menangis
Dion seperti memahami apa yang kupikirkan. Dia menepuk bahuku.
"Gue akan bantu lu cari Chaira, Bagaimana pun juga gue juga merasa sangat bersalah karena gue yang ide untuk membawa masuk Febby dalam rumah tangga kalian" Ujarnya
Aku hanya mengangguk.
"Thanks bro,,, gue gak tau gimana jadinya gue kalau lu gak ada" lirihku
"Udah gak usah mellow terus,,, semangat!!! Masih banyak yang harus lu lakuin" ujarnya lagi memberiku semangat.
Kata kata Dion ada benarnya. Aku segera menghapus airmataku dan bergegas mengemasi barang barangku. Malam ini juga kami putuskan untuk kembali ke Indonesia.
"Aku datang Chaira sayang. Aku yakin bidadari sepertimu masih tetap menungguku" batinku semangat
Aku mencoba memejamkan mataku di pesawat agar kondisiku tetap prima setelah perjalanan panjang. Aku ingin segera menemui Chairaku namun terlebih dulu aku harus temui Febby untuk membuat perhitungan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Oeeee,,,, Oeeeee,,,,
"Alhamdulillah,, bayinya sudah lahir bu. Laki laki. Sehat dan normal" kata dokter yang membantu persalinan Chaira.
Chaira segera menerima bayinya itu dan meletakkannya di dadanya untuk stimulasi asi.
__ADS_1
"Alhamdulillah" lirihnya penuh syukur.
Ray, Rosa dan Tony yang menunggu diluar juga sangat lega ketika mendengar tangisan bayi. Mereka tak henti mengucap syukur.
"Selamat Chai" ujar Ray begitu dokter mengatakan bahwa ibu dan bayimya sudah boleh ditemui.
"Terima kasih Ray. Apa kamu bisa membantuku mengadzaninya?" Tanya Chaira
"Iya Chai,,, berikan dia padaku" Kata Ray yang langsung membuka tangannya menerima bayi yang diberikan Chaira
Chaira memegang tangan Rosa dan mengusap airmatanya saat melihat Ray mengadzani putranya.
"Maafkan bunda nak,,," batin Chaira yang menyesalkan putranya harus diadzani pria yang bukan ayahnya
Rosa yang memahami perasaannya mengusap usap tangan Chaira.
"Sabar ya kak" ucapnya
Chaira hanya mengangguk kemudian segera menghapus airmatanya saat Ray sudah selesai.
"Akan kau beri nama siapa putramu ini Chai?" tanyanya sembari tetap menggendong bayi itu.
Sesekali dia tampak menciumi bayi itu.
" Levi" sahut Chaira
"Pahlevi" lanjutnya menyebut nama bayinya
"Nama yang bagus kak,,, kalau tidak salah itu artinya eehhmmmm,,,, ehhmmmm,,, " Rosa berpikir keras
" Berani, dermawan dan taat beragama" Ray menyahut
"Nama yang bagus,,, semoga kamu berani menghadapi kehidupan yang keras ini nantinya ya nak seperti bunda yang sangat tegar dan tangguh,,,," ucapnya kemudian sembari mencium kening bayi itu
"Wahhh kak Ray jago juga yaaa" Rosa dan Toni kagum
Chaira tersenyum memandang sahabatnya itu. Dari dulu dia tau sahabatnya itu juga pandai dan banyak ilmu pengetahuannya dalam bidang agama.
Suka cita menyambut kelahiran bayi Levi masih terus terasa di ruangan itu. Karena kondisi Chaira dan Levi yang sehat dan normal dokter membolehkan mereka untuk pulang.
"Biar aku urus administrasinya dulu ya Chai" Ray pamit hendak keluar
"Ray,,, ini" Sahut Chaira sambil menyodorkan sebuah kartu debit yang memang sudah disiapkannya untuk keperluan bayinya
Ray menoleh.
"Chai,,, please,, sekaliiii saja" pintanya
"Tidak Ray,,, kamu sudah banyak membantuku" tolak Chaira halus
"Anggap saja ini rejeki dariku untuk Levi. Gak baik menolak rejeki" kata Ray langsung pergi tanpa menunggu jawaban Chaira.
Chaira tersenyum saja memandang kepergian Ray,,,
"Terima kasih ya Rabb,,, telah menghadirkan sahabat terbaikku disaat aku membutuhkan seorang pendamping" batinnya.
Dipandangnya Levi yang tertidur pulas di gendongannya.
"Jangan pernah menyalahkan dan membenci ayah yang tidak menemani kita disini ya nak" bisiknya sembari menciuminya
Mereka segera meninggalkan rumah sakit setelah Ray kembali. Ray sendiri yang mengantar mereka pulang kerumah Chaira. Diam diam Ray juga sudah menyiapkan acara syukuran penyambutan bayi nantinya.
"Putramu itu juga aku anggap putraku Chai" batinnya
Jangan lupa vote,like dan komen yaaaa
__ADS_1
Terima kasih 😍