BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 102


__ADS_3

Selamat membaca 🌸


Maaf banyak typo πŸ™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌸🌸


"Jangan ragu sama abang. Abang tulus mencintai kamu Ayya." ucap Bimo sekali lagi berusaha meyakinkan gadis pujaan hatinya itu.


"Abang tau abang belum cukup gentle untuk bicara sama Levi mengenai perasaan abang padamu selama ini. Tapi itu abang lakukan karena abang ingin mendapat jawaban darimu dulu. Biar kesannya tidak terlalu terburu buru lah ya." ucapnya lagi.


Bimo gelisah karena gadis di depannya itu masih juga tak bersuara meski dirinya sudah banyak bicara. Rayya masih tenang dan diam dengan bola mata yang tetap menatap Bimo seolah mencari pembenaran dari semua ucapan Bimo.


"Ay,,, Ngomong dong jangan diem aja. Abang jadi salah tingkah sendiri nih." rayu Bimo karena benar dia sudah jadi salah tingkah.


"Kasih abang jawaban. Sudah hampir enam bulan loh abang tunggu jawaban kamu. Dan see,,, Meski tanpa jawaban, tanpa balasan pesan, tanpa video call, tanpa apa pun itu, abang masih punya perasaan yang sama ke kamu. Bahkan sampai hari ini melihatmu berpenampilan begini,, Abang masih tetap menginginkanmu membalas perasaan abang." lagi lagi Bimo bicara.


"Menikahlah denganku Ayya. Abang ingin Ayya jadi bidadari surga abang." akhirnya Bimo tak lagi menahan nahan dirinya.


Jika enam bulan lalu rupanya dia sudah berani mengutarakan isi hatinya pada Rayya,, Tapi hari itu dia tak sanggup lagi menahan lebih lama untuk melamar Rayya meski Rayya sendiri belum menjawab sepatah kata pun.


Meski Bimo sama sekali belum tau apa Rayya punya perasaan yang sama padanya atau tidak. Bimo tidak peduli.


"Ayya harus memikirkannya lagi bang. Ini bukan hanya tentang apa isi hati Ayya sama abang. Ada hal yang perlu Ayya bicarakan sama ayah." kalimat itu keluar dari bibir Rayya yang bersembunyi di balik cadarnya.


"Pasti kalau itu Ayya,,, Pasti abang akan bicara pada ayah Darren. Ayya tidak perlu maju sendiri. Ada abang,,," ucap Bimo tak paham dengan maksud Rayya.


"Bang,,, Pelan pelan. Abang bahkan belum dengar jawaban Ayya. Lagipula bukan,,," ucap Rayya mengingatkan namun Bimo menjawab dengan cepat.


"Ayya,,, Bagi abang, tidak penting lagi apa Ayya punya perasaan yang sama atau tidak sama abang. Karena abang tau seberapa besar cinta abang untuk Ayya. Cinta abang ini saja sudah cukup untuk kita. Ayya hanya perlu mengiyakan ajakan nikah abang saja." Bimo memotong.


"Bang,,," Rayya coba bicara lagi.

__ADS_1


"Abang yakin,,, Setelah Ayya menerima lamaran abang, Seiring dengan tiap hari kebersamaan kita, Ayya akan pelan pelan mencintai abang. Cinta abang akan mampu meluluhkan hati Ayya." Bimo makin besar tekadnya.


Rayya menghela napas dan memilih tak bicara lagi daripada ucapannya terpotong terus oleh Bimo. Dipandangnya lekat lekat Bimo yang masih terus bicara banyak mengenai hatinya.


"Ya Ayya ya,,,Mau ya jadi bidadari surga abang." lagi lagi Bimo melamar Rayya.


"Bang,,, Tadi Ayya belum selesai bicara lho." kata Rayya.


"Eh iya,,, Abang aja trus yang bicara dari tadi ya. Maaf ya Ayya. Abang gak bisa nahan. Ayo Ayya mau ngomong apa tadi?" Bimo mempersilahkan.


"Pertama,,, Ayya gak mau menjalani hubungan yang dilabeli dengan kata pacaran. Ayya tidak perlu itu bang. Kedua,, Ayya masih lama sekolahnya dan Ayya gak mau pikiran Ayya bercabang cabang. Ayya ingin buat ayah bangga dengan prestasi yang Ayya dapatkan nantinya. Intinya Ayya ingin fokus dulu belajar. Makanya tadi Ayya bilang,,, Ini bukan hanya tentang isi hati kita saja." Rayya mulai menjelaskan.


Bimo diam dengan perasaan tak menentu dan pikiran menerka nerka arah bicara Rayya itu.


"Ok abang memang langsung melamar Ayya. Abang tidak ajak Ayya pacaran gak jelas tapi langsung menikah. Jadi poin itu kembali lagi ke alasan Ayya tadi. Setelah dengan penjelasan Ayya tadi apa kira kira abang masih bisa menunggu Ayya selesai dengan cita cita Ayya itu?" tanya Rayya.


"Apa tidak bisa menikah saja dulu trus Ayya lanjutin kuliah Ayya??" Bimo coba menawar.


"Oh iya kan Ayya mau fokus ya." Bimo memukul kepalanya sendiri karena baru ingat ucapan Rayya tadi.


Kali ini Rayya mengangguk pasti membenarkan perkataan Bimo.


"Satu hal lagi yang harus jadi bahan pertimbangan abang ." ucap Rayya.


"Apaan tuh??" tanya Bimo membelalak.


"Abang tentu tau kan kalau Ayya ini bukan putri kandung ayah?" tanya Rayya.


"Iya kalau itu abang sudah tau dari Levi. Tapi kan itu tidak jadi masalah juga kan? Kan ayah Darren juga sudah anggap Ayya putri kandung sendiri." kata Bimo belum memahami maksud bicara Rayya.


"Sesuai ajaran agama kita bang,,, Menganggap saja tidak cukup untuk bisa menjadikan ayah menjadi wali nikah Ayya nantinya. Ayya harus cari keluarga abi yang bisa menjadi wali nikah Ayya. Dan abang harus tau,,,Keluarga abi tidak ada yang Ayya ingat. Ayya juga butuh waktu untuk mencari tau siapa saja mereka mereka itu. Yang Ayya tau hanya abi itu anak tunggal dan kakek nenek dari abi sudah meninggal semua. Apa abang mau juga menunggu sampai Ayya menemukan mereka??" tanya Rayya lagi.


Bimo tak menjawab dan hanya melongo.

__ADS_1


"Bang,,, Abang paham gak?" tanya Rayya membuyarkan lamunan Bimo.


"Hehehe,,," Bimo nyengir kuda.


"Kok gitu?" tanya Rayya yang kali ini tidak paham dengan sikap Bimo.


"Semua yang Ayya katakan tadi abang paham. Tapi abang mau Ayya tau,,, Semua yang abang dengar hari ini dari Ayya bikin abang makin meleleh. Abang makin yakin bahwa abang memang gak salah pilih Ayya jadi calon bidadari abang. Sudah cantik, baik, pintar, paham tentang agama lagi. Benar benar sosok calon ibu yang baik buat anak anak abang nantinya.


Pipi Rayya terasa bersemu merah di balik cadarnya mendengar pujian Bimo.


"Pokoknya apa pun syarat dari Ayya,,,Abang mau dan setuju. Abang akan tunggu sampai Ayya selesaikan semua urusan Ayya. Tidak perlu pacar pacaran. Kita cukup saling mendoakan agar tuhan senantiasa menjaga hati kita. Setelah itu abang akan bantu Ayya menemukan saudara saudara abi agar salah satu dari mereka bisa menjadi wali nikah Ayya. Abang akan selalu mendampingi Ayya." Bimo benar benar yakin dengan ucapannya.


"Bang,,, Kan Ayya belum jawab mau apa gak jadi bidadari abang." celetuk Rayya serasa menjatuhkan Bimo dari langit ke tujuh.


"Eh,, Belum jawab yah,,," ucap Bimo dengan wajah begonya.


Rayya tertawa kecil melihat perubahan wajah Bimo itu.


"Hmm kalau dari suara suara tawanya sih ini sudah pasti jawabannya mau ini mah. Yakin ah abang. Lagian kalau emang jawabannya gak mau,,, ngapain coba dari tadi bahas nikah hayooo,,,,???" Bimo meledek Rayya.


Yang diledek hanya tertunduk malu dan mengiyakan dalam hati bahwa dia bersedia menjadi bidadari Bimo kelak.


"Yeaaayyyy,,," Bimo hampir melunjak kalau tidak ingat sedang di kantin rumah sakit.


"Alhamdulillah bang,, Bukan yeay." Rayya mengingatkan.


"Iya,, Alhamdullillah ya Rabb. Begini aja udah seneng banget hamba. Yang penting Ayya sudah mengiyakan aja udah rasanya gak bisa diungkapkan." Bimo senang sekali.


Rayya hanya senyum merasakan kebahagiaan yang tak terkira dalam hatinya juga karena cintanya dengan Bimo mendapat jalan terang dan tujuan yang pasti.


\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌸

__ADS_1


__ADS_2