
Selamat membaca β€οΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈ
Perasaan Darren bertambah lega setelah segala beban rahasia masa lalunya semua telah diungkapkannya pada Levi dan Rayya. Kini Darren merasa jauh lebih ringan melangkah.
"Tinggal fokus pada masa depan anak anak. Ya Rabb,,, Berikan hamba umur panjang agar hamba bisa menemani anak anak hamba hingga mereka naik ke pelaminan bersama jodohnya masing masing. Dan jika boleh hambaMU ini meminta lebih,,, Hamba bahkan ingin bisa bermain dengan cucu hamba kelak." doanya dalam sujud sepertiga malamnya.
Yaa,,
Hanya doa agar dirinya berumur panjang dan jodoh terbaik bagi putra putrinya yang tidak pernah lupa dia sampaikan pada Rabb nya.
πΉπΉ
"Jadi Rayya itu bukan anak ayah,,," gumam Levi setelah dirinya merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya.
Sedari tadi setelah mendengar penuturan Darren,,, Batin Levi bergejolak. Bukan karena dirinya marah dan kecewa akan kelakuan ayahnya dulu karena dirinya sudah benar benar dengan tulus memaafkan Darren.
Levi lebih dikacaukan pikirannya sejak tau bahwa Rayya bukan anak Darren. Bayangan wajah cantik Rayya sedari tadi terus menari nari di benaknya.
"Aku browsing saja lah,,," gumamnya lagi lalu meraih laptop di nakasnya.
"Saudara tiri lain ayah tapi seibu disebut apa??" hal itulah yang diketiknya di laman online.
Sesaat kemudian muncul banyak situs yang membahas jawaban dari pertanyaannya itu. Levi pun membuka dan membaca satu persatu situs tersebut agar mendapatkan yang bahasa dan penjelasannya mudah dipahami.
Levi pun memijit mijit keningnya yang mendadak terasa berat setelah cukup mendapatkan informasi dari banyak situs tersebut. Hanya satu inti yang didapatkannya.
"Dirinya harus membuang jauh semua perasaan anehnya terhadap Rayya."
Karena ketika dua anak yaitu laki dan perempuan,,, keduanya ingin menikah padahal seibu walaupun beda ayah, maka hukumnya haram. karena bundanya menyusui keduanya dan jika dipaksakan berarti menikahi saudara sepersusuan.
Pendidikan agama yang diberikan Chaira dan Ray sejak dini,,, Dan juga Darren setelah keduanya meninggalkan dunia ini cukup membuat Levi mengerti dan paham apa saja yang dihalalkan dan diharamkan agamanya.
"Aku harus buang jauh semua rasa yang mengintai ini. Tidak boleh Levi,,, Kamu tidak boleh mencintai adikmu sendiri. Itu haram Levi,,, Haram.!!!" Levi menekankan pada dirinya sendiri berharap hatinya akan bisa menerima kenyataan bahwa gadis pertama yang bisa membuatnya senyum senyum sendiri bahkan mimpi penanda datangnya akil balighnya malah merupakan saudara sepersusuannya.
"Lalu aku harus bagaimana?? Tidak mungkin aku menjaga jarak dengannya dengan tiba tiba hanya karena aku tau ini haram. Bagaimana dengan perasaan Rayya jika aku berlaku demikian?? Aku takut Rayya akan merasa tidak enak atau bahkan minder setelah tau dirinya anak yatim piatu yang dirawat ayahku." Levi berpikir jauh sekali.
Levi yang selama ini tidak bisa dan tidak tega membuat adiknya itu menangis tentu merasa sangat serba salah.
"Tapi kalau aku tidak jaga jarak,,, Aku takut hatiku memainkan tipu dayanya. Aku takut setan memanfaatkan hatiku untuk menjerumuskanku ke dalam cinta yang terlarang ini." Levi kembali bimbang.
__ADS_1
Ya Rabb,,,
Apa yang harus hamba lakukan???
Tidak mungkin hamba bicarakan ini pada ayah,,,
Hamba tidak mau ayah merasa terbebani dengan perasaan yang salah ini,,,
Malam itu Levi tak bisa sedetik pun memejamkan matanya hingga pagi pun datang.
Hingga,,,
Tok,,,Tok,,,Tok,,,
"Kak Leviiiiii,, Bangun dong. Sudah subuh nih. Kita sholat yuk. Ayah sudah sholat katanya. Tinggal kita saja nih yang belum. Buruan kak bangun,,, Jadi imamku ya,,,"
Deg,,,
Jadi imamku,,,
Entah kenapa Levi tumben merasa baper mendengar kata yang bukan kali ini saja terucap dari pemilik bibir tipis berwarna pink itu. Padahal biasanya Levi bisa mengartikan itu hanya imam sholat biasa tapi kali ini kata kata itu menjadi sangat jauh berbeda ketika dalam hati kecil Levi masihlah tetap berharap dirinyalah yang ditakdirkan jadi imam hidup Rayya.
"Kaaakkk,,, Bangun!!!" Suara ketukan pintu yang makin lama makin keras itu membuyarkan lamunan Levi.
"Aku dobrak yah kalau gak bangun bangun!!!" ancam suara merdu itu.
"Iyaaa,,, Sudah bangun kok." seru Levi membuka pintu.
Levi berbohong bilang dirinya sudah bangun padahal sama sekali dirinya tak tidur. Asyik memikirkan hatinya yang gundah hingga tak mendengar suara adzan subuh.
Rayya melirik curiga melihat mata Levi yang memerah tapi dirinya yakin itu bukan merah karena baru bangun tidur. Kakaknya itu juga tidak mengucek matanya seperri biasa jika dirinya yang masih mengantuk dipaksa bangun.
"Kakak gak bobo ya???" selidik Rayya.
Levi terkejut karena Rayya bisa mengetahuinya.
"Tidur kok. Siapa bilang gak bobo. Lagian ngapain juga coba kakak gak bobo. Gak ada guna tau,,," ucapnya berbohong lagi.
"Karena Ayya juga gak bobo kak." sahut Rayya lirih.
"Eh,, Kenapa gak bobo??" Levi lagi lagi dibuat terkejut.
"Karena Ayya,,," Rayya tak meneruskan bicaranya.
"Kenapa Ayya??" Levi mendesak adik yang sering dipanggilnya dengan nama Ayya seperti dulu saat Rayya belum lancar bicara.
__ADS_1
"Karena Ayya memikirkanmu kak,,," sahut Rayya dalam hatinya.
"Ayya,,, Kok malah diam sih??" Levi mengguncang tubuh Rayya.
"Eh,,, Kenapa,,, Ada apa kak??" Rayya terkejut.
"Kok malah tanya balik sih,,, Tadi Ayya mau bilang apa?? Ayya gak bisa bobo karena apa??" ulang Levi.
"Oohhh,,, Karena Ayya kangen sama abi dan bunda aja."sahut Rayya sekenanya.
"Lah biasanya kan juga kangen tapi bisa bobo kan??" Levi tidak percaya begitu saja.
"Aduh kakak ini bawel deh,,, Ayo ah buruan sana ambil wudhu dan kita sholat bareng yaaahh,,, Ayya tunggu di mushola kita." Rayya langsung mengalihkan pembicaraan dan meninggalkan Levi menuju mushola pribadi di rumah ini.
"Maafin Ayya kak,,, Ayya gak berniat bohongin kakak tapi Ayya malu mengakui perasaan Ayya yang aneh ini. Entah kenapa Ayya senang mengetahui bahwa kakak bukan anak abi." batin Rayya yang belum pernah sekali pun mencari tau adanya sebutan saudara sepersusuan.
Levi memandang Rayya yang menunjukkan sikap anehnya pagi itu.
"Sebenarnya aku sangat ingin tau apa yang menyebabkanmu sampai gak bisa bobo Ay,, aku bahkan punya harapan bahwa penyebabnya adalah karena kita memikirkan hal yang sama. Aku berharap kamu juga merasakan hal yang sama,,," lirih Levi.
Husssssttt,,,
Astaghfirullah,,,
Yang namanya setan ya gak pagi gak siang gak malam,,,
Selalu goda manusia!!
Levi kesal pada dirinya sendiri yang termakan rayuan dari buah pikiran dan hatinya sendiri. Segera Levi masuk ke kamar lalu mengambil wudhu dan berpakaian rapi. Dirinya lantas menyusul Rayya ke mushola untuk sholat berjamaah.
Kikuk,,
Begitu tepatnya keduanya bersikap. Untungnya Levi termasuk yang tetap bisa menjaga konsentrasinya terutama saat sholat.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,,," salam penutup sholat dua rakaat itu.
Rayya mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Levi dan Levi pun mencium keningnya seperti yang selalu dilakukan Darren ketika selesai sholat pada keduanya.
Deg,,,
Lagi lagi perasaan aneh itu bermunculan dalam hati keduanya.
\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa πΉπΈ
__ADS_1