BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Akan menemuinya


__ADS_3

Dion dan Angga saling berpandangan saat aku menunjukkan foto foto itu. Dion yang merasa sangat kecolongan karena bisa bisanya anak buahnya yang pernah disuruhnya mencari tau tentang Chaira bisa melewatkan hal penting seperti itu.


Pertama kehilangan jejak Chaira itu Dion sudah marah besar pada mereka karena mereka sangat teledor. Dion tidak tau bahwa Ray lah yang sudah mengacaukan pekerjaan mereka saat tau ada beberapa orang mencurigakan terus mengawasi Chaira.


Kadang dia menyuruh anak buahnya menjadi seorang pejalan kaki yang menanyakan alamat pada anak buah Dion sehingga orang itu tidak fokus mengawasi karena sedang menjawab dan memberi arahan pada yang menanyakan alamat.


Jika untuk urusan kehamilan tentu saja tidak semua orang yang bisa langsung tau bahwa Chaira tengah mengandung karena dia selalu mengenakan busana dengan potongan lebar dan masih ditambah dengan hijab panjang dan lebar juga.


Saat hamil Chaira juga tak terlalu banyak mengalami perubahan pada tubuhnya jadi sekilas saja orang tak akan tau dirinya hamil.


Aku sebagai suaminya yang lama hidup bersamanya bisa memaklumi jika anak buah Dion tak melaporkan perkara kehamilan Chaira.


Yang tidak bisa ku maklumi adalah bagaimana bisa mereka kehilangan jejak dengan cepat. Itu saja.


"Apa mungkin pria lusuh itu yang membantunya? Tapi punya kuasa apa pria itu sehingga bisa mengatur semuanya dengan sangat rapi?" Aku membahas hal itu dengan kedua sahabatku.


"Kita harus cari tau siapa pria itu,,, apa hubungannya dengan Chaira,, dan bayi itu juga. Siapa dia?" tukasku lagi


Dreeetttt,,,,


Sinta menelponku.


"Selamat siang pak,,, Pak Rayhan dari PT D** ingin mengubah jadwalnya meeting menjadi hari ini. Apa bisa pak?" tanyanya.


"Untuk hari ini juga kebetulan jadwal bapak sedang luang" imbuhnya


"Baiklah minta dia datang sejam lagi" titahku


"Mungkin kita bisa tanyakan pada Ray,,, bukankah dulu mereka bersahabat? Siapa tau dia pernah mendengar kabar tentang Chaira" tukas Angga


"Bener juga lu,,, tumben cemerlang tuh otak" celetuk Dion


"Tapi sepertinya dia tidak tau apa apa,,, lu ingat waktu pertama kita ketemu dia,, dia memintaku menyampaikan salamnya pada Chaira. Itu artinya dia mengira Chaira masih sama gue" kataku


"Bener juga" Dion menyahut


"Gak ada salahnya kan kita coba" Angga menimpali


"Gimana bro menurut lu?" tanya Dion padaku.


"Sebenarnya gue gak suka ide lu karena itu bisa membuka aib rumah tangga gue,,, tapi saat gue sangat menginginkan berita tentang Chaira gue bisa kesampingkan rasa malu gue. Kita coba tanya nanti padanya" ujarku


"Ok lah kalau begitu sebaiknya kita siapkan materi kita dengan Ray sebelum si pengusaha perfeksionis itu datang" ucap Dion


\=\=\=\=\=


Ray datang tepat di jam yang dijanjikannya. Dia memang tidak suka terlambat. Segala sesuatunya harus sempurna.


"Silahkan duduk Ray" Aku mempersilahkannya duduk di sofa yang tadi sempat kami duduki saat melihat foto foto dari anak buahku dari laptop milikku.


Ray yang tak ingin laptop yang masih ada di sofa itu mengganggu meminta ijinku untuk memindahkannya.

__ADS_1


"Boleh ku pindah?" tanya Ray


"Oh ya,,, maaf,,, biar aku saja" Dion segera mengambil laptop itu.


Tangannya tak sengaja menyentuh trackpadnya sehingga layar laptop itu menyala didepan Ray karena laptop itu mengarah kepadanya.


Ray sempat terkejut melihat beberapa foto yang dikenalinya. Itu memang foto dirinya dan Chaira. Hanya saja wajahnya tak terlihat karena membelakangi kamera saat foto itu diambil.


Tapi lagi lagi Ray cukup pandai menyembunyikan ekspresinya hingga tak ada yang curiga. Ray langsung mengajak kami mulai membahas urusan pekerjaan.


"Tunggu Ray,,, aku ingin bertanya sesuatu padamu" ucapku saat Ray mulai berpamitan.


"Apa itu Dare?" Ray yang mulai curiga tetap bisa bersikap biasa


"Apa kau tau kabar Chaira?" tanyaku langsung padanya


Kali ini Ray tampak berpikir akan menjawab apa.


"Apa Darren hanya memancingku? Atau dia memang hanya bertanya pada semua yang mungkin kenal Chaira?" pikir Ray sambil menatap Darren.


"Aku tau kau pasti merasa aku ini aneh,,, bagaimana mungkin aku menanyakan kabar istriku sendiri pada orang lain,,, " lirih Darren


Ray tak bicara dan menunggu kelanjutan perkataanku.


"Tapi inilah aku Ray,,, manusia bodoh yang sudah tak tau diri,,, bukannya aku jaga dan ku lindungi bidadari itu tapi malah ku sakiti dan ku sia siakan. Sekarang aku kehilangan dirinya" suaraku mulai terdengar berat menahan sedihku


"Maksudmu Chaira tak lagi bersamamu?" tanya Ray yang masih pura pura tak tau


"Aku tak tau dia dimana,, aku bertanya padamu dan berharap mungkin kau bisa memberi jawaban yang menyenangkan hatiku. Kau adalah sahabat baiknya. Tapi sepertinya kau pun tak tau" lirihku mulai kecewa karena Ray tampaknya juga tak mengetahui kabar Chaira.


"Maaf Dare,,, Aku sangat ingin membantu tapi aku sungguh harus pergi sekarang juga." Ray berusaha segera menghindari Darren agar tak terlalu banyak tanya lagi


"Ohhh seharusnya aku yang minta maaf telah mengganggu waktumu." ujarku kembali tersadar urusan kami hanya urusan kerja.


Tak seharusnya aku membawa masalah pribadiku seperti ini. Aku tak akan bertanya lagi pada Ray karena Ray juga tak punya jawaban atas pertanyaanku itu.


Lagipula Ray juga sibuk kesana kemari urusan kerja,, jadi aku pikir masuk akal saja jika dia tak tertarik dengan hal hal seperti ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ada apa Ray? Sesiang ini kamu menelponku apa tidak mengganggu pekerjaanmu?" tanya Chaira yang heran kenapa Ray menelponnya siang siang.


Ray memang selalu menelponnya saat dirinya tidak sedang di Bali. Namun hanya akan saat pagi sebelum kerja dan sepulang kerjanya saja.


"Chai,,, aku bertemu Darren" sahut Ray


Chaira terdiam sejenak. Dia berpikir bagaimana bisa mereka bertemu. Dia masih terdiam saat Ray menjelaskan awal mula pertemuan mereka.


"Maafkan aku karena terlambat memberitahumu. Saat aku di Bali kemarin aku hendak memberitahumu keesokan paginya namun ku urungkan karena Levi sakit. Belum lagi kau juga mengurus almarhumah Febby. Waktuku yang sudah habis di Bali tak memungkinkanku untuk menceritakannya padamu" jelas Ray


Ray memang hanya tiba saat malam dan menginap semalam aja lalu besok sorenya dia sudah harus kembali ke Jakarta. Chaira bisa memahami jika Ray memang tak sempat memberitahunya.

__ADS_1


Ray juga memberitahunya bahwa Darren sudah tau keberadaan dirinya dari foto yang sempat dilihatnya di laptop tadi siang.


"Apa rencanamu sekarang?" tanya Ray


Baik Ray dan Chaira sama sama bisa menduga jika Darren sudah bisa mendapatkan foto itu berarti tak lama lagi dia pasti akan tiba tiba saja muncul.


Tidak akan sulit bagi Dion yang lebih cerdik dari Darren urusan mencari informasi. Dion pasti mengerahkan anak buahnya untuk mencari informasi dari pihak rumah sakit tentang Chaira.


Setelah lama terdiam akhirnya Chaira bicara.


"Aku akan menemuinya Ray" sahut Chaira mantap


"Kau yakin? Apa perlu aku mendampingimu?" tanya Ray


"Tidak Ray,, aku ingin menyelesaikannya sendiri. Terima kasih sebelumnya. Aku tak ingin dia menyalahkanmu atas menghilangnya aku." tutup Chaira


"Baiklah,, aku hargai keputusanmu" Ray segera mengucap salam dan menutup telponnya.


Dalam hatinya dia senang akhirnya Chaira tak ingin lagi berlari dari masalahnya,, namun ada sebersit rasa takut dalam dirinya. Ray takut Chaira akan kembali pada Darren.


"Tidak Ray,,, tidak seharusnya kau punya pikiran seperti itu. Bagaimana pun juga Chaira bebas menentukan pilihannya." bisiknya pada dirinya sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jadi kakak akan menemuinya dan berkata sejujurnya tentang siapa Levi?" tanya Rosa pada Chaira usai Ray menelpon tadi.


"Iya Ros,, sudah saatnya dia tau kebenaran ini. Aku juga sudah lelah bersembunyi. Saatnya aku kembali menatap dunia ini. Aku harus bisa tegas Ros" ujar Chaira


Chaira memberitahunya tentang rencananya pada Darren.


"Apa kakak sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik?" Rosa seperti tak yakin dengan apa yang akan dilakukan Chaira.


Chaira mengangguk.


"Bismillah,, aku yakin dengan keputusanku Ros" jawabnya


"Kak,, Rosa hanya ingin kakak bahagia. Sudah cukup Rosa lihat semua penderitaan kakak selama ini. Rosa tak ingin kakak menyesal di kemudian hari" Rosa mulai menangis mengingat apa yang pernah dilakukannya dulu pada Chaira.


Chaira menghapus airmatanya. Rosa memeluknya erat.


"Bagaimana kakak menjelaskan siapa Putri pada mas Darren kak?" tanya Rosa lagi saat mengingat masih ada Putri.


"Sejujurnya aku juga tidak yakin Ros" lirih Chaira.


"Seharusnya dia bisa menerimanya kak,, apa pun alasannya!!!"kata Rosa


Chaira mengangguk.


" Yang jelas aku akan menemuinya dulu Ros."ujar Chaira


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaaa

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2