
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈ
Dion menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah besarnya yang terlihat masih menyala lampu terasnya. Dion sempat heran melihat lampu itu karena tau kebiasaan Hana mematikannya tiap bangun tidur.
Pintu yang masih terkunci juga makin membuat Dion heran. Diliriknya jam tangannya yang sudah menunjukkan jam delapan pagi.
"Masak sih Hana masih tidur?? Gak biasanya dia jam segini belum bangun. Dia kan sudah yoga jam segini biasanya." batin Dion sambil mencoba membuka pintu dengan kunci miliknya.
Dion menarik kunci itu karena tak berhasil membuka pintu. Sepertinya ada kunci yang tertancap dari dalam. Hal itu membuat Dion yakin Hana memang masih tidur. Dipencetnya bel pintu dan menunggu Hana keluar.
Klek,,
Pintu terbuka dan tampak Ratna berdiri di ambang pintu dengan senyum manisnya.
"Eh sudah pulang,,, Ayo masuk Dion." sambut Ratna ramah dan langsung menarik tangan dan mengambil tas serta jas Dion yang ada di tangan kiri Dion.
Dion terkejut dengan penyambutan Ratna. Dion berusaha menahan tangan Ratna yang mengambil jasnya.
"Na,,, Biar aku bawa sendiri. Terima kasih sebelumnya tapi Maaf,,, aku tak mau Hana salah paham." kata Dion.
Ratna menatapnya dan tersenyum.
"Tidak akan ada yang salah paham. Lagipula Hana juga tidak akan melihatnya kok. Sini berikan padaku,,," kata Ratna tetap meminta membawakan jas Dion.
"Memangnya Hana kemana Na,,,??" tanya Dion yang pasrah menyerahkan jas dan tasnya pada Ratna yang sudah berjalan masuk mendahuluinya.
"Pergi sejak kemarin." jawab Ratna datar tanpa menoleh ke belakang.
"Sejak kemarin?? Kemana?? Kenapa dia tidak pamit padaku??" tanya Dion.
"Tidak tau,,," jawab Ratna menaikkan bahunya.
Dion yang tidak puas dengan jawaban Ratna pun meraih ponsel di sakunya dan mulai menghubungi Hana. Masih suara operator saja yang di dengarnya.
__ADS_1
"Aneh sekali,,, Tidak biasanya Hana seperti ini. Kemana sih kamu sayang,,," gumam Dion.
"Ayo kita sarapan dulu. Kamu pasti belum sarapan kan..Aku sudah siapkan sarapan untuk kita." kata Ratna yang tiba tiba mengalungkan tangannya di lengan Dion.
Dion menolak dan berusaha melepaskan diri namun tangan Ratna begitu kuat menggamit lengannya.
"Jangan menolak. Kamu mulai harus membiasakan diri berlaku seperti ini padaku. Seperti dulu,,," kata Ratna memaksa.
Tak ingin menyakiti hati Ratna,,, Dion hanya menurut.
"Toh Hana juga tidak ada. Tidak ada yang melihatnya." batin Dion.
Dion menurut saja saat Ratna membimbingnya duduk.di kursi yang disiapkannya. Dion duduk dan menunggu dengan sabar Ratna selesai mengoleskan selai di rotinya.
Meski hatinya masih bertanya tanya kemana perginya Hana tapi perlakuan Ratna membuatnya kembali merasakan kebahagiaannya tempo dulu bersama Ratna.
"Terima kasih Na,,," ucap Dion saat Ratna menyodorkan roti itu padanya.
"Sama sama sayang,,," jawab Ratna.
Uhuk,,, Dion terbatuk mendengarnya.
"Kamu tadi panggil aku sayang Na,,,??" tanya Dion setelah merasa nafasnya sudah kembali normal setelah minum air.
"Keberatan??" tanya Ratna tanpa menolehnya dan sibuk dengan rotinya sendiri.
Dion menggeleng cepat.
"Bukan keberatan,, Tapi aku rasa belum waktunya Na. Bagaimana pun juga Hana belum aku ajak bicara." kata Dion.
Ratna meletakkan rotinya di piring dan batal melahapnya. Wajahnya mulai menunjukkan kekesalan yang membuat Dion menelan ludah menyadari ada kata katanya yang salah.
"Tau atau tidak Hana mu itu,,, Aku tidak peduli. Kamu itu suamiku Dion dan aku berhak memanggilmu seperti itu. Lagipula kamu jangan pura pura dan berusaha mengulur waktu ya,,, Hana kan sudah tau,, Kemarin dia tiba tiba menanyakannya padaku. Tentang hubungan kita. Dan dia tidak keberatan ku rasa. Malah dia memberiku hak sepenuhnya atas dirimu makanya dia pergi. Yaa,,, Ku rasa dia pergi karena dia mengijinkanmu denganku." ucap Ratna tanpa merasa bersalah.
"Apa???!!! Hana sudah tau???" Dion terkejut.
"Iya,,,Dia sudah tau. Kok kamu kaget begitu. Ku pikir kamu sendiri yang mengatakannya. Makanya saat dia menanyakan kebenarannya padaku ya ku jawab apa adanya semua. Aku tidak salah kan jujur padanya tentang semua yang sudah terjadi di antara kita??" tanya Ratna.
"Tapi Na,, Aku belum bicara padanya." kata Dion heran.
__ADS_1
"Ya aku tidak tau kalau itu. Yang jelas dia tanya aku jawab." kata Ratna yang berpura pura tidak terlibat.
"Siapa yang beritahu kalau begitu,, Yang tau hubungan kita kan cuma kita berdua saja." kata Dion.
"Maksudmu kamu menuduh aku yang memberitahunya???" ketus Ratna.
Dion tampak berpikir sejenak. Dia ingat betul dirinya hanya bercerita pada Darren saja. Tapi dia tidak yakin jika Darren yang memberitahu Hana karena Darren sendiri yang menyarankan agar Dion bicara terlebih dulu.
"Mikirin apa sih,,,??" tanya Ratna ketus.
"Maaf Na,,, Aku ke kamar dulu ya. Siapa tau Hana meninggalkan pesan untukku di kamar." kata Dion cepat dan berdiri dari kursi itu.
"Hana Hana Hana lagi,,,Bisa gak sih sekaliii saja kamu itu gak sakiti hatiku dengan menyebut nama itu??!!! Kamu gak adil Dion,,,Dan aku gak terima kamu perlakukan seperti ini.!!! sahut Ratna ketus.
Dion menghentikan langkahnya dan menghampiri Ratna yang tetap duduk di meja makan.
"Na,,, Aku mohon mengertilah. Aku butuh waktu untuk bicara dulu pada Hana. Memberinya pengertian dulu. Semua butuh proses. Kamu harus bersabar Na." bujuk Dion.
"Sabar??? Apa masih kurang sabarku selama ini menghadapi semua yang sudah kamu lakukan padaku?? Bisa bisanya kamu memintaku untuk bersabar lagi,,, Harusnya Hana itu yang kamu minta untuk sabar menerima kenyataan tentang adanya aku dalam hidupmu,,,!!!" ketus Ratna.
"Makanya beri aku waktu dulu untuk menjelaskan semuanya padanya." jawab Dion.
"Kan aku sudah bilang kalau aku sudah jelaskan semuanya,,,!! Tidak ada yang terlewatkan dan aku yakin Hana cukup pandai untuk memahami apa yang ku ceritakan tentang kita. Jadi kamu tidak perlu lagi menjelaskan atau membuat dia mengerti lagi,,,!!!" ketus Ratna lagi.
"Beda Na,,, Beda kalau kamu yang menjelaskan. Kamu gak mengerti." Dion mulai kesal hingga suaranya meninggi.
"Jangan bicara kasar padaku!!!" Pekik Ratna.
"Kalau kamu tetap tidak mau mengerti maka aku bisa saja bersikap kasar padamu. Aku hanya minta pengertianmu untuk memberiku waktu bicara dengan Hana tapi kamu terus mempersulit aku. Dewasalah sedikit. Suka tidak suka kamu juga harus bisa terima bahwa ada Hana di antara kita." tegas Dion.
"Terserah!!! Urus saja wanita mandulmu itu!!!" pekik Ratna lagi dan berlari menuju ke kamarnya.
Dion hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ratna. Dion lantas menggaruk kepalanya ketika menyadari rumitnya masalah di antara mereka. Dion lantas menuju ke kamarnya berharap bisa menemukan sesuatu di sana.
\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih πΈ
__ADS_1