
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈ
Tiara menangis di sepanjang jalan. Airmatanya tak berhenti menetes mengingat semua yang terjadi padanya meski dia tak sepenuhnya bisa mengingat seluruh kejadiannya.
Tiara juga sangat sedih karena tiap kalimat Bobi yang terasa sangat menghinanya dan merendahkan harga dirinya hanya karena ayahnya menerima sejumlah uang dari Bobi.
Belum lagi perkataan Bobi mengenai "BENIH"nya. Kepala Tiara pusing memikirkan jika seandainya benar Bobi telah menumpahkan cairan nafsunya ke dalam rahimnya.
"Masa depanku benar benar sudah hancur." batinnya hancur.
Sopir taksi yang membawanya sesekali melirik dari spion tengahnya namun tak berani bertanya. Dia hanya berusaha mengantarkan penumpangnya agar cepat sampai di tujuannya. Penumpangnya itu tampak sangat sedih dan butuh orang terdekatnya.
"Araaa,,, Akhirnya kamu pulang nak. Kamu dari mana saja?? Kenapa tidak pulang semalam?? Dan mana Bobi?? Kenapa bukan dia yang mengantarmu??" bu Mila melontarkan banyak pertanyaan begitu Tiara masuk ke rumahnya.
Yang ditanya sama sekali tak menjawab bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya diam tertunduk dan terus berjalan menuju ke kamarnya. Tiara tidak mau membuat ibunya melihat tangisannya karena itu akan membuat ibunya lebih banyak bertanya dan Tiara tak punya jawaban untuk itu.
Belum punya jawaban yang tersusun rapi tepatnya,,,
Tiara masuk dan mengunci pintu kamarnya.
"Ara,,, Kamu baik baik saja nak?? Kamu tidak jawab satu pun pertanyaan ibu nak,,, Kamu bahkan tidak ucap salam pas masuk ke rumah. Biarkan ibu masuk nak,,, Ibu mau tau keadaanmu setelah semalaman kamu tidak pulang." bu Mila bicara dari balik pintu kamar Tiara.
Tidak ada jawaban dari Tiara. Tiara begitu sibuk membungkam mulutnya agar tangisannya tak terdengar jelas oleh ibunya. Tiara memang sedari tadi hanya terduduk di situ begitu menutup pintu. Lututnya sudah sangat lemas untuk bisa mencapai ranjangnya.
Hatinya hancur sehancur hancurnya dengan hal yang menimpanya.
"Ara,,, Kamu kenapa nak?? Jawab ibu,,," suara bu Mila kembali terdengar jelas di pintu itu.
__ADS_1
Bu Mila masih tak beranjak dari sana berharap Tiara meresponnya.
"Sudahlah bu,,, Jangan di ganggu. Tiara pasti lelah. Anak baru pulang bukannya diberi waktu istirahat malah diganggu terus. Nanti juga keluar anaknya kalau lapar." kata pak Herman datar saja.
"Ayah kok bisa setenang ini sih??" bu Mila akhirnya beranjak pergi dari pintu kamar Tiara dan menghampiri pak Herman yang duduk di kursi makan.
"Mana kopi ayah??" tanya pak Herman tak menjawab pertanyaan bu Mila.
Bu Mila beringsut membuat kopi dulu walau beliau kesal karena pak Herman mengabaikan pertanyaannya. Bu Mila kembali beberapa menit kemudian dengan secangkir kopi hitam.
"Tiara ayah,,," bu Mila bicara lagi.
"Iya ayah tau. Tiara pulang pulang masuk ke kamar.Wajarlah bu,,, Dia semalaman bersama Bobi. Bisa jadi mereka adakan acara anak muda. Party party begitu,,, kan maklum kalau paginya lesu begitu." kata pak Herman.
"Makanya biarkan dia istirahat dulu. Nanti kalau sudah bangun baru ibu tanya tanya."lanjut pak Herman lalu kembali meneguk kopinya.
"Wajar ayah bilang??? Ini sama sekali tidak wajar ayah. Tiara gak pulang semalam itu sudah salah,,,Trus pulang pulang seperti itu,,,Makin tidak wajar. Dan ibu tidak bisa sabar menunggu,,," sahut bu Mila.
"Terus ibu mau apa?? Mau ganggu Tiara lagi?? Gak kasihan sama anak ibu?? Anak cuma butuh istirahat aja ibunya bawel." kata pak Herman.
"Eh bu,,, Coba lihat,,, Motor ini bagus kan?? Keluaran baru lho,,, Ayah mau beli satu." kata pak Herman memamerkan model motor matic terbaru keluaran merk Y.
"Beli pakai apa??" tanya bu Mila.
"Ya pakai uanglah masak pakai daun. Ayo ibu ikut tidak ke showroomnya?? Ayah mau ibu yang pilih warnanya." ajak pak Herman.
"Kita kan gak punya uang ayah. Jangankan beli motor baru,,, Motor lama ayah itu saja belum bisa bisa kita bawa ke bengkel untuk sekedar di servis." bu Mila mengingatkan.
"Ayah punya,,,Ayo bu ayah sudah tidak sabar pingin naik motor baru." kata pak Herman lagi.
"Uang dari mana memangnya??" selidik bu Mila.
"Bobi mengirimkannya untuk ayah,,, Anak itu memang calon menantu idaman. Semalam sudah beri sepuluh juta,, Eeh pagi ini lagi transfer tiga puluh juta. Besok berapa lagi coba,,, Gak salah pilih kan ayah?? Coba ibu bayangkan,,, ibu pikirkan,,,Sama kita saja dia gak pelit apalagi sama Tiara calon istrinya. Tiara akan jadi ratu bu,,, Tidak akan pernah kurang uang. Tiara akan makmur hidupnya." kata pak Herman bangga karena merasa Bobi tak mengecewakannya.
__ADS_1
Bu Mila yang tetap tak menyukai sikap Bobi hanya diam saja tak menanggapi.
"Ayo bu sana ganti bajunya." titah pak Herman.
"Ibu gak bisa ikut. Ibu ada janji bantu bu Yati buat kue untuk acara pengajiannya nanti malam." tolak bu Mira.
"Halah kan hanya bantu,,, Bisa dibatalkan." kata pak Herman.
"Ibu sudah dibayar Ayah." sahut bu Mila.
"Balikin saja uangnya. Ini pakai uang ayah buat balikin. Ibu ini sudah punya calon mantu kaya jadi gak usah berlagak miskin dan butuh uang tetangga gitu." ucap pak Herman.
"Nih,, Kasih uangnya. Sudah bapak lebihin itu biar tetangga gak meremehkan kita." kata pak Herman menyombong.
Bu Mila tak bisa menolak lagi dan pergi menuju ke rumah bu Yati tetangganya untuk mengembalikan uangnya sekaligus meminta maaf karena tak bisa membantu. Meski kecewa bu Yati pun tak bisa memaksa.
"Ara,,, Ibu pergi dulu sama ayah ya. Kalau Ara lapar,,,sudah ada makanan di meja makan. Ara makan saja dulu kalau lapar dan tidak perlu tunggu ibu dan ayah pulang ya nak."ucap bu Mila lembut di pintu kamar Tiara.
Tiara masih tak menjawab namun dirinya sudah terbaring di ranjang kecilnya. Masih meratapi dirinya sendiri.
"Sudah bu?? Ayo berangkat. Motor impian ayah keburu di beli orang nanti. Bobi memang paling tau apa maunya ayah." suara pak Herman terdengar di telinga Tiara.
Segumpal amarah mewarnai hatinya terutama karena pak Herman terus memuji muji Bobi.
"Hanya karena uang ayah menjualku pada si brengsek itu. Bahkan saat aku kembali pun ayah sama sekali tak peduli dengan keadaanku. Baik ayah,, Ayah tidak peduli padaku maka aku pun tak akan peduli pada ayah lagi. Lagipula Ara sudah hancur ayah,,, Tak ada yang bisa menerima Ara lagi,, Ara kotor. Ara hina. Ara tidak gadis lagi,,," pekik Tiara keras keras begitu suara motor tua pak Herman makin menjauhi rumah itu.
"Ara hancuuuurrrr,,,," Tiara menghempaskan semua yang ada di meja riasnya.
Praaangggg,,,
Semuanya jatuh berserakan.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya πΉ