
Hari kelulusan yang sudah kami tunggu akhirnya tiba. Hari itu kami semua tampak gagah dan anggun dengan toga dan topi wisuda yang kami kenakan. Tampak orang tua kami hadir menyaksikan kelulusan kami. Papa mama dengan tampilan mewahnya tampak duduk di kursi VVIP. Tentu saja sebagai salah satu pendiri kampus mereka mendapatkan tempat special. Tampak juga disana orang tua Dion dan Angga. Mereka semua tampak bangga. Usai acara kami berfoto foto bersama semua teman teman kami. Banyak wanita wanita yang ingin mengabadikan momen wisuda ini bersama kami.
Mataku berputar mencari Chaira yang sama sekali belum ku jumpai hari ini. Aku ingin mengajaknya berfoto bersama saat mengenakan toga seperti ini. Hubungan kami semakin membaik walau Chaira masih membuat batasan batasan yang masih bisa aku pahami.
"Honeeyyyyy" Febby tiba tiba menghampiri dan memelukku mesra di depan umum begini.
Aku susah melepaskan diri dari pelukan eratnya itu namun saat mataku menangkap kehadiran Chaira tanpa sengaja aku mendorong tubuh Febby hingga hampir ambruk. Untung saja Dion dengan sigap menangkap tubuhnya. Aku segera berlari menyusul Chaira yang sempat melihat Febby memelukku tadi dan segera pergi.
"Chai,,, " aku tanpa sadar menghela tangannya
Chaira menghentikan langkahnya namun kali ini dia tak berusaha melepaskan tanganku.
"jangan pergi lagi Chai,,, aku ingin kamu disini menemaniku. Aku tak sanggup lagi menahan perasaanku padamu Chai,,, aku takut setiap kali berpisah denganmu. Aku mohon Chai,,, penuhi hari hariku dengan canda tawamu. Aku,,, aku mencintaimu Chaira Fajira" ku letakkan tangannya di dadaku agar dia bisa merasakan detak jantungku dan mencari kebenaran bahwa aku tidak sedang berbohong.
Chaira menggerakkan tangannya dan menekan dadaku lebih dalam. Sepertinya dia ingin merasakan debaran jantungku. Dia menunduk. Gadis itu sungguh membuat aku jatuh cinta dengan setiap gerakannya. Hingga detik ini aku bahkan tak pernah tau wajah aslinya tapi dengan semua keterbatasan yang ditampakkannya,,, Chaira begitu kuat bertahta di hatiku.
"kamu mau kan Chai? " tanyaku lagi
Chaira menarik napas dalam sebelum menjawabku. Kurasakan berat sekali tarikan napasnya itu. Aku mulai khawatir dia akan menolakku.
" Aku tidak terbiasa pacaran Dare,,,"jawabnya lirih
Entah kenapa mataku berbinar menjawab pernyataan ambigu Chaira.
"Tidak perlu menjadi kekasihku,,, jadilah bidadari surgaku. Pendamping hidupku dunia dan akhirat" sahutku tegas
Chaira terkejut dan berusaha menarik tangannya dari dadaku tapi ku cegah.
"Dare,,, apa kamu sungguh sungguh?" tanyanya
Aku mengangguk pasti. Chaira tertunduk. Ada keraguan mendalam dihatinya.
__ADS_1
"Aku akan segera mengenalkanmu pada orang tuaku,, aku juga akan menemui ibumu untuk langsung memohon restu beliau. mumpung mereka juga ada disini. Aku ingin kamu yakin padaku bahwa aku tak sembarangan bicara,, bahwa aku tulus dan serius ingin menjadikanmu istriku." aku berapi api mengatakannya
"Tapi Dare,,, Febby" lirihnya
"Aku tak pernah sama sekali mencintainya,,, menyentuhnya pun tidak. Aku memang menerima permintaannya untuk menjadikannya kekasihku tapi aku sama sekali tak menaruh perasaan apa pun padanya. Hanya kamu Chai yang aku cintai. Kamu seorang. Yang pertama dan ingin kujadikan sebagai yang terakhir. Ku mohon,,, terimalah aku" sekali lagi aku memohon padanya
Chaira dengan mata sayunya mengangguk perlahan tanda setuju. Bukan main bahagianya diriku saat itu hingga aku tak tahan untuk tidak memeluk tubuhnya. Baru kali ini kurasakan tubuh Chaira yang selama ini terbalut dengan gamis longgarnya terasa ramping sekali. Ada gundukan kencang yang terasa padat menempel di dadaku. Sejenak Chaira membiarkan dirinya berada dalam pelukanku namun kemudian cepat cepat dia melepaskan diri
"Dare,,, jangan seperti ini. kita belum muhrim" ucapnya mengingatkan
Aku hanya meringis dan menggaruk garuk lenganku.
"iya kamu benar Chai,,, aku harus sabar menunggu saat kamu sah jadi milikku" godaku
Chaira menunjukkan sorot mata malu malu.
Febby dan dua sahabatku memanggil manggil namaku dan baru menghentikannya saat melihat aku muncul bersama Chaira. Febby memandangnya dengan perasaan benci. Segera dia mendorong bahu kanan Chaira hingga dia oleng. Aku dengan sigap menangkap tubuhnya dan membantunya berdiri lagi.
"Apa apaan kamu!!! Sekali lagi berani kamu menyentuh calon istriku,, kamu akan tau akibatnya!!!!"
Febby terkejut mendengar perkataanku. begitu juga dua sahabatku itu.
"Apaaaa???? calon istri?? apa aku tidak salah dengar Dare??" Febby menarik narik lengan kiriku yang berusaha ku tepiskan
"apa kamu sudah tuli??? kamu dengar baik baik karena aku tak akan mengulanginya lagi,,, Chaira calon istriku!!! dan kamu,,,, mulai detik ini sebaiknya kamu mengingat ingat lagi sejak awal aku tidak pernah sudi menjadikanmu kekasih tapi kamu terus memaksa. Aku menerimamu karena kasihan padamu!!! dan sekarang aku akan membebaskanmu dari status yang penuh keterpaksaan itu. Kita Putus!!!!" Suara lantangku begitu menyayat hati Febby.
Chaira tertunduk mendengar semua itu. Aku tau dalam hatinya dia pasti tidak setuju aku menyakiti hati Febby seperti itu. Mungkin dia juga sedang menyalahkan dirinya sendiri karena menjadi penyebab putusnya aku dan Febby. Chaira hanya memandang Febby dengan tatapan bersalahnya. Aku yang melihatnya tak membiarkan dia berlama lama memiliki perasaan seperti itu. Aku segera membawanya pergi dan meminta sahabatku turut serta. Kami akan menemui papa dan mama yang memberitahu bahwa mereka telah duluan pergi meninggalkan kampus tapi memintaku menemui mereka di restoran andalan kami untuk makan siang bersama merayakan kelulusan kami secara pribadi dulu sebelum menggelar pesta mewah dirumah nantinya. Dion segera melajukan mobilku menuju restoran yang kami tuju. Kali ini aku memilih duduk di bangku belakang bersama Chaira. Sebelumnya kami sudah mengganti baju kami dengan baju bebas.
Mama dan papa memandang heran perempuan bercadar yang berjalan beriringan denganku. Mereka tambah heran melihat aku yang dengan lembut menarikkan kursi untuknya duduk bersama kami di meja kami ini.
"Papa,, mama,,, kenalkan ini Chaira" ujarku pada papa mama yang masih belum bisa menyembunyikan keheranan diwajah mereka
__ADS_1
"Assalamualaikum om,, tante" Suara lembut Chaira diiringi dengan tangkupan tangannya
"oh wa,, wa,, waalikumsalam" papa mama hampir bersamaan menjawab dengan terbata bata karena mereka juga sama denganku yang tidak terbiasa mengucap dan menjawab salam
"Jadi begini pa,, ma,, Selama ini papa mama kan selalu menerorku dengan pertanyaan kapan mengenalkan seseorang, nah ini nih jawaban yang kalian harap harapkan. Darren memutuskan memilih Chaira sebagai calon pendamping Darren pa,,, dan Darren mohon doa restu papa mama,, bantu Darren melamar Chaira" pintaku
Papa dan mama yang masih belum bisa mengontrol diri mereka tadinya kembali terkejut dengan pernyataanku kali ini. Mereka menatapku dan Chaira bergantian. Mereka berusaha memastikan bahwa aku tidak sedang mempermainkan mereka. Papa yang berhasil segera menyadarkan dirinya sendiri lalu memandang Chaira yang tertunduk.
"Chaira" panggil papa lembut. Chaira segera mengangkat wajahnya mendengar namanya disebut
"benar semua yang dikatakan Darren?" tanya papa memastikan
"Benar om,,, tapi tentunya itu hanya akan terjadi dengan restu om dan tante dan ibu saya nantinya. Saya mohon maaf jika kami terkesan terlalu terburu buru menyampaikannya. Tidak seharusnya kami mengambil keputusan tanpa merundingkannya terlebih dahulu dengan orang tua" Chaira dengan suara lembutnya begitu fasih berbicara.
Papa dan mama,,, begitu juga aku sangat kagum dengan susunan kalimat yang keluar dari bibir Chaira.
"Baiklah nak,,, kami dengan senang hati menerima keputusan kalian. Kami akan menerimamu sebagai calon istri Darren tapi seperti katamu tadi,,, tentunya harus dengan restu ibumu" kata papa kemudian
"yessssss" kedua sahabatku yang dari tadi diam mengejutkan kami. Kami yang terkejut akhirnya tertawa melihat tingkah mereka. Mereka ikut bahagia melihat aku telah menemukan wanita yang kucintai.
"Chai,,, bagaimana dengan ayahmu? dimana beliau?" tanya mama disela makan kami
Chaira meletakkan sendoknya dan meminum air seteguk saja. Aku yang sudah tau cerita tentang ayahnya sedikit mengkhawatirkan dirinya merasa tak enak dengan pertanyaan mama itu.
"Abi pergi meninggalkan kami sejak Chaira berusia 2 tahun tante. Abi tinggal bersama ibu tiri Chaira di luar kota. Tapi walau bagaimana pun juga,, Chaira membutuhkan beliau sebagai wali sah. Jadi nantinya Chaira akan tetap mencari beliau dulu untuk meminta restunya dan kehadirannya juga,,, tentunya jika beliau dan istrinya tidak keberatan" sahut Chaira mantap.
Chaira mantap menjawab dan snma sekali tidak terselip rasa malu akan aib keluarganya. Bagi Chaira untuk mengawali suatu hubungan dibutuhkan kejujuran. walau pahit,, walau buruk tetap harus diakui. Sikapnya ini membuat papa mama yakin walau dia tumbuh dalam keluarga yang tidak lengkap namun ibunya mampu mendidiknya dengan baik. Papa dan mama sama sekali tidak keberatan dengan kondisi keluarga Chaira.
Aku lega saat mereka bisa menerima Chaira. Sekarang tinggal menemui Ibu dan mencari ayah Chaira untuk meminta restu mereka.
Jangan lupa vote dan like nya ya para pembaca
__ADS_1
Terima kasih 😍