
Aku bangun lebih awal pagi ini. Aku ingin segera menemui Chaira. Aku ingin meminta maaf padanya. Aku yakin dia masih setia menungguku.
Chairaku berbeda dengan yang lainnya. Hanya saja aku yang bodoh telah menyia nyiakan bidadari seperti dia.
Aku tersenyum di depan cermin di kamar mandiku.
"Aku datang sayang" ucapku pada bayangan diriku sendiri
Segera aku mengganti bajuku dan sengaja memilih beberapa baju yang dulu sangat disukai Chaira. Yaahh rasanya tak berlebihan jika aku ingin mengambil hatinya agar dia mau memaafkanku.
Setelah rapi aku segera turun dan melewati Dion yang masih tidur di sofa depan tv. Dia memutuskan untuk terus menemaniku kemana pun aku pergi.
Namun hari ini aku khusus bangun pagi untuk menemui Chaida sendiri saja. Maka sedikit ku jingkatkan langkahku agar Dion tak terbangun. Saat berhasil melewatinya dan mencapai pintu aku langsung menggeber mobilku.
Dion yang terkejut langsung lari menyangka itu akibat ulah pencuri. Aku tertawa membayangkan reaksinya yang parno begitu.
"Dasar Darren,,, main curi start aja!!!" sungut Dion yang langsung membuat kopi untuk dirinya sendiri.
Hari ini dia tak ke kantor dan bekerja dari rumah saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Mobilku tiba di pelataran butik.
Aku yang merasa tak yakin masih memandangi butik itu dari dalam mobil. Aku sangat yakin ini butik Chaira yang dulu saat peresmiannya ku hadiri.
"Kenapa nama butiknya berbeda?" lirihku
Dengan perlahan ku buka pintu mobil dan turun. Aku berjalan memasuki butik. Sejenak ku pandangi keadaan disana. Semua terasa berbeda.
"Selamat datang tuan,, ada yang bisa saya bantu?" seorang pegawai menyapaku
"Eh,, eh,,, " aku tak meneruskan perkataanku.
Mataku menangkap beberapa busana rancangan Chaira yang tertata rapi di sudut. Aku segera kesana.
"Untuk yang ini adalah rancangan dari desainer,,,,,, "
"Saya tau" potongku cepat
Pegawai itu diam saja saat aku memotong bicaranya kemudian hendak menjaga jarak denganku karena merasa aku bukan pelanggan yang suka dibantu.
"Tunggu,,, butik ini milik Chaira Fajira bukan?" tanyaku cepat saat melihatnya mulai menjauhiku.
"Bukan bapak,,, ini milik tuan Adam Setiawan" jawabnya
"Tapi kenapa butik ini masih menjual rancangan Chaira?" tanyaku lagi
"Mohon maaf tuan,,, rancangan Chaira merupakan barang consignment disini." terangnya
Aku mengerutkan keningku tanda tak paham. Bagaimana bisa barang Chaira disebut consignment? Dan kenapa butik ini milik Adam?
Aku sungguh tak mengerti.
"Apa pemilik butik ini ada?" tanyaku
__ADS_1
"Kebetulan sedang tidak ada tuan. Tuan Adam jarang kesini" tukasnya lagi
"Baiklah kalau begitu siapa manajer disini. Aku ingin menemuinya. Katakan saja aku suami Chaira pemilik butik ini sebelumnya!!!" titahku dengan kesal karena aku tak bisa menemui Adam.
"Maaf tuan,,, perkenalkan saya Mira,, manajer disini. Saya mewakili tuan Adam. ada yang bisa saya bantu?" seseorang datang
Aku menoleh padanya. Ku perhatikan tampilannya yang memang berbeda dengan pegawai lainnya.
"Aku ingin tau bagaimana bisa butik milik istriku ini sekarang jadi milik bos mu?" aku bertanya tanpa basa basi lagi
"Maaf tuan,, sepengetahuan saya nona Chaira telah menjual butik ini kepada tuan Adam sejak beberapa bulan lalu." manajer yang sudah di atur oleh asisten Ray itu dengan gamblang menjawab walau ucapannya adalah suatu kebohongan.
"Jual???" tanyaku
"Iya tuan, saya sendiri yang waktu itu menemani tuan Adam saat bertemu dengan nona Chaira." manajer itu memastikan
"apa kau tau alasan istriku menjualnya?" tanyaku lagi
"Mohon maaf tuan kalau untuk alasan saya tidak tau karena kami disini hanya membeli sesuatu yang sudah ditawarkan. Dan saya rasa sebagai suami dari nona Chaira seharusnya anda lebih tau alasannya bukan?" manajer itu sedikit menyindirku
Aku sebenarnya kesal mendapat sindiran seperti itu tapi ucapannya memang benar.
Seharusnya aku lebih tau daripada dirinya. Aku yang berstatus suami Chaira bagaimana mungkin tidak tau apa alasan dan tujuan istriku menjual properti miliknya.
Tiba tiba aku merasa bodoh berdiri di sana. Aku segera keluar meninggalkan butik itu dan masuk ke mobil.
Aku berpikir keras.
"Kenapa kamu menjualnya sayang? Bukankah butik itu salah satu impian terbesarmu? Apa yang terjadi padamu selama ini?" Aku terus bertanya tanya dalam hati
"Sebaiknya aku ke rumah kami yang dulu mama belikan dan ditempati Rosa. Mungkin Chaira disana" pikirku
Manajer butik yang tanpa sepengetahuanku tetap mengawasiku segera menelpon Adam,,, asisten Ray melaporkan kedatanganku. Sesuai pesan Ray,,, tiap ada yang menanyakan keberadaan Chaira semua pegawai wajib melapor.
Adam yang menerima laporan dari manajer langsung menghubungi Ray.
"Bagus,,," ucap Ray puas mendengar laporan Adam.
"Rupanya kamu mulai mencari Chaira Dare,,, kenapa?? Apa yang ingin kau lakukan lagi pada dirinya?" Ray bertanya dalam hati
"Aku tak akan biarkan kau menyakitinya lagi. sudah cukup airmatanya tumpah karenamu!!!" Ray kesal
Ray memutuskan tak memberitahu Chaira dulu tentang kedatangan Darren. Dia tau sahabatnya itu juga setuju dengan caraku mengatasi Darren. Karena semua ini ku lakukan juga atas permintaannya yang tak ingin keberadaannya diketahui banyak orang.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Rumah ini tampak kosong. Aku mengurungkan niatku untuk memencet bel saat melihat gerbangnya dikunci dari luar.
"Apa mereka sedang keluar?" pikirku
Aku hendak ke mobil saat seseorang memanggilku.
"Pak Darren" panggilnya
Aku menoleh dan segera mengenali orang yang memanggilku itu. Rupanya dia adalah satpam komplek perumahan kami.
__ADS_1
"Lama kita tak bertemu pak,,, Bagaimana kabar bapak?" tanyaku
"Saya baik pak. Bagaimana dengan bapak? Apa kabar juga bu Chaira? " tanyanya
Aku bingung saat dia menanyakan Chaira.
"Apakah dia tidak tinggal disini pak?" tanyaku balik
" Oh selama ini rumah ditempati oleh bu Rosa dan pak Toni saja pak. Bu Chaira sendiri tidak tinggal disini sejak lama" tukasnya.
Aku sedikit tenang mendapat jawaban itu karena ku pikir aku bisa menemui Rosa untuk menanyakan dimana Chaira.
"Bu Rosa sendiri sudah hampir seminggu tidak tinggal disini lagi pak." tukasnya
"Apa??? Rosa sudah tidak tinggal disini?" aku kaget mendengarnya
"Benar pak,, apa bapak tidak tau?" tanyanya
Aku tak menjawabnya lagi. Aku langsung mengeluarkan ponselku. Aku coba menelpon Rosa namun nomernya tak busa dihubungi. Beberapa kali mencoba tetap tidak tersambung akhirnya aku mencoba menghubungi Chaira. Sebenarnya aku tak ingin menelponnya tapi langsung menemuinya saja.
Aku mulai panik saat tak satu pun nomer mereka bisa ku hubungi. Tiba tiba aku merasa sangat takut. Aku diam mematung memikirkan bagaimana jika aku tak bisa menemukan Chaira.
"Pak,,, pak,,, bapak baik baik saja??" Satpam menepuk bahuku
"Ehhm ya ya,, saya harus pergi" kataku
"Hati hati pak" pesannya
Aku hanya mengangguk dan segera menuju ke mobilku. Aku segera kembali padanya lagi saat terlintas untuk menanyakan sesuatu padanya.
"Pak,,,, apa bapak tau kemana mereka pergi?" tanyaku padanya
Satpam itu menatapku heran. Dia seperti tidak yakin dengan pertanyaanku itu.
"Maaf pak saya tidak tau" ucapnya tanpa berusaha mencari jawaban atas keheranannya tadi.
"Terima kasih pak" lirihku pelan.
Aku kembali melangkah menuju mobilku dengan gontai.
"Dimana kamu sayang? Kenapa kamu pergi tanpa pamit padaku? Kenapa kamu pergi tanpa ijinku? Apa kamu semarah itu padaku?" aku terus bertanya dalam hati
Aku masih belum beranjak dari sana. Aku masih duduk di mobil. Aku tak peduli satpam itu masih memandangku heran dari kejauhan.
Mataku tiba tiba terasa panas. Sesak kurasakan di dadaku. Airmataku menetes seiring dengan semakin terbukanya pikiranku.
"Ya tuhan,, suami macam apa aku ini? Sekian lama ku telantarkan bidadari titipanMU yang seharusnya ku jaga dan ku limpahi dengan curahan kasih sayang. Kemana sekarang aku harus mencarinya???" aku sadar walau semua telah begitu terlambat.
Sekian lama aku baru menyadari bahwa memberinya uang saja tak cukup untuk bisa dianggap bertanggung jawab.
Aku baru menyadari bahwa istriku Chaira juga butuh nafkah batin dariku.
Aku pun baru menyadari aku telah kehilangan,,,
"Ya tuhan,,, ampuni aku" ratapku
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaaa
Terima kasih 😍