
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Bagaimana bu??" tanya Levi tidak sabar begitu sampai di rumah sakit dan mendapati bu Mila mondar mandir di depan pintu ruang bersalin.
"Belum juga nak,,," sahut bu Mila cemas namun bercampur lega karena akhirnya Levi datang juga.
"Kenapa bisa maju jauh ya dari hari perkiraan lahirnya?" gumam Levi.
"Dokter bilang Tiara mengalami pecah ketuban nak." jawab bu Mila.
"Maaf bu,,, Berbahayakah itu?" tanya Levi lagi yang masih awam urusan beginian.
"Ya yang namanya melahirkan itu memang selalu ada resikonya nak. Bahaya itu pasti karena melahirkan itu nyawa taruhannya." jawab bu Mila yang tidak bisa secara detail menjelaskan dengan bahasa medis.
"Berdoa saja untuk istrimu nak,,, Semoga persalinannya lancar." Darren menepuk bahu Levi.
"Iya ayah." Jawab Levi berusaha menenangkan diri dengan berkali kali menarik napas.
Levi cemas luar biasa menghadapi situasi seperti ini. Rupanya menunggu istri melahirkan lebih menegangkan ketimbang menghadapi meeting direksi atau pun dengan klien baru.
Tapi bukan hanya dia yang cemas,,, Darren pun demikian. Cemas bercampur perasaan bersalah pada Chaira menggerogoti jiwanya.
"Mungkin begini rasanya jika dulu aku mendampingimu bidadariku,,, Maafkan aku karena saat seperti ini aku tidak ada di sampingmu. Sungguh aku sudah gagal menjadi suami." batinnya mulai menangis.
Sebisa mungkin Darren tak menangis di depan semuanya apalagi dalam situasi tegang seperti ini. Dia tak ingin membuat Levi makin cemas jadi sebisa mungkin ditelannya kesedihannya itu dalam dalam.
Klek,,,
Pintu dibuka dan keluarlah dokter dengan wajah kurang menggembirakan.
__ADS_1
"Maaf,,, Yang mana suaminya?" tanya dokter.
"Saya dok." dengan cepat Levi menjawab dan mendekat.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? Kenapa belum ada tangisan bayi sampai sekarang? Apa istri dan calon anak saya baik baik saja dok??" Levi memberondong dokter dengan pertanyaan pertanyaannya.
Darren dan kedua mertuanya berdiri di belakangnya dan juga menunggu jawaban dokter dengan harap harap cemas.
"Kondisi pecah ketuban ibu membuat air ketuban kering dan susah bagi ibu bisa melahirkan secara normal meski ibu sangat menginginkannya. Kami tidak bisa menuruti kemauan ibu apalagi ibu sudah lemas kehabisan tenaga. Kami harus mengambil tindakan operasi saat ini dan kami butuh persetujuan suami." ucap dokter.
"Lakukan yang terbaik dok untuk istri saya." sahut Levi cepat.
"Baik pak. Kami akan segera bawa ibu ke ruang operasi. Bapak silahkan menandatangani surat persetujuannya ya." kata dokter.
"Baik dok." Levi menurut.
Tiara dibawa ke ruangan operasi ditemani Levi yang terus menggenggam erat tangannya seolah memberikan kekuatan pada Tiara yang masih kesakitan.
"Sabar ya sayang. Kuat ya sayang. Demi dirimu sendiri, aku dan calon anak kita,,," bisik Levi di telinga Tiara.
Tiara hanya mengangguk sambil meringis menahan sakit. Timbul rasa iba di hati Levi menyaksikan keadaan Tiara seperti itu. Dalam hatinya dia berkata seandainya saja boleh digantikan,,, Tentu dia memilih biar dirinya saja yang merasakan sakitnya.
"Kalau aku mati bagaimana sayang??" tanya Tiara menatap kedua bola mata Levi.
"Hei kok gitu sih ngomongnya?? Jangan berpikir yang macam macam sayang. Pikirkan wajah imut bayi kita yang sebentar lagi menatap dunia. Apa kamu tega membiarkan dia lahir ke dunia ini tanpa mamanya? Apa tidak cukup aku saja yang ditinggalkan oleh bunda??" tanya Levi.
"Kamu harus semangat untuk tetap hidup demi anak kita sayang. Dia butuh pelukan hangatmu,,, Dia butuh asimu,,, Dia butuh kamu lebih dari dia butuh aku sayang. Jadi kuatlah dan jangan mikir aneh aneh. Ada aku disini menemanimu,,Ada ayah dan ibu di luar menunggu." Levi terus menyemangati.
"Iya sayang,,,, Aku akan terus hidup."jawab Tiara dengan seulas senyum meski tubuhnya lemas karena tenaganya terkuras habis saat dia mati matian menginginkan melahirkan secara normal.
Berkali kali tarik dan tahan napas lalu mendorong agar bayinya bisa keluar nyatanya membuat tenaganya habis dan bayinya tak kunjung keluar. Hingga dia pun menyerah dan memasrahkan keputusan di tangan dokter dan Levi.
"Tapi maafkan aku ya sayang karena aku tidak bisa jado wanita yang sempurna." lirih Tiara lagi.
"Apa maksud kamu sayang?" Levi mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Aku kan tidak bisa melahirkan normal seperti wanita lainnya. Aku merasa kurang saja peranku sebagai wanita." Tiara sedih.
"Sayang,,, Siapa bilang kalau wanita melahirkan di meja operasi itu membuat dirinya bisa dibilang tidak sempurna?? Hanya orang picik yang mengatakan hal seperti itu. Taukah mereka bahwa melahirkan sscara sesar itu lebih tinggi resiko kematiannya?? Tau kan mereka masa penyembuhannya juga lama?? Jadi jangan pernah berkecil hati karena kamu tidak bisa melahirkan secara normal." Levi masih tetap membesarkan hati Tiara.
"Sungguh kamu tidak kecewa punya istri lemah sepertiku?" tanya Tiara dengan dua bola mata berkaca kaca.
"Kamu tidak lemah sayang. Kamu lebih kuat dari aku. Aku saja tidak bisa membayangkan sakitnya seperti apa tapi lihat,,, kamu masih kuat. Setelah ini kamu pun masih harus menahan sakit pasca operasi. Apa yang kamu alami ini tidak mudah sayang. Aku tidak ada apa apanya dibanding kamu. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengatakan kamu lemah." kata Levi.
"Terima kasih sayang." ucap Tiara.
Airmatanya meleleh keluar dan segera diusap oleh Levi.
"Di mataku kamu tetap sempurna. Apalagi dengan operasi ini. Kamu tetap sempurna sayang,,,Kan jalan itunya tetap sempit. Masih tetap awet perawannya. Iya kan hehehe,,," bisik Levi menggoda Tiara.
"Sayang,,, Kamu itu bisa bisanya menggodaku saat lagi begini,,," Tiara merengut dengan wajah lucu.
"Hehehe,, Kan biar kamunya gak down terus. Tapi bener kan apa yang aku bilang itu,,,?? Iya kan?? Sempit terus loh,,, Makin betah dan hobi deh akunya mainin nantinya yeeeaaayyyy,,,," Levi masih saja menggoda istrinya.
"Sayang udah dong,,,Malu kalau kedengeran dokter sama suster,,," Tiara mengeratkan genggaman tangannya.
Levi lagi lagi tertawa tertahan karena tak ingin mengganggu konsentrasi para tim medis yang tengah bekerja. Bukan maksudnya mengabaikan kondisi darurat ini namun dia menggoda Tiara agar Tiara tidak terus berpikir macam macam.
Jangan kira Levi juga tenang tenang saja saat itu. Jantungnya juga berpacu terus sedari tadi menanti kelahiran sang buah cinta mereka.
Oeeee,,,,Oeeee,,,,
Akhirnya tangisan bayi terdengar dan membuat keduanya berpandangan.
"Bayinya laki laki bu,,, Normal dan lengkap." ucap dokter.
"Alhamdulillah,,," seru keduanya.
Keduanya kembali bertatapan.
"Selamat ya sayang,,, Kamu sudah jadi seorang mama sekarang. Tidak pernah cukup rasanya cintaku dan terima kasihku untukmu yang sudah begitu baik menjadi istri dan kini kamu menghadiahi aku dengan seorang putra." Levi mengecup kening Tiara.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹