BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Cobaan 1#


__ADS_3

Aku segera bergegas menemui Chaira di kamar kami. Aku merasa sangat bersalah karena tak bisa menjemputnya dari rumah sakit tadi. Dokter memperbolehkannya pulang dan beristirahat dirumah saja. Kelakuan Febby hari ini cukup membuatku kewalahan.


"maafkan aku sayang. pekerjaanku sungguh tidak bisa ku tinggalkan. Bagaimana perasaanmu? apa ada keluhan? apa babynya rewel? apa ada sesuatu yang kamu inginkan sayang? katakan padaku" aku memberondong Chaira yang duduk bersandar di ranjang dengan banyak pertanyaan


"Tidak apa apa sayang. Aku mengerti lagipula ada papa yang mengantarku pulang bahkan mereka masih tetap menemaniku. Kamu bertemu dengan mereka kan tadi di depan? " Chaira terus tersenyum padaku sembari membelai rambutku


"Aku tidak merasakan keluhan apa pun. hanya saja apa harus aku diam di kamar terus seperti ini sayang?" tanyanya


"Dokter berpesan seperti itu sayang jadi sebaiknya kamu turuti saja ya. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada kalian" jawabku seraya mengelus perut istriku


"assalamualaikum anak daddy" sapaku pada calon anak kami


Chaira tersenyum dan membiarkan saja aku yang terus bicara di depan perutnya. Setelah puas berbicara dengan calon anak kami aku segera mandi kemudian menyusul Chaira di ranjang. Aku segera merebahkan diri. Meladeni segala kemauan Febby hari mulai dari makan siang bersama hingga belanja dan kegiatan kegiatan lain yang sebenarnya tidak termasuk dalam urusan kantor membuatku penat. Penat karena aku tak melakukannya dengan tulus jadi semua terasa berat Segera saja ku kecup kening Chaira dan membawanya kedalam dekapanku.


Aku merasakan milikku menggeliat menandakan birahiku terpancing saat dada kenyal Chaira menyentuh dadaku. Tapi penatku hari ini tak memungkinkan aku untuk melaksanakan tugasku. Lagipula Chaira sedang kurang sehat jadi aku segera berusaha meredakan hasratku sendiri. Ku lirik Chaira yang sudah tampak tertidur. Rasa bersalah kembali menyerangku. Aku merasa bersalah seharian ini telah mengabaikannya demi menemani Febby. Aku berniat untuk mengambil cuti besok agar aku bisa seharian menjaga istriku ini. Aku kembali mengecup keningnya dan itu membuat Chaira menggeliat hingga piyamanya tersingkap di bagian dadanya.


Ahh aku merasakan birahiku muncul kembali. Akhirnya ku putuskan untuk melakukannya saja. Aku mulai meraba raba tubuh istriku yang mulai menggeliat merasakan sentuhanku. Matanya terbuka dan menatapku serta melihat piyamanya yang sudah setengah terbuka.


"kamu mau sayang? " tanyanya menawarkan diri


Aku segera mengangguk dan menaikinya. Aku berusaha menyingkap gaun tidurnya ke atas tanpa membukanya. Kemudian mulai ku tekan perlahan tubuhku memasukinya. Chaira yang meringis merasa kesakitan membuatku menghentikan kegiatanku. Ku tarik milikku dan ku lihat warna merah darah menetes di paha istriku. Aku panik dan segera memakai bajuku kembali. Chaira terus memegangi perutnya dan mulai meneteskan airmata menahan rasa sakitnya.


"Tahan dulu sayang,, kita ke rumah sakit ya" seruku seraya membantunya duduk dan memakaikan baju untuknya lalu segera membopongnya. aku sempat berteriak memanggil papa agar membantuku membuka pintu mobil. Aku segera melarikan Chaira ke rumah sakit. papa memutuskan menyusul kemudian bersama mama dan umi.


" seperti yang sudah saya sampaikan tadi tuan Darren,, kandungan nyonya sangat lemah. Saat ini beruntung masih bisa diselamatkan. Boleh saya tau apa yang terjadi tadi?" dokter bertanya


" Kami mencoba berhubungan intim dok"jawabku jujur


Dokter tersenyum mengangguk dan mengerti.


"maaf tuan,, sepertinya tuan dan nyonya harus bersabar dan mengalah dulu untuk urusan itu. Hubungan intim termasuk salah satu hal yang membahayakan kandungan nyonya" dokter kembali menjelaskan


Chaira yang masih berbaring terlihat meneteskan airmatanya. Segera ku hampiri dia dan mengusap airmatanya.


"apa masih sakit sayang?" tanyaku khawatir


Chaira hanya menggeleng dan airmatanya semakin mengucur deras. aku semakin tak mengerti kenapa dia terus menangis.


"maafkan Chai yang tidak bisa menjalankan tugas Chai melayanimu" aku terhenyak mendengar ucapannya.

__ADS_1


Betapa dia merasa bersalah karena tak bisa melayaniku di ranjang setelah mendengar perkataan dokter tadi. aku kembali menghapus airmatanya dan mengecup kedua matanya bergantian.


"aku yang seharusnya meminta maaf padamu sayang karena telah membuatmu seperti ini. seharusnya aku bisa menahan diri" sahutku mencoba mengurangi rasa bersalahnya


"tapi 9 bulan itu waktu yang panjang" ucapnya dan airmatanya kembali menetes


"tidak sayang,,, sudah jangan terus memikirkan hal itu. aku akan baik baik saja. Pikirkan bayi kita. Dia lebih penting. Nanti kalau dia sudah lahir kita bisa kembali melakukannya sepuasnya" ucapku setengah berbisik agar dokter tak mendengarnya.


Chaira tersenyum walau terasa masih pahit. Matanya terus menatap mataku mencari tau jika aku hanya pura pura baik baik saja. Aku berusaha keras membuatnya percaya dengan perkataanku walau aku sendiri sejujurnya merasa berat dengan kondisi ini tapi aku harus bisa mengalah tak memikirkan diriku sendiri. Keselamatan anak istriku lebih utama daripada nafsuku. Malam itu kami putuskan menginap saja di rumah sakit. Aku mengambil kamar VVIP agar kami bisa dapat fasilitas terbaik dan memungkinkan papa mama dan umi yang meminta untuk menginap juga mendapat ruang gerak yang cukup luas.


Chaira memintaku untuk tidak mengatakan apa sebenarnya yang terjadi jadi kami terpaksa bohong dan mengatakan bahwa Chaira tadi hanya terkejut saat hampir terpeleset di kamar mandi.


Keesokan hari saat kondisi Chaira sudah jauh membaik dokter mengijinkan kami membawanya pulang. Dokter kembali mengingatkan kondisi Chaira yang tidak memungkinkan untuk terlalu capek. Aku menyanggupi semua pesan dokter. Dokter juga mengingatkan jangan sampai terulang lagi untuk menghindari pendarahan yang berakibat fatal untuk kandungan Chaira.


Sesampai dirumah aku membopong istriku masuk ke kamar dan membantunya duduk bersandar di ranjang.


"maafkan aku sayang,,, aku terus menyusahkanmu" Chaira dengan lirih mengucapkan hal itu


"semua ini juga terjadi akibat ulahku sayang. coba bayangkan saja kalau aku ini tidak nakal dan tetap menjaga kesucianmu,, tidak menghamilimu begini,,, " aku berusaha mengajaknya bercanda


Chaira tersenyum malu dan menundukkan kepalanya. Pipinya bersemu merah. Melihatnya seperti itu membuat aku gemas. Segera saja ku raih bibirnya dan ku kecup perlahan dan sedikit lama. Dia mengimbanginya. Sejenak kami lupa pesan dokter.


"tahan ya sayang,,, demi baby" ucapku


Chaira mengangguk dan ku lihat sorot mata sedihnya kembali muncul.


"hei sayang,,, percayalah,, aku baik baik saja. Aku tidak marah. Jangan pernah merasa bersalah dalam hal ini" ucapku


Chaira mengangguk dan menggenggam erat tanganku lalu menciumnya.


"terima kasih sayang" ucapnya lega


Tok tok tok,,,


kami menoleh bersamaan ke arah pintu saat mendengar pintu kamar diketuk.


"masuk" ucapku


Umi membuka pintu dan menyampaikan bahwa ada abi dan bu Wati datang menjenguk Chaira. Kami mempersilahkan mereka masuk. Untuk beberapa saat kami terlibat obrolan mengenai keadaan Chaira.

__ADS_1


Drettt,,, Ponselku terus bergetar.


Chaira menatapku.


"tidak apa, pergilah jika memang ada urusan penting dikantor sayang. Sudah banyak yang menemaniku disini." ucapnya


Sesungguhnya aku tetap ingin cuti saja tapi Febby membuat ulah di kantor. Dia kesal karena aku tak kunjung datang ke kantor. Dia memaki maki anak buahku dan mencari cari kesalahan mereka. Akhirnya dengan malas aku meninggalkan Chaira lagi hari ini.


"aku akan segera kembali" janjiku pada Chaira


"oh ya bu,, dimana Rosa? apa dia ikut kesini" Chaira bertanya pada bu Wati yang sedari tadi hanya diam dan memandang seisi kamar luas kami


"ada urusan apa memangnya? " tanyanya ketus


"Chaira berniat menawarinya untuk menjadi model busana rancangan Chai bu. Kebetulan Darren juga setuju jika Rosa yang jadi modelnya. Darren bilang Rosa cocok jadi model" jawab Chaira


Mata bu Wati berbinar mendengar hal itu. Dia bukan senang karena Chaira menawarkan pekerjaan itu untuk Rosa tapi dia berbinar karena mendengar Chaira menyebut suaminya merasa cocok jika Rosa menjadi model.


"itu artinya pria itu setidaknya memperhatikan Rosa. Aku tinggal membuat Rosa terus menggodanya saja. Pria mana yang tahan jika terus digoda" Bu Wati mulai berpikir licik.


"bagaimana bu? apa ibu izinkan Rosa menjadi model?" Chaira kembali bertanya


"tentu saja boleh. apalagi untuk busana rancanganmu yang bagus itu. ibu akan sangat mendukungnya" Bu Wati berakting mencoba mengambil hati Chaira


"baiklah kalau begitu ibu bisa sampaikan padanya untuk menemui Chai secepatnya ya bu,,, agar Chai bisa segera membimbingnya" tukas Chaira


"ya,, ya,, ya nak besok dia pasti akan datang. Bila perlu dan tak merepotkanmu ibu bisa menyuruhnya tinggal disini sementara waktu agar dia bisa lebih sering belajar jadi model. apalagi kondisimu ini tak memungkinkanmu untuk keluar kamar kan" bu Wati mulai melancarkan aksinya dengan pura pura simpati pada Chaira


"iya bu,,, boleh" sahut Chaira polos tanpa menyadari niat tak baik ibu tirinya


Bu Wati tersenyum manis. Dalam hatinya dia mulai merasakan angin segar menerpa kehidupannya.


"terima kasih ya nak" ucap bu Wati sembari mendekati Chaira dan menggenggam tangannya


"sama sama bu" Chaira kembali tersenyum


"dasar tolol" batinnya sambil terus menggenggam tangan Chaira


Jangan lupa komen, vote dan like nya yaaaa

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2