
Selamat membaca 🌻
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻
Dion meminta sopir taksi menurunkannya di sebuah pantai yang tak begitu ramai karena dirinya sengaja ingin menenangkan diri setelah semua kenyataan yang dihadapinya.
Setelah berkali kali mencoba menghubungi Hana namun sepertinya nomernya sudah tidak aktif lagi,, Dion juga sudah mencoba menghubungi Darren sahabatnya. Namun lagi lagi baik nomer sahabatnya itu pun tidak bisa dihubungi. Tentu saja Dion tidak bisa menghubunginya karena tanpa sepengetahuannya Ratna yang telah memblokir nomer Darren.
"Haaanaaaaaaaaaa,,,,,,,Aaaarrggghhhhhh,,,,"
Teriak Dion keras keras berusaha melampiaskan ribuan gelombang rasa bersalahnya pada Hana mantan istrinya.
"Kamu di mana sayang?? Kenapa kamu tidak pernah jujur padaku?? Kenapa kamu menutupi hasil lab itu,,, Dan kenapa kamu pasrah saja saat aku atau pun Ratna menuduh kamulah yang mandul. Kenapa sayang??" Dion menangisi kenyataan itu.
Pandangan Dion kabur oleh genangan air mata penyesalan karena telah begitu mudahnya percaya dan menerima Ratna. Dion juga menyesal mengingat semua perasaan bersalahnya atas masa lalunya bersama Ratna yang sedari dulu nyatanya memang menghianatinya.
"Aku benar benar telah begitu bodoh menyesali sesuatu yang sepantasnya tak perlu ku sesali. Aku terpuruk dan terjebak dalam situasi yang sebenarnya bukan hanya kesalahanku sampai aku akhirnya kehilangan Hana. Hana istri yang paling setia padaku bahkan sama sekali tak berniat membuka aibku. Bodoh kamu Dion,,Bodoh,,,!!!!"
Dion memukul mukul sendiri kepalanya. Cukup lama dirinya berdiam diri di pantai itu dan mengacuhkan beberapa panggilan masuk dari nomer baru ke ponselnya. Dion tidak peduli juga dengan beberapa pesan masuk dari beberapa rekan bisnisnya.
Dion hanya ingin sendiri dulu meratapi semua kebodohannya.
"Dare,, Gue harus temui dia. Gue harus minta maaf padanya. Dia sudah berusaha keras mengingatkan gue tapi gue yang songong dan malah menuduhnya yang aneh aneh." gumamnya sesaat kemudian setelah airmata dan sesak di dadanya berangsur angsur berkurang.
Dion pun bangkit dan hendak menelpon anak buahnya agar membawakan mobilnya yang sengaja ditinggalnya di kantor tadi saat ada telpon masuk lagi.
Kesal terus ditelponi oleh nomer baru akhirnya Dion pun menjawabnya.
"Halo!!! Siapa sih!!! Ganggu aja dari tadi,,,!!" ketus Dion.
"Selamat siang,, Apa benar ini dengan bapak Dion??" suara seorang pria yang terdengar tegas.
__ADS_1
"Iya benar. Siapa ini??" tanya Dion masih dengan nada sangat tidak suka diganggu.
"Saya dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa kami menemukan nyonya Ratna dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Kami mendapat laporan tentang hal ini dari pihak rumah sakit yang mengaku sempat ditelpon oleh nyonya Ratna sebelumnya untuk mengirimkan ambulan. Sebagai suaminya,, Kami mengharapkan kehadiran bapak untuk kami tanya tanyai." jelas orang yang mengaku sebagai polisi.
"Apa?? Ratna meninggal?? Apa karena perbuatanku tadi? Kenapa secepat itu kamu pergi Na?? Aku bahkan belum puas membuatmu menderita merasakan hal yang lebih menyakitkan daripada apa yang ku rasakan!!!" batin Dion geram.
Ya,, Dion geram dan bukan sedih mendengar berita itu. Kesedihannya sudah habis dicurahkan untuk kebodohannya sendiri melepaskan Hana demi seorang Ratna.
Tanpa menjawab polisi itu Dion langsung saja menutup telponnya dan menonaktifkan ponselnya setelah menelpon anak buahnya. Tak berapa lama kemudian anak buahnya pun datang membawakan mobilnya. Dion langsung bergegas menuju ke kantor Darren.
🌻🌻🌻
"Ayah,,, Levi pingin deh jalan jalan ke tempat tante Hana. Ayah libur kerja kan hari ini?? Apa bisa kita kesana??." tanya Levi pada Darren yang hari itu sedang tidak sibuk.
"Iya ayah,,Ayya uga mau ketemu ante Ana,,," Rayya kecil menimpali dan bergelayut manja di lengan Darren.
"Hari ini juga??" tanya Darren pada keduanya.
Keduanya pun mengangguk penuh harap membuat Darren tidak tahan menahan tawa melihat mata polos itu berusaha merayu dirinya. Mata yang mengingatkannya pada mata Chaira sang bidadari yang hingga saat ini masih hidup dalam hatinya. Bidadari yang tak akan pernah tergantikan itu mewariskan mata teduhnya pada kedua putra putrinya hingga bisa dijadikan obat penawar rindu Darren.
"Loh,,,Kan belum siap siapin baju ayah??" protes Levi.
"Tidak usah bawa baju. Nanti di sana kita belanja baju bareng sama tante Hana dan nenek saja ya. Lebih asyik kan??" tanya Darren.
"Holeeee,,, halan halan cama ante Ana cama nenek uga ya lho kak,, acik yaa,,," Rayya semangat dan sangat senang.
"Iya dek,,, Eh jangan lupa ucapkan terima kasih dulu yuk ke ayah." ajak Levi mengingatkan apa yang selalu diajarkan Darren pada mereka untuk tidak lupa berterima kasih pada siapa pun yang sudah membuat mereka bahagia.
"Iya kak,,," sahut Rayya.
"Terima kasih ayah,,," ucap keduanya serempak dan merangkul lalu menciumi pipi Darren dengan penuh sayangnya.
"Sama sama anak ayah,,, Tapi sebelum kita berangkat ke bandara,,, Kita ke makam bunda sama abi dulu ya. Kita pamitan sama mereka ya sayang,,," ajak Darren.
"Iya ayah,,," sahut keduanya.
__ADS_1
Darren menggandeng tangan keduanya kanan dan kiri lalu masuk ke mobil. Sebelum berangkat ke makam Darren menyempatkan diri memesan tiket penerbangan ke Singapura dengan pesawat yang berangkat paling cepat jamnya. Begitu mendapatkan pesawat yang cocok dan sekiranya waktunya cukup untuk berkunjung ke makam terlebih dulu,,,Darren pun keluar meninggalkan rumahnya.
🌻🌻🌻
"Maaf pak Dion tapi pak Darren hari ini libur. Jadi beliau tidak ada di kantor." ucap sekretaris Darren saat Dion meminta untuk menemui Darren.
"Lalu di mana dia?? Apa kamu tau??" desak Dion.
"Maaf pak saya tidak tau karena kebetulan beliau berpesan untuk saya tidak mengganggu beliau terutama hari ini." jawab sekretaris.
"Baiklah terima kasih. Aku cari ke rumahnya saja kalau begitu." kata Dion langsung saja menghambur masuk ke lift begitu pintunya terbuka.
Dion lantas memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah Darren. Sesampainya di depan rumahnya Dion kesal karena ternyata pagar rumah Darren sekarang sudah diganti hingga dirinya tak punya akses bebas masuk ke sana dengan remote yang dimilikinya.
"Secepat ini lu ganti akses pagar yaa,,, Lu di mana sih??" Dion tidak sabar memencet mencet bel di pagar itu.
Dion makin tidak sabar karena tak ada satu pun yang keluar.
"Kemana sih!!!" ketus Dion makin kesal.
"Orangnya gak ada pak. Barusan keluar mereka." kata satpam komplek yang kebetulan melihat mobil Darren tadi melintas.
"Tau gak mereka kemana pak??" tanya Dion dengan bodohnya.
"Mana saya tau pak. Biar kata saya satpam di sini tapi kan warga di sini gak perlu lapor sama saya kalau mau kemana mana. Tamu kayak situ tuh yang mustinya lapor ke saya."sahut satpam itu dengan logat khas daerahnya.
Dion tak ambil pusing ucapan satpam yang benar ada benarnya itu. Dion langsung masuk mobilnya dan mengemudi tanpa arah dan tujuan pasti. Dion kalut.
"Dasar orang kaya,,, Gak ada sopan sopannya,, Main cabut aja." gerutu si satpam.
\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih 🌻
__ADS_1