BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 75


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


"Sebaiknya jangan." Darren menahan tangan pak Herman yang hendak menelpon pak Agung ayahnya Bobi.


"Kenapa Dare?? Anak sialan itu harus bertanggung jawab kalau terjadi apa apa pada Tiara. Dan orang tuanya juga harus tau apa yang anaknya perbuat." ketus pak Herman.


"Pasti,,, Bobi akan dapat hukumannya dan orang tuanya juga akan mengetahuinya. Tapi tidak darimu,,, biarkan pihak kepolisian yang bergerak untuk menangkap Bobi dulu. Kalau kamu mengabari orang tuanya,,, bisa jadi mereka akan melindungi dan menyembunyikan anaknya sebelum polisi menangkapnya." kata Darren.


Rupanya masa muda dan pengalamannya bersama Dion dulu membuatnya lebih bisa menyikapi masalah seperti ini.


"Kita bahkan tidak tau tipe orang tua seperti apakah orang tuanya,,, Yang melindungi anaknya walau anaknya bersalah atau yang mampu membiarkan anaknya menjalani hukuman atas perbuatannya." lanjut Darren.


"Benar juga ya katamu,,," kata pak Herman mengangguk angguk.


"Sebaiknya kasus pemerkosaan Tiara ini jangan diblow up dulu. Kasihan Tiara mengingat dirinya yang masih terguncang ini. Kalau kamu langsung membawa kasus ini ke hukum,,, pihak kepolisian pasti akan banyak pertanyaan pada Tiara,,, Kasihan jika dia harus menghadapi itu saat saat seperti ini." kata Darren kemudian.


"Lalu aku harus bagaimana?? Masak aku harus diam saja putriku diperlakukan seperti ini???" tanya pak Herman dengan nada kesal.


"Kamu bisa bicarakan secara kekeluargaan pada orang tuanya nanti setelah Bobi diamankan polisi." jawab Darren.


"Tidak Dare,,, Untuk yang ini aku tidak bisa menunggu. Pokoknya Agung harus tau ulah anaknya. Jangan menghalangiku Dare,,, Ini urusan keluarga kecilku." pinta pak Herman agar Darren tak menghalanginya menelpon pak Agung.


Darren mundur dan tak melarang lagi namun tangannya dengan cepat menghubungi pihak kepolisian untuk segera menangkap Bobi sebelum terlambat. Sebelum Bobi mungkin melarikan diri.


Dilihatnya pak Herman dengan nada marah marah dan tak terima menelpon pak Agung. Darren memilih tak mengganggunya. Dihampirinya bu Mila yang masih menangis sesengukan.


"Sabar ya bu,,," ucapnya.

__ADS_1


"Terima kasih pak Darren untuk semuanya." ucap bu Mila di sela isak tangisnya.


Darren hanya tersenyum dan mengangguk. Sesekali diliriknya jam tangannya. Darren gelisah menunggu Levi yang tak kunjung tiba.


Ditelponnya Levi.


"Levi hampir sampai ayah. Tadi lambat berangkatnya soalnya ini si Rayya minta ikut jadi harus tunggu dia berbenah dulu." sahut Levi sambil memonyongkan bibirnya pada Rayya.


"Iihhh kan Ayya juga lama tadi,,, Iya kan bang Bim??" sungut Rayya dan minta pembelaan dari Bimo.


"Iya cantik,,," sahut Bimo sambil fokus menyetir.


"Tuh kan,,," kata Rayya pada Levi.


"Orang kamu yang lama kok,,," Levi tetap bersikeras menyalahkan Rayya.


"Sudah dong nak,,, Yang penting kalian sudah hampir sampai. Sudah jangan diributkan lagi hal ini ya. Ayah telpon hanya untuk memastikan kalian tidak apa apa di jalan. Kalau begitu sampai ketemu di sini ya nak." kata Darren.


"Iya ayah,,," sahut keduanya serempak.


"Siaaap delapan enam om,,," sahut Bimo mantap.


"Bang Bim lucu deh,,," kata Rayya sambil tertawa kecil mendengar jawaban Bimo itu.


"Yang penting kan Rayya seneng dengernya hehehe,,," sahut Bimo.


Rayya diam dan pipinya bersemu merah mendengarnya. Bimo bisa melihat itu dari kaca spion tengahnya. Diam diam Bimo pun merasa sesuatu telah terjadi dalam hatinya.


🌹🌹🌹


Pak Agung menutup telponnya dengan muka merah padam menahan amarah. Begitu mengetahui putra tunggalnya yang bernama Bobi telah melakukan tindak pemerkosaan pada calon istrinya.


"Anak kurang ajar. Dimana dia??? Biar ku hajar anak mama itu!!!" ketusnya pada bu Maria,istrinya.

__ADS_1


"Jangan dong papa,,,Kasihan Bobi. Bagaimana pun juga dia anak kita satu satunya. Lagipula kenapa sih papa percaya begitu saja sama si Herman itu?? Bisa jadi kan dia hanya berusaha memeras kita dengan mengatakan bahwa Bobi anak kita telah memperkosa anak gadisnya." sungut bu Maria tidak terima anak kesayangannya dikatai seperti itu.


"Mama terlalu memanjakan Bobi. Mama juga selalu membebaskan Bobi melakukan apa pun yang dia suka. Anak itu jadi urakan sekarang. Suka mabuk mabukan gak jelas,,, Suka main perempuan. Mama ingat kan anak itu baru keluar dari panti rehabilitasi narkoba juga???Dengan semua hal buruk ini,,, Papa percaya saja kalau Bobi melakukan kesalahan lagi." sahut pak Agung.


Bu Maria terdiam dan tak menjawab sepatah kata pun karena semua yang dibilang oleh suaminya itu adalah benar. Bobi memang sering melakukan hal hal buruk yang membuat pak Agung naik darah.


"Trus sekarang apa maunya si Herman?? Minta agar kita percepat pernikahan mereka?? Kelihatan sekali kalai dia memang hanya ingin putrinya segera jadi ratu di rumah ini,,," sungut bu Maria.


"Entahlah,,, Papa pusing. Sebaiknya mama suruh bangun itu anak manja. Jangan bisanya hanya main dan tidur saja. Kapan bisa berguna untuk keluarganya??? Sudah sana mama panggil dia. Papa mau bicara padanya." titah pak Agung.


"Aduuuuhh mesti seheboh ini?? Nanti sajalah papa. Kasihan Bobi baru saja istirahat. Lagipula Herman itu tidak tau diri sekali. Seharusnya dia itu bersyukur karena Bobi berselera meniduri Tiara yang levelnya jauh di bawah pacar pacar Bobi selama ini." cibir bu Maria dengan angkuhnya.


"Maria!!!! Jangan keterlaluan kamu." bentak pak Agung langsung menyebut namanya.


"Iiihh kok papa jadi kasar gitu sama mama?? Demi belain si gadis miskin itu??? Seharusnya papa itu bela anak kita,,,Jauhkan dia dari masalah ini."ketus bu Maria tak terima dirinya di bentak.


Dengan gerakan kasarnya bu Maria langsung beranjak dari duduknya. Dilemparnya dengan kasar majalah fashion yang sedari tadi dibuka bukanya. Bu Maria naik dan langsung masuk ke kamarnya tanpa memanggil Bobi.


Pak Agung hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah bu Maria.


"Bagaimana Bobi bisa berubah kalau mamanya terus saja membelanya begini,,,hhmmm,,," gumam pak Agung.


Pak Agung berpikir sejenak dan menata kalimat yang tepat untuk bicara dengan Bobi. Beliau tau Bobi pasti tak akan langsung mengakui perbuatannya. Anak itu akan menyangkal dan membuat pak Agung emosi.


Oleh karenanya pak Agung memilih menenangkan dirinya dulu sebelum memanggil Bobi. Dan setelah dirasa cukup tenang,,,Beliau pun bangkit dari duduknya saat bel di pintu depan berbunyi.


Pak Agung mengurungkan niatnya memanggil Bobi dan meminta asisten rumahnya untuk membuka dan melihat siapa yang datang. Beliau pun duduk kembali menunggu asisten rumah tangga itu memberitahu siapakah tamunya.


Sejurus kemudian,,, Asisten itu masuk bersama dua orang polisi berseragam lengkap.


"Permisi pak.Kami datang kemari membawa surat penangkapan atas nama saudara Bobi Mahadewa." kata salah satunya begitu pak Agung mempersilahkannya.


"Apalagi yang dilakukan anak manja ini,,,???" pak Agung menerima surat itu dan membacanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹


__ADS_2