BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Pesta mewah keluarga Narendra


__ADS_3

Beberapa mobil mewah tampak mulai mendatangi dan terparkir rapi di sepanjang jalanan menuju rumah bu Fatimah. Beberapa pria tampan dan gagah tampak mengenakan setelan jas mewah. Seorang wanita tampil dengan riasan tebal,gaun elegan dan tatanan rambut model sasak tinggi dilengkapi dengan perhiasan dan tas mahal. Mereka turun dengan membawa beberapa orang khusus yang membawa beberapa kotak seserahan lamaran. Para tetangga terlihat berkumpul kumpul di beberapa tempat. Mereka sibuk berbisik dan bergunjing. Sehebat itukah bu Fatimah dan Chaira hingga bisa kedatangan rombongan orang kaya.


Sebagai calon pengantin aku sengaja memakai setelan jas berwarna putih. Berbeda dengan papa dan kedua sahabatku yang memakai warna hitam. Mama tampil anggun dengan gaun hitam selutut miliknya. Kulihat pak Dahlan dan istrinya sudah menyambut di depan rumah bu Fatimah. Tampak pula Rosa dan adik adiknya disana tampil sederhana. Bu Fatimah selaku tuan rumahnya langsung mempersilahkan kami semua masuk. Walau terasa sempit dan sesak aku bersyukur saat melihat wajah mama papa tampak bahagia dan sama sekali tak terganggu dengan kondisi rumah ini.


"Perkenalkan saya Narendra dan istri saya Anggun. Kedatangan kami semua kesini ini selain dalam rangka ingin berkenalan dan silaturahmi,, kami juga sekalian ingin melamar putri bapak ibu,, Chaira,,, untuk putra kami,, Darren" papa memulai pembicaraan


"kami mohon bapak dan ibu tidak keberatan" sambung mama


Bu Fatimah dan pak Dahlan saling berpandangan sesaat saling memberi kode untuk siapa yang akan menjawab.


"Kami selaku orang tua Chaira akan menyerahkan keputusannya pada putri kami. Jika dia bersedia menerima lamaran maka kami tak akan menghalangi. Kami panggilkan Chaira dulu ya,,, " pak Dahlan segera memanggil Chaira agar keluar dari kamarnya dan menemui kami


Senyumku mengembang melihat calon bidadariku itu muncul dan berjalan tertunduk. Hari ini dia tampil sedikit berani dengan mengenakan gamis berwarna biru muda senada dengan cadarnya. Chaira duduk tepat di sebelah bu Fatimah.


Bu Fatimah menggenggam jemari Chaira hangat.


"nak,,, pak Narendra bersama keluarga datang atas nama nak Darren untuk melamarmu. Kami semua hanya menunggu jawabanmu saja. Apa kamu bersedia nak? " tanya bu Fatimah lembut


Chaira yang masih tertunduk hanya mengangguk pelan dan terdengar lirih suara merdunya


"bersedia bu"


"Alhamdulillah" kami hampir bersamaan mengucap syukur.


Kami semua bahagia karena Chaira menerima lamaranku. Papa mama tersenyum dan kemudian menepuk nepuk pundakku. Aku yang mendengar itu rasanya ingin melompat tinggi dan segera memeluk Chaira. Tapi aku tahan perasaan itu dalam hati. Aku tak mungkin melakukannya dalam situasi formal seperti ini hehehe


Setelah merundingkan kapan hari baik itu dilaksanakan dan menyerahkan beberapa kotak seserahan yang kami bawa tadi kami setuju bahwa pesta pernikahan kami akan dilangsungkan di sebuah gedung resepsi milik kami sendiri yang akan digelar semeriah mungkin. Papa mama tentunya berpikir hanya akan sekali saja menikahkan aku. Keluarga Chaira sama sekali tak keberatan. Cincin berlian yang sudah ku belikan untuk Chaira tak kupasangkan hari ini sesuai permintaan Chaira. Dia minta agar aku menyimpan cincin itu dulu dan hanya akan memakaikannya dijarinya saat kami susah sah menjadi suami istri.

__ADS_1


Selesai acara,,, kami berpamitan dan meninggalkan rumah bu Fatimah dengan perasaan lega dan bahagia. Rasanya semua orang bahagia hari ini kecuali bu Wati yang tampak iri melihat isi kotak seserahan yang berisi banyak barang mahal. Keiriannya itu semakin bertambah dan dia bertekad dalam hati akan merebut semua yang dimiliki Chaira pelan pelan.


"lu ngapain senyum senyum gak jelas gituuuu?" Dion yang menyetir di sebelahku rupanya memperhatikan aku yang dari tadi senyum senyum


"ngebayangin apaan lu bro?" tanyanya lagi


"malam pertama laaaahhhh" Sahut Angga di belakang


Kami semua tertawa bersama. Dion dan Angga yang iseng dan jahil itu membayangkan bagaimana kikuknya pas seorang perjaka dan gadis berdua didalam kamar pengantin.


"emang pada ngeres otak lu orang" sungutku


Kami terus saling tertawa selama di perjalanan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Gedung megah ini tambah terkesan megah dengan dekorasi menawan. Bunga bermekaran berwarna pastel menambah suasana menjadi sangat berkelas. Tata dekorasi,lampu,hidangan, minuman, wedding cake setinggi hampir 2 meter dan sebagainya khusus dipersiapkan Papa mama untuk kami.


Akad nikah yang berlangsung tertutup dihadiri keluarga inti cukup membuatku grogi. Usai berjabat tangan dengan penghulu dan menyelesaikan kalimat saat ijab kabul tadi dadaku yang sesak langsung plong.Chaira tampak malu dan canggung saat mengambil dan mencium tanganku. Ku cium keningnya perlahan. Sinar sinar flash dari kamera awak media berebut ingin mengabadikan momen itu. Dan segera setelah selesai rangkaian acara akad kami masuk ke ruang ganti untuk mengganti baju kami dengan baju yang sudah dipersiapkan untuk resepsi nanti. Kami memilih tak memakai baju yang berlebihan atau pun perhiasan berlebihan yang nantinya malah akan merepotkan kami karena resepsi nantinya papa mama telah mengundang hampir ribuan tamu. Semua akan datang dan menyaksikan kemewahan pesta ini. Aku dan Chaira sepakat memilih warna putih untuk baju kami. aku dengan setelan jas putih dan Chaira sebuah gaun dilengkapi hijab dan cadar putihnya. Awalnya penata busana menyuruhnya melepas saja cadarnya agar wajahnya bisa dirias namun tentu saja Chaira menolaknya.


Ku pandangi Chaira yang sedang berdiri di depan cermin memandangi dirinya. Ku sentuh lembut bahu istriku itu. Dia tertunduk.


"ah Chaira,,, entah kenapa sikapmu yang malu malu ini membuatku ingin segera melewati resepsi hari ini dan hanya menghabiskan waktu bersamamu" batinku yang merasa aneh saat aku merasakan sesuatu bergejolak di diriku. Aku merasakan sesuatu mulai menegang dibawah sana.


"sabar yah sabar" batinku lagi menenangkan diriku sendiri


Seseorang mengetuk pintu dan menyampaikan bahwa resepsi sebentar lagi akan dimulai jadi kami harus segera hadir disana. Ku genggam tangan Chaira yang masih terbalut sarung tangan seperti biasanya dan ku letakkan di lenganku. Chaira menurut saja saat ku gandeng keluar menuju ruangan resepsi.

__ADS_1


Para tamu bertepuk tangan melihat kehadiran kami. Aku dan Chaira sempat terkejut mendengar riuhnya tepuk tangan mereka. Rupanya selain dalam rangka pernikahan kami,, resepsi ini juga papa persiapkan sekalian untuk mengumumkan diangkatnya aku menjadi CEO di perusahaan papa. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh papa. Hari dimana dia akan dengan bangganya mempercayakan semua usaha yang sudah dirintisnya padaku.


Setelah resepsi diisi dengan beberapa kata sambutan dari papa dan aku sendiri,,, kami mempersilahkan para undangan menikmati hidangan yang ada. Beberapa undangan yang sudah menyelesaikan makannya berjalan dan bergantian menghampiri kami yang berdiri di pelaminan untuk mengucapkan selamat secara langsung pada kami.


Dion dan Angga pun memelukku erat.


"sudah siap tempur doooong" goda mereka yang langsung ku balas dengan mata melotot. Aku tak mau Chaira mendengarnya dan malu.


Tampak Febby juga hadir dengan gengnya. Walau aku tau dirinya pasti terluka namun ku hargai kedatangannya dan saat dia memberi ucapan selamat aku dan Chaira menerimanya sepenuh hati walau kami tau dia tidak tulus melakukannya.


"Jangan seneng dulu ya nyonya Darren" bisiknya pada Chaira saat menjabat dan memeluk Chaira


"apa maksudmu?" tanya Chaira


"Darren itu milikku" Febby menjawab singkat dan segera meninggalkan kami


Chaira memandangku.


"jangan hiraukan dia. Dia tak akan bisa mengganggumu" ucapku menenangkannya. ku rasakan dia menggenggam erat jemariku seperti tak ingin kehilangan aku.


Aku tersenyum dan dalam hati merasa sangat senang mengetahui bahwa dia takut kehilangan diriku.


Pesta mewah meriah keluarga Narendra ini berakhir setelah pesta dansa usai. Kaki kami rasanya sudah pegal semua kebanyakan berdiri. Saat kami diperbolehkan meninggalkan acara aku sangat lega karena bisa segera duduk dan merebahkan diriku. Aku yakin Chaira juga sudah sangat kelelahan. Kami segera masuk ke kamar kami yang sudah dihiasi layaknya kamar pengantin.


Jangan lupa vote, komen dan likenya para pembacaku


Terima kasih 😍

__ADS_1


__ADS_2