
Keceriaan Levi yang senang ku ajak jalan jalan mampu membuat aku sejenak melupakan kesedihanku.
Awalnya aku hanya ingin mengajaknya barang sejam dua jam saja namun sesuai pesan Chaira tadi yang memintaku mengantarnya sesudah atau setelah makan siang maka ku putuskan sekalian mengajaknya makan siang.
Tapi terlebih dulu aku harus kembali ke kantor dulu. Hana sedikit heran ketika melihatku datang dengan pangeran kecilku. Tidak hanya Hana sebenarnya yang heran namun hampir setiap karyawan yang melihat kami.
Mereka pasti sudah mendengar kabar perceraianku saja namun tak pernah tau bahwa aku memiliki anak. Jadi melihatku membawa anak kecil yang begitu mirip denganku tentu mereka heran.
"Halo sayang,,, namanya siapa?" Hana menyapa Levi.
Hanya dia yang berani menyapa. Yang lain hanya memandang saja.
"Levi" sahut pangeranku.
"Pinternya,,,, tante punya coklat nih,,, Levi mau??" Hana segera mengambil sebungkus coklat yang memang selalu dibawanya.
Levi segera ikut dengannya. Aku membiarkan Levi ikut dengan Hana sebentar karena aku perlu menandatangani beberapa berkas yang sudah disiapkan Hana di mejaku.
Selesai tanda tangan aku menyandarkan kepalaku di sandaran kursi. Kembali terbayang wajah bahagia Chaira dan Ray yang tengah berbahagia menyambut kehadiran bayinya.
Seharusnya dulu aku juga merasakan hal serupa sayang,,,
Seharusnya juga aku dengan semangat mengantarmu ke dokter seperti Ray yang pagi ini juga sangat bersemangat,,,
Ingin rasanya ku putar waktu,,,
Ingin rasanya aku menahan diri untuk menyampaikan keputusanku menikahi Febby dulu,,,
Agar kamu sempat memberitahuku kabar kehamilanmu dulu sayang,,,
Agar aku bisa tersenyum bahagia dan mengumumkan kepada seluruh dunia ini bahwa aku akan menjadi seorang ayah,,,
Aaarrggghhhh,,,,
Penyesalan selalu saja datang terlambat.
Aku menundukkan kepala di mejaku. Airmataku bercucuran membasahi celanaku.
"Ayah" suara Levi mengejutkanku.
Segera ku hapus airmataku sebelum ku dongakkan kepalaku. Aku tak ingin Levi melihat ayahnya menangis.
"Ada apa sayang? Apa mainnya sudah selesai?" Tanyaku.
"Levi angen unda,,, Ayah antal Levi ulang ke unda yaaa" rengeknya.
"Levi,,, Levi kan belum makan. Makan dulu yuk sama tante sama ayah juga" ujar Hana yang membantuku menjawab.
Hana sepertinya tau aku habis menangis dan aku masih kacau. Jadi dia membantuku membujuk Levi. Levi mengangguk setuju dengan ajakan makan Hana.
"Hapus airmatamu itu cengeng,,, Ayo kita makan siang sekarang. Jangan kecewakan anakmu" Hana memelankan suaranya.
Aku menurut dan segera merapikan diriku. Ku kenakan kacamata hitamku agar tak ada yang melihat mataku yang masih merah. Aku menggendong Levi di sebelah kiri.
__ADS_1
"Kamu keren sekali Dare,,, melihatmu mengajak anakmu membuatku makin tertarik padamu. Meski kamu pernah melakukan kesalahan besar pada istrimu tapi melihatmu menjadi ayah yang baik seperti ini membuatku tak ragu memilihmu" batin Hana.
Meskipun aku tak pernah membahas atau memberikan tanggapan terhadap perasaannya yang pernah diungkapkannya tapi Hana masih bersikap biasa saja.
Dia memenuhi janjinya untuk membiarkan dan membebaskanku untuk membalas atau menolak cintanya untukku. Aku sangat menghargai sikapnya itu.
Karena aku sendiri tak yakin dengan perasaanku padanya. Hingga detik ini pun aku belum menermukan sesuatu yang menarik dari dirinya. Kecuali hanya dia satu satunya wanita yang tak pernah segan padaku dan aku suka diperlakukan seperti itu olehnya.
Aku butuh teman,, bukan hanya bawahan yang hanya sebatas hormat padaku.
Kami bertiga melenggang keluar kantor bersama sama. Beberapa karyawan yang melihat kami mulai berbisik bisik membicarakan kedekatan kami.
Aku tak peduli.
Kami menuju sebuah restoran yang tak terlalu jauh. Ditengah kami sedang menunggu pesanan makan kami Dion tiba tiba muncul.
Sahabat lamaku itu muncul dan memelukku erat.
"Gimana kabar lu bro? sorry gue baru balik dari Singapura jadi baru bisa temuin lu. Eh lu sama siapa nih,,, Halo,, saya Dion" Dion langsung menyapa Hana.
"Hana,,, sekretaris baru pak Darren. Saya tau anda siapa. Kita pernah bertemu sebelumnya saat saya masih magang" ucap Hana.
"Dion ini sahabat karibku,,, di depannya kamu tak perlu terlalu formal." ucapku yang risih dipanggilnya pak.
"Ok Dare,,, " sahut Hana
Dion memandangi Hana. Tampak sorot matanya menunjukkan ketertarikan pada wanita itu. Dia berusaha mengingat yang mana diantara anak magangnya dulu yang bernama Hana.
"kenalin itu ponakan lu,,, " ucapku menunjuk Levi yang duduk manis.
"Halo jagoan,,, kenalin ini uncle Dion" Dion mulai mengakrabkan diri pada Levi.
Sebelumnya dia sempat memandang wajah Levi dengan tatapan sendu. Dion ingat dirinya turut punya andil menyakiti Chaira saat mengandung levi.
"Maafin uncle ya Levi,,, Uncle yang bersalah padamu dan bundamu" batin Dion sedih dan penuh penyesalan.
"Gabung ma kita aja disini ya,, lu sendirian aja kan?" tanyaku.
"Gue tadi sama klien sebenarnya tapi dia sudah balik. Oke lah gue gabung disini aja ya Han,,, " ucap Dion.
Aku hanya menggelengkan kepalaku melihatnya begitu. Aku tak heran jika dia selalu begitu pada wanita. Namun kali ini ku lihat tatapan matanya lain pada Hana.
Tatapan mata ingin mengenal lebih jauh dan rasa ingin memiliki. Lalu apa perasaanku melihatnya??
Aku tak tau,, aku bahkan tak merasakan apa pun. Aku malah membiarkan saja Dion merajai pembicaraan dengan Hana. Hana terlihat risih karena Dion terus mengajaknya berinteraksi.
Aku asyik dengan jagoan kecilku. Aku menyuapinya makan hingga dia menghabiskan makanannya baru aku menyantap makananku.
Hana mencuri pandang padaku saat aku melakukan itu semua. Ditengah obrolannya dengan Dion yang menggebu dia masih sempat memperhatikanku.
"Kamu ayah yang baik Dare,, aku makin tertarik padamu. Perasaanku padamu makin bertambah" batinnya.
"Lu ada rasa ma dia bro?" Dion langsung menanyaiku saat Hana ke toilet bersama Levi.
__ADS_1
Aku hanya menggeleng pelan.
"Serius lu,,, " desaknya
"Kalau lu mau lu boleh dekati dia tapi gue minta ma lu jangan lu mainin karena bapaknya baik banget sama gue. Bapaknya banyak bantu gue" Aku sedikit menceritakan awal mula pertemuan kami
"Terus gimana dengan lu,,, apa lu sudah bisa merelakan Chaira?" tanya Dion prihatin.
Aku menggeleng pelan.
"Sejujurnya gue gak pernah rela,,, tapi demi kebahagiaanya gue harus tegar dan menerima semuanya walau gue pasti butuh waktu lama untuk itu" ucapku
"Gue tak ingin membagi hati gue lagi bro,,, gue akan biarkan dia tetap menjadi satu satunya yang gue cintai saat ini dan selamanya" lirihku sambil melambaikan tanganku pada Levi yang melambai padaku.
Dion menoleh dan memandang Hana yang begitu dekat dengan Levi.
"Lalu bagaimana dengannya?" Dion menanyakan nasib Hana padaku.
"Dia menyatakan cintanya padaku" jawabku singkat karena Hana sudah mendekat.
Dion diam. Ada gurat kekecewaan dalam wajahnya mendengar ucapanku namun dia mulai merasa kasihan pada Hana yang jelas jelas cintanya padaku tak terbalas.
Dion yang tau seberapa besar cintaku untuk Chaira merasa iba terhadap Hana jika dia terus berharap padaku.
"Baru kali ini gue merasa jatuh hati pada wanita dan ingin menjalani hubungan yang lebih serius dengannya,, Namun dirinya mencintai sahabat gue yang sama sekali tak mencintainya." batinnya
"Kenapa begitu aku menemukan wanita yang bisa benar benar bisa menyentuh hatiku tapi begitu rumit jalanku untuk bisa memilikinya" batinnya lagi.
Usai makan kami pun berpisah. Aku meminta Dion mengantarkan Hana kembali ke kantor karena aku harus ke rumah Ray.
Dion sama sekali tak keberatan. Dia tau aku sengaja melakukannya agar dia bisa lebih dekat dengan Hana.
"Aku tau kamu sedang menjaga jarak denganku Dare,,, aku tau kamu membiarkan sahabatmu ini terus mendekatiku agar aku berhenti mengejarmu. Tapi kamu salah Dare,,, kamu yang ku inginkan,, bukan dia" Hana membatin dalam hati.
"Seberapa lama kau mengenal Darren?" Hana memberanikan diri bertanya pada Dion yang menyetir.
" Gue tumbuh bersama,,, Hey kenapa malah tanyain yang gak ada disini sih,,,"Dion berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Dengar Dion,,, aku tidak bodoh. aku tau kalian bersekongkol. Aku tau Darren berusaha menghindariku dan membuatmu mendekatiku. Tapi aku ingin kamu tau bahwa aku hanya menginginkannya. " tukas Hana yang tanpa basa basi lagi.
Dion tersenyum.
"Dan aku juga ingin kau tau bahwa dia hanya mencintai mantan istrinya,,, kamu boleh terus berusaha mendapatkannya namun kamu jangan lupa bahwa ada hati yang tulus menunggu cintamu disini." Dion dengan sabar mengutarakan perasaannya.
Hana terdiam mendengar pernyataan Dion yang dirasanya terlalu cepat itu. Namun bagi Dion yang baru kali ini merasakan jatuh cinta hal itu tidaklah cepat karena dia tak ingin wanitanya ini semakin dalam tenggelam dalam harapannya mendapatkan Darren.
"kita lihat saja Han,,, sampai kapan kamu kuat menjalani cinta segitiga seperti ini. Kapan pun kau lelah,,, datanglah padaku" pesan Dion saat menurunkan Hana di depan kantorku.
Hana diam.
Jangan lupa vote, like dan komen yaaa,,,,
Terima kasih 😍
__ADS_1