
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Ra,,, Buka pintunya. Ini aku, Levi. Kamu apa kabar hari ini??" Levi begitu lembut bicara tepat di depan pintu kamar Tiara.
Yang ditanya di dalam kamar langsung menoleh ke arah pintunya.
"Levi???" pikirnya girang dan langsung saja bangkit dari duduknya lalu berlari ke pintu.
Sudah diputarnya kunci pintunya namun kemudian diurungkannya membuka pintu itu. Tiara sendu menatap pintu yang menghalangi dirinya dengan Levi saat itu. Pintu itu bagai menyadarkan dirinya bahwa dirinya tak sesuci dulu lagi,, Tiara merasa kotor.
"Ra,,, Kenapa tidak jadi buka pintu?? Aku masih di sini menunggumu membukanya." ucap Levi lagi.
Tiara merapatkan wajahnya di pintu itu. Tangannya pun menempel di pintu itu bagai ingin membelai wajah Levi secara langsung namun dia tak bisa.
"Ra,,, Bicaralah,,, Aku rindu suaramu." bujuk Levi lagi.
Tiara meneteskan bulir bulir bening dari kedua kelopak matanya. Tiara sendiri heran entah masih ada berapa banyak lagi stok airmata yang dia punya. Beberapa hari ini dia terus menangis tapi anehnya airmatanya bagai tak pernah habis terkuras.
Tiara sesengukan di balik pintu itu dan Levi bisa mendengarnya. Levi tau Tiara ada di balik pintu itu dan ragu bertemu dengannya.
"Tidak apa apa kalau kamu belum mau buka pintu. Tapi aku tidak akan kemana mana. Aku akan tetap menunggumu di sini." kata Levi.
"Kenapa Levi,,,???" akhirnya Tiara bersuara dan bertanya meski pertanyaannya tidak lengkap dan arahnya kemana.
__ADS_1
"Karena kamu berharga bagiku,,," jawab Levi dengan mantap.
Airmata Tiara pun jatuh berderai lagi.
"Jangan Levi,,, Aku tidak pantas untukmu. Kamu pemuda yang baik dan aku,,, Aku,,, Aku hanya sampah,,,huhuhuhu,,," jawab Tiara dari dalam.
"Hey,,, Kenapa bicara begitu?? Meskipun benar kamu itu sampah,,, Bahkan sampah pun kalau didaur ulang masih bisa jadi barang berharga bukan?? Kamu yang selalu memberiku segala motivasi baik selama ini dan aku tak ingin karena kejadian ini kamu menghilangkan semua aura positifmu Ra,,," kata Levi.
"Aku rindu Tiara yang selalu ceria,,, yang selalu membuatku tersenyum. Jangan kamu usir Tiaraku yang dulu,,,Kembalikan Tiaraku,,,Aku butuh kamu." Levi sangat sedih dan merasa kehilangan jiwa Tiara yang selalu dikenalnya dengan segala keceriaannya.
"Levi,,, Aku tidak bisa bertemu denganmu. Aku malu. Aku kotor. Aku tidak suci lagi,,," Tiara mengatakannya dengan perasaan bercampur aduk.
Antara tak ingin bicara begitu karena hatinya tak menginginkan untuk kehilangan Levi,,, Namun bayangan malam yang dihabiskannya dengan Bobi meski dirinya tak sepenuhnya ingat semua kejadiaannya membuat Tiara kesal dan marah pada Bobi.
"Bukan kamu atau pun aku yang berhak menilai sesuci apa dirimu Ra,,, Biarkan tuhan yang melakukannya. Bagiku kamu tetap permata hatiku. Aku tetap sahabatmu,,,Aku menyayangimu,,, dan aku pun mencintaimu dengan segala sesuatu yang kamu miliki." Levi mengucapkannya dengan sangat perlahan namun pasti.
Tiara menghapus airmatanya dan merapatkan telingan agar tak salah dengar apa yang dikatakan oleh Levi. Sudah sekian lama dirinya memendam rasa pada pemuda itu dan kini pemuda itu mengungkapkan perasaannya.
"Levi,,, Tapi aku,,," Tiara menyahut namun tak melanjutkan bicaranya saat Levi langsung bicara lagi.
"Aku ingin menikahimu Tiara,,, Menjadikanmu istriku dan ibu dari anak anakku kelak." Levi tegas mengatakan.
"Levi,,," Suara Tiara hampir tenggelam dalam tenggorokannya sendiri.
"Jika kamu menerimaku,,, Bukalah pintu ini dan biarkan aku melihat senyummu,,, Dan jika tidak kamu buka juga,,,Maka aku akan tetap menunggumu di sini." ucap Levi kemudian.
Darren yang menunggu dan duduk di ruang tengah rumah pak Herman bersama pak Herman serta bu Mila serta merta menoleh pada Levi. Begitu juga Rayya dan Bimo yang turut serta duduk di sana. Semuanya seakan tak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.
Namun Tak seperti orang tua Tiara yang saling pandang dengan wajah terkejutnya,,, Darren malah tersenyum bangga.
__ADS_1
Darren teringat masa saat dia jatuh cinta pada Chaira. Masa di mana dia bisa berbuat hal aneh tanpa disadarinya,,
"Lihat putra kita bidadariku,,, Makin dewasa dia makin mirip denganku bukan? Sekalinya jatuh cinta dia akan langsung menunjukkan sikapnya. Aku hanya berharap kelak dia tak sepertiku,,, Dan aku bertanggung jawab untuk membimbingnya agat tak sepertiku." Ucapnya sendu mengingat hal buruk yang dilakukannya dulu.
"Dare,,, Apa putramu tidak sebaiknya kamu peringatkan sebelum bicara begitu?? Aku takut Tiara nantinya malah merasa kecewa setelah tau bahwa yang diucapkan Levi hanya sekedar bujukan saja." pak Herman menyadarkan Darren dari lamunannya.
"Bang Bim,,, Apa yang dikatakan om ini benar kan,,, Kak Levi apa gak mikir nanti ke depannya gimana,,," bisik Rayya pada Bimo yang duduk mepet di sebelahnya.
Maklum kursi di ruangan itu bukanlah sofa besar atau pun panjang seperti di rumah Darren yang megah. Jadi mau tidak mau mereka duduknya harus saling berdekatan.
"Aya,, Husstt,,, Bang Bim percaya abangmu itu gak lahi gegar otak kok. Dia pasti tau apa yang dikatakannya." sahut Bimo ikut berbisik.
Rayya kesal dijawab dengan candaan begitu lalu mencubit pinggang Bimo yang mengaduh tertahan setelahnya.
"Benar kata suami saya pak Darren,,,Lebih baik tegur Levi. Jangan berikan Tiara harapan kosong kalau hanya ingin meminta Tiara keluar kamar. Ucapan Levi sudah berlebihan saya rasa. Dia hanya sedang terbawa suasana saja saya rasa." bu Mila ikut bicara.
Klek,,,
Darren hendak menjawab saat semua pandangan mata beralih ke pintu kamar Tiara.
"Tiara,,,," semua menyebut nama itu dan merasa miris melihat Tiara yang keluar dengan rambut acak acakan, wajah sembab karena terlalu banyak menangis,, kantung mata dan warna hitam di area bawah matanya membuat penampilannya makin mengenaskan.
Tanpa pikir panjang dan menunggu lama Levi langsung memeluk tubuh Tiara yang terasa makin kurus itu. Maklum beberapa hari ini tak sesuap nasi pun masuk ke dalam tubuhnya. Ditambah dengan kacau balaunya suasana hatinya tentu saja memakan banyak berat badannya.
"Syukurlah kamu akhirnya mau keluar dan menemuiku. Aku anggap ini adalah jawaban setujumu atas penyataanki tadi. Terima kasih Ra,,, Aku sayang kamu Ra,,," bisik Levi.
Tiara tak menjawab dan merasa sesak karena Levi memeluknya sangat erat. Kondisinya yang masih lemah membuat dirinya makin merasa sesak. Dan detik kemudian Tiara sudah tak merasakan tubuhnya lagi.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹