
Chaira bangun dan merasa lebih baik. Matanya tak lagi sembab. Dia beruntung karena kehamilannya kali ini benar benar tidak mengganggu aktifitasnya sehari hari.
Hari ini pun dia tak ingin lagi menjalani harinya dengan menyertakan sakit hati dan kebencian. Dia tak ingin membuat bayinya juga merasakan itu.
"Bagaimana pun juga kamu tak boleh membenci ayah ya nak" Chaira bicara pada bayi di perutnya
Dibereskannya pecahan piring dan nasi serta lauk pauk yang semalam berserakan di lantai. Dia melakukannya dengan hati hati agar tak terkena pecahan piring. Setelah itu dia segera mandi.
Selesai mandi dia turun. Rumah sepi karena semua masih di rumah sakit. Chaira memutuskan untuk memasak saja hari ini dan membawakannya untuk mereka.
"Mereka pasti tak sempat untuk memikirkan makanan" pikirnya
Segera dia menyibukkan dirinya di dapur. Berkutat dengan alat alat dapur membuatnya melupakan sejenak semua luka di hatinya.
"Selesai juga semuanya" ucap Chaira sembari mengusap keringat di dahinya
Dia segera menata semua makanan itu. Lalu dia mengambil ponselnya.
"Bisakah kamu memberitahuku dimana Mike dirawat? Aku ingin menjenguknya" tulis Chaira di pesan ponselnya
Tak lama menunggu,,, Dia segera bersiap menuju alamat rumah sakit yang ku berikan melalui balasan pesan.
"Aku tak mengerti Chai,,, bukankah kamu marah? bahkan aku telah menambah kemarahanmu dengan tamparanku. Tapi kenapa kamu masih mau menjenguk Mike? Aku sungguh tak bisa menebak isi hatimu" batinku sembari termenung setelah memberitahu Chaira alamat rumah sakit ini
"Ada apa nak?" mama menegurku
"Chaira ma,,, dia ingin menjenguk Mike" lirihku
"Ya baguslah kalau begitu nak,,, seperti yang kita tau selama ini,,, Chaira itu sangat baik. Mama tidak heran jika dia berlaku seperti ini." tukas mama
"ya mama benar,,, mungkin dia sudah bisa menerima semuanya" lirihku
"Dia memang istri terbaik,,, bidadari terbaik yang sudah ku sakiti" batinku
"Assalamualaikum,,, Bagaimana keadaan Mike?" Chaira datang dan langsung menanyakan Mike
"Kamu,,, " Febby terkejut melihat kedatangannya
"iya Feb,, aku datang ingin menjenguk Mike dan sekedar membawakan makan siang untuk kalian. Ku pikir kalian pasti tak sempat memikirkan makan" sahut Chaira menjelaskan maksud kedatangannya
"Terima kasih nak,,, Ayo duduk dulu. Febby bawa makanan yang dibawa Chaira ini kesana ya" mama menyuruh Febby
Febby yang masih kesal dengan kedatangan Chaira segera membawa makanan itu kesisi lain ruangan ini. Darren sengaja meminta Mike dirawat di ruang VVIP yang memiliki cukup banyak ruang.
"Sialan,,, wanita tua itu berani menyuruhku!!! Kalau saja sedang tak ingin bermanis manis sudah ku tolak mentah mentah. Dan Chaira,,, dia pasti senang mendapat perhatian mama lagi" batin Febby kesal
__ADS_1
Sejenak dia memikirkan satu ide gila.
"Yaaa,,, aku harus melakukannya." batinnya
Febby kembali bergabung di ruangan utama.
"Ma,,, Febby keluar dulu ya. Ada barang yang lupa Febby beli" pamit Febby
"Perlu ku antar?" tanyaku
"Tidak usah,,, aku bisa sendiri" Febby menolak
Segera dia pergi meninggalkan kami dan menuju ke sebuah tempat untuk membeli sesuatu yang dia perlukan untuk menjalankan ide liciknya.
"Rasakan kamu Chai,,, " Batin Febby setelah mendapatkan barang yang dia butuhkan.
Aku terus memperhatikan Chaira yang begitu tulus membantu mama mengelap badan Mike. Dokter yang baru datang segera memberikan hasil cek laboratorium Mike.
"Dok bagaimana hasilnya?" Febby yang baru muncul langsunh bertanya saat melihat dokter
"Mohon maaf pak,, bu,,, kami sudah melakukan tes tidak hanya sekali untuk memastikan. Namun hasil yang kami dapatkan tetap sama. Jadi dengan berat hati kami harus menyampaikan bahwa putra bapak dan ibu mengidap penyakit Leukimia stadium awal" Dokter sangat berhati hati menyampaikannya.
Mama langsung memeluk Mike yang sama sekali tak mengerti apa yang kami bicarakan.
"Grandma,,, why you cry?" tanyanya polos pada mama yang menangis.
"No sweetheart,,, Grandma's eyes just itchi" mama berbohong.
"aku tak boleh lagi menangis didepannya. Mike masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini" batin mama
Tak ingin membuat Mike merasa tak nyaman,, mama segera mengajaknya melihat dan membuka buka buku gambar yang sudah dibeli Febby untuk Mike. Si kecil tampak tertarik dan terus membuka buka semua halamannya.
Febby diam mematung dan tampak sedang berpikir. Dia tidak hanya mencerna tiap kata yang diucapkan dokter tadi namun dia memikirkan hal lain juga.
"Aku tidak boleh tersingkir lagi. Dengan sakitnya Mike ini aku harus bisa segera mengambil simpati Darren. Aku tidak boleh membiarkan Chaira mengacau. Aku harus menyingkirkannya" batin Febby
"Apa kamu baik baik saja Feb?" Suara Chaira menyadarkannya
"Lepaskan aku,,, jangan pura pura bersimpati. Aku tau hanya ingin mendapatkan perhatian Darren dan mama" bisik Febby
"Tidak Feb,, sungguh. Aku tidak bermaksud seperti itu" kata Chaira
"sudahlah,, diam. aku tidak ingin berdebat denganmu saat ini!!" ketusnya
Aku yang menyelesaikan pembicaraanku dengan dokter tak terlalu mendengar atau memperhatikan keduanya. Aku antusias membahas apa saja yang bisa kamu lakukan untuk Mike. Dokter mengatakan Mike harus rutin cuci darah dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
__ADS_1
Masalah biaya tidak menjadi hal berat bagiku. Yang jelas aku ingin Mike ku bisa sembuh. Itu saja yang ku pikirkan. Aku segera mengucapkan terima kasih pada dokter setelah cukup lama kami berbincang.
"Kalian makanlah dulu,,, jangan sampai kalian jatuh sakit" Chaira memberanikan diri bicara
"Ya,, kamu benar. Kita juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan kita." jawabku membenarkan
"Biar aku siapkan makanannya ya sayang" kata Chaira
Aku mengangguk mengiyakan.
"eeehh Chai,,, biar aku saja. Kamu sudah memasak tadi jadi biarkan aku membantumu menyiapkan. Kamu duduk saja disini." Febby mencegah Chaira yang berjalan menuju ruang sebelah dan membimbingnya ke sofa.
"Tidak apa apa Febby,, biar aku saja" Chaira merasa tak enak
"Biar aku saja Chai,,," tukas Febby
"Tapi Feb,,, "
"Apa kalian berdua hanya akan sibuk berebut siapa yang harus menyiapkan makanku?? Sudahlah Chaira,, biarkan saja Febby yang menyiapkannya. Dia juga perlu belajar untuk melayaniku" tukasku memotong
"Baiklah kalau begitu" Chaira menurutiku dan duduk di sofa kembali
"Aku segera kembali membawa makananmu Dare" kata Febby senang karena Darren memilihnya
Febby segera menuju ruangan sebelah. Tiba disana dia mengintip dan memastikan tak ada yang melihat melihat apa yang akan dilakukannya.
Febby mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dituangkannya dalam makanan itu.
"Rasakan kamu Chai,,," batinnya senang
Segera dia membawa makanan itu untukku dan mama juga. Kami yang memang sudah lapar langsung menyantap makanan itu dengan lahap.
Setengah jam kemudian aku merasa perutku mual. Aku segera berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutku. Tak berselang lama mama juga mengalami hal sama. Kami terus merasa kesakitan di area perut dan leher kami.
Mama yang tak kuat mendadak pingsan. Chaira yang bingung berusaha menolong mama. Febby memilih menolongku yang masih bisa berdiri. Dia memapahku dan membawaku duduk di sofa.
"Panggilkan dokter Feb" teriak Chaira panik
"Ya ya,,," Febby segera keluar.
"Maaf Dare,,, aku terpaksa mengorbankanmu dan mama" batinnya.
Dokter dan suster segera memindahkan mama dan aku ke ruang tindakan. Setelah memeriksa kami dokter bertanya apa yang kami makan sebelumnya. Dokter juga meminta sampel makanan itu.
Chaira dengan polos memberikan sisa makanan yang dibawanya tadi. Febby tersenyum licik melihat dirinya yang begitu polos dan tak menyangka sesuatu yang buruk akan menimpanya.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaaa
Terima kasih 😍