BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Aku masih tak rela


__ADS_3

Aku memacu mobilku meninggalkan rumah Chaira dengan hati yang hancur luluh. Tapi aku tak boleh hancur. Aku harus tetap semangat untuk kedua anakku.


Walau masih sulit menerima penolakannya namun aku lega karena setidaknya Chaira membebaskanku menemui anak kami.


Aku akan belajar melepas Chaira,,, melepas agar dia mendapatkan kebahagiaannya. Dia wanita baik,, Dia berhak untuk bahagia.


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Dare,,, Lu harus bisa lapang dada. Jadikan ini pelajaran berharga buat lu. Jangan malah terpuruk karena ini. Lu harus tetap bangkit. Kita berdua akan selalu mendukung lu" ucap Dion siang itu.


Kedua sahabatku mengunjungiku. Kedatangan mereka cukup membuat beban pikiran dan hatiku berkurang saat aku menceritakan semuanya pada mereka.


"Lu pasti bisa bro!!!" Angga menepuk pundakku dan mengguncangnya beberapa kali.


"Terima kasih,,," lirihku.


"Heyyy jangan loyo gitu,,, Inget Levi sama Putri butuh biaya banyak untuk tumbuh kembangnya. Ayo kencangkan ikat pinggang lu,,, kerja keras!!! Rock n Roll bro!!!" Dion terus menyemangati.


"Jangan sampai ayahnya kalah sama abinya. Wake up bro,,, masak abinya memiliki banyak perusahaan dimana mana terus ayahnya cuma mellow gini. Semangat!!!" timpal Angga.


Mereka benar.


Aku tak boleh kalah dengan Ray. Bukan karena gengsi atau ingin unjuk diri. Tapi aku menganggap ini adalah cambuk untukku membuka kembali pintu kesuksesan yang pernah ku dapat dulu.


Aku bangkit,,,


Aku tak ingin terpuruk,,


Akan ku buktikan pada Chaira bahwa aku benar benar mencintainya,,,


Aku akan menjadi ayah yang baik,,,


Aku akan lebih mendekatkan diriku pada tuhan,,,


Aku harus berubah!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Apa harus semewah ini ma pestanya? Chaira malu ma,,," kata Chaira disela kumpul keluarga kami di rumah Chaira.


Mama sempat memberitahu kami seperti apa konsep pernikahan kami nantinya. Mama mengatakan bahwa mama ingin memakai salah satu hotel milik mendiang papa dulu.


"Lalu kamu maunya seperti apa sayang? kalau kamu keberatan dengan pesta mewah mama tidak akan menurut saja. Kan kalian yang punya acara" sahut mama dengan sabar.


"Chaira benar mama,,, bukan masalah kita mampu atau tidak mampu menggelar pesta mewah,, tapi yang harus kita utamakan adalah kesakralan akad nikahnya. Ray pribadi juga tak menginginkan adanya resepsi. Cukup acara inti saja ma,,," kata Ray


"Ray sudah tak tahan ingin segera memilikinya jadi mama jangan bikin Ray nunggu acara resepsi lagiiiii" bisik Ray pada mamanya.


"Ihh dasar nakal kamu ih,,, " Mama yang dibisiki Ray geli mendengarnya.


Chaira yang mendengar perkataan Ray menjadi malu.


"Bikin malu saja kamu ini Ray,,, " sungut Chaira.


Ray tertawa saja.


"Sudah sudah,, jadi bagaimana ini,, kalian mau pernikahan kalian diadakan dimana?" tanya mama


"Masjid!!!"


Ray dan Chaira yang dengan bersamaan menjawab langsung berpandangan dan kemudian tertawa. Rupanya pikiran mereka sama.


"Wahhh sehati rupanyaaaaa" mama meledek mereka.


"Sudah lama sahabatan kalau masih gak sehati sepikiran keterlaluan namanya ma,,, " kata Ray


Mama yang sudah tak sabar ingin mereka segera menikah langsung serius mengajak mereka membahas masjid mana yang akan kami pilih.

__ADS_1


Mama juga mulai membuat daftar undangan. Tidak banyak. Hanya beberapa keluarga dekat saja. Ray dan Chaira pun hanya mengundang beberapa teman dekat saja.


"Apa kamu tidak ingin mengundang Darren Chai?" tanya Ray.


"Apa kamu dan mama tidak keberatan dan merasa terganggu jika aku mengundangnya?" Chaira balik bertanya.


"Tentu saja tidak sayang,,, Darren itu juga bagian dari hidupmu. Dia ayah anak anak kita. Aku juga ingin mendapat restu darinya" kata Ray


"Ray betul nak,,, Apalah artinya bertemu sekali saat acara pernikahan kalian? Toh juga nantinya setelah kalian menikah dan tinggal disini sama mama,, kalian dan mama akan sering menemuinya. Dia tentu datang menjenguk anaknya kan?,,, undang saja dia nak,, sekalian mama juga ingin kenal" Mama menambahkan.


"Terima kasih Ray,, terima kasih mama. Chaira lega mendengarnya." ucap Chaira.


Setelah berunding cukup lama akhirnya mereka sepakat melangsungkan pernikahan mereka sepekan lagi. Waktu yang tidak banyak itu mereka pergunakan untuk menyiapkan dan mulai menyebarkan undangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Chaira tersenyum membaca nama kami yang terukir di bagian depan undangan pernikahan kami.


"Apa kamu suka desainnya?" tanya Ray.


"Iya Ray,, bagus sekali" jawabnya


Chaira terlihat memikirkan sesuatu.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ray


Chaira menggeleng perlahan. Dia hanya sedang berpikir siapa yang sebaiknya menyampaikan undangan itu pada Darren.


"Biar aku sendiri yang memberikan undangan ini padanya Ray,,, Hari ini dia pasti datang menjenguk anak anak" kata Chaira.


"Iya sayang,, aku sama sekali tak keberatan" ucap Ray


"Kenapa rasanya aneh tiap kali kamu memanggilku sayang?" Chaira bertanya dengan nada bercanda


"Kalau begitu tak akan lagi ku panggil sayang,,," sahut Ray


"Eehhhmmmm,,, apa yaaaa,,,, eeehhmmmm,,, Bunda saja lah biar gak kalah sama anak anak,,, ya bunda yaaaa,,, boleh yaaaa,,, " Ray merayu.


"Boleh,, tapi tidak dari sekarang!!!" ucap Chaira.


"Lahh terus kapan dong bolehnya??" tanya Ray


"Kalau kamu sudah lancar menyebut namaku di depan penghulu" kata Chaira


"Siapppp bossss!!!!" Ray membuat sikap hormat dan tegak.


Chaira tertawa dibuatnya.


Tawa yang lepas,,,


Tawa yang hampir hilang dari hidupnya,,


Bahkan selama bersamaku aku tak pernah mendengarnya tertawa lepas seperti itu,,,


Mungkin Ray memang satu satunya pria yang bisa membuat Chaira menjadi dirinya sendiri. Bersama Ray Chaira merasa bebas lepas.


Aku merasa kalah sekali lagi pada Ray,,,


Aku yang sedari tadi sudah berdiri di depan pintu rumah Chaira yang memang terbuka mengurungkan niatku masuk melihat kebahagiaan mereka.


"Dare,,,"


Aku hendak balik dan melangkah keluar saat Chaira memanggilku. Aku segera mengedipkan mataku berkali kali agar airmata yang mulai menggenang bisa hilang.


"Sudah lama kamu disini? Kenapa tidak masuk? Ray juga ada di dalam kok. Ayo sekalian aku kenalkan pada mama" ajak Chaira ramah.


Aku mengangguk saja.

__ADS_1


"Kamu terlihat luwes tanpa beban sayang,,, kamu bahkan telah memanggil mama Ray juga dengan sebutan mama. Kamu sungguh sudah mantap memilih Ray menjadi pendamping hidupmu" batinku sembari mengikuti langkahnya.


"Ray,, mama,, ada Darren disini." Chaira memanggil mereka.


Ray muncul kemudian dengan menggendong Levi. Hatiku terasa perih saat melihat anakku begitu akrab dengannya. Bahkan terasa lebih akrab dan manja ketimbang saat denganku.


"Halo Dare,,, apa kabar?" sapa Ray.


"Seperti yang kau lihat,,, masih segar bugar" jawabku walau hatiku tak sesegar dan sebugar tubuhku.


"Eh ada ayah tuh nak,, ayo Levi kasih salam dulu sama ayah" titah Ray pada Levi.


Ray menurunkan Levi dari gendongannya dan membiarkan anakku yang sudah lancar berjalan itu menghampiriku dan mengulurkan tangan mungilnya untuk menyalamiku.


Ku jongkokkan tubuhku dan menyambut jagoan kecilku itu. aku peluk erat dirinya.


"Ayah kangen sayang" lirihku


"Seandainya saja kita bisa selalu bersama sama,," batinku.


Puas memeluknya aku menanyakan dimana Putri. Baru saja menyelesaikan pertanyaanku muncul wanita setangah baya yang menggendong Putri.


"Dare,, ini mamaku. Mama,,, ini Darren. Ayahnya anak anak" Ray memperkenalkan


"Halo tante,," sapaku


"Halo nak,,, senang bisa bertemu denganmu langsung. Nantinya aku tak perlu terkejut dan bingung jika kamu datang menjenguk cucuku" sahut mama ringan dan tertawa kecil.


Aku memaksakan diriku untuk ikut tertawa.


"Mama,,, seandainya mama masih ada,, tentu mama akan merawat cucu mama sendiri. tak perlu dirawat oleh mama Ray,,," aku sedih mengingat mendiang mama.


"Terima kasih telah menerima mereka menjadi cucu tante" lirihku.


"Tentu saja nak,, aku dengan senang hati menerima Chaira menjadi menantuku jadi aku pun menerima semua yang dimilikinya. Termasuk anaknya dan dirimu" ucap mama


Mama menyerahkan Putri padaku agar aku puas menggendongnya.


"Kasihan kamu nak,, kamu bahkan tak sempat mengenal ibu kandungmu. Jangan takut nak,, ayah akan melindungimu." batinku sembari menciuminya.


Puas bermain dengan anak anak aku pamit undur diri.


"Aku pulang dulu Chai,, hari juga sudah menjelang malam" pamitku.


"Tunggu Dare,, " cegah Chaira yang langsung bergegas ke dalam.


"Ini untukmu"Ucap Chaira sembari menyerahkan selembar kertas tebal padaku.


Aku menerimanya.


Aku mulai membaca kata demi kata yang tertulis disitu. Hatiku kembali terasa ditusuk beribu pedang saat membaca namanya dan nama Ray tertulis disana.


" Datanglah,, kami sangat mengharap kehadiranmu untuk memberi kami restu"ucapnya


Aku mengangguk walau kepalaku terasa berat.


"Aku pasti datang" sahutku


Tak ingin Chaira melihat airmataku,, Aku segera meninggalkan rumahnya.


Sepanjang jalan aku menangis. Ku biarkan airmataku membasahi kemejaku.


"Aku masih tak rela melepasmu sayang,,, maafkan aku" lirihku


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaaa


Terima kasih 😍

__ADS_1


__ADS_2