BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 126


__ADS_3

Selamat membaca ❀️


Maaf banyak typo πŸ˜€πŸ™


❀️❀️


"Pulang sajalah ayah. Levi tidak bisa berlama lama di sini karena kantor juga butuh perhatian Levi. Ini oma opanya Birru juga sudah rindu sama cucunya." ucap Levi saat Darren menanyakan pendapatnya tentang keberadaan mereka di Paris ini.


"Iya ayah. Bukannya Tiara tidak peduli dengan urusan ayah dan Rayya di sini,,, tapi Ara rasa Birru juga kurang cocok dengan iklim di sini. Birru sering demam selama di sini." Tiara menimpali.


Jawaban keduanya itu membuat Darren manggut manggut dan mempertimbangkan keputusan terbaik apa yang akan diambilnya.


"Bagaimana denganmu nak??" pandangan Darren tertuju pada Rayya.


"Kalau ayah tidak keberatan,,, Rayya ingin tinggal dulu di sini. Rayya tidak bisa pergi begitu saja setelah apa yang menimpa om Adi. Beliau butuh dukungan orang orang terdekatnya. Termasuk Rayya." jawab Rayya.


"Masih saja kamu pedulikan orang itu?? Ayya lupa apa yang diperbuatnya??" protes Levi.


"Levi!!!" kini suara Darren meninggi membuat Levi terkejut karena baru kali ini ayahnya terdengar seperti membentaknya.


"Apa ayah pernah ajari kamu untuk dendam atau mengingat kelakuan buruk orang pada kita?? Apa ayah pernah mengajarimu untuk tidak peduli pada siapa pun walau orang itu pernah mengecewakan atau bahkan menyakiti kita?? Apa ayah pernah lupa ajari kamu untuk selalu mengambil hikmah dari setiap hal yang menimpa kita?? Ambil hikmah saja dan bukan menyimpan penyakit di hati." tanya Darren kemudian.


"Maafkan Levi ayah. Levi salah sudah bicara begitu pada Rayya." Levi menyadari kesalahannya.


Begitulah anak anak Darren,,, tidak perlu banyak bicara dan cukup dengan pertanyaan seperti itu saja maka mereka sudah bisa tau di mana letak kesalahannya.


"Ayya,,, maafin kakak ya. Kakak gak seharusnya bicara begitu sama Ayya. Bagaimana pun juga kakak gak boleh lupa bahwa Ayya sangat bersuka cita dengan pertemuan kalian ini. Sekali lagi kakak minta maaf ya,,," Levi benar benar merasa menyesal sudah bicara seperti tadi.


"Tidak apa apa kak. Ayya ngerti kok." Rayya tidak mengambil hati ucapan Levi tadi.


"Bagaimana ayah?? Apa ayah ijinkan Rayya tinggal di sini dulu??" sekali lagi Rayya meminta ijin Darren.


"Tentu ayah ijinkan nak. Ayah doakan semoga Allah melembutkan hati om Adi mu ya nak sehingga dia bisa menerima kehadiranmu."


"Aamiin ya Rabb,,,," Rayya mengusap wajahnya dengan sepuluh jarinya.

__ADS_1


"Lo sendiri gimana Dare?? Lo harus ingat ada jadwal check up minggu depan. Jadi sebaiknya lo pulang juga." Dion menyela perbincangan keluarga itu.


"Sebenarnya gue gak tega ninggalin Rayya sendirian di sini menghadapi urusan Adi." lirih Darren.


"Jangan khawatir ayah. Ayya gak sendirian kok di sini. Bimo akan tinggal di sini juga. Bimo akan selalu dampingi Ayya." calon suami Rayya pun maju pasang badan.


"Iya ayah. Rayya gak apa apa. Juga sudah ada bang Bimo. Kesehatan ayah juga penting. Semuanya yang Rayya capai akan terasa percuma kalau akhirnya Rayya harus menyaksikan ayah sakit." Rayya meyakinkan.


"Baiklah,,,Kalau begitu ayah percayakan Rayya sama kamu ya Bim." ucapan Darren langsung disambut dengan anggukan pasti dari Bimo.


"Rayya,,,Bimo,,, walau tidak ada ayah di sini mengawasi,,, tapi kalian tetap harus jaga diri. Ditemani Bimo bisa jadi timbul fitnah. Kalian sudah sama sama dewasa dan ayah percaya kalian tau batasan."


"Baik ayah." keduanya menjawab serempak.


"Baiklah kalian boleh istirahat kalau begitu. Tapi Levi,,,pesankan dulu tiket pulang untuk kita ya. Ambil saja penerbangan paling awal agar Birru bisa segera ketemu oma opanya." titah Darren.


"Baik ayah." Levi mengangguk.


Semuanya pun kembali ke kamar hotel masing masing dan beristirahat. Tinggal Darren dan Dion saja yang masih duduk di kamar Darren.


"Gue balik ke Hawaii aja langsung. Mungkin sama kayak lo,,, gue akan ambil penerbangan pagi. Urusan di Hawaii sudah numpuk." jawab Dion sambil menyeruput kopi yang baru saja dibawakan oleh room service.


"Sendirian aja balik ke Hawaiinya?? Atau sama Karin??"


Bruuuaaassshhhh,,,


Kopi yang diminum Dion menyembur saat dia tersedak akibat pertanyaan Darren itu.


"Santai bro,,, gak usah nyembur gitu lah. Lo bukan naga kan??" Darren menahan tawa melihat Dion sibuk mengelap kemejanya yang terkena kopi.


"Sialan lo. Gak ada pertanyaan lain apa??" sungut Dion.


"Lah emang ada yang salah dari pertanyaan gue??" Darren berlagak pilon.


"Ya kali gue bawa Karin?? Ada urusan apaan coba??" Dion masih kesal.

__ADS_1


"Ya dalam rangka meresmikan status Karin sebagai nyonya Dion lah. Apa lagi??? Makin cepat lo bawa Karin ke Hawaii,,, Om dan tante makin senang loh dibawakan menantu sama anak semata wayang yang hampir dikira banci sama mereka ini." ucap Darren santai.


"Waaah keterlaluan ini sih. Masak anaknya dikira banci. Beneran mereka nyangka gue gitu bro?? Mereka sempat ngobrol sama lo ya??" Dion penasaran.


"Pernah waktu itu tante sih yang telpon gue curhatin elo. Tante bilang sebenarnya tante pingin banget cepat punya cucu tapi beliau gak enak dan gak tau mau dari mana mulai ngomongnya sama lo. Mereka itu tau lo masih gak bisa maafin diri lo perkara Hana dulu. Tapi bro,,, Hana is happy now with her family. And you,,, You have the same rights to be happy too. Bangkitlah bro,,," ucap Darren sambil menepuk bahu Dion.


"Iya gue bangkit tapi bukan berarti lo bisa terus comblangin gue sama cabe cabean juga kan???" sungut Dion.


"Yaa kalau gue sih saran gak usah deh malu ngakuin gitu,,, tuh lihat,,,tiap gue ajak bahas Karin muka lo udah lebih merah dari kepiting rebus." Darren menggoda Dion.


"Masak sih???" Dion bergegas menuju ke cermin dan melihats sendiri wajahnya yang memang memerah.


"Masih mau ngeles juga?? Masih aja ngerasa bisa bohongin gue ya?? Hmmm om Dion,,,Om Dion lupa berapa lama kita saling kenal?? Dari kecil om,,,dari masih ingusan." seru Darren.


Dion mencebik.


"Lucu gak sih kalau gue deketin Karin?? Mau gak tuh cabe sama om om gini?? Gue takut ditolak." Dion akhirnya duduk lemas di depan Darren.


"Yaahh kok udah loyo duluan sebelum perang?? Mana nih om Dion yang jago dapetin cewek dulu??" sindir Darren.


"Eh gue udah tua bro. Malu gue,,," Dion diam karena ponselnya berdering.


"Karin??? Ada apa malam malam gini telpon gue??" Dion memperlihatkan layar ponselnya pada Darren.


"Cusss,,, Sikat,,, Tembak,,, Kapan lagi??? Ingat besok udah mau ke Hawaii lho,,," Darren menyemangati.


"Halo Rin,,," Dion menjawab telpon.


"Om Dion lagi apa??" suara Karin lembut menyapa.


"Kangen kamu,,, upss,,," Dion auto menutup bibirnya diiringi cekikian Darren.


🌸🌸🌸


Terima kasih atas vote, like dan komennya ya πŸ™β€οΈ

__ADS_1


__ADS_2