BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 76


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


Mata pak Agung terbelalak membaca nama pihak korbannya.


"Pahlevi ini siapa sih,,,Ada urusan apa Bobi dengan pemuda ini? Serius hanya rebutan gadis saja? Apa tidak ada kerjaan lainnya yang lebih penting????" pak Agung geleng geleng kepala saja mengingat pergaulan anak muda jaman sekarang.


Dilanjutkannya membaca surat itu sampai huruf terakhirnya. Matanya membulat ketika membaca nama pihak pelapornya.


"Darren Narendra???" bacanya.


Wajahnya tiba tiba memucat mengingat sosok pemilik nama itu. Wajah pucat itu pun mulai dialiri keringat dingin.


"Tolong kerjasamanya pak. Biarkan kami membawa saudara Bobi ke kantor polisi." salah satu polisi menyadarkannya.


"Bbbb,,, Ba,,, baik. Tunggu sebentar ya. Saya panggilkan dulu anaknya. silahkan duduk dulu." pak Agung trgagap lalu mempersilahkan kedua polisi itu menunggu.


Dengan langkah panik bercampur emosinya,, Pak Agung pun menaiki tangga rumahnya menuju ke kamar Bobu. Dalam hatinya dia trus mengumpat akan apa yang sudah dilakukan oleh Bobi kali ini.


"Keterlaluan,,,"batinnya.


Sesampainya di muka pintu kamar Bobi,, Pak Agung pun mengetuk pintu itu dengan keras. Hal itu spontan membuat bu Maria yang berada di kamar sebelahnya langsung keluar.


"Bobiiiii,,,Keluar kamu!!!" bentak pak Agung.


"Papaaaa,,,Ada apa sih?? Sekasar itu sama anak sendiri." bu Maria tidak terima.


"Kali ini papa tidak akan biarkan anak ini mama bela terus." ucap pak Agung.


"Memangnya apalagi sih masalahnya?? Tiara tadi??? Haduuuhh papa ini,,, Herman hanya memeras paaaa,,,,.Percaya deh,,," sahut bu Maria.


"Ini bukan masalah itu. Ini lebih berat. Mama lihat itu,,," tunjuk pak Agung ke lantai bawah.


Bu Maria melongok ke bawah dan melihat dua orang polisi melihat ke arahnya. Bu Maria menarik dirinya dari pinggiran loteng dan kembali ke pak Agung yang masih terus mengetuk pintu kamar Bobi.

__ADS_1


"Itu ngapain ada polisi papa??" tanya bu Maria.


"Mama tanya saja sendiri sana biar tau ulah apalagi ya g dibuat Bobi kali ini. Bobiiii,,,Keluar kamu!!! Tanggung jawab kamu!!!" teriak pak Agung tak peduli lagi pada bu Maria yang pucat wajahnya.


"Ada apa sih papa berisik sekali,,," Bobi membuka pintu sambil menguap.


Tangannya menggaruk garuk kepala belakangnya dengan malas.


"Berisik katamu???!!! Dasar anak sialan,,,Kamu itu dapat didikan dari mana sih sampai jadi seperti ini???!!!" bentak pak Agung.


"Astaga papa ini cerewet sekali ngalah ngalahin emak emak komplek saja,,,Uuuaaahheeemmmm,,,,"Bobi kembali menguap.


Pplllaaaakkkkk,,,,


Tamparan keras dari tangan pak Agung itu menyadarkan Bobi akan keseriusan papanya saat itu.


"Aawww pa,,,Sakit." keluhnya sambil meringis memegang pipinya yang terasa panas.


"Sakit ya,,,Lalu kau pikir sesakit apa Levi yang kamu celakai itu,,,???" tanya pak Agung.


Mata Bobi membulat mendengarnya.


"Dari mana papa tau???" tanyanya panik.


Bobi diam merengut mengingat alasannya mencelakai Levi.


"Kamu tau siapa Levi itu hah????!!!!" bentak pak Agung lagi.


"Mana ku tau,,,Yang penting dia membuatku kesal."sahut Bobi sekenanya dan tak mau disalahkan terus.


"Anak sialan!!! Kamu mempertaruhkan seluruh karir papa yang susah payah papa bangun di atas pinjaman modal dari perusahaan ayahnya Levi,,,Pak Darren Narendra ayahnya Levi itu adalah pemberi modal terbanyak di perusahaan papa,, Dan kamu,,,Kamu dengan seenaknya mencelakai putranya,,,,!!!!" pak Agung kesal dan berapi api mengingat konsekuensi yang bisa didapatkannya jika sampai Darren murka.


"Apa??? Anaknya pak Darren???" tanya bu Maria yang sudah kembali ke atas.


"Iyaa,,,Bobi anak kita mencelakai anaknya bos papa. Orang yang sudah membuat kita kaya dengan modal pinjamannya. Dan sampai sekarang pun masih banyak memberikan modal dan pinjaman pada perusahaan papa. Bisa mama bayangkan apa resiko yang akan papa dan kita semua terima setelah ini????!!!!" pak Agung tersengal sengal.


Detik kemudian beliau mundur mundur dan memegangi dada kirinya yang tiba tiba terasa sakit. Pak Agung pun oleng dan terjatuh di lantai dengan posisi duduk.


"Paaa,,,Jantung papa kambuh lagi,,,Bobi cari bantuan dong.Panggil sopir dan cepat bawa papa ke rumah sakit." titah bu Maria pada Bobi yang masih termangu.

__ADS_1


"Kamu,,, kamu juga perkosa anaknya Her,,, Herman,,, Anak ku,,,ku,,,rang ajar kamu Bbb,,, Bobiiii,,," pak Agung mengomel sambil menahan sakitnya.


"Enak saja,,,Aku tidak memperkosanya!!!" kilah Bobi.


"Sii,,siiiiiaaalaaannn,,,Anak sialaaann kamu,,,!!!" umpat pak Agung.


"Kamu,,, harus,,, ttt,, tanggung,, jawab!!!" lanjutnya.


"Gak!!! Bobi gak mau!! Gadis culun gak guna itu hanya buat Bobi malu sama teman teman Bobi. Lagipula apa sih yang buat papa maksa banget buat Bobi nikah sama dia?? Pacar Bobi jauh lebih menyenangkan daripada dia pa,,,!!!" omel Bobi.


"Kkkkk,,,Kaamuuu,,,," pak Agung tak sadarkan diri.


"Papaa,,, Paaa,,, bangun dong. Ah kamu juga Bobi,,, Ngelawan saja sudah tau papa begini." omel bu Maria.


Sopir dan security yang dipanggil pun datang dan membopong tubuh pak Agung masuk ke dalam mobil.Bu maria bergegas menyusul disertai Bobi.


"Maaf saudara Bobi,, Anda harus ikut kami ke kantor polisi." cegah salah satu polisi yang keberadaaannya hampir dilupakan oleh bu Maria saking paniknya.


"Oh astaga,,,Apa tidak bisa ditunda dulu pak?? Ini suami saya sedang sakit." pinta bu Maria.


"Maaf bu tidak bisa. Ayo saudara Bobi,,, ikut kami." kata polisi.


"Tidak!!! Aku gak salah,,,!!!" tolak Bobi.


"Mohon jangan melawan. Bekerjasamalah dan jangan paksa kami membawa anda secara paksa." tukas polisi.


"Bobi,,, ikut saja dulu ya. Papa biar mama yang urus. Nanti mama sekaligus siapkan pengacara untukmu biar kamu bisa bebas secepatnya ya sayang. Mama gak rela kamu mendekam di penjara. Kamu kan anak mama satu satunya." kata bu Maria.


"Janji ya ma,, Bobi gak mau lama lama di sana." kata Bobi.


"Iya sayang. Pasti,,," bu Maria memeluk anak kesayangannya itu dengan erat lalu melepaskannya untuk di bawa ke kantor polisi.


Bu Maria pun masuk ke dalam mobilnya dan menyusul mobil pak Agung yang sudah lebih dulu berangkat ke rumah sakit dengan sopir pribadinya.


Di jalan bu Maria menyempatkan diri menelpon pengacara keluarganya. Pengacara yang selama ini selalu membantunya tiap kali Bobi berulah. Jika biasanya pengacara itu selalu mampu membuat Bobi bebas dengan cepat,, Maka kali ini pun akan begitu.


"Pokoknya saya mau anak saya bisa bebas. Namanya harus bersih. Mengerti kan anda??" kata bu Maria pada pengacaranya.


"Saya pelajari dulu semuanya bu." sahut pengacara.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌹


__ADS_2