BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Izinkan aku pergi


__ADS_3

Aku segera kembali ke Jakarta. Aku tak peduli lagi dengan Febby yang tak kunjung ku temukan. Aku sudah tak ingin mencarinya lagi.


Aku sudah menceraikan Chaira dan aku tak peduli dengan Febby.


" Maaf Ray,,, bisakah kita atur ulang lagi pertemuan kita?"tukasku pada Ray melalui sambungan telpon pribadiku.


Ray yang sebelumnya telah setuju mengatur ulang dan telah menemukan jadwal yang cocok harus kembali mengatur ulang jadwal mereka.


"Kenapa lagi Dare,,, urusan Chaira lagi?" tanyanya


"Tidak,, aku hanya belum bisa fokus saja" sahutku santai tanpa menyadari untuk seorang Ray jawaban seperti itu sangat berpengaruh.


"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Ray menyelidik


Ray memang sengaja tak pernah menghubungi Chaira setelah bilang bahwa dirinya sibuk. Betapa pun besar rindunya pada Levi namun dia menahan diri.


"Siapa?" tanyaku


"Bukannya kau ingin,,,, " Ray belum selesai bicara


"Ohhh wanita munafik itu,,, " tukasku yang langsung emosi mengingat yang kulihat kemarin


"Munafik? apa maksudmu?" suara Ray meninggi karena jujur dia tak terima Chaira disebut dengan sebutan seperti itu.


"Ohhh,,, Maaf Ray,, aku lupa kalau kau pernah jadi sahabatnya. Tapi kau perlu tau sahabatmu itu telah mengkhianatiku. Ternyata selama ini dia meninggalkanku karena dia sudah memiliki pria lain bahkan anak mereka sudah 2" kataku


"Darimana kau tau?" selidik Ray


"Aku menemuinya di vila tempat tinggalnya." jawabku


Aku menarik napas dalam dan berusaha mengusir rasa pedih yang tiba tiba datang. Entah kenapa aku sedih mengingat semua hal manis tentang Chaira.


Namun aku segera mengusir perasaan itu. Wanita itu tak perlu mendapatkan rasa pedihku.


"Aku sudah menceraikannya Ray" tukasku


"Apa??? Bagaimana bisa kau melakukannya? Bukannya kau ingin menemuinya karena kau ingin membawanya kembali padamu?" Ray penasaran


"Yaa,, awalnya begitu. Tapi saat ku lihat dia sangat menikmati perannya menjadi ibu dari dua anaknya yang hasil berselingkuh dariku itu aku tak ingin lagi mempertahankannya" sahutku


"Apa kau sudah bertanya sebelumnya padanya siapa anak anak itu?" Ray ingin mengingatkan yang seharusnya ku lakukan


"Tidak perlu lagi Ray,,," jawabku mantap dan menutup telponku setelah memberitahu Ray kapan kami bisa bicarakan lagi bisnis kami.


Ray menghela napasnya. Dalam hati dia menangis. Menangisi nasib sahabatnya.


"Buruk sekali kenyataan yang harus kau hadapi Chai,,," ratapnya dalam hati


"Haruskah aku menemui sekarang atau lebih baik ku tahan dulu agar kau tenang dulu. Tapi apa pantas aku disebut sahabat jika. aku tak ada disisimu saat kau sedang terpuruk begini Chai" Ray tak tau harus bagaimana.


"Kau keterlaluan Darren. Kau tak mau bertanya dan mendengar dulu penjelasan darinya. Kau langsung mengambil keputusan sepihak dan itu sangat menyakitinya tentunya" gerutuku


"Dan kau juga rekan kerja yang baik. Kau campur adukkan urusan pekerjaan dan masalah pribadimu. Aku tak suka bekerjasama dengan orang sepertimu" batin Ray


"Aku akan batalkan proyek besar kita,, bukan karena aku tak terima akan perlakuanmu ke Chaira saja tapi juga karena kinerja kerjamu yang buruk" Ray bertekad akan memutus kontrak kerja di saat yang tepat.

__ADS_1


"Aku tak mau lagi kau atur atur aku urusan jadwal" batinnya lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Dion dan Angga tak bisa menghentikan niatku menceraikan Chaira. Mereka tau percuma banyak bicara padaku. Mereka bahkan membantuku mengurus gugatan perceraianku kepada Chaira.


"Sebaiknya buat saja agar aku tak perlu bertemu dengannya. Aku sudah jijik kepadanya" tukasku pada pengacaraku.


"Baik tuan" pengacara yang sudah ku bayar mahal itu menyanggupi untuk memotong prosedur dan langsung saja mengirimkan putusan cerai pada Chaira.


Aku bahkan hanya sedikit saja memberinya harta. Aku tak rela hartaku dinikmatinya dengan pria lusuhnya itu. Lagipula melihat dari vila megahnya aku yakin Chaira masih punya banyak uang untuk menghidupi prianya itu.


Aku benar benar yakin dengan keputusanku ini.


"Ini hukuman bagimu yang berani berselingkuh dariku!!!" batinku geram


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari kemudian,,,


"Permisi bu" pak Wayan menghampiri Chaira yang tengah duduk di taman.


"Ada apa pak Wayan?" tanya Chaira


"Ada surat untuk ibu" jawabnya


"Terima kasih pak" Chaira menerima surat itu.


"Permisi bu" Pak Wayan pamit dan kembali ke pos jaga.


Chaira membaca amplop surat tersebut.Tertulis dengan huruf kapital tebal bacaan Pengadilan Agama. Chaira menghela napasnya. Sepertinya dia sudah tau isi surat tersebut.


"Bismillah" ucapnya sembari membuka amplop besar itu.


Chaira diam melihat isinya. Hatinya bagai disayat sembilu. Darren ternyata langsung mengirimkan akte perceraiannya tanpa adanya sidang atau pun mediasi.


Memang,,, untuk beberapa orang berdompet tebal hal semacam ini bisa diatur. Namun Chaira kecewa karena itu artinya Darren sama sekali tak ingin mendengar penjelasannya.


Darren sudah tak menganggapnya. Bahkan tak ingin tau siapa kedua anak yang bersama Chaira.


Tidak ada airmata di mata Chaira. Bahkan dibalik cadarnya tersungging sebuah senyuman.


"Terima kasih ya Rabb,,, mungkin ini caraMU menunjukkan pada hamba bahwa dia bukan jodoh terbaik untuk hamba. Terima kasih juga karena Engkau tak membiarkan hamba menjadi salah satu hambaMU yang melakukan perbuatan yang tidak Engkau sukai. Hamba ikhlas ya Rabb" ucapnya.


Chaira bersyukur karena Darren yang menceraikannya. Setidaknya perceraian itu datang bukan dari dirinya. Chaira tau perceraian adalah salah satu hal yang dibenci tuhan.


"Kuatkan hamba ya Rabb,,, berikan hamba kesehatan agar mampu dan kuat mendidik kedua putra putri titipanMU ini" ujarnya sembari bergantian memcium Levi dan Putri.


"Jangan takut putra putri bunda,, walau ayah tak pernah ingin tau siapa kalian sebenarnya tapi kalian masih punya bunda. Bunda yang akan terus menjaga dan melindungi kalian juga" ucap Chaira


"Dan abi juga akan menjaga kalian"


Chaira menoleh saat mendengar Ray mengatakannya.


"Assalamualaikum Chai,,, " ucap Ray

__ADS_1


"Waalaikumsalam Ray,,, kenapa tiba tiba sekali sudah berada disini?" tanya Chaira yang terkejut dengan keberadaan Ray


"Aku bahkan sudah lama berdiri disini,,, kau saja yang keasyikan melamun" canda Ray


"Baru datang sudah buat kesal" sungut Chaira


Ray tertawa. Dia puas sudah membuat Chaira jengkel padanya. Dia segera menghampiri Levi dan menciuminya.


Dia menatap Putri. Ditatapnya lekat lekat wajah kecil tak berdosa itu. Sejurus kemudian diciuminya juga bayi mungil itu. Chaira benar. Bayi mungil tak berhak untuk dihakimi. Bagaimana pun juga dia tetap mahkluk titipanNYA.


"Terima kasih Ray,,, " kata Chaira


"Untuk apa?" tanya Ray tak mengerti


"Untuk kasih sayangmu pada kami" lirih Chaira.


"Apa ada yang kau sampaikan lagi Chai?" Tanya Ray.


Chaira mengangguk.


"Aku ingin pindah dari sini Ray,,, " ucap Chaira


"Pindah? Kemana? Apa vila ini kurang nyaman untukmu? Atau mungkin ada beberapa asisten yang mengecewakanmu? Aku bisa menggantinya Chai,,, " Ray yang tak ingin Chaira pergi penasaran dengan apa alasan Chaira


"Ray,, Semuanya sangat menyenangkan dan memuaskan. Tidak ada satu pun yang mengecewakanku. Hanya saja aku tak ingin terus menyusahkanmu." tukas Chai


"Aku ingin mandiri Ray" lanjutnya


Ray menatapnya. Dia berusaha mencari gurat kesedihan di mata sahabatnya itu namun tidak berhasil menemukannya.


"Apa kau baik baik saja Chai?" Ray memastikan


"Apa maksudmu menanyakan hal itu setelah lama kita saling berbicara?" Chaira heran mendengar pertanyaanku


"Ray,,, apa dia sudah menceritakannya padamu?" selidik Chaira


Ray mengangguk pelan.


"Dia menelponku. Aku tak mengerti Chai" Ray


"Kenapa tak kau jelaskan semuanya? kenapa tak kau katakan siapa mereka?" tunjuk Ray pada kedua bayi yang sedang tidur itu.


"Dia bahkan tak memberiku kesempatan berbicara. Dia sama sekali tak bertanya Ray. Bahkan,,, ini" ujar Chaira menyerahkan akte perceraiannya


"Kami sudah resmi berpisah." lanjut Chaira


"Kurang ajar,,, dia pikir dia bisa terus menggunakan uangnya untuk menyelesaikan semua masalah. Akan ku pastikan uangnya terkuras habis agar dia bisa belajar menghargai orang" Ray geram dalam hati


"Izinkan aku pergi Ray,,, Biarkan aku menjalani masa iddahku" pinta Chaira lagi.


"Baiklah. Apa kau sudah punya tujuan?" Tanya Ray.


"Aku ingin kembali saja ke rumah lama di jakarta." Chaira memilih rumah yang dibelinya saat menjadi tetangga Ray.


"Baiklah,, aku janji tak akan mengganggumu selama masa iddahmu" janji Ray

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen yaaa


Terima kasih 😍


__ADS_2