BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 136


__ADS_3

...Selamat membaca 🌸...


...Maaf banyak typo dimana mana πŸ€­πŸ™...


...🌸🌸🌸...


Hari bahagia itu tiba,,,


Masjid di dekat kediaman Adi telah disiapkan untuk acara akad nikah Rayya dan Bimo dengan ijin dari pengurus masjid setempat. Tidak banyak hiasan atau hal berlebihan dipasang di sana. Bahkan cenderung tidak terlihat hari itu ada yang melangsungkan akad nikah di sana.


Hanya saja ada sejumlah polisi melakukan pengawalan ketat karena akan ada Adi yang mendapat hak khusus untuk keluar sejenak dari penjara demi melaksanakan tanggung jawabnya sebagai wali nikah Rayya.


Hanya menjadi wali saja dan begitu akad nikah selesai,,Adi langsung kembali ke penjara.


"Cantiknya anak ayah,,," puji Darren ketika melihat Rayya telah terbalut gaun putih simple namun menunjang penampilannya.


"Ayah,,," Rayya tertunduk malu.


"Mengingatkan ayah pada bunda. Dulu bunda juga hanya sesederhana ini di pernikahan kami. Tak banyak menuntut,, Tak banyak tingkah,,, Tapi mempesona." lirih Darren mengingat momen itu.


"Dan anehnya itu malah membuat ayah semakin jatuh cinta pada bunda." ucap Rayya sambil menghapus airmata Darren yang sudah lolos begitu saja dari matanya.


"Bundamu yang terbaik nak,, dan Abimu,,, Yang paling beruntung mendapatkan cintanya hingga akhir hayatnya. Abimu adalah pria paling beruntung karena bunda memilih dan mengikutinya hingga ke JannahNYA." Darren mencium puncak kepala Rayya dengan penuh kasih sayang.


"Jangan benci abi ya ayah meski kehadiran abi membuat ayah terpisah selamanya dari bunda." pinta Rayya.


"Tidak nak. Ayah tidak benci abi karena meski abi mbawa pergi bunda dari hidup ayah,,,tapi abi meninggalkan bidadari kecil pengganti untuk ayah. Bidadari kecil,,,imut,,,lucu yang diberi kesempatan oleh abi memanggilku ayah,,, Bidadari kecil yang bisa menguranhi kerinduan ayah pada bunda hanya dengan melihat matanya." Airmata Darren kembali menetes.


"Terima kasih ayah sudah begitu baik menerima Rayya meski Rayya ini anak abi."


"Tidak nak,,,kamu anak ayah. Putri kecil ayah." Darren memeluk Rayya dengan eratnya.


"Ayah,, Rayya,,, Ayo kita berangkat ke masjid. Sejam lagi akad nikahnya dimulai." Levi mengingatkan.


Darren melepas pelukannya dan mengusap airmatanya lalu sekali lagi memandang sepasang mata peninggalan Chaira itu.


"Ayo nak,,, Ayah antarkan kamu kepada calon imammu." ucapnya.

__ADS_1


Rayya mengangguk dan tersenyum.


Rombongan pengantin berangkat menuju ke masjid secara beriringan dengan tiga mobil. Dion yang menyetir sendiri mobil yang ditumpangi Darren dan Rayya serta Levi dan Tiara.


Di mobil kedua ada Bimo beserta keluarganya dan mobil ketiga untuk orang tua Tiara. Tak banyak bawaan yang dibawa karena memang hanya sekotak mas kawin berisi seperangkat alat sholat saja yang diminta Rayya pada Bimo.


Sangat jauh dari kata mewah meski Rayya anak orang kaya karena itu semua tidaklah penting bagi Rayya. Baginya yang terpenting adalah kata sah yang akan dicapai setelah akad nikah nanti.


Di mana Karin??


...🌹🌹🌹...


Rombongan pun akhirnya tiba di masjid sesuai waktu yang dijadwalkan. Baru akan masuk,, mobil yang membawa penghulu juga datang.


"Ay,,,Abang grogi nih liat penghulunya. Nih abang keringetan loh,,," Bimo memperlihatkan setelan jasnya yang mulai basah oleh keringat dinginnya.


"Tarik napas bang,,, hembuskan pelan pelan. Jangan lupa baca bismillah juga. Inshaallah dijauhkan dari segala keburukan dan dilancarkan segala sesuatuanya. Aamiin,,," ucap Rayya menahan tawa melihat calon imamnya begitu pucat pasi.


Tak lama kemudian mobil kepolisian yang membawa Adi pun tiba. Adi tampak turun dikawal dengan tangan terborgol demi menjaga dari segala kemungkinan buruk seperti percobaan kabur atau menyerang anggota polisi meski itu tidak ada sama sekali dalam pikiran Adi.


Tak banyak basa basi dilakukan karena mengejar waktu yang disetujui oleh pihak penjara. Semua segera bersiap di meja akad nikah yang sudah disiapkan.


Hal itu membuat Dion sedikit gelagapan. Aneh,,, Untuk seorang casanova dulunya,,apa sih artinya sebuah tatapan mata seorang ayah yang putrinya bisa dimainkannya kapana saja dan sesuka hatinya. Atau mungkin Dion gugup karena baru ini ditatap seorang ayah yang putrinya dicintainya??


Maklum dulu saat menikahi Hana,,,ayah Hana sudah meninggal. Hanya ada ibunya saja yang tatapannya tak setegas Adi sekarang membuat Dion makin tidak nyaman dengan duduknya.


Mata Dion membulat ketika tiba tiba Karin duduk di sebelah papanya dengan menggenggam erat tangan papanya. Karin sama sekali tak menoleh ke arah Dion.


"Kok kamu gak noleh Rin?? Apa kamu tidak ingin mencariku?? Atau mungkin keberadaanku juga tak berarti bagimu sama sekali??" Dion lesu lalu membuang pandangannya ke arah calon mempelai yang tengah mendapatkan pengarahan dari penghulu.


Dion merasa sedikit teralihkan perhatiannya ketika melihat Bimo yang berkali kali mengusap keringat dingin di dahinya. Mengingatkan dirinya yang dulu juga begitu saat menikahi Hana. Tak terasa dia pun senyum senyum sendiri merasa itu lucu.


'Lo ketawain apa??" bisik Darren yang duduk di sampingnya.


"Calon menantu lo grogi tuh."


"Kayak lo juga gak lagi grogi aja ada calon mertua." sindir Darren.

__ADS_1


"Sialan lo,,,Lihat aja gue salting." sungut Dion.


Acara akad nikah pun dimulai setelah kedua calon mempelai siap. Penghulu membacakan nama pengantin dan mas kawinnya dengan diakhiri seruan para saksi.


"Sah,,,!!!"


"Alhamdulillah,,,resmi jadi milik abang. Halal euy halaaaallll,,,," Bimo norak sekali membuat semua tertawa dengan tingkahnya yang dengan gemas memeluk cium Rayya.


"Bang malu bang. Banyak orang,,," seru Rayya.


"Sudah halal mah bebas Ay,,," jawab Bimo tak mengindahkan ucapan Rayya yang akhirnya hanya bisa pasrah diciumi bertubi tubi oleh suaminya itu.


"Iiisshhh,,,sabar napa!!!" Levi pun menjewer telinga Bimo.


"Aaaww sakit tauuu!!!" sungut Bimo.


"Berani lo bentak kakak ipar lo??!!!" seru Levi.


"Ampun bang,,,Ampun,,adik ipar mengaku kalah,,," Bimo menangkupkan sepuluh jarinya dan berakting ketakutan.


Lagi lagi semua tergelak melihat tingkahnya itu. Tak terkecuali Dion dan Karin. Mata keduanya tak sengaka bertemu saat semua orang tertawa.


Karin segera membuang pandangannya dari Dion membuat Dion menarik kembali dua ujung bibirnya yang sudah sempurna membentuk lengkungan senyum.


"Kenapa Rin??" tanya Adi yang melihatnya gugup.


"Tidak apa apa pa. Ayo Karin antar papa kembali ke mobil." ucap Karin begitu acara selesai.


"Terima kasih Adi,,, Atas kesediaannya menjadi wali nikah putriku." ucap Darren sebelum Adi masuk kembali ke mobil polisi.


"Aku yang harus terima kasih karena kamu sudah begitu baik menjaga Rayya putriku." Adi tersenyum.


"Aku juga minta maaf atas semua yang kulakukan pada Chaira." lanjutnya.


"Itu bagian takdirNYA,,, Aku sudah memaafkanmu karena bidadariku juga tak akan senang di sana jika aku menyimpan dendam padamu." ucap Darren.


"Terima kasih Darren." Adi lega.

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


...Terima kasih atas vote, like dan komennya πŸŒΉβ€οΈπŸ™...


__ADS_2