
Ku langkahkan kakiku dengan gontai memasuki rumahku. Hari ini aku sangat lelah karena aku harus lembur. Untung ada Dion yang menemaniku lembur jadi aku bisa lebih semangat. Pekerjaanku juga bisa segera selesai.
Ku lirik jam yang menempel di dinding ruang tamu. Jam menunjukkan pukul 02.45 dini hari. Ahh pantas saja aku merasa begitu lelah. Aku duduk di sofa. Rumah sudah sangat sepi. Pasti Chaira dan mama sudah tidur karena tak ada satu pun yang menyambutku.
Memikirkan Chaira membuatku teringat dulunya tak peduli jam berapa pun aku datang,, dia akan setia menungguku di ruang tamu. Kadang dia tertidur kadang juga masih terjaga. Aaahhh,,, aku mulai merindukan saat saat bahagia kami.
Pikiranku terus melayang mengingat pertemuanku dengan Chaira. Wanita yang kini menjadi istriku itu mampu membuatku melakukan hal hal konyol. Memikirkan kekonyolanku sendiri membuat aku tersenyum senyum sendiri.
Aku merasa cukup lama berdiam disitu sendiri. Aku memutuskan naik ke kamarku. Ku buka pintu perlahan. Ku lihat Chaira memang sudah tidur. Dia sama sekali tak bergerak. Tampaknya tidurnya sangat pulas. Mungkin dia lelah menangis terus terusan.
Aku tak mau mengusiknya. Aku bersihkan diriku lalu segera naik ke ranjang. Aku melirik Chaira yang dengan posisi miring membelakangiku itu tetap tak bergerak sama sekali. Pikiranku kembali melayang memikirkan masa masa indah kami.
Aku merasakan hasratku mulai terpancing saat ingatanku kembali pada saat malam pertama kami. Aku meraba milikku yang sudah siap tempur lalu ku lirik Chaira yang masih tak bergeming. Ingin rasanya ku balikkan saja tubuhnya dan melampiaskan hasratku tapi ada rasa iba di sudut hatiku melihatnya yang tertidur pulas.
Pelan pelan kudekatkan diriku padanya. Ku peluk pinggang rampingnya. Aku mencoba tidur dengan memeluknya namun usahaku gagal karena tanganku tidak sengaja menyentuh gundukan dadanya. Hal itu membuatku menginginkannya lagi.
Karena tak tahan aku putuskan ke kamar mandi saja dan melakukannya sendiri.
Puas bermain sendiri aku kembali ke ranjang dan memeluknya lagi dengan erat. Sudah lama kami tak pernah tidur berpelukan seperti ini.
Esok harinya aku bangun kesiangan. Ku lihat Chaira sudah tidak ada dikamar. Mungkin dia sudah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Aku segera bangun walau tubuhku terasa pegal terutama tangan kananku. Aku mencoba mengingat apa saja yang ku lakukan semalam. Aku tersenyum sendiri begitu mengingat permainanku sendiri.
"Ada surat untukmu sayang,, ku letakkan di meja kerjamu" Chaira memberitahuku saat aku turun dan duduk di meja makan.
"Terima kasih" jawabku
Chaira tersenyum dan kembali sibuk dengan laptopnya. Baju rancangannya makin terkenal dan membuatnya kewalahan. Dia membuka sebuah butik dengan brand ciptaannya sendiri. Dia percayakan butiknya itu pada Rosa. Aku sebetulnya tak begitu tau namun mama pernah mengatakannya padaku. Aku terlalu sibuk mengabaikannya hingga aku ketinggalan banyak berita tentang dirinya.
Selesai sarapan aku menuju meja kerjaku. Ku lihat sebuah amplop coklat yang cukup besar sudah berada di meja. Aku mencoba mencari nama pengirimnya namun tak tertulis disana. Hanya ada namaku di bagian depan amplop.
Dengan penasaran aku mengeluarkan isinya.
"Dari rumah sakit?? memangnya siapa yang sakit??" batinku ketika membaca kepala surat.
__ADS_1
Mataku terbelalak saat membaca satu persatu kata yang tertulis disana. Surat itu adalah hasil dari tes DNA Mike berdasarkan sample yang didapat dariku. Febby memang sempat memintaku memberikan beberapa sampel yang dibutuhkan untuk keperluan tes DNA.
Dan hasilnya adalah,,,,, Mike memang putraku.
Aku mendadak pusing. Aku mendadak tak bisa berpikir. Aku segera menelpon Dion.
"Apaaaa??? Serius lu??" Dion yang ternyata baru bangun kaget. Suaranya masih terdengar serak khas bangun tidur.
"iya bro gue serius. Surat hasil tes itu ada di tangan gue sekarang. Febby mengirimkannya ke rumah. Gue musti gimana nih bro?? Lu bantu mikir!!!" titahku
"Kita ketemu aja di tempat biasa" Dion menutup telpon dan segera mandi lalu menuju ke tempat janjian kami.
Chaira hanya melirikku saat aku berjalan keluar terburu buru. Dia sama sekali tak bertanya. Aku pun langsung pergi tanpa berpamitan padanya.
Aku tiba lebih dulu ditempat yang sudah kami janjikan. Dion tiba sekitar 20 menit kemudian. Jalanan rumahnya menuju tempat itu memang sering terkena macet.
"Mana gue mau lihat suratnya" Dion langsung meminta
"Waahh lu parah,,, kalau udah kayak gini mau gak mau lu harus tanggung jawab bro. Seperti kata lu tempo hari pada Febby." Dion mengingatkanku pada janji yang ku ucapkan.
Aku memegang kepalaku lalu ku acak acak sendiri rambutku. Aku pusing membayangkan reaksi mama dan Chaira saat aku membawa Febby dan Mike kerumahku.
"Gue harus bilang apa broooooo" aku sedikit mengeraskan suaraku saking kesalnya pada diriku sendiri
"Ya apalagi,,, lu bilang kenyataannya saja. Mau gimana lagi coba??? Gue yakin Chaira bisa pelan pelan menerimanya. Gue tau istri lu tu baik banget" tukas Dion
"Nah justru karena dia terlalu baik itu gue gak bisa bro segampang itu mengakui semuanya" ujarku
Dion tampak memutar otaknya kembali. Aku hanya menundukkan wajahku dan terus mengacak rambutku.
" Bro,,, bukannya Chaira memang minta lu kawin lagi?" tanya Dion
Aku hanya mendongakkan kepalaku dan mengangguk lesu.
__ADS_1
"Ya udah dong,,, lu tinggal bilang ma dia kalau lu memilih Febby jadi istri lu" tukasnya
"Terus Mike????" ku toyor kepalanya karena melupakan Mike
"Ya lu bisa bilang ma dia kalau Mike itu anak Febby ma orang lain. Lu pilih Febby karena lu iba melihat dia yang single parent. Gue yakin Chaira yang baik hati itu akan dengan senang hati menerima Febby dan anaknya. Dia akan menganggap lu itu pria baik yang hanya ingin menolong teman lu sendiri aja" jelasnya
Aku mulai mendengarkan dan memikirkan semua yang dikatakannya itu.
"Trus Mike,,, dia kan terlanjur panggil gue daddy. Gimana jelasinnya ke Chaira???" tanyaku lagi
"Itu urusan gampang bro,, lu tinggal bilang ma Chaira emang lu yang suruh Mike panggil lu begitu. Lu kasihan sama Mike yang gak pernah tau dan merasakan rasanya punya daddy. Lu bilang lu anggap Mike anak lu sendiri. Chaira lagi lagi akan menganggap lu baik banget jadi orang. Setidaknya dia gak akan terlalu sakit hati lu tinggal kawin lagi karena dia pasti berpikir bahwa lu hanya sebatas ingin melindungi Febby dan anaknya. Bukan karena lu cinta atau lu nafsu atau apalah" jelasnya lagi
Aku terus berusaha mencerna semua yang dikatakan Dion. Perkataannya ada benarnya. Mengingat kondisi kami yang belum punya keturunan pasti Chaira akan bisa menerima Mike dengan baik.
Yaa,,, Dion benar!!! Ide cemerlang!!!
Kembali ku toyor kepalanya.
"kok lagi??? gue salah apa lagi???" tanyanya sambil meringis mengelus kepalanya
"salah lu cuma kenapa lu gak pernah pake tu otak selama ini!!!! sahutku bercanda
Kami berdua tertawa lega karena telah menemukan solusi tepat untuk permasalahanku.
" Oh ya,,, gimana tuh kabar Angga?? Tuh anak ngilang kayak ditelan bumi" aku teringat akan Angga yang tiba tiba mengundurkan diri dari perusahaanku dan sudah hampir sebulan tak ada kabar.
"Pingsan kali,,, gak pernah bisa gue hubungi" Dion menjawab sekenanya
Aku yang masih heran juga akhirnya memutuskan untuk tak memusingkannya. Ku habiskan segera minumanku.
Jangan lupa vote, like dan komen yaaa
Terima kasih 😍
__ADS_1