
"Ray,, aku hanya ingin minta ijinmu untuk menerima kedatangan Darren hari ini. Hari ini jadwalnya mengunjungi anak anak" ucap Chaira saat membantu memakaikan dasi Ray.
"Iya sayang,,, aku mengijinkanmu menemuinya. Jangan lupa jaga mata, jaga diri dan jaga hatimu untukku" pesannya.
"Iya Ray,,, terima kasih telah mengijinkanku" Chaira tersenyum.
"Aku tak perlu mengingatkanmu untuk mengenakan cadarmu kan sahabatku?" Ray menggodanya
Chaira mencubit hidungnya gemas.
"Masih pagi begini kamu sudah begitu cemburu dan takut kehilanganku" ejek Chaira.
"Kau sih terlalu cantik,,, kan aku jadi takut kehilanganmu" puji Ray.
Wajah Chaira bersemu merah mendengarnya. Ray senang melihatnya.
"Nah kan,, sepagi ini aku sudah dapat pahala karena menyenangkanmu" godanya lagi
Ray mengecup bibir istrinya yang masih saja tersipu malu itu. Ciumannya makin lama makin memanas. Chaira mencubit perutnya agar melepaskan ciumannya.
"Aaaawww sakit sayang. Kok dicubit sih??" protes Ray.
"Makanya jangan nafsu terus. Kamu harus kerja cari uang yang banyak untukku dan anak anak" sungut Chaira.
"Hahahahha baik nyonya,,, mau sebanyak apa sih?" Ray malah memeluk pinggang Chaira erat.
" Sebanyak cintamu padaku" jawabnya.
"Waahhh kalau sebanyak itu aku nyerah,,, aku tak mampu" ucap Ray masih memeluk mesra Chaira.
"Kenapa tidak sanggup?" tanya Chaira manja.
"Karena cintaku tak terukur jumlahnya untukmu sayang" Ray kembali mencium bibir istrinya.
"Rayyyyy sudah dong,, nanti kamu terlambat loh." Chaira kembali mengingatkan.
"Tapi aku mau kamu sayang,, boleh yaaa" pinta Ray.
"Masih ada waktu nanti lagi sayangkuuuu,,, aku tidak mau setelah menikah kamu malah kehilangan kerajinan dan kedisplinan kerjamu. Kamu yang selalu tepat waktu, perfeksionis dan disiplin tidak boleh berkurang kinerjanya karena ada aku. Justru kamu harus bisa memberi contoh pada semua bawahanmu agar mereka bisa menjadikanmu teladan yang baik" ujar Chaira.
"Kamu benar sekali sayang,,, terima kasih telah mengingatkanku" Ray tersenyum manis
"Itu sudah jadi tugasku sayang" Chaira balas tersenyum.
Chaira segera menyiapkan semua perlengkapan kerja Ray. Ray memutuskan akan pulang tiap jam makan siang karena dia tak ingin melewatkan waktu kebersamaan bersama keluarga kecilnya dan mama.
Ray berpamitan pada kedua anaknya dan mama.
"Abi kerja dulu ya nak, jangan nakal biar bunda gak tambah bawel sama abi" pesannya sembari menggoda Chaira.
"Raaaayyyyy,,,, " Chaira gemas.
Mama yang melihat kebahagiaan itu merasa turut bahagia. Sekian lama dia menunggu saat Ray mengenalkan dirinya oada calon menantunya dan kini semua itu sudah terwujud.
Mama mendapat menantu yang cantik tak hanya hatinya namun ternyata wajahnya juga sangat cantik. Mama yang pertama kalinya melihat wajah Chaira keesokan pagi setelah mereka menikah sempat sangat terpana.
Sebagai wanita dia sungguh sangat mengagumi kecantikan menantunya. Dia sangat bersyukur Ray mendapatkan jodoh sesempurna itu.
Mereka semua mengantarkan Ray hingga ke depan pintu. Ray yang sudah masuk ke dalam mobil memanggil Chaira.
__ADS_1
"Ada apa Ray,,, apa ada yang aku lupakan?" tanya Chaira yang menghampirinya.
"Jangan lupa siapkan energimu untuk nanti malam karena aku akan meminta dobel hahahahha,,, " ucap Ray yang sengaja memanggil Chaira mendekat agar mama tak mendengar apa yang dikatakannya.
"Raaaayyyyyyy" Chaira memukul pintu mobilnya.
Ray yang tertawa segera menjulurkan lidahnya dan menutup kaca jendela mobilnya lalu melambaikan tangannya. Dia meninggalkan Chaira yang bersemu merah wajahnya katena terus digodanya.
Mama hanya menggeleng kepala melihat kejahilan Ray pada Chaira. Walau tak mendengar apa yang dikatakan Ray tapi dia tau pasti Ray mengatakan sesuatu yang membuat Chaira gemas dan malu.
Chaira mengajak mama dan anak anak masuk.
"Mama,,, hari ini Darren akan datang mengunjungi anak anak. Apa mama keberatan?" tanya Chaira
"Apa kamu sudah minta ijin pada Ray sayang?" tanya mama balik.
"Sudah ma,, Ray sudah mengijinkan. " jawav Chaira.
"Kalau begitu tak ada alasan bagi mama tidak mengijinkannya nak" ujar mama tersenyum.
"Terima kasih ma,,, Chaira bersyukur sekali mendapatkan mertua seperti mama" ucap Chaira.
"Sama sama nak,,, anggap saja mama ini mama kamu sendiri." ujar mama sembari memeluk Chaira.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku meminta Sinta untuk mengosongkan jadwalku tiap hari selasa, kamis sabtu di jam 4 sore karena aku ingin mengunjungi anak anakku yang kini tinggal dirumah Ray.
Aku melirik jam yang sudah menunjukkan waktu 03:30. Setengah jam lagi aku akan bertemu dengan bidadariku dan anak anakku. Aku masih saja menganggap Chaira sebagai bidadariku walau dia kini telah menjadi milik Ray.
Tapi dalam hatiku,,, dia tetaplah pemilik hatiku. Dia tetap bidadari yang ku cintai sepenuh hati.
"Hati hati ya pak,, saya titip salam untuk ibu Chaira dan anak anak" ucap Sinta berusaha terlihat selalu manis di depanku.
"Terima kasih Sinta" jawabku datar.
Aku segera meninggalkan Sinta yang menggigit bibir karena harus menerima kenyataan bahwa aku tak pernah sedikit pun tertarik atau peka terhadap perasaannya.
"Dulu aku masih bisa terima jika kamu biasa saja padakunkarena kamu memang sudah beristri,,, tapi kini kamu sudah menduda. Aku tak ingin kehilangan kesempatanku lagi. Aku tidak boleh kalah cepat dari Hana" batin Sinta yang masih ada diruanganku.
Aku bertemu Hana di lobi. Hana berusaha tersenyum manis kepadaku. Aku hanya membalas secukupnya saja dan langsung berlari menuju mobilku yang sudah disiapkan di depan oleh penjaga.
"Kamu berbeda sekali Dare saat berada di kantor,,, Kamu dingin. Saat bersamaku dirumah kamu begitu lembut. Aku melihat kerapuhan dalam dirimu" batin Hana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Semangat hidupku kembali berkobar saat melihat orang orang terkasihku telah menungguku di depan pintu.
"Ayaaahhhh" Levi yang sudah sangat mengenaliku langsung berlari kecil menuju ke arahku.
Aku segera berjongkok dan membuka lebar kedua tanganku menyambut pangeran kecilku itu. Aku memeluknya begitu dia telah sampai.
"Levi kangen ayah gak nih?" tanyaku
"Angen ayah" jawabnya dengan suara lucunya.
Aku menggendongnya dan menatap Chaira yang masih berdiri sambil menggendong Putri yang belum bisa berjalan. Betapa ingin aku memeluk bidadariku itu.
Betapa aku sangat bahagia membayangkan jika ini terjadi saat kami masih sah menjadi suami istri. Aku akan sangat bahagia jika ini terjadi dirumah kami dulunya. Setiap pulang kerja disambut oleh istri dan anak anak.
__ADS_1
Sayangnya sekali lagi aku harus menahan perih dan rinduku karena itu semua tak pernah terjadi akibat kesalahanku sendiri.
"Assalamualaikum Chai,,, apa kabarmu?" sapaku.
"Waalaikumsalam Dare,,, alhamdulilah aku aehat. Bagaimana denganmu?" tanyanya.
Aku tersenyum.
"Aku baik baik saja" jawabku singkat dan sebisa mungkin tak menunjukkan betapa aku sangat tidak baik baik saja tiap berhadapan dengannya.
Chaira mempersilahkanku duduk namun Levi mengajakku bermain di taman.
"Ayo ayah cama unda uga ikut,,,," Levi yang memang belum begitu lancar menyebutkan beberapa kata mengajak kami.
Aku memandang Chaira meminta persetujuannya. Chaira menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Ayo nak,, ayo bunda" ucapku mengajak Chaira serta.
"Iya sayang,,, ayo kita main,, sama adik juga ya mainnya" sahut Chaira.
Chaira mungkin tak tau betapa jantungku berdegup kencang saat menyebutnya bunda,,, Saat beberapa kali kami harus berdekatan karena mengikuti gerakan anak kami.
Namun satu hal yang pasti,,,
Chaira selalu menghindari tatapan mataku. Dia tak pernah melihat mataku. Mungkin dia tak ingin ada kontak batin apa pun yang terjalin di antara kami lagi.
Mama melihat dari dalam. Betapa menantunya itu tengah sangat berbahagia bersama mantan suaminya dan anak anaknya. Dalam hatinya terselip rasa takut menantunya itu akan tergoda dan terbawa perasaan pada mantan suaminya.
Namun mengingat seperti apa sifat Chaira,,, mama dengan penuh kepercayaan membiarkan mereka tenggelam dalam kebahagiaannya. Mama kembali masuk ke kamarnya.
Aku berpamitan saat jam sudah menunjukkan hampir pukul 6.
"Hati hati Dare" kata Chaira.
Mendengarnya memintaku berhati hati aku merasa sangat bahagia. Sudah lama aku tak mendapatkan perhatian darinya. Terlepas dari dia mengatakannya dengan atau tanpa perasaan apa pun terhadapku namun aku bahagia.
"Begini saja sudah cukup untuk membuatku tetap hidup dan mencintaimu bidadariku" batinku sembari memandang dirinya yang tak sadar aku memperhatikannya karena tengah membersihkan baju Levi yang sedikit kotor.
"Kamu mau pulang Dare?" Ray mengejutkanku.
Dia melihat betapa Darren masih memandang istrinya penuh cinta tapi dia bersyukur karena istrinya sama sekali tak melakukan hal yang sama.
Aku gelagapan dan khawatir jika dia melihat betapa aku masih sangat lama menatap istrinya.
"Hai Ray,,, ya aku hendak pulang. Aku sudah cukup lama bersama anak anak" ucapku
"Sebentar lagi malam Dare,,, Makan malamlah bersama kami sekalian." ajak Ray
Aku menolak ajakannya walau seberapa besar kerinduanku akan rasa masakan Chaira. Aku menolaknya karena aku takut diriku akan kembali dirasuki keegoisan untuk kembali memiliki Chaira.
"Tidak Ray,, terima kasih. Aku sudah ada janji makan malam. ditempat lain. Aku permisi" ujarku berbohong.
Aku segera masuk kedalam mobilku. Tampak Levi melambaikan tangan kecilnya padaku. Aku membalasnya dengan perasaan sedih.
"Maafkan ayah nak,,, kita harus berpisah lagi. Semua ini salah ayah" batinnya
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaaa
Terima kasih 😍
__ADS_1