
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈ
"Jadi menurut Ayya kita diam diam aja nih? Gak usah ngomong dulu sama Levi sama ayah?" sekali lagi Bimo meyakinkan apa yang jadi rencana mereka tentang hubungan keduanya.
"Iya bang. Mereka tidak perlu tau dulu. Bukan bermaksud merahasiakan atau tidak jujur pada mereka. Tapi lebih ke gak mau terlalu semangat untuk hal yang belum pasti. Jodoh itu kan di tanganNYA bang. Kita hanya bisa berusaha menjaga dan mewujudkan apa yang sudah kita jadi rencana kita." ucap Rayya.
"Iya Ay,, Abang ngerti dan abang gak keberatan kok. Abang akan tunggu sampai tiba waktunya." Bimo mengiyakan.
"Bang,,, Tiga tahun untuk masa kuliah yang mungkin bisa saja Ayya tambah lagi,,, Belum lagi Ayya juga tidak mungkin langsung menikah begitu lulus,,, Dan Ayya juga tidak bisa janjikan berapa lama lagi waktu yang Ayya butuhkan. Apa benar abang yakin akan menunggu?" tanya Rayya.
"Abang,,," Bimo hendak menyahut.
"Jangan dijawab bang. Abang pikirkan saja. Yang jelas Ayya tidak mau mengekang abang. Ayya tidak mau abang suatu hari nanti merasa menjadi korban dari keegoisan Ayya." Rayya memotong.
"Kok gitu sih ngomongnya Ay,,,?" Bimo terlihat sendu.
"Ya sudah,,, Ayya gak akan bosan bosan mengingatkan abang bahwa waktu yang Ayya butuhkan itu lama. Abang boleh mundur kapan saja kalau abang merasa tidak mampu." tutup Rayya dengan suara bergetar.
Bohong jika dia tak mengharapkan Bimo tetap menunggunya namun Rayya sadar dirinya tidak bisa memaksakan Bimo untuk berkorban waktu untuknya dan cita citanya.
Rayya berdiri dari duduknya membiarkan Bimo terdiam beberapa saat. Rayya tau Bimo pasti tengah kembali memikirkan matang matang hubungan mereka.
"Ayya balik ke kamar kak Ara dulu bang. Kalau kelamaan nanti takut ayah khawatir. Lagipula Ayya sudah kangen sama Birru. Padahal masih di sini tapi sudah kangen saja sama anak itu." Rayya mengalihkan pembicaraan.
Tak ada gerakan apa pun dari Bimo. Bimo masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Assalamualaikum bang." Rayya mengucap salam sebelum kakinya melangkah meninggalkan Bimo.
"Abang akan tetap menunggumu." Bimo menyahut dan menahan tangan Rayya.
Masih dalam posisi Bimo duduk memegang tangan Rayya dan Rayya berdiri membelakanginya,,, Keduanya tak saling menatap namun sama sama terdiam sejenak.
"Terima kasih bang. Inshaallah Ayya juga akan jaga hati Ayya untuk abang." lirih Rayya kemudian.
Bimo tersenyum lalu melepaskan tangan gadis pujaan hatinya itu. Melepas di sini sangat bermakna dalam bagi Bimo. Melepas tangan Rayya bukan hanya untuk membiarkannya meninggalkan dia di kantin itu tapi juga merelakan Rayya pergi membawa hatinya dengan penuh kepercayaan.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Bimo begitu yakin pada keputusannya. Ini juga pertama kalinya Bimo merasa hatinya langsung menjadi milik orang lain dan bukan miliknya lagi.
Pesona Rayya benar benar merebut hatinya hingga dirinya sendiri tak punya kuasa akan hati itu. Hati itu sudah memilih dan tak ingin merubah pilihannya lagi.
πΈπΈ
"Padahal ayah masih kangen banget sama kamu nak. Tapi kamu sudah harus balik ke Paris." Darren mengelus puncak kepala Rayya dengan penuh rasa sayang.
Rayya memeluk tubuh kekar ayahnya yang bisa dia rasakan makin kurus. Rayya tertegun sejenak merasakan perubahan tubuh Darren namun kemudian memilih mengabaikannya karena mungkin itu hanya perasaannya saja.
"Ayya juga maunya berlama lama di sini sama ayah."Rayya makin mengeratkan pelukannya pada Darren dengan manja.
"Eh anak ayah ini makin gede bukannya makin mandiri tapi makin manja aja sama ayah." Levi menghampiri mereka.
"Biarin aja. Kan emang Ayya selamanya jadi putri kecil ayah. Bilang aja kak Levi iri karena gak Ayya peluk juga. Iya kan? Wek,,," Rayya tak mau kalah.
"Tau aja sih adikku ini. Sini peluk kakak juga." Levi membuka lebar kedua tangannya.
"Ogah ah. Enakan dipeluk ayah." jawab Rayya membuat Levi merengut.
"Awas yaaa!!!" Sungut Levi malah ikut menghambur dan memeluk Darren juga hingga tubuh Darren bergeser karena menahan beban kedua anak anaknya.
"Kami sayang ayah." bisik keduanya di telinga Darren.
"Ayah tau nak." Darren mengeratkan pelukannya lagi pada keduanya.
Airmata?
Ada pasti,,,
Wajah yang makin menua itu terasa basah dengan lelehan airmata yang rasanya tak pernah ada habisnya.
Oek,,,Oek,,,
Tangisan Birru menyadarkan ketiga manusia yang tengah tenggelam dalam pelukan penuh kasih sayang itu.
"Wah cucu grandpa kayaknya iri tuh minta dipeluk juga."ucap Levi menunjuk pada Birru yang digendong Tiara.
Tiara sudah bisa berjalan meski dalam rumah saja. Tentu saja perawatan terbaik dari tim medis berpengaruh dalam pemulihan kondisinya pasca operasi.
Darren mengusap airmatanya lalu melepas pelukannya. Darren mendekati Tiara yang tersenyum cantik dengan balutan hijab yang menutupi kepalanya.
__ADS_1
"Semoga istiqomah ya nak." Darren mengusap kepala Tiara.
"Aamiin." sahut Tiara.
Tiara menyerahkan Birru untuk digendong Darren. Birru yang sepertinya tau sedang berada di tangan siapa kini langsung diam tak menangis lagi. Birru hanya menggeliat geliat lalu melebarkan matanya berusaha mengenali siapa yang menggendongnya. Sejurus kemudian Birru tersenyum lucu membuat Darren gemas.
"Wah cucu grandpa sudah kenal ya sama grandpanya. Seneng ya digendong grandpa? Jangan ngompol ya,,, Grandpa sudah cakep lho ini mau antar onty ke bandara." Rayya mencubit pipi gembul Birru.
Oeeeee,,,,,
Seketika si gembul menangis karena terkejut.
"Ayyaaaa,,," Pekik Tiara.
"Ih kok cengeng sih keponakan onty nih. Males deh onty jadinya kalau gini. Onty tinggal balik Paris aja deh kalau gitu ya,,," omel Rayya seakan Birru sudah mengerti apa yang dikatakannya.
"Hahaha ngomel aja terus. Mana Birru ngerti??" Tiara tertawa.
Semua jadi tertawa bersama. Dalam diam Darren bersyukur melihat kerukunan yang tercipta di dalam keluarganya ini. Kehadiran Birru juga makin menambah kebahagiaan Darren yang nyaris sempurna.
Nyaris,,,
Belum bisa dikatakan sempurna karena Darren belum menyaksikan Rayya menikah. Darren ingin menjadi saksi dalam pernikahan Rayya kelak. Mendampingi gadis itu mencari wali nikahnya. Kadang tersirat rasa sedih di hati Darren mengingat hal itu.
"Cepat atau lambat, waktu itu akan tiba. Ray,,, dalam hal ini aku tak bisa menggantikanmu walau aku sangat ingin. Agama kita tak memperbolehkannya dan kamu pasti tau itu." batin Darren.
Dipandanginya Rayya yang masih terus tertawa tawa bahagia.
"Ada apa ayah?" tanya Rayya tiba tiba menyadari Darren tengah memperhatikannya.
Darren pun tergagap dibuatnya.
"Putri kecil ayah makin hari makin cantik saja. Pasti ada pangeran yang sudah memiliki hatimu ya nak?" tanya Darren.
"Ayah,,, Rayya mau fokus kuliah. Jangan bahas itu dulu. Sekarang lebih baik antar Rayya ke bandara dulu." jawab Rayya sambil menggamit lengan Darren menuju ke mobil.
Darren tersenyum dan tau putri kecilnya itu menutupi sesuatu. Rayya yang sedari kecil tak pernah diajarinya untuk berbohong memang tak akan bisa membohongi dirinya. Namun Darren memilih menghargai privacy Rayya.
\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya πΈ
__ADS_1